Dunia
Rasputin termasuk manusia yang paling sukar dimengerti dalam sejarah modern. Sebagai manusia suci, Rasputin memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Rasputin diangkat sebagai penasehat spiritual sang raja alias dukun politik. Dia kemudian menggunakan kekuasan untuk hal-hal jahat. Puluhan istri maupun gundik pejabat negara dikencani. Beberapa perempuan malah rela menyerahkan kehormatannya karena sang Rasputin dikenal memiliki penis sepanjang 30 cm. Gejolak pun timbul. Rasputin dimusuhi banyak orang. Dia dibunuh. Penisnya dipotong dan dijadikan tontonan.
Abad.id Namanya Grigori Efimovich Rasputin. Dia dikenal dengan julukan si rahib sinting. Dia seorang yang memiliki karunia menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dia mendapat pengelihatan-pengelihatan mengenai seorang perempuan yang masih perawan. Bila ia mendekati anak tersebut, maka pendarahannya akan berhenti.
Rasputin terlibat dalam penyembahan seks iblis. Karena itu ia dapat mengendalikan Tsarina (permaisuri). Ia dimusuhi kalangan atas. Banyak orang percaya bahwa Rasputin seorang yang dikuasai oleh iblis. Inilah yang mengendalikan Rusia dari balik layar. Bahkan Tsar (Raja Rusia) takut akan kekuatan anehnya.
Semenjak masih muda, Rasputin telah mengikuti aliran “aneh”. Aliran ini percaya untuk dekat dengan Tuhan. Bahkan mereka harus berdosa dulu bila ingin masuk ke dalam aliran tersebut. Ketika mereka sudah besimbah dosa, mereka meminta ampunan dosa. Dengan begitu mereka bisa dekat dengan Tuhan. Lalu rasputin mulai pengembaraannya sebagai pendeta.
Yang paling aneh dari aliran ini adalah, aliran ini menghalalkan berhubungan seks dengan siapapun saat melakukan upacara keagamaan.
Rasputin mulai memasuki dunia pemerintahan ketika dia berhasil mengobati anak Tsar Rusia Nikolas yang memiliki Hemophilia, penyakit kelainan darah keturunan yg didapat dari garis keturunan ratu Victoria Inggris.
Semua dokter, tabib, dukun angkat tangan dalam mengobati penyakit Nikolas. Hingga sampai nama Rasputin di kalangan bangsawan. Namanya diajukan sebagai alternatif.
Tsarina Rusia yang sudah putus asa bersedia nerima Rasputin. Dan entah bagaimana caranya (banyak teori tentang ini) Rasputin cuma menemui anak tersebut. Secara ajaib pendarahannya berhenti.
Sejak itu nama Rasputin mulai diperhitungan di kalangan kerajaan Rusia. Selain Bahkan banyak keputusan kerajaan selalu meminta nasihat darinya. Tak heran jika Tsar Nikolas dan Tsarina sangat percaya dengan dukun ini.
Meski Rasputin sudah termasuk bagian dari tatanan kerajaan, tapi ia tetap menjalankan ibadah anehnya, yakni sering mengadakan pesta orgy seks di basement rumahnya sebelum minta pengampunan dosa. Selain itu, pendeta ini juga jarang mandi. Dia hanya mandi sebulan sekali!!
Pesta Seks Perawan
Grigori Yefimovich Rasputin atau Grigori Yefimovich Novy atau (риго́рий Ефи́мович Распу́тин/Григорий Ефимович Новый) terkenal sebagai anak berandalan yang suka mabuk dan main cewek.
Dia dilahirkan lahir pada 22 Januari 1869 di sebuah desa terpencil di Pokrovskoye, tepatnya sepanjang sungai Tura Sungai di Tobolsk Guberniya (sekarang Tyumen Oblast) Siberia.
Tidak banyak yang tahu mengenai masa kanak-kanak Rasputin. Rasputin memiliki dua saudara kandung bernama Maria dan yang paling lebih tua bernama Dmitri.
Sewaktu kecil Maria menderita epilepsy (ayan). Suatu hari Rasputin sedang bermain di sungai bersama kedua saudaranya. Tiba-tiba penyakit Maria kambuh. Ia tercebur ke sungai. Melihat itu, Dmitri masuk ke dalam sungai dan berusaha menolong Maria. Sayang, karena keduanya tak bisa berenang, mereka pun hanyut terseret arus sungai.
Melihat kejadian itu, Rasputin hanya diam. Dia tak berusaha menolong atau menyelamatkan kedua saudaranya. Keduanya dibiarkan mati. Maria mati tenggelam karena penyakit epilepsinya kumat, sedang Dmitri tenggelam karena tak bisa berenang. Sehingga radang paru-parunya tak kuat menampung air.
Kematian kedua saudaranya itu, tak pelak, mempengaruhi perkembangan Rasputin. Tak heran jika kemudian Rasputin memberi nama anak-anaknya dengan nama Maria dan Dmitri, diambil dari nama saudara-saudaranya.
Sepeninggal saudara-saudaranya, kontan kehidupannya berubah. Rasputin kecil kerap menyendiri dan mengurung dalam kamar. Dia tak mau bergaul dengan teman-teman sebayanya. Dia lebih memilih berdiam diri di tempat-tempat yang angker dan keramat.
Bukan itu saja, dalam melakukan pencarian jati diri, Rasputin jarang menyentuh air alias tak pernah mandi. Badannya jadi kusut, bau, dan lusuh. Pun pakaiannya mirip pengemis dibanding orang lelaku.
Setiap orang kampung berpapasan dengan Rasputin, mereka buru-buru menutupi hidungnya. Karena badannya mengeluarkan aroma tak sedap, laki-laki itu mulai dijauhi keluarga maupun teman-temannya.
Suatu hari Efimy Rasputin, ayah Rasputin mendapati kudanya hilang dicuri maling. Setelah diperiksa, ternyata si pencurinya tak lain adalah anaknya sendiri, tak lain Rasputin. Dia pun diusir ayahnya. Ketika itu usianya baru menginjak 18 tahun.
Setelah diusir dari rumah, Rasputin mulai melakukan pengembaraan. Dia masuk ke sebuah biara Verkhoturye. Tujuannya adalah penebusan dosa atas pencurian yang pernah dilakukannya.
Selama dalam pengembaraan, Rasputin mengalami banyak pengalaman spritual. Berbagai sekte atau aliran sesat dilakoninya demi mendapatkan ilmu yang diinginkan. Bahkan akhirnya, dia bergabung dengan sebuah aliran sesat. Aliran ini berkiblat pada seks. Setiap mengadakan upacara keagamaan, aliran ini sebelumnya harus melakukan ritual seks. Dalam ajarannya, aliran ini selalu berpedoman bahwa setiap manusia yang ingin dekat dengan Tuhan, maka ia harus melakukan perbuatan terlarang.
Inilah pertama kali Rasputin mengenal seks. Darah mudanya terpacu. Apalagi, di antara pengikut-pengikut tersebut, Rasputin dikenal memiliki alat kelamin paling besar dan panjang. Menurut catatan sejarah, penis Rasputin berukuran 30 cm. Di kalangan pengikut aliran sesat tersebut Rasputin dijuluki dewa seks. Selain memiliki alat yang besar dan panjang, dia ternyata jago bermain seks.
Tidak sedikit para pengikut-pengikutnya (khususnya wanita) yang puas bila berhubungan dengan Rasputin. Rasputin bukan saja hebat bermain di ranjang, tapi juga hebat melayani 5 hingga 7 wanita sekaligus.
Setiap kali memulai aliran sesatnya, sang dewa seks selalu mengajak teman-temannya untuk melihatnya berhubungan intim dengan lawan jenisnya. Pengikutnya bertelanjang bulat. Di sudut ruangan yang remang-remang itulah, beberapa pria dan wanita mulai melakukan ritual keagamaan dengan saling bercengkraman dan tumpang tindih.
Orang pertama yang memulai tentu saja Rasputin. Di depannya telah terlentang seorang wanita muda. Kulitnya putih dan mulus. Wanita itu pura-pura tertidur nyenyak di sebuah ranjang.
Wajahnya tenang, mulutnya terlukis sesungging senyum. Sesekali ia membuka matanya dan melihat sosok kekar Rasputin dan berharap agar lelaki itu segera mendekatinya.
