images/images-1671518686.png
Data
Tokoh

Jejak Sukarno Dibalik Pemberontakan Peta di Blitar Meragukan

Author Abad

Dec 20, 2022

973 views

24 Comments

Save

Penulis : Pulung Ciptoaji

 

Sekarang Sukarno harus menjaga sikap. Di hadapan Jepang dia harus tampil sebagai sekutu yang setia sambil berusaha membujuk untuk mewujudkan janjinya memberi kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara di hadapan para pemimpin nasional lainnya serta Masyumi, Sukarno harus membuktikan janji Koiso. Lebih dari itu, Sukarno harus bermain aman agar posisinya sebagai tokoh sentral tidak goyah. Sebab ada kelompok rakyat telah menghubungkan namanya sebagai tokoh yang kurang menyenangkan. Bahkan ada yang bilang Sukarno hanya "budak Jepang"

 

Strategi para pemimpin nasionalis yang belum tampak tujuannya itu rupanya sudah terbaca oleh rakyat yang mulai muak dengan perilaku Jepang. Kelakuan Jepang yang bengis dan diluar batas kewajaran dan adat, benar-benar membuat jengkel kaum priyayi dan rakyat. Kelakuan tentara Jepang itu membuat marah tentara PETA yang mestinya bertugas mendukung program Romusa. Maka pada tanggal 14 februari 1945 di Blitar terjadi perlawanan tentara PETA terhadap Jepang. Tokoh pemimpin aksi perlawanan ini seorang pemuda berpangkat soudanco bernama Supriyadi.

 

Supriyadi memiliki nama kecil Priyambodo. Sejak kecil dia terbiasa mendengar cerita kepahlawanan para wayang dan sikap hidup kesatria dari kakek tirinya. Kisah-kisah itu membekas pada jiwa dan kepribadian Supriyadi. Pemuda asal Trenggalek lahir 13 April 1923  ini, ikut kesatuan semi militer Jepang Barisan Pemuda atau Seinendan di Tangerang. Berikutnya, Supriyadi pun terpilih mengikuti PETA yang dibentuk Jepang pada 3 Oktober 1943.

 

Mengutip Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara oleh Gamal Komandoko, Supriyadi pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Belanda, ELS (Europese Lagere School) dan melanjutkannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Sebelum bergabung denan PETA, priyayi Jawa ini sempat  melanjutkan pendidikan ke sekolah pamong praja, OSVIA (Opleiding School Voor Indlandse Ambtenaren) di Magelang.

 

Setelah memperoleh pendidikan militer di PETA, Supriyadi diangkat sebagai Dai Ichi Shodan atau Peleton 1 wilayah Blitar. Tugasnya selama di Blitar mengawasi pekerjaan romusha. Namun, pekerjaan itu ditolaknya dengan alasan terlalu kejam untuk memperbudak bangsanya sendiri.

 

Dalam buku Sukarno biografi 1901-1950, Lambert Giebels penulis berkebangsaan Belanda itu menyebutkan supriadi sangat percaya diri mampu melakukan perlawanan. Ia menimba kekuatan dari hubungan mistiknya dengan Pangeran Diponegoro. Atas keyakinan ini, banyak anggota PETA lain yakin dan ikut dengan aksi Supriyadi

 

Sebulan sebelum aksi pemberontakan, terdapat 16 anggota PETA aktif mulai melakukan rapat di sebuah tempat yang tertutup. Para tokoh pemuda itu Supriyadi, Halir, Ismangil dan beberapa tokoh kelompok rakyat. Mereka memutuskan aksi pemberontakan tanggal 14 Pebruari 1945 pukul 04.00 sebelum apel pagi. Dalam keyakinannya, para tokoh pemuda ini akan menyerbu markas dan asrama batalyon PETA di Blitar.

 

Namun rupanya para pemuda ini lupa strategi dan tujuan aksi pemberontakan itu. Bisa jadi aksi serangan pagi hari ini hanya bentuk ketidak puasan atas tentara Jepang, atau ada masalah dendam pribadi. Strategi penyerangan juga belum matang. Mereka tidak mengukur bagaimana menguasai senjata, bagaimana cara melakukan langkah gerilya jika aksi mereka gagal.

 

Seperti yang sudah disepakati, pagi itu menjelang subuh sudah muncul rentetan senjata menyerang markas batalyon PETA. Banyak pasukan Jepang yang sedang tidur langsung disergap dan dibunuh. Para pemberontak juga merampas senjata, mobil pengangkut barang dan kas tentara sebesar 10 ribu gulden. Menjelang fajar, masa pemberontak bergerak menuju penjara kota Blitar yang berada dekat alun-alun. Disana mereka membebaskan 250 tahanan kriminal dan segera bergabung dengan pasukan.

 

Dalam catatan sejarah aksi para pemuda PETA ini penuh dengan semangat dan kepahlawanan, dan benar benar menguasai kota Blitar. Menang dalam satu gebrakan. Pukul 10 pagi sudah banyak mayat tentara Jepang bergelimpangan di markas dan di jalan. Belum puas, massa bergerak semakin bengis dengan melakukan penjarahan toko-toko yang dihuni etnis China. Bahkan Lambert Giebels berani menyebut pasukan liar semakin bengis dengan melakukan aksi pemerkosaan wanita Indo Belanda. Situasi kota Blitar benar-benar tidak bisa dikendalikan. Namun sekali lagi massa ini tidak memperhitungkan strategi pertahanan jika ada aksi balasan dari tentara Jepang. Supriyadi yang menjadi tokoh utama gerakan masih terlalu muda dan emosional tidak bisa mengendalikan massa yang terlanjur euforia.

