Penulis : Nanang Purwono
Abad.id - Tidak kurang dari 160 bangunan cagar budaya (BCB) di kota Surabaya. Dari semuanya, ada yang dalam kondisi bagus dan terawat. Ada pula yang memprihatinkan. Semuanya, rata rata telah beralih fungsi dan kememilikan. Hanya ada sedikit, dapat dihitung jari dari satu tangan, yang masih asli mulai dari fungsi, kepemilikan, koleksi dan arsitekturnya. Yaitu BCB Rumah Abu Han di jalan Karet Surabaya.
Rumah Abu Han di kawasan Wisata Pecinan Surabaya ini bak seorang primadona. Banyak orang tertarik untuk memasukinya dan melihatnya dari dekat dan dari dalam. Apalagi sejak Kya Kya Kembang Jepun terlahir lagi (Kya Kya Reborn) dengan nama Wisata Pecinan Kembang Jepun. Peresmiannya dilakukan Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, pada 10 September 2022.
Selama ini Rumah Abu Han telah menarik perhatian jutaan pasang mata, yang melewati jalan Karet. Selama itu tidak mudah publik mengakses untuk masuk. Maklum Rumah Abu Han, yang sudah berusia ratusan tahun, bersifat privat dan apalagi sebagai tempat sembahyangan keluarga. Tidak semua orang bisa masuk kecuali keluarga, kerabat dan mereka yang dengan tujuan khusus dengan dilengkapi surat permohonan ijin masuk.
Ketika dalam rangkaian kegiatan pembukaan Kya Kya Reborn (10-11/9/2022), Rumah Abu Han sempat dibuka dan ternyata rumah ini bagai mutiara yang terselip diantara hiruk pikuk modernisasi kota.
Disebut sebagai Rumah Abu Han, karena rumah ini milik keluarga Pecinan Peranakan bermarga Han. Selain luas, fisik rumahnya menjadi representasi keluarga Pecinan, khususnya di Surabaya. Ornamen dan arsitektur bangunan sangat bercirikan Pecinan (Cina Peranakan).
Memperhatikan gaya bangunan dengan membandingkan bangunan bangunan tua semasanya di jalan Karet, diduga beberapa bangunan Pecinan yang masih ada dan bisa diidentifikasi ini dibangun di abad 18 atau pada tahun 1700-an di era VOC. Misal pada bangunan Pecinan di ujung selatan jalan Karet, terlihat pada bagian terasnya, terdapat tegel-tegel terakota yang umum digunakan pada masa VOC.
Angka tahun 1700-an ini ternyata terungkap ketika memasuki Rumah Abu Han. Di dalam rumah, terdapat sebuah silsilah keluarga bermarga Han. Silsilah ini berpigora dan tergantung pada dinding di salah satu kamar. Orang paling tua dari marga Han adalah Han Siong Kong, yang lahir di Tiongkok pada 1673, lalu bermigrasi ke Lasem dan mendirikan keluarga Han di sana.
Pada titik pusat silsilah inilah nama Han Siong Kong ditulis beserta tahun kelahirannya (1672-1743). Eksistensi bangunan, fungsi dan kepemilikan tidak berganti. Dari abad ke 17 hingga 21 ini, rumah ini tetap lestari. Masih dimiliki dan dikelola oleh keluarga Han. Adalah Han Robert Rosihan, keturunan Han Siong Kong ke 9, yang selama ini merawatnya sebagai Rumah Abu Han.
Siapakah Marga Han ?
Dari nama nama keluarga Han, yang paling dikenal adalah Han Chan Piet, seorang Mayor China (Majoor der Chinezen), yang lahir di Surabaya pada 1759 dan meninggal juga di Surabaya pada. Namanya juga dieja Han Tjan Piet atau Han Tian Pit. Ia adalah keturunan ketiga dari Han Siong Kong, orang pertama dari Marga Han yang mulai tinggal di Lasem.
Menurut Han Robert, keturunan ke 9 dari Marga Han yang bermula di Lasem bahwa Han Siong Kok adalah imigran dari Tiongkok.
“Saya ini generasi ke 9 dari Marga Han di Lasem. Kalau diurut ke belakang hingga ke Tiongkok, saya sudah generasi Han ke 30”, jelas Robert yang dihubungi lewat Whatsapp pada Rabu siang, 22 September 2022. Han Robert tinggal di Surabaya.
Keluarga Han adalah keluarga yang sangat disegani dan berpengaruh di era kolonial. Han Chan Piet, generasi ke tiga, dikenal sebagai pejabat pemerintah di era pemerintahan kolonial dan sebagai tuan tanah di Jawa Timur. Ia dikenal dan dikenang karena telah membeli distrik Besuki dan Panarukan pada tahun 1810 dari pemerintah kolonial. Bagi pemerintah kolonial, Han Tjan Piet telah berjasa membantu menambah kas negara di bawah pemerintahan Daendels.
Rumah keluarga Han ini berada di kawasan Pecinan, yang di era kolonial di kenal dengan jalan Chinese voor Straat (kini jalan Karet). Ketika itu ia diketahui lahir di Surabaya pada 1759. Ini berarti bahwa rumah keluarga Han ini sudah ada sejak tahun 1700-an.
Han Chan Piet (1759-1827) adalah anak ketiga dari dua belas bersaudara dari Han Bwee Kong (1727 – 1778). Mereka adalah cucu dari Han Siong Kong (1672-1743), imigran asal Tiongkok yang kemudian datang dan tinggal di Lasem. Han Siong Kong adalah pendiri keluarga Han di Lasem.
Berturut turut dari Han Siong Kong ke Han Chan Piet adalah 1) Han Siong Kong (1672-1743), 2) Han Bwee Kong (1727-1778), 3) Han Chan Piet (1759-1827)
Kuat di Ujung Timur Jawa (Java van den Oosthoek)
Dari Lasem, keluarga Han berekspansi ke wilayah Ujung Timur Jawa (Java van den Oosthoek) yang ber ibukota di Surabaya. Maka di ibukota Ujung Timur Jawa, Surabaya, inilah keturunan Han mulai menapakkan kakinya.
