images/images-1673708859.png
Sejarah
Data

Cerita Dari Pelaut Letusan Gunung Krakatau

Pulung Ciptoaji

Jan 15, 2023

501 views

24 Comments

Save

Saat itu hari minggu tanggal 20 mei 1883, awal dari malapetaka di nusantara. Sebab letusan Gunung Krakatau memulai tahap letusan, dan puncaknya pada tanggal 27 Agustus 1883. Letusan yang sangat dasyat sangat mengejutkan dunia. Karena terbatasnya teknologi dan mitigasi bencana, dampak letusan ini menelan korban jiwa 36.417 orang. Foto sketsa krakatau dok net

 

 

abad.id-Ada banyak cerita yang akhirnya ditulis dan dipublikasikan saat peristiwaa letusan Krakatau itu. Misalnya catatan dari seorang staf stasiun topografi di Banten Kapten HJG Ferezaar pada 11 Agustus 1883. Saat itu Kapten HJG Ferezaar sedang mendapatkan tugas untuk melakukan pantauan di kawasan Gunung Krakatau. Kapten HJG Ferezaar berlayar seorang diri menyisir kawasan utara. Ia mendapati tanah yang telah tertimbun lapisan setebal 60 cm, terdiri dari batu apung dan abu gunung yang bercampur belerang. Saat mencoba menginjakan kaki ke tanah tersebut, ternyata sangat panas hingga terasa tembus sol sepatunya. Walaupun terlalu bahaya untuk melakukan pengamatan, Kapten HJG Ferezaar tetap melakukan pantauan hingga titik terdekat. Kapten HJG Ferezaar sempat membuat sketsa kondisi pulau untuk bahan laporan. Kapten HJG Ferezaar satu-satunya orang yang melakukan pengamatan terakhir dan paling dekat dengan Gunung Krakatau sebelum akhirnya meletus pada tanggal 27 Agustus 1883.

 

Catatan lain diangkat dari buku harian Logoboek kapal london. Kapten TH Linderman mengisahkan pengalamannya. Waktu itu pukul 08.00 pagi pada tanggal 26 Agustus 1883, ia bertolak dari Batavia menuju pelabuhan teluk Betung. Saat pukul 14.00 siang kapal sudah mendekati Anyer untuk menaikan 111 penumpang. Terdiri dari buruh pria dan beberapa wanita. Mereka akan dipekerjakan di sebuah perusahaan perkebunan Lampung. Ketika kapal melintasi Krakatau, tampak gunung itu mengeluarkan asap tebal. Sore itu terjadi hujan abu serta batu apung. Suara ledakan terdengar berturut turut. Menjelang malam kapal sudah merapat ke Teluk Betung, namun mengalami kesulitan untuk berlabuh di dermaga. Saat itu ombak sangat besar memaksa Kapal London tidak menurunkan muatannya. Apalagi tidak ada satupun perahu yang bisa menjemput. Awak kapal yang diperintah mendarat ke pelabuhan tanggal 27 Agustus pukul 01.00 dini hari, melaporkan terjadi air pasang sangat tinggi. Air tersebut telah menggenangi dermaga sehingga tidak ada aktifitas di pelabuhan. Banyak kapal kapal kecil dekat dermaga hancur diterjang air pasang.

 

Menyadari akan bahaya yang sangat besar, Kapten TH Linderman memutuskan untuk membongkar sauh pukul 07.30 pagi dan berlayar kembali ke pelabuhan Anyer. Medan perjalanan sangat berat, sebab langit tiba-tiba menjadi gelap. Sesekali tampak dari kejauhan kilat menyambar dari Gunung Krakatau. Juga terdengar suara dentuman sangat keras, serta hujan abu dan benda vulkanik lainnya di atas geladak kapal. Tidak lama kemudian, muncul hujan lumpur sangat pekat dan suara dentuman semakin keras menggelegar. Awak kapal dibantu penumpang ramai ramai membuang lumpur dan material vulkanik dari atas kapal untuk menguangi beban. Ancaman tidak berhenti sampai disitu, tiba tiba muncul gelombang laut sangat tinggi menghanyutkan marcusuar.