Secara phisik, gadis ini sangatlah bahagia dan sejahtera. Ia dikelilingi lelaki dan wanita yang tengah bertelanjang bulat. Dalam usia yang relatif muda, gadis itu mulai dijejali dijejali pemandangan erotis di sekelilingnya. Entah bagaimana awalnya ia bisa tergabung dalam aliran sesat tersebut. Yang jelas gadis itu telah siap melakukan ritual keagamaan yang dianut Rasputin.
Sementara Rasputin muda mulai digelayuti keresahan. Keindahan tubuh si gadis membuat jakun Rasputin naik turun. Gairah Rasputin naik. Antara ragu dan takut, Rasputin berusaha untuk menahan gairahnya. Dalam hatinya berkata, mampukah ia melakukan perbuatan terlarang tersebut.
Lagi-lagi perang batin kian berkecamuk di hatinya. Rasputin resah dan tak bisa mengatupkan mata. Malam terus merangkak. Dingin menempel di jendela, dan terus merayap memenuhi ruang tua tersebut.
Melihat perubahan yang dialami Rasputin, beberapa orang yang hadir dan si gadis tadi terpekur. Mereka melihat perubahan yang sangat dramatis dialami laki-laki kusut tersebut. Alat kemaluan Rasputin makin lama makin membesar.
Si gadis makin bernafsu. Detup jantung di seluruh ruangan membahana. Nafas Rasputin dan si gadis memburu hebat. Otaknya berpikir keras. Saat itulah Rasputin dan si gadis mulai naik ke peraduan. Keduanya tak tertutupi kain apa-apa. Bahkan, perbuatan mereka dapat dilihat oleh yang lain.
Rasputin terus merayap. Sampai akhirnya keluarlah lengkuhan panjang dari si gadis. Pemandangan ini sontak membuat orang-orang di sekitarnya, baik pria dan wanita mulai mengikuti langkah Rasputin.
Mereka akhirnya mulai melakukan pesta seks. Saling merangsang, saling tindih, dan saling tukar pasangan.
Tak berhenti sampai di situ. Rasputin terus saja melakukan ritualnya. Dia menindih lagi si gadis. Ia memasukkan lingganya ke yoni gadis ini. Saat itulah keluar darah perawan dari si gadis. Melihat hal itu, Rasputin makin penasaran dan meneruskan ‘pekerjaannya’.
Kejadian itu berlangsung lama. Dan itulah pesta seks perawan yang dilakukan Rasputin dan pengikutnya. Ritual tersebut dilakukan untuk menjajal ilmu kesaktiannya. Hampir setiap malam bulan purnama, Rasputin melakukan ritual seks. Bukan satu gadis yang ditindih, melainkan banyak.
Kegilaan Rasputin ini sempat mendapat pujian dari para pengikut aliran sesat lainnya. Tak heran jika setelah melakukan ritual terlarang tersebut, Rasputin mendapat julukan sebagai dewa seks.
Dibunuh Kaum Homo, Penisnya Dipotong dan Diawetkan
Rasputin sempat menikah menikah dengan Prascovie Dubrovin pada usia 19 tahun. Namun demikian dia tetap ‘bermain’ dengan banyak wanita. Rasputin juga semakin dihormati karena sering melakukan pengembaraan spiritual ke daerah lain dan pintar menafsirkan kitab suci. Pengikutnya semakin banyak sampai pendeta di desanya cemburu.
Seorang pertapa dari Makari menganjurkan padanya untuk mengembara ke Pegunungan Althos, Pusat Gereja Ortodoks setelah Rasputin melihat bayangan Perawan Maria. Dalam perjalanan Rasputin menginap dirumah-rumah penduduk dan membayar dengan menceritakan kisah-kisah perjalanannya. Namanya menjadi semakin terkenal karena kearifannya dalam mendiskusikan agama, memberikan nasihat, dan menolong orang sakit.
Dua setengah tahun, Rasputin pulang ke kampung halamannya sebagai orang suci. Ketika penduduk desa Pokrovskoe tahu bahwa Rasputin telah kembali dari pengembaraannya , mereka berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk mendengarkan kisah pengalamannya.
Mereka dibuat terpesona dengan perubahan yang terjadi padanya. Rasputin tidak lagi memakan daging dan minum vodka. Ketika dia berbicara tentang agama, kesungguhan dan kedalamannya membuat semua terpikat.
Rasputin selalu merasionalisasi perilakunya dengan falsafah Khlyst, bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dan nafsu seks. Dalam menghadapi murid wanitanya dia menerapkan kebijaksanaan berbeda. Untuk dibebaskan dari dosa kita harus berbuat dosa terlebih dahulu, katanya.
Rasputin mendirikan tempat pemujaan di bawah tanah tepat di bawah lumbung penyimpanan gandum bersama dengan teman-temannya.
Nama Rasputin kian menyebar di lingkungan petani dan biarawan Siberia. Bahkan Rasputin dianggap mampu menyembuhkan orang sakit. Penduduk Kiev di Kazan yang kebanyakan bangsawan dan tokoh gerejanya mulai mengenal Rasputin.
Kazan , yang terletak di tepi sungai Volga adalah kota yang didirikan oleh bangsa Tartar pada abad ke 15. Dikota ini berkumpul berbagai bangsa : Cina , Negro, Tartar, Turki, Arab dan bangsa Rusia dari segala daerah.
Salah satu yang menjadi perhatian Rasputin di Kazan adalah Biara Bogoroditski yang dibangun pada tahun 1579. Di dalam biara itu terdapat patung Perawan Hitam Kazan yang sangat indah. Patung itu mengingatkannya pada pertemuannya dengan Perawan Suci Maria di ladang.
Tokoh gereja yang ditemui Rasputin di Kazan antara lain Pendeta Chrisanthos dan Uskup Andrey. Pendeta Chrisanthos dengan cepat bersimpati, akan tetapi Uskup Andrey mulai meragukan Rasputin sebagai orang suci.
Pada awal abad ke 20 Rasputin dan istrinya mempunyai tiga anak: Dmitri (1895), Maria (1898) dan Varya (1900).
Di tahun 1900 saat Rasputin berusia 29 tahun, dia berdiri diambang kejayaan dan kekuasaan, juga ancaman kebencian dan bahaya.
Rasputin mulai menarik perhatian kalangan Istana Romanov ,dan Grand Duchess Militsa mengundangnya untuk datang menghadap. Militsa terkesan dan mengundang kembali Rasputin untuk datang ke St. Petersburg.
Militsa adalah seorang wanita yang berpengaruh dan licik. Suaminya Peter adalah saudara sepupu Tsar. Militsa adalah putri raja Nikita penguasa Monte-Negro (kini Yugoslavia). Dia mempunyai pengaruh yang besar di istana Rusia karena keakrabannya dengan Tsarita. Mereka akrab karena sama-sama menyukai spiritualisme, komunikasi dengan arwah, ramalan dan keagamaan.
Saat itulah Rasputin diangkat sebagai penasehat spiritual oleh istana. Dalam perjalanannya, sepak terjang Rasputin kian kuat. Dari sisi spiritual, banyak pejabat-pejabat istana, terutama istri-istri pejabat, meminta nasehat kepada Rasputin. Layaknya seorang sakti, Rasputin dengan bijak memberi wejangan kepada mereka.
Namun demikian, nasehat yang diberikan Rasputin tidak gratis. Sebab setiap kali memberi nasehat, dia selalu meminta imbalan. Dan imbalannya adalah berhubungan intim. Tentu saja hal itu dilakukan hanya untuk istri-istri pejabat.
Dan memang awalnya Rasputin suka dengan seks, maka semua wanita di seluruh istana pernah tidur dengan Rasputin. Dan kebanyak wanita-wanita tersebut sangat puas bila berhubungan badan dengan Rasputin. Mereka melihat Rasputin adalah sosok laki-laki yang perkasa. Belum lagi dia memiliki penis yang sangat panjang.
Hal ini pula yang membuat istri-istri pejabat tersebut tidak menolak untuk diajak tidur. Bukan saja wanita di lingkungan istana yang pernah ditindih, Tsarita sendiri, permaisuri raja malah pernah takluk akan keperkasaan Rasputin. Menurut Tsarita, Rasputin adalah pria yang luar biasa. Dalam satu malam dia bisa berhubungan badan dengan 3-4 perempuan.