Mulai kapan keluarga Han masuk Surabaya?
Sebelum Han Chan Piet lahir di Surabaya pada 1759, ayahnya Han Bwee Kong (1727-1778) dikenal memegang posisi pemerintahan sipil dengan pangkat Kapitein der Chinezen, yang bisa memberi otoritas hukum dan politik atas komunitas Tionghoa di Surabaya. Kebijakan Kapitein der Chinezen adalah sebagai bagian dari kebijakan kolonial Belanda.
Diduga keluarga Han berekspansi ke Surabaya bermula dari putera Han Siong Kong (1672-1743), yaitu Han Bwee Kong (1727-1778). Jika Han Siong Kong mengawali di Lasem. Han Bwee Kong mengawali di Surabaya. Keduanya hidup di masa VOC.
Dari deretan nama nama keluarga Han, adalah Han Chan Piet (1759-1827) yang sangat terkenal. Ia juga seorang Kapitein, yang juga dikenal sebagai penyewa distrik Besuki dari tahun 1768 dan Panarukan dari tahun 1777. Di era gubernur Jendral Daendels, kedua distrik ini dibeli oleh Han Chan Piet. Sebagai putra seorang perwira Cina, Han Chan Piet menyandang gelar turun-temurun ‘Sia’.
Anggota keluarganya yang menonjol lainnya termasuk adik laki-lakinya, Han Kik Ko, Majoor der Chinezen (1766-1813).
Keluarga Bangsawan
Multikulturalisme sudah lama ada di Surabaya. Sebelum kolonialisasi masuk Surabaya, seiring dengan hadirnya VOC di Nusantara di abad 17, kehidupan antar entnis di Surabaya sudah tercipta. Mereka yang beragam etnis ini berdiam di kawasan di antara dua sungai: Kali Surabaya (Kalimas) dan Kali Pegirian.
Mereka sudah berbagi ruang untuk sandaran kehidupan. Mereka sudah terlibat pada satu kebutuhan bersama yang saling menguntungkan dan membantu. Mereka terlibat dalam satu kegiatan sosial budaya dan ekonomi. Mereka berdagang. Di sana berbaur keragaman etnis mulai dari Jawa (lokal) dan pendatang termasuk China.
Bangsa Eropa, yang mulai masuk Surabaya pada awal abad 17, menempati kawasan yang terpisah dari penduduk lokal dan bangsa asing yang sudah ada terlebih dahulu. Bangsa Eropa ini menempati lahan di barat Kali Surabaya (Kalimas) tetapi langsung berseberangan dengan komunitas Pecinan dan lokal.
Tercatat secara resmi: de fakto dan de jure, bangsa Belanda menerima kekuasaan atas Ujung Timur Jawa (Java van den Oosthoek) pada 11 November 1743 dari Mataram. Sejak itu pula pengaruh Mataram bersama VOC dapat leluasa mengatur dan menata Surabaya. Termasuk menata sistim politik dan pemerintahan.
Keluarga Han ini sangat berpengaruh di era kolonial karena alasan strata sosial ekonomi, dan kekuasaan. Keluarga Han, utamanya Han Chan Piet, ternyata memiliki paman, seorang mualaf dan raja Jawa Ngabehi Soero Pernollo (1720 – 1776). Han Chan Piet juga memiliki sepupu bangsawan dan birokrat Jawa, Adipati Soero Adinegoro (1752 – 1833) dan Raden Soero Adiwikromo. Keluarga bangsawan ini memainkan peranan penting dalam konsolidasi dengan pemerintahan Belanda serta administrasi di kemudian hari termasuk dalam pembangunan ekonomi Jawa Timur.
Sampai sekarang jejak keluarga Han, yang berupa makam, masih ditemukan di Prajekan, Situbondo. Secara lokal disebut Kiai Cekong. Cekong adalah sebutan lokal yang merupakan pergeseran dari kata Engkong (kakek). Jejak keluarga Han juga ada di Surabaya.
Puncak Ketenaraan
Puncak dari ketenaran Han Chan Piet ketika dia diangkat menjadi Majoor der Chinezen oleh pemerintah Belanda. Han Chan Piet pertama kali diangkat ke birokrasi kolonial ketika ia diangkat menjadi wakil ayahnya di Surabaya, Han Bwee Kong.
Ketika Han Chan Piet diangkat sebagai wakil ayahnya, ia diberi jabatan Luitenant der Chinezen. Namun ketika ayahnya, Han Bwee Kong, yang bergelar sebagai Kapitein der Chinezen dari Surabaya meninggal pada 1778, ia diberi gelar Kapitein.
Jadi, jabatan Han Chan Piet berganti dari Luitenant der Chinezen naik ke Kapitein der Chinezen. Hubungan antara Han dan pemerintah berjalan baik.
Pada tahun 1796, Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) selanjutnya memberikan hak eksklusif kepada Kapitein untuk kedua distrik itu seumur hidup. Yakni Besuki dan Panarukan.
Selama berlangsung pemerintahan Perancis dan Inggris (1806 – 1815), Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, memutuskan untuk mengisi kas negara dengan menjual tanah pemerintah, termasuk pada tahun 1810 menjual distrik Besuki dan Panarukan.
Disaat pemerintah membutuhkan kas negara, lalu Kapitein Han Chan Piet berkenan membeli aset itu dengan harga 400.000 dolar Spanyol. Atas jasa pembelian asetnya di Besuki dan Panarukan, Han Chan Piet kemudian dipromosikan oleh Daendels ke jabatan yang lebih bermartabat. Yaitu Majoor der Chinezen.