 

Kapal Berauw yang mengangkut barang dikabarkan terlempar sangat jauh ke darat. Para krue hanya berharap doa keselamatan, dan tidak sempat memikirkan menu makan di kapal. Semuanya tampak kuyu dan lesu, begitu juga Kapten HJG Ferezaar berusaha memberi semangat ke seluruh awak kapal dan penumpang. Besok harinya tanggal 28 Agustus 1883, pagi hari masih tampak gelap. Langit masih tertutup awan abu yang berterbangan sangat tinggi. Matahari hanya samar samar menembus geladak kapal. Tampak dari kejahuan pulau pulau di sekitar Krakatau telah membentuk satu daratan. Kapten HJG Ferezaar memerintahkan tim navigasi mencari jalan keluar masuk ke Selat Legundi. Ternyata di sepanjang perjalanan banyak ditemukan air laut yang tertutup batu apung sehingga menggangu jalan kapal.  Sepanjang hari awak kapal dan penumpang masih dilanda kecemasan hingga tidak bisa menikmati makan.

 

Rabu tanggal 29 Agustus 1883, cuaca pagi mulai kelihatan sinar matahari. Ketika kapal London melintasi titik terdekat Gunung Krakatau, tampak bagian tengah pulau itu telah lenyap dari muka laut. Tepat pukul 16.00 sore, kapal London sudah merapat di pelabuhan Anyer. Berata terkejutnya seluruh awak kapal dan penumpang melihat pelabuhan Anyer. Sebab 4 hari sebelumnya masih penuh kegiatan bongkar muat. Sedangkan yang dilihat hari ini, pelabuhan telah hilang dan porak poranda.

 

Tidak ada catatan lebih lanjut nasib buruh yang diangkut kapal London ini. Kapten HJG Ferezaar  hanya menggambarkan betapa girangnya para penumpang dan awak kapal yang baru lolos dari maut. Mereka berlari dan menangis saling berpelukan begitu kapal mendarat di pelabuhan. Sementara pelabuhan Anyer telah lenyap, sawah hilang dan penduduk di sekitar pantai lenyap. Tampak hanya onggokan lumpur dan cerita mengharukan sanak saudaranya yang hilang.

 

Letusan Gunung Krakatau telah menganggu pelayaran di selat sunda. Banyak nahkoda kapal yang terpaksa memutar haluan ketika melihat batu apung di tengah laut. Setiap kali meletus Gunung Krakatau selalu memuntahkan material vulkanik batu apung di tengah laut, sehingga warna laut memutih seperti susu.

 

Jika nahkoda lain memilih memutar haluan, tidak halnya dengan Kapten Willian Logan dengan kapalnya Berbice yang berlayar dari New York menuju Jakarta. Pada tanggal 26 Agustus 1883 sehari sebelum letusan Krakatau, Kapten Willian Logan tengah melintasi selat sunda. Bersama awak kapal dia menyaksikan semburan semburan Gunung Krakatau. Dari jendela tertutup rapat, juga terlihat kilat petir menyambar dari langit. Juga tampak butiran batu apung membara jatuh ke permukaan kapal hingga membakar layar serta baju para awak. Kapal terus melaju hingga menuju Jakarta.

 

Ada alasan Kapten Willian Logan begitu nekat menembus hujan batu letusan Krakatau. Yaitu kapal Berbice ini membawa minyak bumi yang penuh resiko. Perjalanan panjang yang telah dilewati antara benua Amerika hingga Hindia Belanda juga membawa misi membawa bibit karet dari Brasil. Bibit ini harus secepatnya sampai di Batavia agar segera bisa ditanam di kebun raya Bogor. Jika terlambat bibit ini akan mati dan tugas Kapten Willian Logan akan sia-sia.

 

Cerita lain datang dari warga Sumatra yang sedang menggelar peresmian sebuah pasar baru. Lebih tepatnya tanggal 26 Agustus 1883 di Desa Canti Kalimbang Lampung. Acara tersebut dimeriahkan tari tarian dan lengkap hiburan gamelan. Seekor lebu besar telah disiapkan untuk disembelih sebagai tumbal bangunan pasar.

