images/images-1674189956.png
Sejarah
Riset

Hikayat Penghobi Porkas dan SDSB Jaman Dulu

Pulung Ciptoaji

Jan 20, 2023

2456 views

24 Comments

Save

abad.id-Bagi anda yang besar di era tahun 80-an, pasti kenal dengan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). SDSB berupa kupon undian dengan menebak angka. Hampir sama dengan Porkas, undian resmi yang digelar pemerintah orde baru ini muncul  setiap Senin dan hari Rabu. Selembar kupon berharga Rp.1.000,- dijual pukul 18.00, dan akan diumumkan hasil undiannya pukul 00.00 tengah malam melalui radio RRI. “Hari Kamis dini hari sudah diumumkan angka yang keluar. Maka pemegang kupon yang tebakannya tepat, bisa mengambil hadiah di loket tempat membeli, pada hari Kamis sampai Minggu, dengan membawa kupon asli,” kata Iwan Hidayat seorang pengusaha kopi di Mataram.

 

Mereka yang membeli SDSB awalnya hanya berniat sebagai hiburan sekaligus iseng-iseng berhadiah. Memang, iming-iming hadiah SDSB berupa uang tunai sangat menggiurkan. Menurut Dwi Budiono seorang aktifis sosial, kupon SDSB harganya cuman Rp 1000. Sedangkan undian berupa 6 digit angka, misalnya 6 5 4 3 2 1. Jika tepat menebak persis sama dengan keenam urutan angka tersebut, maka hadiahnya sebesar Rp 1 Milyar. Kalau 4 angka (4 digit terakhir), hadiahnya senilai Rp2,5 juta. Jika 3 angka (3 digit terakhir), hadiahnya sebesar Rp.350 ribu dan 2 angka (2 digit terakhir), hadiahnya senilai Rp.60 ribu. “Di satu sisi sebagai hiburan, sedangkan di sisi yang lain menjadi keuntungan bagi penyelenggaranya. Pernah orang Trenggalek langsung kaya setelah dapat hadiah utama SDSB Rp 1 Miliar dan masuk koran,” cerita Dwi.

 

Lalu, bagaimana cara mendapatkan angka bisa keluar secara tepat. Mereka para penghobi SDSB melakukan hal-hal unik diluar nalar. Mantan wartawan media mistik yang terbit di Surabaya Liberty punya banyak kisah mendapatkan nomor SDSB. Menurut Sidik, tidak jarang para penggemar SDSB sengaja “kesurupan” dan melakukan ritual untuk mendapatkan tebakan angka yang jitu. Caranya dengan bertapa di tempat-tempat yang dianggap keramat atau angker pada malam hari. Di kawasan Bungurasih Surabaya terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan Mbah jenggot. Di tempat ini yang punya hajat melakukan ritual mengundang roh dengan mediasi orang agar kesurupan. Saat kesurupan, yang punya hajat bertanya ke barang halus nomor kode yang akan keluar. Sang mahluk akan menulis di tanah dan diyakini itu nomor jitu.

 

Kupon SDSB harganya Rp 1000.  Jika tepat menebak persis 6 angka urutan maka hadiahnya sebesar Rp 1 Milyar Foto dok net.

 

Ada cara lain dengan membakar kemeyan atau membakar daging burung tertentu. Hal ini diyakini akan mengundang datangnya makhluk astral yang akan memberitahukan angka yang akan keluar. Angka itu tertulis pada piring putih atau pada telur yang sudah disiapkan. Paling mudah dengan melakukan rapalan, atau meletakan korek api kayu yang dibungkus kertas putih di sebuah temat pada malam hari. Media rapalan bisa ditinggal setelah diberi mantra. Besok pagi tinggaal ngambil dan posisi media rapalan bisa berubah dan memberi kode tertentu.

 

Jika mendapat angka, maka angka itu tidak langsung keluar pada minggu pertama. Biasanya baru keluar setelah 2 bulan berikutnya. Bahkan bisa saja angka keluar tapi harus dibolak balik. Angka muncul dari hasil mistis itu tepat, namun urutannya terbalik.

 

 

Selain dengan dengan cara nggarandong, penggemar SDSB juga paling suka menanyakan kepada orang gila, atau anak kecil yanag masih polos berapa angka yang akan keluar. Sama seperti hasil bertapa, angka yang dikatakan oleh orang gila ini harus dipasang berturut-turut beberapa minggu dan dibolak-balik. Menurut mereka, angka yang dikatakan orang seperti itu sering benar. Ada pula para penghobi SDSB ini bertanya ke guru ngaji atau orang pintar. Maka mulailah kegiatan ritual yang tidak bisa di nalar. Seperti yang dilakukan guru ngaji di Sidotopo dengan perantara air putih yang disemburkan di cermin. Saat itu pula peserta pengajian bisa melihat bersama-sama nomor nomor misterius yang muncul di cermin. “ Cara ini pernah menggemparkan warga Sidotopo, sebab  hampir satu kampung dapat undian SDSB,” cerita Sidik.

