images/images-1678779842.jpeg
Sejarah
Budaya
Liputan

Jalan Bubutan Saksi Bisu Sejarah Pergerakan Nasional di Surabaya

Malika D. Ana

Mar 14, 2023

584 views

24 Comments

Save

Jalan Bubutan Saksi Bisu Sejarah Pergerakan Nasional di Surabaya

 

 

Abad.id - Sejarah pergerakan bangsa Indonesia pada seper empat pertama abad 20 mendahului Sejarah Kemerdekaan bangsa Indonesia pada 1945. Sejarah pergerakan emjadi embrio sejarah kemerdekaan.

 

Surabaya adalah dapur Sejarah Pergerakan. Disanalah gerakan gerakan demi gagasan kemerdekaan mulai disusun dan ditata. Dapurnya ada di Gedoeng Nasional Indonesia di jalan Bubutan Surabaya.

 

Keberadaan Gedoeng Nasional Indonesia (GNI) di jalan Bubutan menjadi cerita penting bangsa Indonesia yang tertoreh di Surabaya. Secara nasional, jalan Bubutan menandai keberadaan GNI dan kisah bangsa di balik pendapa Jawa di komplek, yang didirikan oleh dokter Soetomo.

 

Kita tau bahwa dr. Soetomo adalah sosok penting di balik Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 20 Mei. Dia merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia. Soetomo dikenal sebagai pendiri organisasi Budi Utomo (20 Mei 1908) yang sangat berperan pada masa pergerakan nasional.

 

GNI, yang beralamat di jalan Bubutan Surabaya, adalah dapur pergerakan nasional. Di tempat inilah dimana tepat repat dan koordinasi gerakan dilakukan sebagai tindak lanjut dari investigasi yang dilakukan oleh  Soerabaiasche Studieclub.

 

 

Soerabaiasche Studieclub

 

Dokter Soetomo sendiri adalah salah satu dari tokoh pendiri Perkumpulan Boedi Oetomo (BO) yang terbentuk pada 20 Mei 1908. Selanjutnya tanggal itu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Perkumpulan ini membuka lembaran baru arah pergerakan bangsa Indonesia demi kemerdekaan.

 

Pengurus Soerabaiasche Studieclub di Soeloeng Surabaya

 

Di sepanjang abad 19, gerakan gerakan masih bersifat sporadis, fisik dan kedaerahan. Namun memasuki abad 20, arah pergerakan berubah. Tidak lagi bersifat fisik, tetapi sudah menggunakan strategi. Jalurnya pendidikan, kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi.

 

Sejak itu, Soetomo dan rekan rekan lulusan STOVIA, Batavia (sekarang Jakarta) terus menyusun kekuatan melalui jalur jalur pendidikan, sosial, ekonomi dan kebudayaan.

 

Di jalur pendidikan, ia mendirikan Indonesische Studieclub Soerabaia pada 1924. Studie Club ini adalah kelompok belajar yang menginvestigasi persoalan persoalan yang ada di masyarakat, yang terkait dengan persoalan persoalan sosial, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.

 

Secara umum, Studieclub ini mempunyai misi untuk mendorong kaum terpelajar di kalangan orang-orang pribumi supaya memupuk kesadaran hidup bermasyarakat, mendiskusikan masalah-masalah nasional dan sosial, serta bekerja sama untuk membangun Indonesia.

 

Di Surabaya, Indonesische Studieclub ini awalnya bertempat di jalan Sulung. Jalan Sulung adalah jalan di tepian sungai Kalimas sisi barat yang membujur dari selatan ke utara, antara jembatan Pasar Besar (selatan) dan jembatan Bibis (utara).

 

Rumah kuno di jalan Sulung yang mirip dengan gedung Soerabaiasche  Studieclub

 

Enam tahun kemudian pada 1930, dalam rangka ulang tahun ke enam Indonesische Studieclub, Soetomo menginisiasi pendirian Gedung Nasional Indonesia di Jalan Bubutan. Komplek GNI terdiri dari bangunan pendopo dan dua bangunan kembar tingkat dua di kiri kanan pendopo agak ke belakang (barat).

 

Sejak berdirinya GNI di jalan Bubutan ini, kegiatan kegiatan pemuda terpusat di jalan Bubutan. Hasil hasil investigasi oleh Soerabaiasche Studieclub disebar dan dimasyarakatkan melalui rapat rapat publik di pendopo GNI.

Berita dari harian Batavia Newapapee

 

Mengamati isi pemberitaan beberapa surat kabar, yang beredar dalam kurun waktu 1925-1927 seperti De Locomotive dan Indische Courant, yang diarsip oleh Delpher.Nl diketahui bahwa Indonesische Studieclub ditulis sebagai alat propaganda dalam upaya penguatan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya.