Jadi, karir Han Chan Piet beranjak naik dari Luitenant der Chinezen kemudian menjadi Kapitein der Chinezen. Terakhir dinaikkan Daendels menjadi Majoor der Chinezen. (nng)
Penulis : Pulung Ciptoaji
Surabaya, Setiap tahun, warga Surabaya memperingati peristiwa besar yaitu perobekan bendera Belanda di menara Hotel Majapahit. Banyak elemen masyarakat terlibat dalam peringatan itu. Khusus tahun 2022 yang diperingati 18 Sepember kemarin, dihadiri Walikota Surabaya Eri Cahyadi. Suasana sangat meriah, seperti euforia kemenangan setelah 2 tahun tidak pernah ada kerumuman massa.
Saat itu pagi hari pada awal September 1945 di Surabaya. Beberapa warga di pelosok gang sedang mendengarkan radio yang membahas kabar kemana setelah Indonesia diprokamirkan. Kantor berita Antara berkali-kali menyebarkan nama nama kabinet pertama bentukan Presiden Sukarno Hatta. Serta persiapan pembentukan BKR yang diambil dari komponen rakyat, PETA, KNIL. Namun di radio itu juga sedang dibahas panas pendaratan pasukan Sekutu menuju negara yang baru dibentuk Indonesia. Ada beberapa titik pendaratan, yaitu Sumatra, Semaag dan Surabaya. Pasukan Sekutu yang sebagian besar tentara Inggris dan NICA Belanda itu punya tuga khusus. Yaitu melakukan pelucutan tentara Jepang yang sudah dinyatakan kalah perang.
Memang, bangsa Indonesia baru berumur 2 bulan setelah proklamasi 17 Agustus. Namun semangat menggebu pemuda di pelosok Surabaya sudah punya ambisi besar terhadap bangsa ini. Semangat mereka untuk merdeka seutuhnya membuat sangat anipati atas kehadiran sekutu di bumi Surabaya. Rasa trauma dan kekawatiran dijajah kembali membuat pemuda Surabaya segera membentuk laskar laskar kecil. Mereka saling berkoordinasi satu sama lain dan saling menyebara informasi. Betapa kecewanya warga Surabaya saat mendengar dan melihat pasukan Belanda berada di tengah pasukan Sekutu itu. Mereka mengibarkan bendera Belanda saat konvoi di sepanjang jalan kota.
Saat itu sepuluh hari setelah kedatangan tentara Sekutu di Surabaya. Hotel Yamato yang dijadikan markas RAPWI, sebuah organ tentara Sekutu yang bertugas mengurus para tawanan warga Eropa dan peranakannya selalu sibuk. Jauh berbeda, hotel tersebut lebih eklusif dan dijaga ketat oleh tentara. Pada siang hari suasana hotel disibukan dengan lalu lalang perwira militer sekutu, serta pada malam hari hanya segelintir orang yang keluar masuk hotel. Setiap pojok hotel disiapkan tentara dengan senapan panjang, seakan akan hendak menembak siapapun yang mendekat hotel. Sementara di menara utama hotel, telah berkibar bendera Belanda Merah Putih Biru. Tentu bendera tersebut bisa dilihat siapapun yang melintas di kawasan Tunjungan.
Salah satu tokoh penting warga Belanda yang tinggal di hotel tersebut bernama Mr. Ploegman. Warga Belanda ini bukan berasal dari unsur tentara, namun menjadi salah satu perwakilan diplomat sipil yang bertugas memata-matai situasi di tanah Hindia Belanda. Tampaknya Mr. Ploegman paham bahwa pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato itu akan memancing amarah rakyat Surabaya. Tujuan Mr. Ploegman ingin tahu seberapa kekuatan militer bangsa Indonesia yang baru terbentu, serta mengetaui reaksi rakyat Indonesia terhadap proklamasi. Belanda sengaja melanggar kedaulatan Republik Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaan.
Kegelisahan warga Surabaya ini sudah terdengar para pemimpin masyarakat di Surabaya. Maka Residen Surabaya kala itu, Soedirman, kemudian datang ke Hotel Yamato untuk berbicara dengan Mr. Ploegman. Dengan sopan, Soedirman mengingatkan bahwa pengibaran bendera asing harus mendapatkan izin dari pemerintah Republik Indonesia yang telah merdeka. Oleh karena itu, Soedirman pun meminta agar bendera Belanda yang dikibarkan di atap Hotel Yamato segera diturunkan.
Akan tetapi, Ploegman menolak mentah-mentah menurunkan bendera Belanda, dengan dalih bahwa Sekutu telah memenangi perang melawan Jepang. Sehingga pemerintah kolonial Belanda berhak kembali menduduki Indonesia. Bukan hanya itu, Ploegman juga menodongkan revolver ke arah Residen Soedirman dan membuat situasi memanas. Pemuda Indonesia yang berada di dalam Hotel Yamato menilai, kejadian itu adalah penghinaan. Salah seorang pemuda Indonesia bernama Sidik yang berdiri di samping Soedirman, kemudian menendang revolver yang ditodongkan Ploegman itu. Revolver itu terpental dan pelurunya meledak terdengar nyaring hingga keluar Hotel Yamato.
Residen Soedirman dan para pemuda Indonesia berlari keluar, sedangkan orang-orang Belanda bersembunyi di dalam Hotel. Di saat yang sama, Sidik dan Ploegman berduel hingga akhirnya menewaskan orang Indo-Belanda itu. Namun, Sidik juga akhirnya tewas karena terluka parah setelah dikeroyok orang-orang Belanda.
Berita Residen Sudirman diancam senjata, serta Sidik tewas karena duel dengan Ploegman cepat menyebar. Dalam hitungan menit, warga Surabaya sudah mengepung Hotel Yamato. Para pemuda Indonesia dengan penuh amarah menyerang orang-orang Belanda di Hotel Yamato. Dari para pemuda yang menyerbu masuk ke dalam hotel itu bernama Kusno Wibowo dan Hariyono. Saat kericuhan itu, Kusno Wibowo merayap naik ke atap Hotel Yamato untuk menurunkan bendera Belanda. Di atap hotel, Kusno sudah bertemu seorang pemuda lainnya. Mereka kemudian menarik tali untuk menurunkan bendera Belanda. Kusno lalu menggigit jahitan bendera Belanda itu dan merobek warna birunya sehingga hanya tersisa merah dan putih. Bendera merah putih itu pun kembali dikibarkan dan disambut sorak-sorai massa yang ada di sekitar Hotel Yamato.