 

Para penggemar SDSB semua pasti juga menjadi ahli tafsir mimpi. Apa saja mimpi yang mereka alami, selalu cari magna lalu dihubungkan dengan angka. Jika mimpi melihat siput atau bekicot misalnya, lalu akan ditafsirkan sebagai angka 02. Atau jika mimpi melihat kumpulan orang, maka jumlah orang tersebut diangap sebagai angka yang akan keluar. Bahkan buku primbon tafsir mimpi menjadi pegangana wajib para penghobi. Selanjutnya akan berdiskusi di warung kopi tentanag tafsir mimpi yang dialami.

 

Terkadang penjual obat selalu ditunggu. Pada saat tertentu, orang-orang istimewa ini akan mengeluarkan sebuah kode nomor yanag bisa diartikan. Bahkan sambil menjual obat mereka menjual prediksi angka yang akan keluar. Dengan berbagai trik, mereka dapat meyakinkan para penggemar SDSB untuk membeli angka tersebut. Serta seorang dalang wayang kulit hingga tontotan hiburan rakyat ludruk dan ketoprak selalu ditunggu hingga tuntas. Bagi penggemar SDSB melihat tontonan bukan karena terhibur namun disebabkan menunggu kode nomor yang tersirat disampaikan oleh pemain ketoprak atau pak dalangnya.

 

Sedangkan cara yang umum dengan melakukan rekap nomor. Yaitu melakukan hitungan rumus tertentu nomor yang sudah pernah keluar dan nnomor yang belum pernah. Misalnya pada Minggu lalu angka yang keluar adalah 2345, maka setelah direkap dengan nomor lain yang belum keluar hasilnya akan muncul sebuah angka untuk minggu depan.  Sebenarnya faktor X dan keberuntungan saja seseorang bisa mendapatkan undian ini, maka jangan pernah dibuat serius hingga gila nomor. ” Ada tetangga saya dapat nomor SDSB dalam jumlah besar Rp 10 juta justru kaget dan sakit-sakitan hingga meninggal dunia,” kata Sidik Purwoko.

 

Sejarah Judi Resmi di Indonesia

 

Perjudian secara resmi di Indonesia memiliki sejarah panjang, dan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Saat itu perjudian tak hanya dianggap sebagai hiburan, tetapi bisa dijadikan alat untuk menyatukan berbagai kalangan.  Padai zaman kolonial Belanda, judi berlangsung melalui sebuah ordonansi atau peraturan yang dikeluarkan residen setempat. Maka perjudian yang awalnya dianggap sesuatu yang tabu, lama kelamaan mulai dilegalkan oleh pejabat setempat.

 

Di zaman Indonesia pasca Kemerdekaan, judi buntut merebak namun bersifat lokal. Di beberapa kota besar di wilayah Indonesia sepetti Bandung dan Surabaya, ada judi buntut dengan sebutan toto raga yang mengacu pada olahraga pacuan kuda.  Kemudian tahun 1960-an pemerintah Sukarno membentuk Yayasan Rehabilitasi Sosial, sebuah yayasan yang didirikan oleh pemerintah untuk mengelola perjudian legal. “Pemerintah membutuhkan dana cukup besar untuk pembangunan, maka salah satu cara untuk mengumpulkan uang masyarakat dengan cara mengelola perjudian,” kata Dwi Budiono.

 

Pengundian hadiah Yayasan Rehabilitasi Sosial dilakukan setiap satu bulan sekali. Nilainya cukup fantastis mencapai Rp 500. Sementara nilai terendahnya berkisar antara Rp 10-20 ribu. Karena judi legal ini sangat menjanjikan keuntungan namun hanya muncul satu bulan sekali, beberapa bandar menggelar judi yang sama secara ilegal.  Salah satunya "Lotere Buntut". Cara hanya menebak dua angka terakhir undian berhadiah yang dikeluarkan pemerintah, namun bandarnya modal pribadi.

 

Sejak awal dibentuk tahun 1978, tak kurang dari 4 juta kupon SDSB ludes dibeli masyarakat dan diundi pada Senin dan Rabu. Foto dok istimewa

 

Lotere Buntut ini bertebaran hingga ke pelosok-pelosok. Sasarannya adalah petani, buruh, dan pedagang-pedagang kecil. Tanpa memerlukan peraturan yang sulit, para pecandu permainan ini dapat langsung memasangkan taruhannya. Besaran hadiah yang didapat cukup menggiurkan, antara Rp 60 ribu samapai Rp 80 ribu.

