images/images-1675665370.png
Sejarah

Cerita Rosihan Anwar Saat Meliput Sidang Kabinet Syahrir III

Pulung Ciptoaji

Feb 06, 2023

187 views

24 Comments

Save

abad.id- Bulan Agustus 1946, Syahrir mendapat tugas lagi untuk membentuk kabinet lengkap, yang akhirnya dikenal “Kabinet Syahrir Jilid III”. Isi kabinet ini masih gagal membentuk kabinet koalisi lebar seperti yang diinginkan Sukarno. Pendukung kabinet Syahrir ini masih kelompok Partai Sosialis, dan sedikit dari unsur Masyumi dan PNI. Sekali lagi Syahrir menjadi Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri.

 

Dalam susunan kabinet Syahrir III ini masih terdapat beberapa nama yang sama dengan susunan kabinet Sharir jilid I dan II. Mereka Agoes Salim yang mendampingi Syahrir menjadi menteri Luar Negeri, Amir Syarifuddin menjadi Wakil Perdana Menteri, Natsir serta Roem. Ada pula seorang laki laki asal Maluku yang ikut menjadi anggota kabinet, Johanes Leimena yang sering dipanggil Oom Joe. Ada seorang wanita Maria Ulfa Santoro putri bekas Bupati Kuningan kawan dekat Syahrir selama kuliah di Belanda. Wikana masih mengurusi masalah kepemudaan, Sultan Hamengku Buwono IX dijadikan menteri tanpa departemen bersama Po Gwan dari golongan etnis Tionghua.

 

Sidang Kabinet Syahrir III. Foto dok net

 

Untuk mengurus negara yang masih sangat muda dengan ancaman agresi militer Belanda ini, Syahrir harus hilir mudik dari Jakarta ke Yogjakarta seminggu sekali, hari Jumat dan Minggu harus balik. Untuk menuju ibukota negara Yogjakarta, Syahrir disediakan fasilitas kereta api gerbong khusus dilengkapi tempat tidur. Kehadiran Perdana Menteri selama di Yogjakarta dimanfaatkan untuk rapat kabinet lengkap, dengan dihadiri Sukarno Presiden dan Hatta Wakil Presiden. Lokasi sidang dipilih di Istana Negara Yogjakarta, tempat kediaman Sukarno Presiden.

 

Hingga suatu saat Syahrir mengajak seorang wartawan bernama Rosihan Anwar yang bekerja di harian “Merdeka” untuk mengikui kegiatan rapat kabinet. Dalam bukunya Sukarno Biografi 1901-1950 tulisn Lambert Giebels, Rosihan Anwar menggambar rapat para menteri ini seperti bermain-main. Rapat digelar di sebuah ruangan besar di Istana Yogjakarta pukul 10.30, dan dibuka Syahrir. Di belakang Sukarno dan Hatta duduk bersebelahan yang digambarkan seperti saudara. Kemudian para menteri yang sudah hadir dipersilahkan duduk di kursi masing masih.

 

Agenda sidang kabinet saat itu ada empat pokok, yaitu pengesahan notuna rapat sebelumnya tentang surat-surat masuk, kemudian politik luar negeri dan dalam negeri serta kondisi pertahanan, soal anggarandan terakhir soal tanya jawab dan menentukan tanggal rapat berikutnya. Laporan pertama dari Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara yang menyampaikan belum berhasil menyelesaikan anggaran dan meminta waktu sampai rapat berikutnya. Menteri Kehakiman mengeluh para pegawainya terpaksa menjual seragam resmi karena memerlukan uang untuk beli makanan. Syafruddin yang merasa disentil atas pernyataan Menteri Kehakiman segera menerangkan kesulitan pemerintah menarik uang pajak di situasi negara yang sedang banyak blokade.

 

Di sela-sela penjelasan menteri Syafruddin ini, tiba-tiba Sekretaris Dewan Menteri Susanto keliling meja untuk menyodorkan sebuah telegram kepada Perdana Menteri Syahrir yang kurang mengikuti pembicaraan para menterinya itu. Syahrir membaca, lalu memasukan ke dalam saku. Dengan nada jengkel, Natsir bertanya dari belakang meja isi telegram yang dianggap rahasia itu. lalu Syahrir tidak menjawabnya.