Fragmen pemuda yang merobek bendera belanda di Surabaya, 16/7/2022. Aksi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur.
Hingga kini, siapa pemuda yang membantu Kusno menurunkan bendera Belanda itu ternyata masih diperdebatkan. Terdapat dua versi cerita terkait pemuda Indonesia yang membantu Kusno menurunkan dan merobek bendera Belanda di atap Hotel Yamato. Versi pertama diungkapkan Budi Tjokrodjojo yang juga hadir dalam peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Budi Tjokrodjojo menyebutkan bahwa dua tokoh pemuda yang merobek bendera Belanda di Hotel Yamato adalah Kusno dan Hariyono. Hariyono disebut naik ke atap setelah perundingan dengan pihak Belanda gagal. Hariyono keluar dari Hotel Yamato bersama Residen Soedirman, lalu segera nauik ke menara. Namun, menurut pengakuan Hariyono sendiri, dia baru akan merobek bendera Belanda itu. Tetapi Kusno Wibowo kemudian merebutnya. Oleh sebab itu, kata Hariyono, Kusno-lah yang merobek warna biru di bendera Belanda tersebut.
Pada tahun 1972, Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Provinsi Jawa Timur membentuk Tim Peneliti Data-data Sejarah DHD Angkatan 45 Jawa Timur. Berdasarkan data-data sejarah yang ada, mereka kemudian menyimpulkan bahwa dua tokoh pemuda yang merobek bendera Belanda di Hotel Yamato adalah Kusno Wibowo dan Hariyono.
Namun 8 tahun sesudahnya, pengakuan mengejutkan diungkapkan oleh Kusno Wibowo dalam surat yang dikirimnya kepada Pengurus Dewan Harian 45 Pusat di Jakarta pada 25 September 1980. Kusno Wibowo mengatakan, berdasarkan ingatannya, pemuda yang membantunya menurunkan dan merobek bendera Belanda bukanlah Hariyono, melainkan Abdul Aziz. (pul)
Penulis : Pulung Ciptoaji
Surabaya, Pasca peristiwa G 30 S PKI tahun 1965 ternyata menyimpan banyak kisah yang menghiasi peta perpolitikan di tanah Jawa. Tidak hanya banyak kader PKI yang disingkirkan hingga dibunuh, juga banyak pejabat penting pemerintah yang terlibat menjadi anggota PKI bernasib misterius. Mereka juga banyak yang ditangkap, dipenjarakan hingga dieksekusi tanpa jejak.
Semua berawal saat PKI mampu meraih suara mayoritas suara di beberapa kota di Jawa hasil Pemilu 1955. Terdapat 18 kota dan kabupaten/Kota antara lain Kota Cirebon, Magelang, Salatiga, Solo, Semarang, Madiun, Blitar, Surabaya, Kabupaten Cirebon, Cilacap, Gunung Kidul, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Ngawi, Madiun, dan Magetan. Kesuksesan PKI di Pemilu buah dari kerja keras pimpinan D N Aidit, yang mengklaim massa PKI di seluruh Indonesia telah mencapai 1,5 juta anggota. Memasuki tahun 1960, hampir di tiap penjuru negeri terdapat baliho dan panji Palu Arit berkibar.
Dipetik dari The Cold War in the City of Heroes: U.S.Indonesian Relations and Anti Communist Operations in Surabaya,1963-1965, khusus Jawa Timur terlacak 5 Bupati/ Walikota yang tercatat sebagai kader PKI. Mereka Moerachman Walikota Surabaya 1963-1965, serta Walikota Surabaya sebelumnya yang juga menjabat Wakil Gubernur Jatim Raden Satrio Sastrodiredjo (1958-1963) juga berasal dari PKI. Juga terdapat nama Soebandi Sastrosoetomo Bupati Magetan 1960-1965, R. Soemarsono Bupati Blitar 1960-1965, Raden Kardiono BA Bupati Madiun 1962-1965, Suherman Bupati Ngawi 1958-1965, serta Soewarso Kanapi Bupati Banyuwangi 1965-1966.
Dari mereka tokoh intelektual tersebut memang ada yang nasibnya beruntung melewati persidangan dan vonis penjara. Namun tidak halnya dengan dua Walikota Surabaya yang jejaknya kelabu karena sampai kini tidak diketahui rimbanya. Keduanya Dr. Satrio Sastrodiredjo dan Moerachman SH. Keduanya merupakan mantan orang nomor satu di Kota Pahlawan yang hidupnya berakhir tragis usai dinyatakan hilang karena dituduh berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dalam artikel Peran Partai Masjumi dalam Dinamika Perkembangan Demokrasi di Kota Surabaya 1945-1960 tulisan Arya Wirayuda, dijelaskan, Dr Satrio Sastrodirejo adalah seorang dokter lulusan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), atau kini dikenal sebagai Universitas Airlangga saat ini. Dr Satrio Sastrodirejo menjadi orang nomor satu di Surabaya menggantikan Raden Istidjab Tjokrokoesoemo. Memang, Dr Satrio Sastrodirejo merupakan kader PKI aktif dan terpilih secara aklamasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada 11 Juni 1958. Dirinya calon tunggal yang diusung PKI bersama Baperki, Partai Katolik dan Parkindo dengan perolehan 20 kursi anggota dewan.
Dr Satrio Sastrodirejo tidak sampai tuntas memimpin Surabaya. Sebab pada tahun tahun 1963, Dr Satrio Sastrodirejo mendapatkan tugas menjadi Wakil Gubenur Jawa Timur mendampingi Mochamad Wiyono. Diangkatnya tokoh PKI ini atas perintah Sukarno Presiden berdasar usulan SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) dan PKI. Dua pemimpin ini dilantik pada 31 Januari 1963.