 

Merasa punya firasat buruk, seorang istri pejabat memilih selalu dekat dengan suaminya yang mengadiri acara. Perasaan tidak nyaman ini tampak sejak beberapa hari sebelumnya, yaitu kegelisahan binatang di sekitar pantai. Burung-burung yang berterbangan tidak jelas arah tujuannya. Binatang unggas lain juga terlihat murung dan selalu ingin keluar kandang.

 

Foto udara anak Gunung Krakatau diambil pada Juli 1981. Foto dok LIPI

 

Firasat istri ini diceritakan ke suaminya. Dengan harapan agar segera meninggalkan tempat peresmian menghindari mara bahaya. Namun sang suaminya membujuk agar tetap di tempat acara, sebab dirinya seorang pejabat tidak mungkin meninggalkan acara tanpa sebab. Ternyata firasat itu benar adanya. Saat kereta yang ditumpangi menuju pulang, tiba tiba muncul ombak besar dari pantai. Seluruh desa beserta pasar baru yang disemikan ikut tenggelam dihantam ombak besar. Istri pejabat dan beberapa warga yang selamat akhirnya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, sambil menyaksikan kehancuran pemukiman penduduk sekitar Lampung.

 

Letusan Krakatau Terdasyat Sepanjang Masa

 

Hari ini 141 tahun yang lalu, tepatnya 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus. Letusan ini merupakan letusan gunung terkuat sepanjang sejarah dengan level 6 skala Volcanic Explosivity Index (VEI). Begitu dahsatnya, letusan Gunung Krakatau bahkan terdengar hingga Australia Tengah yang berjarak 3.300 kilometer dari titik ledakan dan Pulau Rodriguez, kepulauan di Samudera Hindia yang berjarak 4.500 kilometer.

 

Dalam buku Krakatoa, the Day the World Exploded August 27, 1883 (2003), disebutkan, pada 250 tahun terakhir tercatat tak kurang dari 90 kali tsunami akibat letusan gunung. Namun, tsunami yang disebabkan oleh Krakatau menjadi tsunami vulkanik terbesar yang pernah tercatat. Letusan Krakatau juga memicu terjadinya tsunami besar setinggi 120 kaki. Gelombang raksasa yang diakibatkan oleh letusan telah menelan korban jiwa sekitar 36.417 orang.  Seorang ahli gunung api memperhitungkan kekuatan letusan Gunung Krakatau setara dengan 21.547 buah bom atom yang dijatuhkan di Hirosima pada akhir perang dunia ke II. Saking hebatnya letusan ini membuat Gunung Danan, Gunung Perbuatan, dan sebagian Gunung Rakata lenyap dari laut.

 

Berapa kerugian material dampak lukisan tidak bisa diperhitungkan. Malapetaka itu telah memusnahkan 165 desa, 132 desa mengalami rusak parah. Bahkan untuk membantu biaya pemakaman korban letusan, Pemerintah Hindia Belanda harus merogoh kocek uang 6 ribu juta gulden.

 

Abu Krakatau membentuk lapisan tebal seperti cawan di langit, sehingga matahari hanya sebagian kecil yang jatuh ke bumi. Butir butir abu memancarkan cahaya ke angkasa membuat panorama indah di tengah bencana. Saat matahari terbenam, tampak langit masih tampak terang. Tidak jarang pada malam hari bintang tampak semakin dekat. Bahkan meteror yang jatuh dari langit semakin indah. Para ahli yakin keajaiban alam semesta itu akibat Gunung Krakatau yang meletus. Dampak terburuk dari peristiwa itu terjadi pergantian iklim yang jatuh bukan pada masanya. Di Eropa terjadi musim dingin yang berkepanjangan hingga tidak pernah ada musim panas selama satu tahun. (pul)

 

Penulis : Pulung Ciptoaji

 

 

 

Most Popular

Artikel lainnya

The Begandring Institute Lahir Mewarnai Peringatan Tahun Baru Imlek