 

Melihat fenomena minat minat hiburan judi cukup menjanjikan, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang baru saja dilantik langsung melakukan gebrakan. Pertimbangannya mencoba menarik dana masyarakat untuk pembangunan DKI melalui legalisasi perjudian. Serta mencegak judi ilegal atau judi buntut dengan memperkenalkan judi resmi Jakarta dengan nama Nalo, singkatan dari National Lotere berdasarkan Undang-Undang nomor 11 tahun 1957.

 

Pro dan kontra sebuah kebijakan keap terjadi, tetapi fakta menunjukan perjudian mampu menghasilkan uang cukup besar sehingga infrastruktur di Jakarta bisa terbangun dengan cepat. Meskipun secara materi menguntungkan pemerintah, namun akhirnya Sukarno menyadari bahwa perjudian itu berpotensi merusak moral. Maka pada tahun 1965 Sukarno menghentikan seluruh aktivitas perjudian melalui Surat Keputusan Presiden nomor 113 tahun 1965. Bahkan masukan perjudian ke dalam kategori kejahatan subversive.

 

Orde Baru Mengenalkan Porkas dan SDSB

 

Dalam perjalanannya, meskipun perjudian secara resmi dinyatakan terlarang tetapi pada praktiknya masih terus terjadi dimana-mana, judi buntut bisa ditemukan dihampir seluruh wilayah Indonesia terutama di kota-kota besar secara ilegal. Melihat fenomena ini pihak yang dekat dengan kekuasaan Orde baru mencoba mengambil kesempatan, dengan melegalkan"judi buntut" dengan dalih untuk kegiatan kemanusian.

 

Pemerintah melalui Badan Usaha Undian Harapan membuat program yang dikenal dengan SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah) pada tahun 1978. Sejak awal dibentuk, tak kurang dari 4 juta kupon SDSB ludes dibeli masyarakat dan diundi pada Senin dan Rabu. Operator yang ditunjuk mengendalikan SDSB ini Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) yang dipimpin Robby Sumampow. Orang yang dekat dengan Cendana ini  sebelumnya sukses mengelola judi Porkas dan mengelola sejumlah grup usaha dan hotel di Solo dan Jakarta.

 

Robby Sumampow bersama tim kementrian sosial mempelajari judi SDSB selama 2 tahun di Inggris,  tujuannya agar mampu menciptkan model undian tanpa memiliki ekses judi. Di Inggris, jenis undian berhadiah menggunakan perhitungan-perhitugan yang sistematik.  Dalam Managing National Lottery Distribution Fund Balances, yang dikeluarkan oleh lembaga resmi Inggris, menjelaskan perhitungan lotere bukan semata-mata tebakan saja. Namun semacam permainan berhitung yang rumit. Maka Robby Sumampow mencoba melakukan hal yang sama untuk diterapkan di Indonesia.

 

Akhirnya setelah penelitian dirasa cukup pemerintah meresmikan SDSB pada tahun 1985 melalui Surat Keputusan Menteri Sosial nomor BBS-10-12/85.  Setahaun berjalan, omzet dari undian berhadiah SDSB ini mencapai angka Rp. 1 triliun, angka yang luar biasa. Karena untuk besar, Pemerintah Orde Baru melalui Departemen Sosial kembali mewacanakan bergulirnya judi legal lain yang dinamakan 'Porkas' yang peruntukan untuk kegiatan olahraga.

 

Selama 8 tahun undian Porkas beroperasi, kelompok agamawan dan aktifis sosial menganggap Porkas dan SDSB tak lain dari judi yang terselubung. Masyarakat mulai protes turun ke jalan menolak keberadaan SDSB. Pada tahun 1992, aksi demontrasi juga dilakukan mahasiswa hingga terjadi bentrokan antara pengepul dengan massa aksi di Jakarta. “Aksi menolak SDSB juga terjadi di Surabaya dan sejumlah mahasiswa ditangkap oleh pemerintah orde baru, dan mereka dituduh makar,” cerita Dwi Budiono.

 

Peredaran Porkas, SDSB dan berbagai judi buntut legal akhirnya dihentikan bulan November 1993 melalui keputusan Menteri Sosial Endang Kusuma Intem. Sementara pengusaha kawakan asal Kota Solo, Robby Sumampouw, meninggal dunia di Singapura pada Minggu 11/10/2020 di usia pada 76 tahun. (pul)

Penulis : Pulung Ciptoaji