Maka sisa jabatan Walikota Surabaya pasca peralihan Dr Satrio Sastrodirejo lantas diisi oleh tokoh muda Moerachman SH pada November 1963. Sebenarnya nama Moerachman bukan orang baru dalam pergerakan revolusi kemerdekaan. Pria kelahiran Benculuk, Banyuwangi, 25 November 1929 itu, sebelum bergabung sebagai politikus Partai Komunis Indonesia pernah mengenyam pendidikan di SMA bagian B. Selama masa Revolusi Indonesia, dia bergabung dengan Polisi Militer (1946), hingga menjabat sebagai Komandan Batalyon 400 Tentara Pelajar di Besuki (1946/1947), Komandan Operasi di Sektor TRIP daerah Gunung Argopuro dan Komandan Operasi Sektor III/a. Kes. Co. Kawi Selatan. Massa revolusi kemerdekaan telah usai, dan Moerachman melanjutkan pendidikan di Universitas Airlangga dengan mengambil Fakultas Hukum.
Jiwa kepemimpinan pemuda Moerachman sudah muncul sejak di bangku kuliah. Moerachman pernah menjabat sebagai senat mahasiswa yang kemudian menjadi Sekretaris I Dewan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Juga aktif di dalam organisasi CGMI (Constentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) dan menjadi ketua delegasi Indonesia di Konferensi Mahasiswa Asia Afrika.
Kiprah politik praktis Moerachman SH dimulai pada tahun 1957, saat Jawa Timur mengadakan pemilu untuk Anggota DPRD. Hasilnya di beberapa daerah PKI menjadi pemenang atau mendapatkan banyak kursi setelah PNI dan Masyumi. Moerachman yang diusung oleh PKI itu, akhirnya lolos sebagai anggota terpilih dan bergabung ke Fraksi Progresif di DPRD Surabaya. Setelah masa jabatan Dr Satrio Sastrodiredjo diangkat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, tanpa melewati sidang DPRD, Moerachman ditunjuk mengisi kekosongan kursi Walikota Surabaya.
Memang singkat masa kepemimpinan Moerachman SH . Selama November 1963-1965, Moerachman SH baru memulai gebrakan gebrakan di Kota Surabaya. Jiwa anti kolonialisme dan pengalaman tempur sebagai prajurit telah menyatu dalam pola pikir dan tindakan, sehingga Moerachman SH dikenal sebagai walikota yang anti nilai nilai Belanda. Pada masa jabatanya, beliau merencanakan untuk membongkar monumen Bultzingslowen karena diniali berbau kolonial. Sebagai gantinya, beliau mengusulkan untuk membangun monumen sebagai tanda hormat kepada petani yang ia namakan sebagai Tugu Sakerah. Namun usaha itu belum pernah terlaksana, sebab ada peristiwa besar di Jakarta pada September 1965 yang merubah arah bangsa.
Maka meletuslah peristiwa G30S PKI yang membunuh 7 Jendral, perwira muda dan bintara polisi. Dalam kurun waktu satu tahun, gerakan massa yang menuntut PKI dibubarkan menyebar hingga ke Jawa Timur. Organisasi pemuda yang terdiri atas Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) melakukan aksi demonstrasi di Balai kota Surabaya menuntut Moerachman mundur dari jabatan karena dianggap kader PKI. Moerachman SH sudah berniat bertanggung jawab terhadap peristiwa pembunuhan yang tidak dia lakukan, dengan cara mengundurkan diri sebagai Walikota Surabaya. Namun belum sempat membuat pernyataan dan melewati prosedur sidang di DPRD, Tentara menahan Moerachman. Tokoh muda intelektual PKI itu dijemput paksa di rumah dinas tanpa surat perintah. Belum sempat pamit ke istri dan anaknya, sepenggal pertemuan terakhir saat Walikota Moerachman SH masuk ke mobil Tentara. Ada kabar Moerachman SH diamankan di penjara Kalisosok. Namun sebulan kemudian tidak pernah ada kabar lain yang menyusul. Diduga Moerachman SH dibunuh. Sampai sekarang keberadaan makam Moerachman SH tidak diketahui, begitu juga dengan kelanjutan cita citanya berupa monumen Tugu Sakerah. (pul)
Penulis : Pulung Ciptoaji
Surabaya, Buruh tak pernah ingkar janji sesuai perangnya di media sosial menolak kenaikan Bahan Bakar Bersubsidi , Senin 19/9/2022 lalu, ribuan buruh dari sejumlah Aliansi yang tergabung dalam Gerakan Aliansi Serikat Buruh Jawa Timur (GASPER) menuju titik aksi di depan Kantor Gubernur Jatim di Jalan Pahlawan Surabaya. Achmad Fauzi ketua Gasper Jatim sekaligus Ketua atau Wakil Sekretaris DPD KSPSI Jatim menyebut, massa buruh datang dari Pasuruan, Mojokerto, Sidoarjo, dan beberapa daerah lainnya Hingga Banyuwangi.
Fauzi menyebut dalam aksi kali ini adalah untuk menolak kenaikan BBM, menuntut revisi UMK tahun 2022, selanjutnya agar segera mengesahkan upah minimum sektoral 2022. Terakhir menuntut pemerintah Provinsi Jawa Timur, agar menetapkan UMK 2023 tidak menggunakan formulasi pimpin 36 tahun 2021. Berdasarkan pantauan dilapangan, sejak pagi massa buruh terus berdatangan dari sejumlah penjuru berkumpul di kantor Gubernur Jatim. Para buruh dengan rombongannya yang dipimpin masing-masing setidaknya satu truk mobil komando yang di belakangnya diikuti massa aksi.
"Hidup buruh..," teriak salah satu korlap buruh dari atas truk komando. "Turunkan harga BBM harga mati " kata salah satu korlap aksi diatas mobil komando.
