images/images-1674989632.png
Liputan

Raperda Kebudayaan dan Kepahlawanan Surabaya Sedang Disusun

Author1 Abad1

Jan 30, 2023

183 views

24 Comments

Save

Budayawan Kristanto Wibisono bicara tentang pendidikan karakter. Foto Nanang Purwono

 

abad.id-Tidak hanya komunitas yang selama ini berkarya dengan basis sejarah dan budaya, seorang wakil rakyat dari Partai Gerindra, A. Hermas Thony, dalam masa Reses nya (Jaring Aspirasi Masyarakat, Tahun Sidang IV, Masa Persidangan Kedua) mengajak kalangan masyarakat ikut berpartisipasi dalam penyusunan Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Kota Surabaya. Raperda ini adalah murni Raperda inisiatif Dewan. Dalam Reses ini Thony memfokuskan pada tema pembangunan kota berbasis Kebudayaan.

 

 

Thony, yang keseharian menjabat Wakil Ketua DPRD Surabaya, dikenal sebagai pegiat dan penggerak Kebudayaan Surabaya. Karenanya dalam reses pada Jumat 27 Januari 2022, ia sengaja menjaring aspirasi warga dengan tema "Pembangunan Kota Surabaya Berbasis Kebudayaan".

 

Jejaring pendapat perihal pembangunan kota berbasis Kebudayaan dalam reses AH Thony. Foto Nanang Purwono

 

Dalam kesempatan itu ia menggelar tiga sesi sidang di sebuah hotel di jalan Jemursari Surabaya. Sesi pertama (siang) diperuntukkan bagi warga Rungkut. Sesi kedua (sore) untuk komunitas pegiat sejarah dan budaya. Sedangkan sesi ketiga (malam) untuk kalangan guru.

 

 

Tema ini diangkat sesuai dengan semangat menyambut lahirnya dua Peraturan Daerah (Perda) di Surabaya.

 

 

"Pertama adalah Perda Cagar Budaya yang saat ini sedang dalam proses fasilitasi di Gubernur Jawa Timur. Kemudian kedua adalah Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Kota Surabaya yang akan masuk pada proses pembahasan di Pansus", jelas A Hermas Thony yang belum lama dinobatkan sebagai Tokoh Penggerak Kebudayaan kota Surabaya.

 

 

Tidak seperti bagaimana cara seorang anggota menggelar jaring aspirasi yang umumnya mendengarkan suara dan aspirasi tentang berbagai hal, tetapi cara yang dilakukan Thony sangat tematik. Yaitu tentang budaya yang disesuaikan dengan pembahasan Raperda.

 

 

"Saya sengaja menggelar Reses ini sangat tematik. Dari berbagai kalangan dalam tiga sidang ini, mereka berbeda latar belakang. Pada sesi pertama adalah kalangan warga umum, kedua khusus pegiat dan pemerhati dan ketiga khusus kalangan guru", jelas Thony.

 

 

Dari ketiga sidang ini, dari masing-masing pertemuan didapatkan masukan masukan yang positif dan konstruktif sebagai bahan penyusunan Reperda, yaitu Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Kota Surabaya.

 

 

"Kalau Perda Cagar Budaya yang baru sebagai pengganti Perda 5/2005 sudah selesai, tinggal akan menjadi perda nomor berapa, kita belum tau. Nah, masukan masukan dari jejaring ini akan menjadi bahan dalam penyusunan Raperda Pemajuan Kebudayaan", papar Thony.

 

 

Dalam sesi sidang pada sore hari bersama komunitas pegiat sejarah dan budaya didapatkan pendapat umum yang berharap akan ketersediaan Sarana Kebudayaan untuk mendukung proses dan upaya pemajuan Kebudayaan. Ada 10 obyek pemajuan Kebudayaan sebagaimana diamanahkan dalam Undang Undang 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

 

 

Ke seputuh obyek pemajuan Kebudayaan ini adalah tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.

 

 

"Dibukanya kembali THR menjadi harapan sebagai Centre of Art yang nantinya bisa menjadi etalase atraksi seni budaya kota Surabaya. Inilah sarana kebudayaan. Sementara sebagai pendukung Centre of Art ini adalah ketersediaan pusat seni lokal per wilayah. Ada wilayah Surabaya Timur, Barat, Utara, Selatan dan Tengah sebagai upaya persebaran wadah kesenian dan budaya", jelas Thony setelah mendapat masukan masukan dari sesi sidang bersama kalangan pegiat sejarah, seni dan budaya.

 

 

Sedangkan pada sesi bersama para guru didapat pandangan umum tentang pendidikan karakter. Selaras dengan upaya pemajuan Kebudayaan yang bersifat non bendawi, sebetulnya walikota Surabaya Eri Cahyadi sudah mengintruksikan program Sekolah'e Arek Surabaya (SAS) dengan alokasi waktu selama 2 jam setelah alokasi waktu belajar mengajar selesai pk 12.00.

 

 

"Jadi selama dua jam itu diharapkan ada upaya pembentukan karakter peserta didik sebagaimana terkoridor dalam 18 nilai pendidikan karakter", kata Suhadaq, pengamat pendidikan kota Surabaya.

 

 

Pendidikan karakter ini penting dan selaras dengan upaya pemajuan Kebudayaan. Menurut Thony Kebudayaan ini adalah ruh yang menjiwai dan menghidupi segala sendi sendi kehidupan.

 

 

"Dalam hidup, orang harus berbuat (obah) atau berjuang untuk mencapai tujuan hidup itu sendiri. Jadi berjuang tidak hanya terkonotasi dengan perjuangan para pahlawan pada era Revolusi 45, tapi perjuangan hidup, yang dimulai sejak dini hingga mati. Misalnya seorang ibu hamil berjuang menjaga kehamilannya. Anak sekolah berjuang agar lulus sekolah dengan nilai yang sangat memuaskan dan masih banyak lagi arti kejuangan dalam hidup", papar Thony.

 

 

Maka, yang namanya long life education (pendidikan seumur hidup) sangat penting. Dalam program Sekolah'e Arek Suroboyo (SAS) dengan menekankan pembentukan nilai karakter pada siswa akan berkontribusi terhadap upaya pemajuan Kebudayaan di kota Surabaya.

 

 

"Jadi SAS selaras dengan upaya pemajuan Kebudayaan", tandas Thony.

 

 

Dengan masukan masukan dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari warga umum, pegiat sejarah, seni dan budaya serta kalangan guru guru di Surabaya, Thony akan membawanya dalam penyusunan Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Kota Surabaya. (nng/pul).

 

Penulis : Nanang Purwono

Most Popular

Artikel lainnya

The Begandring Institute Lahir Mewarnai Peringatan Tahun Baru Imlek

Malika D. Ana

Jan 16, 2023

Pameran Foto Membuka Wadah Kreativitas dan Ekonomi Kreatif