Rasputin memang seorang yang jago bermain kata-kata. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya ibarat dewa. Dan apapun yang diinginkan Rasputin harus dipenuhi. Jika tidak, maka dewa-dewa akan marah.
Kejayaan Rasputin dari tahun ke tahun telah menenggelamkan dirinya. Di istana, dia menjadi orang yang paling dipercaya. Banyak orang yang takut kepadanya. Pejabat istana bahkan tidak berani menentang Rasputin. Bukan itu saja, mereka juga takut jika ucapan Rasputin akan menjadi kenyataan.
Tapi kemudian muncul kebencian terhadap Rasputin. Para pejabat mulai mencium gelagat tidak baik dalam diri Rasputin. Mereka mulai tahu bahwa Rasputin pernah meniduri istri-istri mereka. Selain itu pula, para pejabat dari aliran konservatif ini mulai khawatir akan pengaruh Rasputin terhadap istri tsar.
Yah, dengan menguasai permaisuri, otomatis permintaan Rasputin akan dipenuhi tsar. Maka, pada tanggal 29 Desember 1916, para pejabat istana mulai merencanakan sebuah siasat untuk membunuh Rasputin.
Suatu hari saat perjamuan makan malam di istana, seseorang memberi racun sianida. Dosisnya setara untuk menewaskan 10 orang. Tapi karena diketahui kemudian bahwa sianida tersebut sudah rusak oleh pemanasan makanan, Rasputin gagal mati.
Kesempatan itu kemudian dilakukan pada malam harinya, di saat Rasputin hendak pulang ke kampungnya. Dalam perjalanan pulang, beberapa pria tak dikenal menembak Rasputin dari belakang. Penembak itu bernama Felix Yusupov. Felix sendiri adalah utusan dari istana. Dia seorang gay atau homo. Bersama teman-teman homonya, Felix mulai melakukan aksi bengisnya. Tapi saat Rasputin ditembak, sang dukun masih dapat bertahan hidup. Ia ditembak lagi 3 kali, tapi tidak mati juga.
Saking berangnya melihat Rasputih tidak mati, mereka lantas memukulnya dengan tongkat berkali-kali dan beramai-ramai. Saat itulah Rasputin langsung tewas seketika. Dan sebelum tewas, para pembunuh gay ini memotong penis Rasputin. Penis itu dipotong untuk dijadikan bukti kepada pejabat istana bahwa musuhnya telah mati. Jika saat tegang penis Rasputin bisa memanjang sampai 30 cm, nah pada saat tewas (tidak tegang, red) penisnya menyusut menjadi 27 cm. Namun tetap saja panjang.
Setelah memotong penis Rasputin, para pembunuh bayaran tersebut kemudian menenggelamkan jasad Rasputin ke Sungai Neva yang dingin. Menurut beberapa sumber di istana, seorang pembantu menemukan penis Rasputin di tempat sampah, tak jauh dari istana. Jelas itu adalah konspirasi tinggi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat istana yang benci dengan Rasputin.
Namun demikian, tak ada penyidikan lebih lanjut mengenai pembunuhan tersebut. Di tahun 1920-an, penis Rasputin sepanjang 27 cm kemudian disimpan oleh sekelompok wanita Rusia di Paris. Para wanita ini menyembah penis ini sebagai lambang kesuburan, dan menyimpannya di dalam sebuah kotak kayu. Mendengar hal ini, anak Rasputin, Marie, meminta mereka mengembalikan penis ayahnya kepadanya. Marie lantas menyimpannya sampai ia meninggal pada tahun 1977.
Sepeninggal Marie, seseorang bernama Michael Augustine mengaku telah membeli penis ini dan beberapa barang kepunyaan Rasputin dari ahli waris. Dan kini penis tersebut diawatkan di sebuah museum di Bonhams.@nov
*) diolah dari berbagai sumber
Author Abad
20.12.22
Geisha, Setengah Istri Setengah Pelacur
Geisha bukan pelacur dan juga bukan istri. Geisha menjual keahlian dan ketrampilan bukan tubuh. Mereka tidak dibayar untuk melakukan hubungan seks. Geisha hanya boleh punya hubungan khusus dengan laki-laki yang menjadi dannanya (pelindung) yang menyokong biaya hidup sehari-harinya yang cukup besar. Dengan kata lain, Geisha hanya bisa menjadi setengah istri, yaitu istri-istri di malam hari. Mereka tidak menikah, tetapi bukan berarti tidak boleh punya anak. Cuma, kini Geisha kini kerap diartikan sebagai pelacur dan perusak rumah tangga orang
Geisha sudah biasa berkeliaran di Gion, Kyoto. Foto_ ist
Abad.id, Kyoto adalah sebuah kota yang kental dengan adat istiadat Jepang masa lalu. Tinggal di kota ini seperti kena time sleep. Di kota ini ada kurang lebih 1000 buah kuil. Kota Kyoto tak ubahnya manusia bermuka dua. Bersisi wajah kehidupan masa lalu yang terus dipertahankan, dan kehidupan modern yang terus berkembang.
Di pusat kota, ada sebuah sungai besar yang panjang membelah kota hingga tersambung dengan kota Osaka. Dikenal dengan sebutan ‘Kamogawa’ atau ‘Sungai Bebek’.
Bila menelusuri sungai ini hingga ke pusat kota, maka yang terlihat adalah kehidupan masa lalu. Pusat kota ini dikenal dengan sebutan Kawaramachi Dori. Di sekitarnya ada wilayah bernama Pontocho.
Memang Kyoto merupakan basis Geisha. Tapi di sini juga ada dua desa yang paling bergengsi dan sekaligus distrik yang paling banyak geisha-nya adalah Gion dan Pontocho. Di wilayah ini terdapat ‘Desa Geisha’. Kalau di Tokyo, Geisha banyak ditemukan di Shinbashi, Asakusa dan Kagurazaka.
Gion Kyoto, tempat bermukimnya para Geisha. Foto_ ist
Di Gion dan Pontocho, geisha lebih dikenal dengan sebutan geiko. Pada akhir abad 20 tercatat ada 10 ribu Geisha, padahal pada tahun 1920-an ada 80 ribu Geisha.
Di wilayah ini berderet rumah makan yang kental dengan nuansa Jepang. Mulai dari bentuk bangunannya, jenis masakannya, bahasa yang dipergunakan, tata krama pelayanannya, semuanya. Ada prestise tersendiri bila menjadi tamu di wilayah Pontocho ini.
Nama Geisha sendiri mempunyai banyak makna yang terkandung dalam huruf Kanji. Geisha bisa bermakna ‘orang yang bisa berkesenian’.
Geisha seringkali dianggap pelacur. Foto_ ist
Namun pada perjalanannya, geisha kerap dianggap miring. Geisha seringkali diartikan sebagai ‘pelacur kelas atas’. Pelacur yang hanya mampu dibeli orang-orang kaya. Karena untuk resmi menjadi Geisha dia harus melakukan ritual ‘mizuage’, yakni ritual menjual keperawanan.
Jadi lengkaplah apa yang dipersangkakan orang selama ini.
Kendati demikian, para Geisha tidak mau dikatakan pelacur. Mereka malah berkata, bahwa diri mereka adalah seniman.
“Geisha adalah seorang artis dari dunia yang mengapung. Dia menari. Dia menyanyi. Dia menghibur dengan cara apapun yang kau inginkan,” kata salah seorang Geisha di Kyoto.
“Bagi laki-laki (sang pelindung) Geisha hanya bisa setengah istri. Kami adalah istri-istri di malam hari. Tapi tetap mengenali kebaikan setelah begitu banyak kejahatan,” sambut mereka lagi.
Penghibur yang Memikat
Geisha bukan pelacur tapi seorang seniman sejati.__Foto_ ist
Seorang Geisha adalah gadis yang sangat lembut dalam segala hal. Kostumnya penuh dekorasi seni.Kkelihatannya sederhana dan lucu. Prilakunya tenang, bersinar dan wangi. Gerakanya gemulai dan tidak terburu-buru, terlihat manis secara musikal.
Percakapanya merupakan gabungan yang tajam antara unsur feminisme dan jawaban-jawaban tepat. Cahayanya tidak ada habisnya. Kesederhanannya menjadi contoh. Kepuasannya tidak terukur. Itulah Geisha.
Geisha, bersamaan dengan Puncak Fuji dan bunga cherry, telah menjadi simbol Jepang sejak Jepang terbuka pada dunia Barat tahun 1850-an.