Sebenarnya gerakan buruh dengan tuntutan keadilan sudah bergema sejak jaman kolonial. Bahkan jaman pemerintah Hindia Belanda sudah ada gerakan buruh hingga memuncak dengan aksi pemogokan. Dalam buku Perburuhan dari Masa ke Masa: Jaman Kolonial Hindia Belanda sampai Orde Baru Oleh Edi Cahyono, abad ke-19 adalah masa paling revolusioner dan penuh perubahan dalam sejarah kepulauan yang saat ini dikenal sebagai Indonesia. Herman Willem Daendels (1808-1811) seorang pengagum revolusi Perancis mempertegas pengelolaan wilayah koloni yang sebelumnya hanya merupakan mitra perdagangan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Di abad itu pula struktur masyarakat kapitalistik terbentuk. Lembaga keuangan Nederlansche Handels Maaatschapij (NHM) dan Javasche Bank didirikan. Tampil pengusaha-pengusaha Eropa untuk industri-perkebunan gula, di awal cultuurstelsel terdapat 30 kontraktor, terdiri dari 17 Tionghoa, 7 Belanda dan 6 Inggris.
Untuk mengelola industri perkebunan dan pabrik-pabrik itu, membutuhkan kaum bumiputera menjadi buruh. Maka perjalanan perburuhan sejak jaman kolonial Hindia Berlanda. Salah satunya pada Mei 1842, terjadi rotasi penanaman lahan tebu di kabupaten Batang Karesidenan Pekalongan di desa-desa Kaliepoetjang Koelon, Karanganjar dan Wates Ageng akan diadakan perluasan penanaman tebu. Residen meminta tanah-tanah baru untuk dipakai menanam tebu dalam jangka dua tahun. Instruksi gubernemen ini disampaikan langsung oleh bupati Batang kepada para kepala desa. Pada 22 Oktober, kontrolir Batang melaporkan, sejumlah 46 desa yang penduduknya melakukan cu1tuurdienst tebu. Namun upah para pekerja ternyata dilunasi sejak masa panen tahun. Protes planter terjadi pada 24 Oktober 1842, dan diikuti 600 planter (pekerja penanam tebu) dari 51 desa.
Aksi serupa di Yogyakarta tahun 1882, terjadi pemogokan berturut-turut. Gelombang pertama berlangsung sejak awal minggu terakhir bulan Juli 1882 sampai tanggal 4 Agustus 1882 melanda empat pabrik gula (PG). Gelombang kedua berlangsung dari tanggal 5 Agustus sampai dengan 22 Agustus 1882, melanda 5 pabrik dan perkebunan. Gelombang ketiga berlangsung dari tanggal 23 Agustus sampai pertengahan Oktober 1882, melanda 21 perkebunan. Para buruh ini menuntut upah, kerja gugur-gunung yang terlalu berat, kerja jaga (wachtdiensten) yang dilakukan 1 hari untuk setiap 7 hari serta kerja moorgan yang tetap dilaksanakan padahal tidak lazim lag, upah tanam (plaantloon) yang sering tidak dibayar, banyak pekerjaan tidak dibayar padahal itu bukan kerja wajib, harga bambu petani yang dibayarkan oleh pabrik terlalu murah bila dibandingkan harga pasar, beberapa pengawas Belanda sering memukul petani.
Dilihat dari jumlah orang dan desa yang terlibat protes tentu ini bukan protes besar. Namun disebabkan belum ada organisasi modern (serikat, partai.), seringkali aktivitas politik buruh seperti melakukan protes dan mogok belum menjadi perhatian pemerintah. Bahkan aksi buruh petani pada abad ke-19 cenderung diangkat persoalan protes petani. Sementara petani di Hindia Belanda adalah petani yang tidak dapat dikategorikan sebagai farmer (tuan tanah kapitalis), namun lebih merupakan peasant (petani gurem/miskin). Kaum tani gurem ini untuk hidupnya harus bekerja pada industri perkebunan yang diciptakan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Serikat-serikat buruh orang-orang Eropa di Hindia Belanda berdiri sejak akhir abad ke-19 atau sering disebut serikat buruh import. Berturut-turut lahir Nederlandsch-Indisch Onderwijzers Genootschap (NIOG) tahun 1897; Staatsspoor Bond (SS Bond) didirikan di Bandung pada 1905; Suikerbond (1906); Cultuurbond, Vereeniging v. Assistenten in Deli (1907); Vereeniging voor Spoor-en Tramweg Personeel in Ned Indie berdiri 1908 di Semarang; Bond van Geemployeerden bij de Suikerindustrie op Java (Suikerbond) tahun 1909 di Surabaya; Bond van Ambtenaren bij de In en Uitvoerrechten en Accijnzijn in Ned Indie (Duanebond) tahun 1911; Bond van Ambtenaren bij den Post , Telegraaft en Telefoondienst (Postbond) tahun 1912; Burgerlijke Openbare Werken in Ned-Indie (BOWNI) tahun 1912; Bond van Pandhuis Personeel (Pandhuisbond) (1913).
Ciri serikat-serikat buruh ini adalah: Pertama, tidak ada motifmotif ekonomi dalam proses pendiriannya. Tidak ada masalah pada sekitar tahun berdirinya serikat-serikat buruh tersebut misalnya, soal rendahnya tingkat upah, atau pun buruknya kondisi sosial tenaga kerja "impor." (warga non pribumi). Faktor yang mendorong pembentukan mereka adalah pertumbuhan pergerakan buruh di Belanda. Pada sekitar 1860-1870 di Nederland sedang mengalami pertumbuhan pergerakan buruh. Dan sejak 1878 ada pengaruh gerakan sosialdemokrat yang mendorong berdirinya National Arbeids Secretariats (NAS) sebagai induk organisasi.