 

Menurut catatan Rosihan Anwar, banyak surat yang masuk dalam sidang kabinet berisi tentang keluhan rakyat. Misalnya dari Walikota Jakarta yang melaporkan inflasi sangat tinggi. Tentu saja keluhan ini memancing diskusi yang hangat, sehingga lupa tentang topik utama yang dibahas yaitu masalah seragam hakim. Tapi yang menarik dari rapat kabinet itu, Maria Ulfah satu-satunya menteri perempuan tidak kalah dalam berargumen. Menurut Maria Ulfah, sebuah keluarga buruh harus menutupi kebutuhan mereka sebesar 22,4 rupiah per hari. Sedangkan analisis hidup layak diperlukan 55,6 rupiah per hari. Terdengarlah kata-kata belanda Corruptie. Kemudian Leimena mengingatkan juga dalam bahasa Belanda, jangan sampai terjadi pemberontakan massa.

 

Situasi yang mulai panas ini langsung ditengahi oleh Hatta yang menyerukan mereka yang berdiskusi mengutamakan ketertiban. Semua harus memusatkan pikiran kepada inti persoalan. “Satu-satunya yang bisa memecahkan persoalan ini yaitu sebuah sistim distribusi yang terbuka” kata Hatta.

 

Rosihan Anwar masih sangat ingat rapat yang digelar sangat dinamis, namun presiden dan perdana menteri hanya sesekali berbicara.  Tepat pukul 14.00 siang rapat dihentikan sementara untuk makan siang secara sederhana. Menunya sepotong paha ayam, nasi goreng yang dibungkus daun pisang. Menu minuman hanya disediakan air putih dan teh kopi serta jahe. Saat makan siang ini situasi yang tegang menjadi sangat cair. Para menteri saling ngobrol membahas hal yang ringan, dan sebagian melanjutkan sholat. Istirahat makan hanya 30 menit, kemudian rapat kabinet dilanjutkan hingga pukul 20.00 malam. 

 

Rosihan Anwar Wartawan 5 Jaman

 

Rosihan Anwar seorang wartawan, budayawan, sejarawan, sekaligus sastrawan Indonesia memulai karier jurnalistik di Harian Asia Raya pada 1943. Rosihan Anwar merupakan jurnalis lintas masa karena ia berkarier sejak masa penjajahan Jepang hingga reformasi. Rosihan Anwar lahir di Bumi Sari Natar, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 10 Mei 1922. Ia adalah anak keempat dari sepuluh bersaudara. Ayahnya bernama Anwar Maharaja Sutan dan ibunya adalah Siti Safiah. Ayah Rosihan Anwar merupakan seorang Demang atau pegawai pemerintahan di kota Padang, Sumatera Barat.

 

Rosihan Anwar mendapat pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) pada 1935. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang pada 1939. Setelah menamatkan pendidikan di MULO, Rosihan Anwar merantau ke Yogyakarta untuk bersekolah di Algemeene Middelbare School atau AMS  pada 1942. Rosihan Anwar memulai karier menjadi wartawan Asia Raya pada 1943 hingga hingga 1945. Setelah itu, Rosihan Anwar bekerja di Harian Merdeka yang dipimpin BM Diah hingga tahun 1946.  Setelah punya pengalaman mengelola media, ia menjabat sebagai pemimpin redaksi Harian Siasat pada 1947. Pada tahun 1948, Rosihan Anwar kemudian menerbitkan Surat Kabar Pedoman hingga Januari 1961, karena diberedel Soekarno.

 

Sejak saat utu Rosihan Anwar menjadi kolumnis untuk majalah luar negeri, seperti Bussines News. Setelah pecah Gerakan 30 September pada 1965, Rosihan Anwar mendapat tawaran dari banyak surat kabar dan majalah dari dalam maupun luar negeri. Pada 1968, Rosihan Anwar menerbitkan kembali Harian Pedoman yang sempat mati. Selain itu aktif di PWI. Ia sempat menjabat sebagai ketua PWI dari 1968 hingga 1974. Selanjutnya, ia menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat sejak 1983. Kiprah Rosihan Anwar di PWI berakhir dan meninggal dunia pada 14 April 2011. (pul)

 

Artikel lainnya

The Begandring Institute Lahir Mewarnai Peringatan Tahun Baru Imlek