Secara tradisional pemunculannya sangat dikaitkan dengan erotisme, namun seksualitas Geisha tidak secara langsung dijual dan sangat sulit untuk didapatkan. Geisha dianggap semata-mata hanya pelengkap orang yang menemani orang penting dalam lingkaran kehidupan pelacur.
Nama Geisha menempati waktu singkat dalam sejarah Jepang yang panjang. Geisha seperti yang dikenal muncul beberapa ratus tahun yang lalu. Namun demikian wanita ”bertipe” Geisha–wanita yang menghibur dan kemudian menawarkan tubuhnya kepada pria–kembali pada masa awal di Jepang. Tergantung pada tingkat seninya, sensitifitasnya dan kepandaianya, wanita-wanita ini, yang kemudian hari menjadi seperti geisha, bisa menjadi terkenal dan bahkan berkuasa.
Dari abad 12 sampai abad 14 muncul kelompok PSK baru yang disebut Shirabyoshi. Mereka merupakan penyanyi dan penari trampil yang mengenakan pakaian model Shinto dan memainkan drum dan seruling. Sering kali mereka berasal dari keluarga aristokrat yang jatuh dan mereka merupakan hasil dari kehebohan sosial.
Nama dari beberapa wanita ini telah menjadi legenda. Yang paling terkenal adalah Shizuka, yang menjadi teman prajurit Jepang yang paling dicintai rakyat yang bernama Yoshitsune. Yang lain lagi adalah Kemegiku yang menjadi selir Kaisar Gotoba. Beberapa legenda, hymne dan balada kuno dan tradisi mereka kemudian diambil oleh teater Noh.
Saburuko dan shirabyosi merupakan pendahulu Geisha. Mereka adalah entertainer wanita yang bebas tubuhnya. Namun gesiha tidak mungkin timbul tanpa budaya yang kemudian disebut yujo (pelacur), bunga rumah panas yang tinggal di yukaku, namun hidup dalam kesenangan.
Istilah ”tempat hiburan” sungguh ironis dalam beberapa hal. Sekitar tahun 1600 tempat-tempat tersebut sebenarnya dibentuk seperti ”penjara”. Tempat-tempat itu dibangun untuk melokalisir kebutuhan, prostitusi dan hiburan dari jalanan dan menempatkan mereka pada tempat khusus.
Dalam sejarah tempat hiburan banyak gadis-gadis miskin yang dijual oleh keluarganya yang kurang mampu untuk menjadi pelayan di sana, dan mereka tidak bisa meninggalkan tempat tersebut sampai hutang-hutangnya terbayar lunas.
Pertengan tahun 1800-an, tempat seperti ini muncul di tiga kota besar di Jepang, seperti di Yoshiwara di Edo (sekarang Tokyo), Shimmachi di Osaka, dan Shimbara di Kyoto. Tempat huburan mewah dipenuhi oleh orang-orang kaya, sebuah kelas sosial yang saat itu sedang tumbuh.
Tempat-tempat hiburan dipenuhi dengan hal-hal artistik dan lisensi seksual dimana orang-orang bisa terlepas dari tekanan rezim militer pada saat itu. Tempat hiburan teahouses, dimana yujo menghibur seperti salon yang penuh dengan artis, penulis, aktor dan pegulat, juga dipenuhi oleh para lelaki perkotaan.
Di sini, beberapa pelacur kelas tinggi mendapatkan kedudukan yang tinggi yang disebut tayu atau oiran dan diperlakukan seperti keluarga kerajaan yang dibantu oleh shinzo, kamuro dan pelayan-pelayan lain.
Awalnya geisha adalah pria. Pada permulaan adanya rumah hiburan, mereka berpenampilan sedemikian rupa layaknya sosok wanita. Mereka juga menari, pelawak, menabuh drum dan bermain shamisen.
Ketika geisha wanita mulai muncul sekitar tahun 1750, mereka diarahkan sebagai onna geisha (geisha wanita). Ada kekhawatiran bahwa para geisha ini akan bersaing dengan para yujo bagi para pelanggan dan karenanya ada banyak larangan pada prilaku mereka.
Geisha wanita pertama dari Yoshiwara bernama Kasen. Dia keluar dari profesi sebagai penghibur (entertainer) murni setelah lunas membayar semua hutangnya. Namun karena pengaruh waktu para wanita itu kemudian menggantikan geisha pria dan sekitar tahun 1800 semua geisha adalah wanita.
Geisha awalnya diperbolehkan untuk bebas ke tempat-tempat hiburan. Belakangan mereka diatur menjadi seperti yujo; mereka harus mendaftar, dan tidak diperbolehkan meninggalkan tempat tanpa ijin khusus. Di tempat-tempat tersebut, Geisha yang kurang atraktif yang diperlakukan lebih rendah dari yujo justru lebih disukai.
Namun demikian, geisha yang tidak mempunyai ketrampilan menghibur mulai menghuni tempat-tempat hiburan yang tidak resmi. Para geisha ini atas keinginan mereka menjadi pelacur jenis baru yang disebut sebagai iki. Yujo, pelacur kelas tinggi di tempat-tempat hiburan tersebut sangat kontras dibandingkan geisha karena geisha terlalu berprilaku normal, ketinggalan jaman, menggunakan ornamen yang berlebihan dan dikutuk karena kepura-puraannya. Kadang-kadang Yujo kehilangan seluruh keinginan seksualnya dan geishalah yang menggantikannya, merefleksikan kekuatan baru abad ke-19 saat Jepang memasuki masa modern.
Jual Keperawanan
Sejak remaja Geisha dididik dengan sangat disiplin. Foto_ ist.
Seorang Geisha tidak dapat bertahan tanpa memelihara jaringan yang kuat diantara anggota komunitasnya. Apakah hubungan ini merupakan hubungan positif atau negatif, mereka tetap mendukung geisha secara pribadi. Penggunaan nama geisha yang terkenal adalah hal penting bagi mereka untuk menunjukkan jenis dukungan keluarga yang diperlukan.
Keberhasilan seorang geisha bukan hanya karena kecantikannya atau bakatnya tetapi juga karena dukungan “kakaknya” yang bernama Mameha.
Dalam pelatihan karirnya, ada ritual-ritual tertentu yang lazim diajarkan kepada geisha pada masa sebelum perang. Geisha mewarisi pelatihan kehidupan ini dari yujo, yaitu pelacur sebelum mereka.
Seorang Geisha biasanya dijual sebagai seorang gadis kecil ketika keluarganya tidak mampu membiayainya. Dia disebut sebagai seorang shikomi, seorang pelayan yang terikat yang mengerjakan pekerjaan kasar. Rumahnya dikendalikan oleh seseorang yang disebut okasan (ibu), biasanya pensiunan Geisha.
Sebelum menjadi Geisha, mereka harus pandai menguasai berbagai kesenian, salah satunya menari. Foto_ ist
Seorang shikomi harus memberikan perhatian khusus pada keperluan-keperluan seorang geisha penuh yang menghasilkan uang untuk rumah tersebut. Jika gadis itu menunjukkan tanda-tanda bahwa dia berbakat, dia mulai belajar tari dan musik di sekolah geisha dimulai kira-kira pada usia 7 tahun.
Setelah menghabiskan setengah hari di sekolah, di waktu yang tersisa lainnya dia harus mempraktekkan selama berjam-jam dan harus juga menyelesaikan tugas-tugasnya.
Sebagai seorang remaja, jika sudah siap, dia menjadi magang geisha, yang di Kyoto disebut maiko dan di Tokyo disebut oshaku. Dia didandani dengan kimono terang dengan lengan panjang.
Dia mulai mengenakan rambut model “belah-persik” dimana rambut di gulungan rambutnya membentuk segitiga kecil. Agar bisa menjadi seorang pemagang, dia harus mempunyai seorang onesan (kakak perempuan) yang bersedia mengajaknya pada tugas-tugasnya sehingga dia bisa belajar melalui minarai (observasi).
Seorang Geisha dan pemagang kemudian pergi ke upacara persaudaraan yang menyerupai pernikahan, saling menukar tiga teguk sake. Hal ini disebut san san kudo.