 

Secara fungsi, Studieclub ini memang mendorong kaum terpelajar bumi putera supaya memupuk kesadaran hidup bermasyarakat, dan secara bersamaan juga menjadi upaya penguatan kebangsaan untuk bebas dari penjajahan.

 

Prof Purnawan Basundoro dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, beberapa bulan lalu menyampaikan bahwa banyak sekali rapat rapat (vergadering) yang diadakan di GNI ini dan itu membuat pihak Belanda takut,

 

Menyimak aksi-aksi pemuda yang digelar di GNI, ternyata kehadiran mereka menyokong tumbuhnya dan lebih bangkitnya rasa kebangsaan sehingga mampu menghantarkan ke gerbang kemerdekaan bangsa Indonesia.

 

 

Kepengurusan GNI

 

Menurut Akte Notaris H.W. Hazenburg tanggal 21 Juni 1930 No. 101 bahwa susunan kepengurusan GNI ini adalah: Dr Soetomo (Ketua), R.P. Sunario Gondokusumo (Sekretaris), R.M.H. Sujono (Bendahara), R. Sunjoto (Komisaris) dan Achmad Djais (Komisaris). Untuk mengenang jasa dan perjuangan mereka, nama nama mereka menjadi nama jalan di Surabaya. Jalan dr. Soetomo ditempatkan di kelurahan Darmo.

 

Sementara nama nama , R.P. Sunario Gondokusumo, R.M.H. Sujono, R. Sunjoto dan Achmad Djais disematkan di lingkungan kelurahan Peneleh, tidak jauh dari lokasi GNI di kelurahan Bubutan.

 

Selama ini belum banyak yang tau siapa itu R.P. Sunario Gondokusumo, R.M.H. Sujono, R. Sunjoto dan Achmad Djais yang namanya menjadi nama jalan. Ternyata mereka adalah kaum pergerakan yang mendampingi dokter Soetomo mulai dari membina pendirian Soerabaiasche Studieclub, Gedoeng Nasional Indonesia hingga pada masa 1945, meski Soetomo telah tiada sebelum menikmati kemerdekaan.

 

Prof. Purnawan Basundoro, sejarawan Universitas Airlangga, dalam sebuah seminar di Gedung Nasional Indonesia beberapa bulan lalu mengatakan bahwa Sunjoto adalah orang yang sangat berperan dalam negosiasi dengan belanda di tahun 1945.

 

Sementara harian Indiesch Courant, yang terbit pada 7 Desember 1928 mengabarkan bahwa  R.M.H. Soejono, anggota dewan Soerabaiasche Studieclub, pernah ditugaskan untuk mengunjungi berbagai kota di Negara Federasi Melayu dan untuk mempelajari kondisi di antara penduduk aslinya.

 

Sekembalinya dari kota kota itu, Soejono dijadwalkan memberikan ceramah tentang perjalanannya di Gedung Soerabaiasche Studieclub di Boeboetan pada 23 Desember 1928. Ketika itu sarana di Bubutan belumlah seperti ketika di bangun pendopo pada 1930. Ini menunjukkan bahwa sebelum tahun 1930, di lokasi Bubutan sudah menjadi sejak sejarah perkerakan.

 

Tahun 1920-an, pergerakan rakyat Surabaya tidak hanya tercatat di Gedoeng GNI, tetapi juga sudah tertorehkan di Bubutan VI dimana sudah terpusat sebuah organisasi besar Islam yang  bernama Nahdlatul Oelama. Selain terdapat Hoofdbetuur atau kantor besar NO, disana juga terdapat kediaman Kiai Haji Ridwan, yang dikenal dengan orang yang membuat logo Nahdlatul Oelama.

 

NO dan kediaman KH Ridwan serta segala aktivitasnya menambah ramainya pusat pergerakan di kawasan Bubutan. Jalan Bubutan adalah akses yang menghubungkan NO dan GNI.

 

 

NV. Bank Nasional Indonesia

 

Bank Nasional Indonesia, yang disingkat BNI, ternyata tidak sama dengan BNI 46 (Bank Negara Indonesia 1946).

 

Bank Negara Indonesia 1946, yang selama ini kita tau, ternyata bank pertama yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Bank BNI 46 ini berdiri pada 5 Juli 1946 sebagai bank sentral berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 1946. Kini, tanggal berdirinya Bank BNI pada 5 Juli diperingati sebagai Hari Bank Indonesia.

 

Berdasarkan harian surat kabar "Batavia Newspaper", yang terbit pada 8 Mei 1929, bahwa N.V. Bank Nasional Indonesia di Surabaya didirikan setelah ada persetujuan dari Buitenzorg (Bogor).

