abad.id- Setelah Amangkurat II mangkat pada tahun 1703, penerus tahta Kartasura adalah putra tunggalnya yang bergelar Amangkurat III. Nama asli adalah Raden Mas Sutikna, dan lebih akrab disapa Sunan Mas. Kakek buyutnya Sultan Agung dari Mataram. Sutikna juga dijuluki Pangeran Kencet, karena menderita cacat dibagikan tumit dan dikenal sangat temperamen.
Saat menjadi Adipati Anom, dia menikah dengan sepupunya sendiri Raden Ayu Lembah, putri Pangeran Puger. Pernikahan ini membawa malapetaka. Dalam Buku Sejarah Mataram tulisan Soedjipto Abimanyu, nasib Raden Ayu Lembah harus berakhir tragis. Kisah itu dimulai saat iring-iringan pengantin bangsawan di Kartasura, pada akhir abad ke-17. Di depan iringan itu, di atas kuda yang ranggi, tampak seorang pemuda bertubuh tegap dan rupawan bernama Raden Sukra, putra Adipati Sindureja. Tidak disangka, di tengah-tengah massa, rakyat terselip putra mahkota Pangeran Kencet.
Melihat ketampanan Raden Sukra, mendidih hatinya. Menjadi tampan, ternyata akan bernasib buruk di Kerajaan Kartasura. Setelah iring-iringan selesai, Raden Sukra dipanggil Sutikna. Hanya karena tampan, Sukra disiksa dihadapan Adipati Anom. Ia dipukuli prajurit dengan angat kejam. Bahkan matanya dimasuki semut hitam hingga berdarah.
Mendapat siksaan yang begitu keji, Raden Sukra jatuh pingsan. Tubuhnya lalu diusung oleh pasukan Adipati Anom dan dibuang begitu saja di tengah jalan. Hingga akhirnya ditemukan serta dibawa pulang oleh abdi Sindu Reja. Melihat putranya dianiaya, darah Raden Adipati Sindu Reja langsung mendidih. Dia ingin menuntut balas, namun tidak berdaya saat menyadari bahwa dirinya hanya seorang abdi raja Kartasura.
Rupanya kemarahan Pangeran Kencet tidak berhenti di situ. Dia menuduh Istrinya Raden Ayu Lembah melakukan perselingkuhan dengan pria tampan Raden Sukra. Dengan penuh kemarahan, Pangeran Kencet meminta pangeran Puger menghukum mati putrinya sendiri Raden Ayu Lembah.
Selain itu, utusan Amangkurat III juga mendatangi rumah Raden Sukra. Dihadapan patih Kartasura, Patih Sindureja, utusan raja membunuh pria yang dituduh selingkuhan istrinya. Belum puas, utusan Pangeran Kencet juga membunuh Patih Sindureja beserta seluruh keluarganya.
Melihat situasi yang sangat menyakitkan dan penuh desakan, Pangeran Puger terpaksa menghukum mati anaknya sendiri Raden Ayu Lembah. Kemudian, sebagai gantinya, Amangkurat III menikahi putri Pangeran Puger lainnya, Ayu Himpun.
Paca peristiwa tragis itu, semakin banyak orang yang tidak suka dengan tabiat Amangkurat IIl. Orang-orang yang tidak suka kemudian memberikan dukungan kepada Pangeran Puger untuk merebut tahta yang seharusnya menjadi haknya. Setelah mendengar Pangeran Puger akan memberontak dan merebut tahtanya, Amangkurat III kemudian menceraikan Ayu Himpun dan mengangkat permaisuri baru dari Desa Onje.
Amangkurat III terus melakukan tekanan dan intimidasi terhadap Pangeran Puger. Bahkan, ia sempat menahan Pangeran Puger yang masih pamannya itu beserta keluarga selama beberapa waktu.
Namun kekuasaan yang multi diktator itu hanya bertahan dua tahun. Sebenarnya, tahta Mataram ini yang sah milik Pangeran Puger, adik dari Amangkurat II ayah kandung Amangkurat II. Namun saat menjelang kematiannya, rupanya Amangkurat II rupanya ingkar. Dia justru mewariskannya kepada Pangeran Kencet dengan gelar Amangkurat III. Maka sejak saat itu, hubungan antara paman dengan keponakan tidak pernah harmonis.
Melihat situasi panas di dalam keraton Mataram, Pangeran Puger dan keluarganya memilih pindah ke Semarang pada tahun 1704. Di Semarang, Pangeran Puger mendapat dukungan VOC mengangkat diri sebagai raja Mataram bergelar Pakubuwono I. Tentu saja, dukungan VOC bukan gratis, melainkan harus ditebus dengan syarat-syarat yang menguntungkan VOC.
Setahun kemudian, terjadi perang Suksesi I pada tahun 1705. Perang tersebut menyebabkan Amangkurat Ill ditangkap dan dibuang ke Sri Lanka. Tidak lama kemudian Pakubuwono I menggantikannya menjadi sultan Kartasura.
Dengan wajah penuh kekalahan dan penyesalan, Amangkurat III dibawa ke Batavia. Raja Mataram ini dibuang ke Sri Lanka wilayah lain yang menjadi koloni Belanda. Tanggal lahir Amangkurat Ill tidak diketahui secara pasti, namun kematiannya ditetapkan di Sri Lanka pada tahun 1734. Amangkurat Ill meninggal dunia dalam masa pembuangan. (pul)