Seorang Geisha akan menjadi milik seseorang yang menjadi penawar tertinggi mizuage-nya, kehilangan virginitasnya dan menjadi wanita sepenuhnya. Sebuah upacara meneguk sake akan dilaksanakan kembali. Sebagai tanda atas perubahan yang signifikan ini sebuah tanda merah akan ditempatkan di rambutnya. Seperti halnya perubahan untuk pakaian wanita yang terjadi setelah perkawinan orang Jepang, hal ini menjadikan perubahan seorang geisha sebagai bukti untuk dilihat semua orang.
Ketika seorang geisha mencapai status penuh, dia akan eriakae o suru (mengganti tanda di lehernya). Ini berarti bahwa dia akan mengganti bagian warna putih di komino bagian bawahnya dengan sebagian warna merah di bawah pakaiannya.
Dia mengenakanya dengan cara ini ketika dia diperkenalkan. Pada titik ini dia mengganti kimononya dengan model yang lebih sederhana model lengan pendek untuk wanita dewasa.
Mendapatkan status penuh sebagai seorang geisha hampir selalu terlibat penuh dengan majikannya atau danna. Dengan majikannya inilah geisha pertama kali menyerahkan keperawanannya. Jika sudah begitu, maka dia akan memberikan dukungan finansial, bahkan kadang-kadang cukup untuk membuat sebuah rumah.
Hal yang paling menentukan dalam karir seorang geisha adalah keputusannya untuk menikah. Mereka mungkin juga meninggalkan hanamachi dan menjadi istri simpanan sepenuhnya.
Yah, Geisha bukan seorang istri, bukan pula pelacur. Tapi setengahnya saja. Karena itulah tidak heran jika banyak geisha yang memilih tetap tinggal di tempat hiburan dan menjadi okasan dan mengatur rumah geishanya sendiri. Banyak Geisha yang sesudah pernikahanya gagal atau hancur kembali pada kehidupan sebelumnya yang dirasa paling nyaman.
Betapa menyedihkan dan menyakitkan, ketika semua orang mendapat cinta, tapi geisha justru sebaliknya. Mereka tidak boleh merasakan, tidak boleh mencintai dan memilih. Geisha hanyalah karya seni maha agung yang hidup dalam dunia yang terapung.
Ini bukan kisah seorang raja, ini bukan kisah seorang jendral, ini hanya sebuah kisah seorang geisha yang selamanya hanya menjadi setengah istri, istri di malam hari, yang tak dapat dapat memiliki cinta seutuhnya.
Maha Karya Seni Hidup
Seorang Geisha juga harus pandai berdandan. Foto_ ist
Geisha sangat identik dengan gerakan dan melodi. Citarasa Geisha mengkombinasikan warna, harmoni, suara dan gerakan dengan iteligensi dan humor sangatlah luar biasa.
Itulah yang menjadi daya tarik Geisha. Dia menyeimbangkan antara ketulusan kasih sayang dan kesenian. Hal ini terjadi tanpa menafikan bahwa Geisha harus mempunyai sensualitas tertentu.
Ini bukan semata-mata daya tarik seksual, tapi rasa seni yang diciptakan dalam berpakaian dan bahasa tubuh. Ini dapat dilihat dengan sangat jelas dalam percakapan yang saling memberi dan menerima.
Seratus limapuluh tahun lalu seorang geisha mengenakan make up terang, komono dengan warna yang kental dan pola-pola sederhana, dengan obi tergantung di punggung. Penampilan geisha yang sederhana adalah bagian dari peraturan yang ditujukan agar geisha tidak menyaingi yujo, tapi malah salah kaprah.
Penampilan Geisha sangat berlawanan dengan yujo membuat yujo tampak ketinggalan jaman. Geisha hanya mempunyai beberapa pin di rambut, sedangkan yujo tampak seperti dikerubuti serangga. Seorang yujo yang ditandai dengan warna perak dan emas dengan naga menghadap ke atas atau ditaruh dimana saja menjadi terlalu membatasi dengan geisha. Geisha menggantikan yujo dengan mepersonifikasikan semangat perubahan revolusioner pada saat itu.
Namun Geisha bukanlah trendsetter model. Mereka hanyalah penegak tradisi, mengenakan kimono setiap hari seperti yang dilakukan oleh hanya sedikit wanita Jepang. Pada kesempatan-kesempatan resmi, mereka tampak seperti yujo yang sudah punah: mengenakan make up tebal dan berat dan mengenakan kimono penuh ornamen.
Geisha masih menjadi model jika berada dalam tempat-tempat yang lebih kecil. Berpakaian adalah bagian dari seni mereka. Hal ini membuktikan bahwa dalam pakaian dan kesempurnaan geisha merupakan indikasi kesadaran mereka. Geisha masih menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk penampilanya, berhutang untuk membeli obi dan kimono yang mewah dan model terbaru.
Jika dia bisa menampilkan karya yang paling artistik pembuat komono, maka reputasinya semakin baik. Seorang geisha mencari tamu murni dengan seni yang ada di komononya sebagai pintu untuk memasuki dunianya. Walaupun Gesiha tidak lagi mempengaruhi fashion secara umum, mereka masih terus membuat model baru untuk kimono.
Ada dua jenis Geisha. Geisha yang cantik, yang karena kecantikannya segera mendapatkan jodoh. Mereka pensiun karena kerut. Jenis lain adalah geisha yang tidak tergantung pada kecantikanya namun pada kepandainnya berbicara. Mereka mendapatkan tamu dengan kepandaian kata-katanya. Dia tahu kekuatan anekdot dan seni merayu tanpa menyerang. Di balik senyum dan rasa humornya mereka lebih manusiawi. Geisha jenis ini yang bisa-bisa mempunyai hanamachi di masa tuanya dan lebih banyak dirindukan setelah kematiannya.
Kebanggaan seorang geisha tergantung paga gei atau seninya. Gei merupakan hal penting bagi geisha sejak profesi ini mulai ada, ketika Geisha disewa karena kemampuan menari dan menyanyinya. Sekarang pun tetap sama. Ketika seorang wanita muda menjadi geisha sebagian besar adalah karena kecintaan mereka terhadap musik dan tari tradisional. Sebagai seorang geisha mereka dapat tampil sebagai profesional, bukan sebagai amatir.
Gei seorang Geisha terutama terbentuk dari permainan shamisen dan tari tradisional, namun hal tersebut juga menjadi arah bagi seni tradisional lainnya seperti: kaligrafi, kemampuan menulis puisi, dan jamuan minum teh. Geisha pada masa sebelum perang, yang mengikuti pelatihan yang sangat keras, sangat ahli dalam berbagai jenis musik dan tari.
Kehidupan Geisha telah berubah sejak jaman sebelum perang. Gadis-gadis itu tidak lagi dijual pada rumah geisha. Mizuage (virginitas) adalah masa lalu. Meski banyak orang menjadi geisha karena alasan ekonomi, seorang geisha bebas memilih majikannya dan boleh mempunyai pacar.
Saat ini, para wanita muda bersedia menjadi geisha karena keinginan mereka untuk mengabdikan diri pada tari atau samishen.
Jika saat ini Geisha tetap mempertahankan musik dan tari tradisional Jepang, itu Geisha tetap menjadi harta karun dan tetap menjadi lambang bagi Jepang.@nov
*) diolah dari berbagai sumber
Malika D. Ana
12.11.22
Geisha, Setengah Istri Setengah Pelacur
Geisha bukan pelacur dan juga bukan istri. Geisha menjual keahlian dan ketrampilan bukan tubuh. Mereka tidak dibayar untuk melakukan hubungan seks. Geisha hanya boleh punya hubungan khusus dengan laki-laki yang menjadi dannanya (pelindung) yang menyokong biaya hidup sehari-harinya yang cukup besar. Dengan kata lain, Geisha hanya bisa menjadi setengah istri, yaitu istri-istri di malam hari. Mereka tidak menikah, tetapi bukan berarti tidak boleh punya anak. Cuma, kini Geisha kini kerap diartikan sebagai pelacur dan perusak rumah tangga orang
Geisha sudah biasa berkeliaran di Gion, Kyoto. Foto_ ist
Abad.id, Kyoto adalah sebuah kota yang kental dengan adat istiadat Jepang masa lalu. Tinggal di kota ini seperti kena time sleep. Di kota ini ada kurang lebih 1000 buah kuil. Kota Kyoto tak ubahnya manusia bermuka dua. Bersisi wajah kehidupan masa lalu yang terus dipertahankan, dan kehidupan modern yang terus berkembang.
