images/images-1674804010.png
Budaya
Tokoh

Aktor James Dean dan Kutukan Mobil Porsche

Pulung Ciptoaji

Jan 27, 2023

1315 views

24 Comments

Save

“Bermimpilah seakan akan kau hidup selamanya. Hiduplah seakan akan kau akan mati hari ini” ungkapan James Dean aktor Amerika Serikat yang hidupnya sebentar namun sangat bernilai.

 

abad.id-Aktor tampan era 50-an, James Dean, sosok yang dikenal menyukai dunia roda empat. Bahkan, dirinya kerap tertangkap kamera sedang kebut-kebutan di jalan mengendarai mobil kencang Porsche 550 Spyder. Sialnya, hobinya tersebut membawa ke kematiannya. Tepatnya tanggal 30 September 1955, Dean mengalami kecelakaan hebat hingga membuatnya tewas di tempat. Mobilnya juga hancur setelah menabrak sedan Ford Tudor di sebuah persimpangan kota Cholame, California.

 

James Dean lahir di kota pertanian kecil Fairmount, Indiana, AS, pada tahun 1931. Dalam hidupnya yang singkat, dia berhasil menjelma sebagai salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah sinematik. Sejak kecil James Dean sudah mengasah hidupnya dengan seni dan kegiatan acting. “Walaupun aku terlibat dalam fungsi teaterikal atau lainnya sejak aku masih kecil, baik urusan sekolah, musik maupun olahraga, namun semuanya hanyalah kecelakaan. Bagiku aking adalah cara yang paling logis untuk neurosis orang-orang untuk mewujudkan diri mereka sendiri. Semua ini kita perlukan untuk mengekpresikan diri kita. Menurutku latihan untuk seorang aktor tersusun bahkan sebelum dia dalam buaian sang ibu,” kata James Dean dalam bukuberontak bukan tanpa sebab.

 

Memang, sejak berada di SMA, Dean sudah menjadi atlet bintang dan menunjukkan minat pada drama. Didorong oleh guru dramanya, Dean mendapat peran pertamanya sebagai bintang iklan Pepsi. Setelah itu, dia segera mendarat peran kecil dalam drama televisi.

 

James Dean kemudian pindah ke New York pada tahun 1951 dan mulai belajar serius di Actors Studio dengan guru legendaris Lee Strasberg. Dia segera mendapat peran di atas panggung dalam berbagai produksi seperti The Immoralist dan See the Jaguar, serta dalam banyak drama televisi lain. Hingga tahun 1954, Dean menandatangani kontrak dengan Warner Bros, salah satu studio terbesar pada saat itu.

 

Bagi James Dean, memahami signifikan kehidupan adalah tugas seorang aktor, menafsirkan dan menunjukkannya dalam dedikasinya. Menjadi seorang aktor adalah pilihan yang paling sunyi di dunia ini. “Kau sendiriaan dan konsentrasi dan imajinasimu dan hanya itulah yang kau miliki. Menjadi aktor yang baik itu sulit. Menjadi aktor itu lebih berat. aku ingin menjadi keduanya sebelum aku melakukannya,” tambah James Dean

 

Film pertama yang dibintangi James Dean adalah Elia Kazan’s East of Eden pada tahun 1955, yang diadaptasi dari buku karya John Steinbeck. Dean sempurna memerankan anak bermasalah, Cal Trask. Dia mampu mengekspresikan berbagai emosi seperti keterasingan, kecemasan, dan kecemburuan. Di film itu, Dean langsung mendapatkan nominasi Aktor Terbaik Oscar secara anumerta.

 

Banyak yang berspekulasi bahwa kehidupan Dean dipenuhi dengan kesepian seperti karakter yang dia mainkan. Kecintaannya pada mobil dan memacu dengan kecepatan tinggi akhirnya mengakhiri hidup singkat James Dean.

 

Pada tahun 1955, Dean tewas saat mengemudi mobil sport Porsche Spyder miliknya. Dia bertabrakan dengan mobil lain dan tewas seketika pada usia 24 tahun.

 

“Karena usiaku baru 24 tahun, aku kira aku punya wawasan ke dalam generasi yang muncul ini sebaik orang muda lainnya seusiaku. Dan aku tau bahwa banyak pemuda tidak berdiri seperti patung atau bicara seperti Demosthenes. Oleh karena itu, ketika aku berperan sebagai seorang pemuda, seperti dalam Rebel Without A Cause, aku berusaha meniru kehidupan,” kata James Dean dalam sebuah wawaancara sebelum ajal menjemput.  

 

Kematian James Dean justru membuat dirinya melegenda. Pihak produser segera merillis sebuah film sebulan setelah kematiannya berjudul Rebel Without a Cause. Film tersebut  langsung hits terutama di kalangan remaja.

 

Dalam pengakuan James Dean, film Rebel Without a Cause berkaitan dengan problem-problem anak muda modern. Inilah konsepsi romantis anak muda yang menyebabkan munculnya banyak kesulitan dengan kesalahan memahami kaum muda sekarang. Dalam pikiran James Dean, dalam film tersebut menunjukan dispoporsi psikologis dari permintaan anak muda terhadap orang tua. Para orang tua dianggap sering melakukan kesalahan, namun namun anak muda harus melakukan beberapa hal juga.

 

Dalam film Rebel Without a Cause tersebut, Dean mampu menggabungan sensitivitas Montgomery Clift dengan seksualitas dan ledakan kemarahan Marlon Brando. Sekali lagi, dia menggambarkan keterasingan, kebingungan, dan kecemasan yang mewakili suara generasinya.

