images/images-1680213359.jpg
Liputan

Reaksi Cepat Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI Jatim atas Kerusakan Sumur Jobong

Malika D. Ana

Mar 31, 2023

299 views

24 Comments

Save

Reaksi Cepat Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI Jatim atas Kerusakan Sumur Jobong

 

 

Abad.id - Tim Pelestarian dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur mendatangi situs arkeologi Sumur Jobong di Pandean IV Surabaya Jumat pagi (24/3/2023). Kedatangan tim, yang terdiri Agus Kiswantoro dan Abdul Bagus Handoko, terkait dengan laporan yang dilayangkan oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya (16/3/2023), yang meneruskan laporan dari Komunitas Begandring Soerabaia (15/3/2023).

 

Mengiringi surat dari Disbudporapar Kota Surabaya, Begandring Soerabaia juga berkirim surat laporan kepada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI, Endah Budi Heryani. Kurang dari hitungan seminggu, datanglah tim Pelestarian BPK XI ke lokasi Sumur Jobong di lingkungan Peneleh.

 

Dalam laporan, yang dibuat Begandring Soerabaia, disebutkan bahwa pada bagian bibir Sumur Jobong yang terbuat dari tanah liat (terakota) mengalami cuwil pada bagian bibir sumur.

 

Agus Santoso (kiri) dan Agus Kiswantoro (kanan) bersama tim Begandring Soerabaia

 

Ketika dilakukan pemeriksaan dan pemotretan pada obyek bendanya sering sebelum dilakukan tindakan perbaikan, diketahui bahwa panjang cuwilan sekitar 20 cm dengan lebar sekitar 12 cm. Selain itu juga terdapat retakan pada bagian dinding sumur lainnya.

 

Menurut Agus Santoso, warga Pandean IV, yang selama ini secara suka rela merawat dan menjaga sumur, retakan retakan pada dinding sumur sudah ada dan terjadi ketika penemuan sumur pada akhir Oktober 2018. Seiring dengan perjalanan waktu, keretakan pada bagian bibir lepas (cuwil).

 

Sementara itu menurut Agus Kiswantoro, petugas Pelestarian, sumur Jobong Pandean adalah sumur sejenis dan sejaman dengan sumur sumur Jobong yang tersebar di kawasan Trowulan, kabupaten Mojokerto. Sumur sumur itu, termasuk Jobong di Pandean, adalah dari era Majapahit.

 

Setelah diukur, siketahui bahwa diameter sumur Jobong Pandean berukuran 80 sentimeter dengan ketinggian 45 cm pada setiap Jobong nya. Ada dua tumpuk Jobong pada lobang sumur di Pandean IV.

 

Jobong adalah struktur dinding sumur yang berbentuk silinder dan terbuat dari terakota. Yang terlihat dengan jelas pada sumur Jobong di Pandean ada dua tumpuk Jobong.

 

Pada kedalaman sekitar 90 cm, sumber sumber air terlihat pada dasar sumur mengeluarkan air yang cukup deras.

 

"Wah, kalau tidak disedot, sumur ini akan cepat penuh dengan air"  jelas Agus yang sudah memasang pompa untuk menyedot air sebelum kedatangan tim Pelestarian dari BPK Trowulan.

 

Pemeriksaan dan pemotretan sebelum tindakan

 

Sementara itu tim pelestarian dari BPK XI, yang dipimpin oleh Agus Kiswantoro, segera membersihkan tepian fragmen yang cuwil dengan alkohol. Selanjutnya direkatkan dengan lem khusus sehingga cuwilan bibir Jobong bisa tersambung kembali. Selanjutnya, dengan tumbukan batu bata halus yang dicampur lem, ditambalkan pada permukaan retakan retakan pada dinding Jobong.

 

Menyambung cueklan

 

Perbaikan sumur Jobong sempat diiringi oleh rintikan, namun tidak menghentikan pekerjaan tim Pelestarian.

 

Perbaikan sumur Jobong ini juga disaksikan  oleh petugas dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Wiji Totok. Sementara itu dari Komunitas Begandring Soerabaia, turut mendampingi tim BPK XI adalah Agus Santoso (jupel Sumur Jobong), Tri Prio Wijoyo (pegiat sejarah klasik), Dian dan Noor Suyatin (guru) serta Nanang Purwono (Ketua Begandring Soerabaia).

 

Pada kesempatan itu, Nanang Purwono memberi masukan kepada Wiji Totok (Disbudporapar Kota Surabaya) agar membuatkan pagar pelindung pada tepian sumur untuk menghindari sentuhan langsung yang tidak disengaja oleh pengunjung yang turun masuk ke dalam ruang bawah tanah sumur Jobong.

 

"Mengingat Sumur Jobong ini sudah menjadi jujugan tamu dan sudah menjadi tradisi bahwa tamu masuk ke dalam ruang bawah tanah untuk mengambil air sumur untuk sekedar digunakan cuci muka, maka di tepian lingkar Jobong perlu ada pagar pengaman", jelas Nanang yang sering memandu wisatawan nusantara dan manca negara ke sumur Jobong Pandean.

 

Sumur Jobong Pandean adalah satu satunya benda arkeologi yang ditemukan secara insitu di kota Surabaya.

 

"Kalau toh ada benda benda arkeologi seperti arca Joko Dolog dan fragmentasi arkeogi lainnya di Taman Apsari, itu semua adalah bawaan dari luar Surabaya. Misalnya Arca Joko Dolog dibawa dari desa Bejijong, Trowulan", tambah TP Wijoyo.

 

Karena Sumur Jobong Pandean adalah satu satunya benda arkeologi di Surabaya dengan sumber sumber pendukung tentang kearkeologian yang berupa prasasti dan literasi sejarah, maka diduga kuat kawasan Pandean Peneleh adalah kawasan permukiman kuno di Surabaya.

 

"Kami menduga, berdasarkan sumber sumber sejarah mulai dari buku literasi, prasasti dan arkeologi, Pandean Peneleh yang berada di tepian sungai Kalimas adalah awal mula Surabaya", pungkas Nanang, yang mengikuti perkembangan mulai dari penemuan sumur Jobong (2018) hingga upaya Pelestarian dan pemanfaatan nya sekarang dan mendatang. (Tim)

 

 

 

 

 

Artikel lainnya

Penyelamatan dan Pemanfaatan Bangunan Langka di Kota Tua Surabaya