Di pusat kota, ada sebuah sungai besar yang panjang membelah kota hingga tersambung dengan kota Osaka. Dikenal dengan sebutan ‘Kamogawa’ atau ‘Sungai Bebek’.
Bila menelusuri sungai ini hingga ke pusat kota, maka yang terlihat adalah kehidupan masa lalu. Pusat kota ini dikenal dengan sebutan Kawaramachi Dori. Di sekitarnya ada wilayah bernama Pontocho.
Memang Kyoto merupakan basis Geisha. Tapi di sini juga ada dua desa yang paling bergengsi dan sekaligus distrik yang paling banyak geisha-nya adalah Gion dan Pontocho. Di wilayah ini terdapat ‘Desa Geisha’. Kalau di Tokyo, Geisha banyak ditemukan di Shinbashi, Asakusa dan Kagurazaka.
Gion Kyoto, tempat bermukimnya para Geisha. Foto_ ist
Di Gion dan Pontocho, geisha lebih dikenal dengan sebutan geiko. Pada akhir abad 20 tercatat ada 10 ribu Geisha, padahal pada tahun 1920-an ada 80 ribu Geisha.
Di wilayah ini berderet rumah makan yang kental dengan nuansa Jepang. Mulai dari bentuk bangunannya, jenis masakannya, bahasa yang dipergunakan, tata krama pelayanannya, semuanya. Ada prestise tersendiri bila menjadi tamu di wilayah Pontocho ini.
Nama Geisha sendiri mempunyai banyak makna yang terkandung dalam huruf Kanji. Geisha bisa bermakna ‘orang yang bisa berkesenian’.
Geisha seringkali dianggap pelacur. Foto_ ist
Namun pada perjalanannya, geisha kerap dianggap miring. Geisha seringkali diartikan sebagai ‘pelacur kelas atas’. Pelacur yang hanya mampu dibeli orang-orang kaya. Karena untuk resmi menjadi Geisha dia harus melakukan ritual ‘mizuage’, yakni ritual menjual keperawanan.
Jadi lengkaplah apa yang dipersangkakan orang selama ini.
Kendati demikian, para Geisha tidak mau dikatakan pelacur. Mereka malah berkata, bahwa diri mereka adalah seniman.
“Geisha adalah seorang artis dari dunia yang mengapung. Dia menari. Dia menyanyi. Dia menghibur dengan cara apapun yang kau inginkan,” kata salah seorang Geisha di Kyoto.
“Bagi laki-laki (sang pelindung) Geisha hanya bisa setengah istri. Kami adalah istri-istri di malam hari. Tapi tetap mengenali kebaikan setelah begitu banyak kejahatan,” sambut mereka lagi.
Penghibur yang Memikat
Geisha bukan pelacur tapi seorang seniman sejati.__Foto_ ist
Seorang Geisha adalah gadis yang sangat lembut dalam segala hal. Kostumnya penuh dekorasi seni.Kkelihatannya sederhana dan lucu. Prilakunya tenang, bersinar dan wangi. Gerakanya gemulai dan tidak terburu-buru, terlihat manis secara musikal.
Percakapanya merupakan gabungan yang tajam antara unsur feminisme dan jawaban-jawaban tepat. Cahayanya tidak ada habisnya. Kesederhanannya menjadi contoh. Kepuasannya tidak terukur. Itulah Geisha.
Geisha, bersamaan dengan Puncak Fuji dan bunga cherry, telah menjadi simbol Jepang sejak Jepang terbuka pada dunia Barat tahun 1850-an.
Secara tradisional pemunculannya sangat dikaitkan dengan erotisme, namun seksualitas Geisha tidak secara langsung dijual dan sangat sulit untuk didapatkan. Geisha dianggap semata-mata hanya pelengkap orang yang menemani orang penting dalam lingkaran kehidupan pelacur.
Nama Geisha menempati waktu singkat dalam sejarah Jepang yang panjang. Geisha seperti yang dikenal muncul beberapa ratus tahun yang lalu. Namun demikian wanita ”bertipe” Geisha–wanita yang menghibur dan kemudian menawarkan tubuhnya kepada pria–kembali pada masa awal di Jepang. Tergantung pada tingkat seninya, sensitifitasnya dan kepandaianya, wanita-wanita ini, yang kemudian hari menjadi seperti geisha, bisa menjadi terkenal dan bahkan berkuasa.
Dari abad 12 sampai abad 14 muncul kelompok PSK baru yang disebut Shirabyoshi. Mereka merupakan penyanyi dan penari trampil yang mengenakan pakaian model Shinto dan memainkan drum dan seruling. Sering kali mereka berasal dari keluarga aristokrat yang jatuh dan mereka merupakan hasil dari kehebohan sosial.
Nama dari beberapa wanita ini telah menjadi legenda. Yang paling terkenal adalah Shizuka, yang menjadi teman prajurit Jepang yang paling dicintai rakyat yang bernama Yoshitsune. Yang lain lagi adalah Kemegiku yang menjadi selir Kaisar Gotoba. Beberapa legenda, hymne dan balada kuno dan tradisi mereka kemudian diambil oleh teater Noh.
Saburuko dan shirabyosi merupakan pendahulu Geisha. Mereka adalah entertainer wanita yang bebas tubuhnya. Namun gesiha tidak mungkin timbul tanpa budaya yang kemudian disebut yujo (pelacur), bunga rumah panas yang tinggal di yukaku, namun hidup dalam kesenangan.
Istilah ”tempat hiburan” sungguh ironis dalam beberapa hal. Sekitar tahun 1600 tempat-tempat tersebut sebenarnya dibentuk seperti ”penjara”. Tempat-tempat itu dibangun untuk melokalisir kebutuhan, prostitusi dan hiburan dari jalanan dan menempatkan mereka pada tempat khusus.
Dalam sejarah tempat hiburan banyak gadis-gadis miskin yang dijual oleh keluarganya yang kurang mampu untuk menjadi pelayan di sana, dan mereka tidak bisa meninggalkan tempat tersebut sampai hutang-hutangnya terbayar lunas.
Pertengan tahun 1800-an, tempat seperti ini muncul di tiga kota besar di Jepang, seperti di Yoshiwara di Edo (sekarang Tokyo), Shimmachi di Osaka, dan Shimbara di Kyoto. Tempat huburan mewah dipenuhi oleh orang-orang kaya, sebuah kelas sosial yang saat itu sedang tumbuh.
Tempat-tempat hiburan dipenuhi dengan hal-hal artistik dan lisensi seksual dimana orang-orang bisa terlepas dari tekanan rezim militer pada saat itu. Tempat hiburan teahouses, dimana yujo menghibur seperti salon yang penuh dengan artis, penulis, aktor dan pegulat, juga dipenuhi oleh para lelaki perkotaan.
Di sini, beberapa pelacur kelas tinggi mendapatkan kedudukan yang tinggi yang disebut tayu atau oiran dan diperlakukan seperti keluarga kerajaan yang dibantu oleh shinzo, kamuro dan pelayan-pelayan lain.
Awalnya geisha adalah pria. Pada permulaan adanya rumah hiburan, mereka berpenampilan sedemikian rupa layaknya sosok wanita. Mereka juga menari, pelawak, menabuh drum dan bermain shamisen.
Ketika geisha wanita mulai muncul sekitar tahun 1750, mereka diarahkan sebagai onna geisha (geisha wanita). Ada kekhawatiran bahwa para geisha ini akan bersaing dengan para yujo bagi para pelanggan dan karenanya ada banyak larangan pada prilaku mereka.
Geisha wanita pertama dari Yoshiwara bernama Kasen. Dia keluar dari profesi sebagai penghibur (entertainer) murni setelah lunas membayar semua hutangnya. Namun karena pengaruh waktu para wanita itu kemudian menggantikan geisha pria dan sekitar tahun 1800 semua geisha adalah wanita.
Geisha awalnya diperbolehkan untuk bebas ke tempat-tempat hiburan. Belakangan mereka diatur menjadi seperti yujo; mereka harus mendaftar, dan tidak diperbolehkan meninggalkan tempat tanpa ijin khusus. Di tempat-tempat tersebut, Geisha yang kurang atraktif yang diperlakukan lebih rendah dari yujo justru lebih disukai.