 

Rupanya Jepang langsung kalap penuh kemarahan begitu mendengar kabar kota Blitar dilumpuhkan dan banyak tentaranya dibunuh. Serangan para pemberontak PETA ini dibalas Jepang dengan skala lebih besar. Batalyon dari Malang dan Kediri didatangkan untuk mengepung Blitar. Akibatnya situasi tak seimbang. Para pemberontak yang kurang berpengalaman tempur kocar kacir menyelamatkan diri masuk ke hutan dan Gunung Kelud. Sementara para pemimpin berhasil ditangkap dan diajukan ke pengadilan militer Jepang di Jakarta. Di berbagai buku sejarah menyebutkan, Supriyadi tidak ikut diadili dan diduga sudah lebih dahulu dihabisi Jepang.

 

Aksi pemberontakan PETA ini juga dipantau para pemimpin nasional, dan mereka mengambil sikap berbeda-beda. Ada pihak yang menuding Supriadi terlalu gegabah dan terburu-buru. Bahkan ada kelompok nasionalis lain yang menyalahkan cara Supriyadi, sebab dianggap menggangu rencana dan strategi awal untuk menjadi negara merdeka sesuai janji Koiso. Namun ada kelompok lain menganggap justru dengan pemberontakan PETA ini membukikan kekuatan rakyat bisa mengalahkan tentara Jepang. Berkat aksi pemberontakaan ini posisi Jepang yang sebelumnya sudah banyak kalah perang di beberapa wilayah perang pasifik semakit terdesak. Aksi pemberotakan PETA juga membangkitkan rasa patriotik rakyat yang tinggal di batalyon wilayah lain, dan sudah menyiapkan diri akan melakukan langkah sama jika diperlukan.

 

Sementara itu bagi Sukarno, serangan PETA ini membuat posisinya yang sebelumnya sangat aman menjadi dilematis. Sebab aksi pemberontakan itu berada di Kota Blitar tempat tinggalnya. Sukarno kawatir muncul kesan seakan-akan aksi pemberontakan itu dibawah kendalinya. Sukarno harus mencari cara agar keluarga di Blitar aman dari incaran Jepang.

 

Untuk menghilangkan keraguan tentara Jepang terhadap Sukarno,  segera menawakan diri untuk bertindak sebagai salah satu juri pribumi yang diperbantukan kepada pengadilan militer di Jakarta. Mereka yang tertangkap ini para pemimpin mulai Halir dan dr ismail. Namun upaya Sukarno ini ditolak Jepang karena akan berdampak negatif dengan namanya. Dalam sidang militer Jepang itu, para pimpinan pemberonak mendapatkan vonis hukuman mati dengan cara dipancung sesuai tradisi samurai.

 

Rupanya keterangan berbeda dalam otobiografi Sukarno yang ditulis wartawan Amerika Cindy Adams. Sukarno mengatakan bahwa secara tidak langsung ikut terlibat dalam aksi pemberontakan PETA. Sukarno membesar-besarkan keterlibatannya. Seakan-akan membuka rahasia yang tidak banyak diketahui orang. Katanya sebelum dilakukan rapat-rapat di markas, para pimpinan pemberontak mendatangi rumah orang tua Sukarno di kelurahan Gebang Bendogerit yang tidak jauh dari lokasi markas. Mereka mengungkapkan rencana aksinya. Raden Sukemi orang tua Sukarno menemui para pimpinan PETA itu memberi semangat. Namun juga mengingatkan bahwa kalau nanti mendapatkan kesulitan, ia tidak bisa membantu karena keterbatasannya.

 

Memang dampak pemberonakan PETA ini benar benar merubah tingkat kepercayaan diplomatik terhadap pemimpin nasionalis di Jakarta. Sumber dari Jepang kolonel Miyamoto Shizuo perwira staf dari tentara ke 16 bagian transportasi dan komunikasi mengatakan, pemberontakan batalyon PETA harus mengubah strategi Jepang. Setelah kejadian itu PETA tidak lagi dipercaya sepenuhnya oleh Jepang jika terjadi pertempuran besar melawan sekutu di pulau Jawa. Bahkan Jepang mulai curiga dengan PETA. Dikawatirkan akan muncul pemberontakan susulan yang bisa terjadi saat serangan sekutu di tanah Jawa. Atas kejadian itu, semua tenaga cadangan di kepulauan Indonesia termasuk divisi 48 di wilayah timur segera ditarik untuk mempertahankan pulau Jawa. Sehingga kekuatan Jepang di pulau Jawa meningkat menjadi 80 ribu tentara.

 

Bahkan jika muncul serangan sekutu ke pulau Jawa, kekuatan Jepang akan dikonsentrasikan di daratan tinggi Bandung. Di kota ini akan dirancang menjadi palagan pertempuran yang menentukan. Beruntung, semua langkah tersebut tidak semua dilakukan oleh Jepang, sebab 2 bom besar di kota Hirosima dan Nagasaki telah menundukan Jepang dari kemungkinan perang yang lebih dasyat. (pul)

Artikel lainnya

Perubahan Diksi dan Proses Pembodohan

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Sikap Kritis PDIP Terhadap Danantara

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Pertamina sebagai "Mesin Uang" Politik

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Dari Hero ke Blunder

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Ironi Wacana Perpu Perampasan Aset

Malika D. Ana

Mar 27, 2025

Prabowo dan Perpu Perampasan Aset

Malika D. Ana

Mar 27, 2025