Perkembangan selanjutnya dalam keanggotaan serikat-serikat buruh ini tidak hanya merekrut anggota "impor" saja, akan tetapi juga menerima kalangan bumiputera. Ini terjadi sebagai pengaruh semangat etis. Pada awal 1900 memberi nuansa baru dalam perkembangan intelektual bumiputera. Ditambah lagi dengan pembentukan serikat-serikat oleh buruh "impor," telah memicu serikat buruh dibangun oleh kaum bumiputera dalam masa-masa sesudahnya. Beberapa di antaranya yang dapat disebutkan adalah: Perkoempoelan Boemipoetera Pabean (PBP) tahun 1911; Persatoean Goeroe Bantoe (PGB) tahun 1912; Perserikatan Goeroe Hindia Belanda (PGHB) berdiri tahun 1912; Persatoean Pegawai Pegadaian Boemipoetera (PPPB) tahun 1914; Opium Regie Bond (ORB) dan Vereeniging van Indlandsch Personeel Burgerlijk Openbare Werken (VIPBOUW) tahun 1916; Personeel Fabriek Bond (PFB) tahun 1917.
Di kalangan Tionghoa pada 26 September 1909, di Jakarta, dibentuk Tiong Hoa Sim Gie dipimpin oleh Lie Yan Hoei. Empat bulan kemudian kelompok ini merubah nama menjadi Tiong Hoa Keng Kie Hwee yang kemudian menjadi inti dari Federasi Kaum Boeroeh Tionghoa. Perhimpoenan Kaoem Boeroeh dan Tani (PKBT) didirikan tahun 1917, di lingkungan industri gula. Organisasi ini dikembangkan dari Porojitno yang dibentuk oleh Sarekat Islam (SI) dan ISDV Surabaya pada tahun 1916. PKBT kemudian dipecah menjadi dua di tahun 1918 yaitu Perhimpoenan Kaoem Tani (PKT) dan Perhimpoenan Kaoem Boeroeh Onderneming (PKBO). PKBO kemudian digabung dengan Personeel Fabriek Bond (PFB), sebuah organisasi yang dibentuk oleh Soerjopranoto tahun 1917. Vereniging Spoor-Traam Personen (VSTP) didirikan pada 14 November 1908 di Semarang, Jawa Tengah oleh 63 buruh "impor" Eropa yang bekerja pada 3 jalur kereta NederlanschIndische Spoorweg Maatschappij (NIS), Semarang-Joana Maatschappij Stoomtram (SJS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Rapat umum VSTP pada Pebruari 1914 diputuskan dari posisi tujuh anggota eksekutif tiga diambil dari kaum bumiputera. Jumlah anggota VSTP diakhir 1913 adalah 1.242 (673 Eropa dan 569 Bumiputera), dan pada Januari 1915 beranggotakan 2.292 dan anggota bumiputera telah mencapai 1.439. Tahun 1915 VSTP menerbitkan orgaan (surat kabar) Si Tetap, dalam bahasa Melayu. Moehamad Joesoef ditunjuk menjadi editornya.
Joesoef pun terpilih menjadi Ketua Pusat bersama pemuda berumur 16 tahun, Semaoen. Semaoen kemudian masuk ke VSTP cabang Surabaya pada paruh akhir 1914, dan dia terpilih menjadi ketua cabang di awal 1915. Pada 1 Juli 1916, Semaoen pindah ke Semarang menjadi propagandis utama VSTP dan editor Si Tetap. Semaoen begitu gigih membangun VSTP. Pada 1920 dia telah membangun 93 cabang di Pulau Jawa (Cirebon, Semarang, Yogya, Surabaya, Madiun), beberapa di pantai Barat Sumatera dan pada perkebunan Deli. Bahkan anggota VSTP pada Mei 1923 telah mencapai 13.000 orang, atau seperempat buruh industri perkeretaapian Hindia Belanda. Tercatat 60 persen anggota pasti membayar iuran, sisanya membayar iuran organisasi pula namun tidak terlalu patuh. Aksi pemogokan VSTP pada April hingga Agustus 1923 berakibat dirinya diasingkan ke Nederland. Dia berangkat pada 18 Agustus 1923.
Pemogokan-pemogokan dengan mengandalkan organisasi mulai gencar terjadi di tahun 1920 an. PFB tahun 1920 memobilisasi pemogokan disebabkan majikan menolak mengakui PFB sebagai organisasi yang mewakili anggotanya. Di Surabaya pada 15 Nopember 1920 pada Droogdok Maatschappij terjadi pemogokan diikuti sekitar 800 buruh. Agustus 1921 pemogokan terjadi di lingkungan buruh pelabuhan Surabaya. Medio Januari 1922 pegawai pegadaian mogok mencakup 79 rumah-gadai dengan sekitar 1.200 buruh (PPPB). Buruh kereta-api didukung sekitar 8.500 buruh mogok pada April 1923 (VSTP).
Pemogokan di perusahaan percetakan di Semarang terjadi pada 21 Juli 1925. Menyusul pemogokan di C.B.Z. pada 1 Agustus 1925; diikuti dengan pemogokan di Stoomboot en Prauwenveer yang diikuti sekitar 1.000 anggota yang berakhir pada September 1925. Percetakan Van Dorp di Surabaya juga mengalami pemogokan pada 1 September; sedang pada 5 Oktober dan 9 Nopember pemogokan terjadi di pabrik mesin N.I. Industrie dan Braat. Serikat Boeroeh Bengkel dan Elektris (SBBE) mogok pada 14 Desember 1925. Mencakup 7 pabrik mesin dan konstruksi. Penyebab pemogokan adalah Vereeniging van Machinefabrieken yang membawahi 7 pabrik tersebut memutuskan tidak ingin berhubungan dengan SBBE.
Untuk merespon aksi-aksi buruh tersebut pemerintah kolonial mengadakan peraturan "Dewan Perdamaian untuk Spoor dan Tram di Djawa dan Madura" yang diharapkan menjadi perantara bila terjadi perselisihan industrial. Namun kemudian pemerintah kolonial merasakan bahwa pemogokan mempunyai tujuan politik untuk menggulingkan kekuasaan. Untuk itu pada 10 Mei 1923 diumumkan undang-undang larangan mogok yang dikenal dengan artikel 161 bis.