Namun demikian, geisha yang tidak mempunyai ketrampilan menghibur mulai menghuni tempat-tempat hiburan yang tidak resmi. Para geisha ini atas keinginan mereka menjadi pelacur jenis baru yang disebut sebagai iki. Yujo, pelacur kelas tinggi di tempat-tempat hiburan tersebut sangat kontras dibandingkan geisha karena geisha terlalu berprilaku normal, ketinggalan jaman, menggunakan ornamen yang berlebihan dan dikutuk karena kepura-puraannya. Kadang-kadang Yujo kehilangan seluruh keinginan seksualnya dan geishalah yang menggantikannya, merefleksikan kekuatan baru abad ke-19 saat Jepang memasuki masa modern.
Jual Keperawanan
Sejak remaja Geisha dididik dengan sangat disiplin. Foto_ ist.
Seorang Geisha tidak dapat bertahan tanpa memelihara jaringan yang kuat diantara anggota komunitasnya. Apakah hubungan ini merupakan hubungan positif atau negatif, mereka tetap mendukung geisha secara pribadi. Penggunaan nama geisha yang terkenal adalah hal penting bagi mereka untuk menunjukkan jenis dukungan keluarga yang diperlukan.
Keberhasilan seorang geisha bukan hanya karena kecantikannya atau bakatnya tetapi juga karena dukungan “kakaknya” yang bernama Mameha.
Dalam pelatihan karirnya, ada ritual-ritual tertentu yang lazim diajarkan kepada geisha pada masa sebelum perang. Geisha mewarisi pelatihan kehidupan ini dari yujo, yaitu pelacur sebelum mereka.
Seorang Geisha biasanya dijual sebagai seorang gadis kecil ketika keluarganya tidak mampu membiayainya. Dia disebut sebagai seorang shikomi, seorang pelayan yang terikat yang mengerjakan pekerjaan kasar. Rumahnya dikendalikan oleh seseorang yang disebut okasan (ibu), biasanya pensiunan Geisha.
Sebelum menjadi Geisha, mereka harus pandai menguasai berbagai kesenian, salah satunya menari. Foto_ ist
Seorang shikomi harus memberikan perhatian khusus pada keperluan-keperluan seorang geisha penuh yang menghasilkan uang untuk rumah tersebut. Jika gadis itu menunjukkan tanda-tanda bahwa dia berbakat, dia mulai belajar tari dan musik di sekolah geisha dimulai kira-kira pada usia 7 tahun.
Setelah menghabiskan setengah hari di sekolah, di waktu yang tersisa lainnya dia harus mempraktekkan selama berjam-jam dan harus juga menyelesaikan tugas-tugasnya.
Sebagai seorang remaja, jika sudah siap, dia menjadi magang geisha, yang di Kyoto disebut maiko dan di Tokyo disebut oshaku. Dia didandani dengan kimono terang dengan lengan panjang.
Dia mulai mengenakan rambut model “belah-persik” dimana rambut di gulungan rambutnya membentuk segitiga kecil. Agar bisa menjadi seorang pemagang, dia harus mempunyai seorang onesan (kakak perempuan) yang bersedia mengajaknya pada tugas-tugasnya sehingga dia bisa belajar melalui minarai (observasi).
Seorang Geisha dan pemagang kemudian pergi ke upacara persaudaraan yang menyerupai pernikahan, saling menukar tiga teguk sake. Hal ini disebut san san kudo.
Seorang Geisha akan menjadi milik seseorang yang menjadi penawar tertinggi mizuage-nya, kehilangan virginitasnya dan menjadi wanita sepenuhnya. Sebuah upacara meneguk sake akan dilaksanakan kembali. Sebagai tanda atas perubahan yang signifikan ini sebuah tanda merah akan ditempatkan di rambutnya. Seperti halnya perubahan untuk pakaian wanita yang terjadi setelah perkawinan orang Jepang, hal ini menjadikan perubahan seorang geisha sebagai bukti untuk dilihat semua orang.
Ketika seorang geisha mencapai status penuh, dia akan eriakae o suru (mengganti tanda di lehernya). Ini berarti bahwa dia akan mengganti bagian warna putih di komino bagian bawahnya dengan sebagian warna merah di bawah pakaiannya.
Dia mengenakanya dengan cara ini ketika dia diperkenalkan. Pada titik ini dia mengganti kimononya dengan model yang lebih sederhana model lengan pendek untuk wanita dewasa.
Mendapatkan status penuh sebagai seorang geisha hampir selalu terlibat penuh dengan majikannya atau danna. Dengan majikannya inilah geisha pertama kali menyerahkan keperawanannya. Jika sudah begitu, maka dia akan memberikan dukungan finansial, bahkan kadang-kadang cukup untuk membuat sebuah rumah.
Hal yang paling menentukan dalam karir seorang geisha adalah keputusannya untuk menikah. Mereka mungkin juga meninggalkan hanamachi dan menjadi istri simpanan sepenuhnya.
Yah, Geisha bukan seorang istri, bukan pula pelacur. Tapi setengahnya saja. Karena itulah tidak heran jika banyak geisha yang memilih tetap tinggal di tempat hiburan dan menjadi okasan dan mengatur rumah geishanya sendiri. Banyak Geisha yang sesudah pernikahanya gagal atau hancur kembali pada kehidupan sebelumnya yang dirasa paling nyaman.
Betapa menyedihkan dan menyakitkan, ketika semua orang mendapat cinta, tapi geisha justru sebaliknya. Mereka tidak boleh merasakan, tidak boleh mencintai dan memilih. Geisha hanyalah karya seni maha agung yang hidup dalam dunia yang terapung.
Ini bukan kisah seorang raja, ini bukan kisah seorang jendral, ini hanya sebuah kisah seorang geisha yang selamanya hanya menjadi setengah istri, istri di malam hari, yang tak dapat dapat memiliki cinta seutuhnya.
Maha Karya Seni Hidup
Seorang Geisha juga harus pandai berdandan. Foto_ ist
Geisha sangat identik dengan gerakan dan melodi. Citarasa Geisha mengkombinasikan warna, harmoni, suara dan gerakan dengan iteligensi dan humor sangatlah luar biasa.
Itulah yang menjadi daya tarik Geisha. Dia menyeimbangkan antara ketulusan kasih sayang dan kesenian. Hal ini terjadi tanpa menafikan bahwa Geisha harus mempunyai sensualitas tertentu.
Ini bukan semata-mata daya tarik seksual, tapi rasa seni yang diciptakan dalam berpakaian dan bahasa tubuh. Ini dapat dilihat dengan sangat jelas dalam percakapan yang saling memberi dan menerima.
Seratus limapuluh tahun lalu seorang geisha mengenakan make up terang, komono dengan warna yang kental dan pola-pola sederhana, dengan obi tergantung di punggung. Penampilan geisha yang sederhana adalah bagian dari peraturan yang ditujukan agar geisha tidak menyaingi yujo, tapi malah salah kaprah.
Penampilan Geisha sangat berlawanan dengan yujo membuat yujo tampak ketinggalan jaman. Geisha hanya mempunyai beberapa pin di rambut, sedangkan yujo tampak seperti dikerubuti serangga. Seorang yujo yang ditandai dengan warna perak dan emas dengan naga menghadap ke atas atau ditaruh dimana saja menjadi terlalu membatasi dengan geisha. Geisha menggantikan yujo dengan mepersonifikasikan semangat perubahan revolusioner pada saat itu.
Namun Geisha bukanlah trendsetter model. Mereka hanyalah penegak tradisi, mengenakan kimono setiap hari seperti yang dilakukan oleh hanya sedikit wanita Jepang. Pada kesempatan-kesempatan resmi, mereka tampak seperti yujo yang sudah punah: mengenakan make up tebal dan berat dan mengenakan kimono penuh ornamen.
Geisha masih menjadi model jika berada dalam tempat-tempat yang lebih kecil. Berpakaian adalah bagian dari seni mereka. Hal ini membuktikan bahwa dalam pakaian dan kesempurnaan geisha merupakan indikasi kesadaran mereka. Geisha masih menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk penampilanya, berhutang untuk membeli obi dan kimono yang mewah dan model terbaru.
Jika dia bisa menampilkan karya yang paling artistik pembuat komono, maka reputasinya semakin baik. Seorang geisha mencari tamu murni dengan seni yang ada di komononya sebagai pintu untuk memasuki dunianya. Walaupun Gesiha tidak lagi mempengaruhi fashion secara umum, mereka masih terus membuat model baru untuk kimono.