 

 

 

James Dean mengenakan jeans, jaket merah, dan T-shirt putih menjadi salah satu gambar sinema paling ikonik. Foto istimewa

 

Film ketiga dan terakhir James Dean, Giant (1956) juga fenomenal. Perannya sebagai Jett Rink yang kesepian dan tersiksa membawanya mendapatkan nominasi Aktor Terbaik Academy Award.

 

Misteri Porsche Yang Terkutuk

 

Banyak pandangan James Dean tentang dunia peran di hidupnya yang sebentar. Terutama dalam panggung hiburan yang digelutinya di Holywood. Baginya, seorang aktor adalah kisah yang nyata dalam film sebenarnya yaitu hidup. Jika seorang aktor memainkan suatu adegan secara teat sesuai kehendak sutradara, maka ini bukanlah akting. Ini  sekedar mengikuti intruksi. Siapapun dengan kualifikasi fisikal dapat melakukannya. “

 

Jadi tugas sutradara hanyalah menyutradarai sebagaimana aktig itu dikendalikannya. Kemudian aktor mengambil alih. Dia harus membiarkan ruang dan kebebasan mengepresikan dirinya dalam peran. Tanpa ruang itu, aktor tidak lebih daripada robot tanpa akal,” nasehat James Dean yang sangat melegenda.

 

Kata bijak ini selalu diingat oleh calon bintang di Holywood, bahwa hidup seorang superstar itu singkat. Begitu pula dengan kenikmatan dunia itu hanya sederhana, yaitu kepuasan dan ambisi.

 

Porsche 550 Spyder yang membawa maut. Foto dok net 

 

Nah, ambisi dan kepuasan inilah yang menjadi malapetaka bagi Dean. Dirinya merasa bebas dan jantan jika sudah mengendarai mobil roda empat dengan kecepatan tinggi.  Dean seing tertangkap kamera sedang melakukan aski kebut-kebutan di jalan mengendarai Porsche 550 Spyder. Sialnya, aksi yang dianggap prinsip hidup itu membawa ke kematiannya.

 

Tanggal 30 September 1955, dunia dikejutkan dengan peristiwa kecelakaan yang dialami idola muda Dean. Mobilnya yang dikendarainya hancur setelah menabrak sedan Ford Tudor di sebuah persimpangan kota Cholame, California. Selain Dean, ada dua orang lain yang terlibat dalam kecelakaan tersebut, yakni pemilik sedan Ford bernama Donald Turdnupseed yang mengalami shock berat, dan juga mekanik Rolf Wutherich yang mengalami luka di sekujur tubuhnya.

 

Penuh misteri, setelah peristiwa kecelakaan tersebut, mobil yang sudah dalam perbaikan kedapatan sering bergerak sendiri tanpa ada yang mengendalikan. Bahkan, Porsche yang ditupangi Dean tersebut pernah melaju mendekati montir yang berdiri di dekatnya. Kemudian menghantamnya keras-keras, hingga tulang kaki sang montir remuk.

 

Merasa ada tak beres, akhirnya montir memutuskan menghukum mobil tersebut dan mempreteli seluruh komponen mobil dan menjualnya ke siapapun yang berminat. Sialnya, misterius justru semakin tidak terkendali. Komponen-komponen yang terjual itu, rupanya membawa petaka bagi mereka yang menggunakannya.

 

Mobil yang menerima komponen mesin dan ban Porsche terlibat kecelakaan mematikan. Truk yang membawa sasis Spyder Porsche juga tergelincir di jalan tol dan membuat sopirnya tewas. Lalu bagian-bagian mobil Porsche lainnya lenyap, dan tak pernah diketahui keberadaannya.

 

Persis seperti kisah film penuh hantu, sang mekanik Wutherich juga turut dihantui rasa bersalah atas keputusan menjual komponen Porschetersebut.  Wutherich sempat mencoba bunuh diri dua kali selama 1960-an namun gagal. Hingga akhirnya, pada 1967, Wutherich ditemui sudah gila dan menikam istrinya 14 kali menggunakan pisau. Tak berselang lama, Wutherich sang mekanik ditemukan tewas dalam keadaan mabuk saat mengemudi pada tahun 1981. Sedang pemilik sedan Ford bernama Donald Turdnupseed akhirnya ikut tewas karena kanker paru-paru tahun 1981.

 

 Memang seperti sebuah kutukan dari arwah Dean. Sehingga penggemar cerita perjalanan aktor tampan ini selalu yakin bahwa film Rebel Without a Cause adalah sebuah pesan dari roh canayang. Di film tersebut akan selalu diingatkan orang-orang lain juga punya perasaan. Mungkin mereka akan berkata, apa yang kita butuhkan untuk semua itu. “ Jika suatu film termotifasi secara pshikologis, maka aku pikir film itu akan melakukannya dengan baik. Aku sungguh percaya Rebel Without a Cause  adalah film seperti itu,” tutup Dean. (pul)

 

Artikel lainnya

Perubahan Diksi dan Proses Pembodohan

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Sikap Kritis PDIP Terhadap Danantara

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Pertamina sebagai "Mesin Uang" Politik

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Dari Hero ke Blunder

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Ironi Wacana Perpu Perampasan Aset

Malika D. Ana

Mar 27, 2025

Blunder Yang Dilakukan Prabowo

Malika D. Ana

Mar 23, 2025