 

NV Bank Nasional Indonesia jelas didirikan ketika Indonesia masih di bawah penjajahan. Tapi nama bank sudah memakai atribut "Indonesia", ketika Indonesia belum merdeka.

 

Jika NV Bank Nasional Indonesia (BNI) didirikan pada 1929, maka Bank Negara Indonesia didirikan pada 1946 (BNI 46). Keduanya adalah dua entitas yang berbeda.

 

Menurut catatan p2k.unkris.ac.id tentang Bank di Indonesia bahwa di masa pemerintahan Hindia Belanda, bank pertama adalah De javasche Bank, NV yang didirikan di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828.

 

Kemudian menyusul Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij, NV pada tahun 1918 sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi dalam negeri dan penjualan ke luar negeri.

 

Selain itu juga terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia Belanda. Bank-bank itu antara lain adalah: NV. De Javasce, De Postspaarbank, Hulp en Spaar Bank, De Algemene Volkskrediet Bank, Nederlandsche Handelsmaatschappij (NHM), Nationale Handelsbank (NHB), NV. De Escompto Bank dan Nederlansch Indische Handelsbank.

 

Di samping itu, terdapat pula bank-bank milik orang Indonesia dan orang-orang asing seperti dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa. Bank-bank tersebut antara lain adalah: NV. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank, NV. Bank Nasional Indonesia, Bank Abuan Saudagar, NV Bank Boemi, The Chartered Bank of India, Australia and China.

 

NV. Bank Nasional Indonesia didirikan oleh dokter Sutomo di jalan Bubutan, Surabaya pada 1929.

 

Setelah kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, maka tumbuhan bank bank nasional, antara lain: NV. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank (saat ini Bank OCBCNISP), didirikan 4 April 1941 dengan kantor pusat di Bandung. Juga ada Bank Negara Indonesia, yang didirikan tanggal 5 Juli 1946 dan sekarang dikenal dengan BNI '46 dan masih ada lagi lainnya.

 

Dokter Soetomo dengan pendirian "NV. Bank Nasional Indonesia" menambah upayanya dalam mencari solusi atas persoalan bangsa. Solusi solusi itu diperoleh atas berbagai investigasi yang dilakukan oleh lembaganya "Soerabaiasche Studieclub" yang dibuka pada 1924.

 

Upaya dokter Soetomo lainnya adalah membangun Gedoeng Nasional Indonesia (GNI) pada 1930 dan membuka penerbitan majalah "Panjebar Semangat" pada 1933. Semua karya dokter Soetomo (Bank Nasional Indonesia, Gedoeng Nasional Indonesia, dan Panjebar Semangat) berada di komplek yang sama di jalan Bubutan.

 

Menurut catatan Ir. Handinoto, salah satu anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang juga dosen arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya bahwa NV Bank Nasional Indonesia didirikan oleh dr. Soetomo di Jl. Boeboetan yang bekerja sama dengan kenalannya seorang arsitek Belanda, Ir. Thomas Karsten.

 

"Ir. Thomas Karsten terkenal sebagai orang yang bersimpati pada gerakan gerakan pemuda di Hindia Belanda waktu itu dan dr. Soetomo minta jasa Karsten untuk merancang gedung dua lantai tersebut. Mungkin gedung ini merupakan satu satunya karya Karsten di Surabaya", jelas Handinoto melalui pesan Whatsapp kepada penulis.

 

Untuk mengelola NV. Bank Nasional Indonesia, dokter Soetomo menunjuk orang orang yang memang sudah duduk dalam kepengurusan GNI. R.M.H. Sujono, yang duduk sebagai bendahara, ditunjuk sebagai Direktur N.V.

Bank Nasional Intonesia. Sementara R.P. Sunario Gondokusumo, yang duduk sebagai Sekretaris di GNI, ditunjuk sebagai Wakil Direktur N.V. Bank Nasional Indonesia.

 

Jabatan di NV Bank Nasional Indonesia itu sebagaimana terkabarkan melalui harian De Locomotief yang terbit pada 25 Oktober 1933.

 

Di satu komplek di jalan Bubutan, dokter Soetomo melalui karya karya kebangsaannya (NV. Bank Nasional Indonesia, 1929; Gedoeng Nasional Indonesia, 1930; dan Panjebar Semangat, 1933) semakin bergelora dalam bergerak demi kebangsaan dan kemerdekaan. Tapi dokter Soetomo sendiri tidak sempat menikmati kemerdekaan pada Agustus 1945 karena ia meninggal. Dokter Sutomo meninggal dunia pada 30 Mei 1938 dan dimakamkan di belakang Pendopo GNI di jalan Bubutan, Surabaya. (Nanang)

 

 

 

 

 

Artikel lainnya

Penyelamatan dan Pemanfaatan Bangunan Langka di Kota Tua Surabaya