Ada dua jenis Geisha. Geisha yang cantik, yang karena kecantikannya segera mendapatkan jodoh. Mereka pensiun karena kerut. Jenis lain adalah geisha yang tidak tergantung pada kecantikanya namun pada kepandainnya berbicara. Mereka mendapatkan tamu dengan kepandaian kata-katanya. Dia tahu kekuatan anekdot dan seni merayu tanpa menyerang. Di balik senyum dan rasa humornya mereka lebih manusiawi. Geisha jenis ini yang bisa-bisa mempunyai hanamachi di masa tuanya dan lebih banyak dirindukan setelah kematiannya.
Kebanggaan seorang geisha tergantung paga gei atau seninya. Gei merupakan hal penting bagi geisha sejak profesi ini mulai ada, ketika Geisha disewa karena kemampuan menari dan menyanyinya. Sekarang pun tetap sama. Ketika seorang wanita muda menjadi geisha sebagian besar adalah karena kecintaan mereka terhadap musik dan tari tradisional. Sebagai seorang geisha mereka dapat tampil sebagai profesional, bukan sebagai amatir.
Gei seorang Geisha terutama terbentuk dari permainan shamisen dan tari tradisional, namun hal tersebut juga menjadi arah bagi seni tradisional lainnya seperti: kaligrafi, kemampuan menulis puisi, dan jamuan minum teh. Geisha pada masa sebelum perang, yang mengikuti pelatihan yang sangat keras, sangat ahli dalam berbagai jenis musik dan tari.
Kehidupan Geisha telah berubah sejak jaman sebelum perang. Gadis-gadis itu tidak lagi dijual pada rumah geisha. Mizuage (virginitas) adalah masa lalu. Meski banyak orang menjadi geisha karena alasan ekonomi, seorang geisha bebas memilih majikannya dan boleh mempunyai pacar.
Saat ini, para wanita muda bersedia menjadi geisha karena keinginan mereka untuk mengabdikan diri pada tari atau samishen.
Jika saat ini Geisha tetap mempertahankan musik dan tari tradisional Jepang, itu Geisha tetap menjadi harta karun dan tetap menjadi lambang bagi Jepang.@nov
*) diolah dari berbagai sumber
Malika D. Ana
12.11.22
Dari Indonesia muncul bibit-bibit peradaban seperti Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Yunani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, dan Aztek.
Abad.id - Legenda yang berkisah tentang daratan Atlantis, pertama kali diungkapkan seorang filosof Yunani bernama Plato (427-347 SM). Saat itu Plato bilang bahwa ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya. Di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera. Itu adalah kerajaan Atlantis. Demikian kata Plato.
Diceritakan Plato, “Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena. Namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir. Tidak sampai sehari semalam Atlantis tenggelam ke dasar laut. Negara besar yang melampaui peradaban tinggi lenyap dalam semalam,” kata Plato.
Dalam legenda dikatakan kerajaan Atlantis dibangun oleh seorang dewa bernama Poseidon. Poseidon sendiri, katanya, adalah saudara dari Dewa Zues.
Dikisahkan di sebuah pulau terdapat seorang gadis muda yang kedua orang tuanya meninggal. Poseidon memperistri gadis muda itu dan melahirkan lima anak kembar. Kemudian Poseidon membagi keseluruhan pulau menjadi 10 wilayah; masing-masing diserahkan pada 10 anak untuk menguasai, dan anak sulung lelaki ditunjuk sebagai penguasa tertinggi.
Anak sulung ini bernama Atlan. Oleh karena kerajaan dipimpin oleh Atlan, maka semua orang menyebut negeri itu sebagai kerajaan “Atlantis” yang diambil dari nama raja mereka.
Tercatat, kisah Atlantis sebenarnya dikisahkan oleh adik sepupu Critias. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates. Tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis.
Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias. Sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon ( 639-559 SM).
Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno. Suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.
Catatan dalam dialog secara garis besar seperti berikut ini: “Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya.
Istananya dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertakhtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.”
Gambaran peradaban Atlantis yang hilang. Foto_ ist.jpg
Itulah gambaran Atlantis. Atlantis seringkali digambarkan sebagai peradaban besar dengan tingkat kemajuan teknologi yang tinggi. Konon, pesawat terbang, pendingin ruangan, batu baterai, dan lain-lain telah ada pada masa itu.
Atlantis Rekaan
Menurut perhitungan versi Plato, waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis kurang lebih 11.150 tahun silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri.
Plato bahkan pergi ke Mesir untuk meminta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, bahwa kerajaan Atlentis adalah nyata. Nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.
Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun yang menjadi pertanyaan, dimanakah kerajaan Atlantis itu?
Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.
Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama–laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang–tembus pandang hingga ke dasar laut.
Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba menjerit dan kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar. Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah.
Dan ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan polygon. Adapun besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama. Namun penyusunannya sangat rapi. Konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis? Tidak juga.
Gambaran Kota Atlantis yang hilang ditelan lautan. Foto_ ist.jpg
Awal tahun ’70-an, sekelompok peneliti telah tiba di sekitar kepulauan Yasuel, Samudera Atlantik. Mereka telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut. Atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam.
Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato. Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis? Juga bukan.
Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia! Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis? Masih belum ditemukan korelasinya.
Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang.
Piramida besar ini apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis? Juga tidak.
Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dan lain-lain.
Mereka berdua mengatakan: “Mutlak percaya, yang kami temukan adalah Benua Atlantik! Sama persis seperti yang dilukiskan Plato!” Benarkah itu? Hal itu belum terbukti sampai sekarang.
Hingga kini belum ada seorang pun ilmuwan dapat memastikan apakah sebuah bangunan yang benar-benar dibangun oleh tenaga manusia. Sebab mungkin saja sebuah puncak gunung bawah air yang berbentuk limas.
Sementara foto peninggalan bangunan kuno di dasar laut yang diambil tim ekspedisi Rusia, juga tidak dapat membuktikan di sana adalah bekas tempat kerajaan Atlantis.
Setelah itu ada tim ekspedisi menyelam ke dasar samudera jalan batu di dasar lautan Atlantik Pulau Bimini. Mereka mengambil sampel “jalan batu” dan dilakukan penelitian laboratorium serta dianalisa. Hasilnya menunjukkan bahwa jalan batu ini umurnya belum mencapai 10.000 tahun.
Jika jalan ini dibuat oleh bangsa kerajaan Atlantis, setidak-tidaknya tidak kurang dari 10.000 tahun. Mengenai foto yang ditunjukkan kedua kelasi Norwegia itu, hingga kini pun tidak dapat membuktikan apa-apa.
Satu-satunya kesimpulan tepat yang diperoleh adalah benar ada sebuah daratan yang karam di dasar laut Atlantik. Jika memang benar di atas laut Atlantik pernah ada kerajaan Atlantis, dan kerajaan Atlantis memang benar tenggelam di dasar laut Atlantik, maka di dasar laut Atlantik pasti dapat ditemukan bekas-bekasnya.
Namun apa yang terjadi, semua penyelidiki terhadap Atlantis belum membuahkan hasil. Kerajaan Atlantis tetap merupakan sebuah misteri sepanjang masa.
Indonesia
Prof. Arysio Nunes Dos Santos. Foto_ ist.jpg
Adalah Prof. Arysio Nunes Dos Santos, seorang peneliti asal Brazil yang telah 30 tahun menghabiskan waktunya meneliti keberadaan Atlantis yang hilang. Melalui bukunya “Atlantis The Lost Continents Finally Found”, Santos mengejutkan semua orang. Dia bilang benua Atlantis yang hilang itu: Indonesia.
Santos berhasil mematahkan semua kata-kata Plato yang menyebutkan jika benua hilang itu berada di Samudera Atlantik, Laut Tengah, Karibia, atau kutub Utara. Melainkan, di Indonesia.
Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah. Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya mengulang-ulang.
Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusuri lokasi Atlantis adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ibu dari peradaban dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.
Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.
Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.
Gunung utama yang disebut Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mitologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.
Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, di antaranya Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .
Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.
Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang. Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.
Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.
Akibat bencana hebat itu, penduduk Atlantis yang selamat lantas menyebar ke seluruh dunia dan membentuk suku-suku baru ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika. Mereka juga membentuk peradaban baru seperti Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.
Digambarkan pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini.
Di tempat-tempat baru tersebut mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.
Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.
Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia. Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.
Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik. Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.
Dari Indonesia sendiri muncullah bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain. Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis di berbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.
Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia.@nov