"Barang siapa, jang sengadja melahirken dengen perkataan, toelisan atau gambar, jang bermaksoed, baik sindiran, baik tengah atau bisa didoega-doega, mengganggoe ketentereman oemoem, baik berkehendak atau setoedjoe dengen angan-angan jang mendjatoehken atau menjerang dari kekoeasaan di negeri Belanda atau di Indonesia, aken dihoekoem dengen hoekoeman pendjara setinggi-tingginja enam tahoen atau denda oeang setingginja tiga ratoes roepiah" (pul)
Tim produksi film dokumenter Bie Muusze dari Amsterdam, Belanda selama dua hari (26-27/9/2022), menghabiskan waktunya di Surabaya. Mereka mendokumentasi gedung-gedung yang secara seni dan arsitektural, menyimpan nilai-nilai budaya.
Tim Bie Muusze membidik budaya perpaduan antara budaya lokal dan budaya kolonial sehingga tema dokumentasi yang diangkat adalah “Pembauran”. Selama dua hari itu, mereka didampingi dan dipandu oleh tim Begandring Soerabaia.
Di era kolonial, masyarakatnya tidak semata mata terbagi antara pendatang (asing) dan lokal (bumi putera), tetapi justru disana lahir budaya pembauran yang jejaknya masih bisa diidentifikasi hingga sekarang dan bahkan jejak itu memberi nilai tambah jika dimanfaatkan dengan baik. Sekarang, nilai tambah itu bisa dijadikan sebagai jembatan kerjasama antar bangsa.
Era kolonialisasi pada masa lalu seharusnya tidak selalu dipandang dengan sudut pandang permusuhan dan apalagi kebencian. Memang ada yang baik dan buruk akibat dari kolonialisasi.
“Sebagai refleksi atas masa lalu, akan sangat bijak bila generasi sekarang bisa menyaring dan membedakan mana yang baik dan buruk. Kemudian yang baik hendaknya dipakai sebagai landasan untuk menatap masa depan. Sedangkan yang buruk harus ditinggalkan,” kata Nanang Purwono, Ketua Begandring Soerabaia, sebagai mitra kerja Bie Muusze Documentary Film Maker.
Tim produksi film dokumenter Bie Muusze, yang datang dari Belanda, sengaja mencari nilai nilai perpaduan kedua budaya: lokal dan kolonial melalui karya arsitektur yang tersebar di kedua negara, Indonesia-Belanda. Di Indonesia, salah satu kotanya adalah Surabaya.
Banyak karya arsitektur yang berbentuk gedung dan bangunan di Surabaya. Maklum, Surabaya dikenal sebagai “rumah” keberagaman arsitektur dari beragam arsitek. Bahkan seorang arsitek, yang dijuluki Bapak Arsitektur Moderen, HP Berlage, memiliki karya bangunan eksotik di Surabaya. Bangunan ini umum disebut Gedung Singa.
Dalam produksi film dokumenter yang bertema “Pembauran”, salah satu arsitek yang menjadi fokus produksi adalah arsitek Citroen. Nama lengkapnya adalah Cosman Citroen, lahir di Belanda, 26 Agustus 1881 dan meninggal di Surabaya pada 15 Mei 1935). Ia adalah seorang arsitek Belanda, yang banyak mendesain bangunan di Hindia Belanda, termasuk di Surabaya.
Dia juga merupakan pimpinan Museum Asosiasi Antik di Surabaya, dan selama tahun-tahun terakhir hidupnya, dia bekerja sebagai advisor arsitektur di kota Surabaya. Dia mengerjakan rancangan urban ekspansi kota Surabaya, termasuk rancangan kota Ketabang dan Balai Kota.
Karya karya Citroen lainnya yang masuk dalam produksi film dokumenter ini adalah villa pengusaha gula Tionghoa di Jalan Kayoon, Jembatan Gubeng, Gedung Borneo Soematra Maaschappij (Borsumij) yang kini dipakai sebagai kantor sebuah bank di Jalan Veteran.
Tim film dokumenter Bie Muusze juga mengabadikan kondisi terakhir peristirahatan terakhir, makam Citroen di pemakaman umum Kembang Kuning Surabaya.
Selain karya Citroen, gedung gedung lain yang mengandung nilai nilai peradaban campuran dalam karya arsitektur adalah Gedung Algemeene Singa di Jalan Jembatan Merah, Gedung Handels Verenigging Amsterdam (HVA) di Jalan Merak, dan rumah pejabat Javasche Bank di Jalan Mayangkara. Gedung-gedung itulah, menyimpan nilai pembauran budaya kolonial dan lokal.
“Mereka bukanlah gedung yang mentereng dengan warna kolonialnya, tapi membawa warna pembauran, ada alkulturasi budaya. Karya karya itu menunjukkan harmonisasi yang telah hidup di era kolonialisasi,” ujar Frans Leidermeijer di sela syuting.
Jika di masa kolonial sudah hidup pembauran, maka nilai ini dapat menjadi dasar pembauran dalam hal kerjasama antara kedua negara di masa depan.
“Nilai pembauran budaya antara Indonesia dan Belanda ini penting untuk dipromosikan agar kita bisa hidup rukun antar bangsa,” jelas Frans Leidermeijer, produser program film dokumenter ini.
Menurut rencana, film ini akan menjadi sarana untuk mengisi event event budaya yang digelar di kota kota di Belanda. Selain itu, film ini juga akan dibagikan ke Dirjen Kebudayaan (Kemendikbudristek) RI, wali kota Surabaya dan pihak pihak terkait. Dengan pemutaran film dokumenter “Pembauran” ini, masyarakat luas di kedua negara dapat mengetahui nilai nilai bersama yang ada pada karya arsitektur bangunan.
Selama di Indonesia, tim pembuatan film dokumenter juga mendokumentasikan nilai nilai pembauran pada gedung gedung penting dan terkait di Surabaya, Malang, Kediri, Semarang, Bandung, Cirebon dan Jakarta.