images/images-1677326354.png
Budaya

Sejarah Barang Tiruan Justru Paling Laris

Pulung Ciptoaji

Feb 26, 2023

492 views

24 Comments

Save

abad.id- Di dunia ini proselin China dianggap paling orisinil dan asli. Meskipun telah beredar pula porselin asal Jepang, eropa Korea dan Vietnam. Memang, pada masa abad 17 sampai 18 keramik china yang menjadi buruan pengguna perkakas. Setelah itu nusantara mulai diserbu keramik asal Jepang koea dan Vietnam Utara yang dianggap "meniru" porselin dari China. Meskipun hanya produk tiruan tetap menjadi barang berharga yang kaya nilai dan budaya

 

Masyarakat tradisional Jepang misalnya, juga dikenal sebagai pembuat barang pecah-belah. Negara tetangga dekatnya China ini sebenarnya telah memproduksi porselin sejak abad 8, meskipun baru bisa menyerbu wilayah nusantara mulai abad ke-17. Sebelum masa periode itu, untuk memenuhi kebutuhan barang-barang porselin golongan bangsawan bangsa-bangsa di nusantara harus mendatangkan dari negeri China. Sedangkan pabrik-pabrik keramik ada di nusantara umumnya hanya memproduksi gerabah atau porselin dengan bahan tanah liat mutu rendah.

 

Cerita Jepang sebagai produser keramik dimulai akhir abad 16 di bawah pimpinan Jendral Hindeyoshi. Saat itu negara Jepang menyerbu Korea. Tentara Jepang tidak hanya menguasai pemerintahan, juga menahan para pekerja keramik sebagai tahanan perang. Sebagian dari mereka diboyong ke Jepang  dan dipaksa membangun peradaban keramik. Dengan kemampuan dan "kepandaiannya" munculah beberapa produk keramik yang menjadi cikal bakal industri perkakas di Jepang.

 

Pada masa ini mulai muncul dragon kiln atau tungku-tungku pembakaran pembuatan keramik di Jepang. secara kebetulan beberapa wilayah Kyushu ditemukannya banyak bahan porselin sehingga muncul juga pabrik keramik di daerah Arita dan Hiaen. Ditambah pengetahuan yang didapat dari "guru-guru" bangsa Korea, telah mempercepat kemajuan seni porselin Jepang. seketika tungku-tungku pembakaran yang biasa digunakan untuk membuat keramik bermutu rendah, dijadikan tempat untuk membuat barang-barang khusus porselin. Perbaruan teknologi ini seperti pabrik-pabrik keramik di daerah Karatsu yang sebelumnya sudah ada sejak abad 15. Kepandaian "meniru" bangsa Jepang telah membikin porselin Karatsu sejajar dengan porselin impor dari China. Karena saat itu porselin biru putih China sangat populer di Jepang, tak pelak lagi pabrik-pabrik di Karatsu membuat tiruan porselin biru putih khas China.

 

Menurut sumber "The History of Porcelain",  dua daerah Arita dan Tengudani diduga pertama-tama membuat barang-barang porselin. Dragon kiln atau tungku pembakaran keramik di Arita dan Tengudani, memproduksi porselin "bergaya" Korea dan China. Ini memang tidak mengherankan. Seni membuat barang porselin di Jepang, baru muncul setelah peradaban bangsa China dan Korea. Porselin pertama gaya Jepang, dikenal dengan nama Shoki  dan Imari. Namun Shoki kurang dikenal di luar negeri, karena khusus dibuat untuk pemakaian di Jepang saja. Tapi produksi selanjutnya setelah lmari diproduksidan mulai diminati.

 

Tempat pembakaran porselin yang juga terkenal di Kutani. Piring-piring Imari berciri sangat cekung, hiasannya biru tua hampir mendekati warna jingga di bawah glasir. Ada juga ada hiasan hijau, jingga dengan dasar hitam, kuning. Porselin Jepang disebut juga "Sino Japaniko" karena hiasannya, motifnya sama dengan porselin China. Nama Kakiemon diambil dari nama suatu keluarga yang mula-mula mengkhususkan diri sebagai ahli glasir sebelum terjun dalam pembuatan porselin.

 

Kutani awal dibuat pada tahun 1670 di pulau Honshu. Porselin Kutani banyak diekspor ke Asia Tenggara. Porselin Nabeshima jarang terdengar di luar negeri. Nabeshima diambil dari nama seorang bangsawan yang mula-mula membuat porselin untuk kepentingan sendiri sebagai hadiah. Karena disukai, lalu diproduksi untuk pasaran khusus dalam negeri. Di antara porselin Jepang, mungkin porselin Arita dan Imari polikrom banyak digemari, karena warna-warnanya yang cemerlang.

 

Namun antara tahun 1620-1639, dinasti Tokugawa menjalankan politik isolasi negara Jepang. Semua orang asing diusir. Hanya pedagang VOC Belanda dan China yang diperbolehkan melakukan perdagangan dengan Jepang. Dua negara ini selalu menjadi perantara dengan pedagang bangsa-bangsa lain yang hendak berhubungan dagang dengan Jepang. Dagangan Jepang yang dikirim ke luar saat itu hanya tembaga.

 

 

Baru tahun 1640 Jepang mulai mengekspor porselin dalam jumlah terbatas ke nusantara. Baru setelah runtuhnya dinasti Ming di China, Jepang mulai memasuki "bisnis" porselin dengan mencari celah pasar yang sebelumnya dikuasahi china. Pada tahun 1658 pedagang VOC Belanda memberi order Jepang untuk membuat "tiruan" porselin Ming berjumlah 5.257 potong. Tahun berikutnya VOC juga memborong 1659 potong. Hanya dalam tempo satu tahun, pesanan Jepang telah meningkat menjadi 64.858 potong. Jepang berhasil memanfaatkan situasi dalam Negeri China yaitu runtuhnya dinasti Ming, dan mengambil alih pasar ekspor yang banyak memberi keuntungan dan dicari-cari pedagang Eropa itu. Ramainya perdagangan porselin Jepang telah mengubah pola kerja tungku-tungku pembakaran di Arita. Sebanyak dua belas atau tiga belas tungku di Arita, mengkhususkan diri membuat "porselin Ming" made in Jepang yang dijual di luar negeri sebagai modus menggantikan poselin China.

 

Hingga akhirnya volume ekspor porselin Jepang ke Eropa semakin bertambah sampai abad 17 dan 18. Baru pada abad 19, jumlah ekspor porselin Jepang mulai menurun, terutama motif biru putih dari Jaman Wanli (1572-1620) tiruan China. Porselin Jepang yang ditemukan di indonesia bentuk dan hiasannya hampir sama dengan porselin Swatow sebuah nama kota pelabuhan di China.

 

 

Cerita Porselin Korea dan Annam

 

Dalambentuknya yang sederhana, seni keramik Korea telah dimulai sejak dinasti Silla (57 sebelum Masehi). Pada abad ke 6, keramik Korea masih memakai bahan tanah liat berwarna abu-abu, dengan hiasan glasir dari campuran abu kayu bakar. Bentuk dan gayanya meniru keramik China jaman dinasti Han. Pada jaman Koryo (918-1392 M), para penganjun Korea mencoba membebaskan diri dari unsur-unsur China. Sampai tahun 1100 pengaruh China masih tampak kuat pada keramik dari porselin buatan Korea. Baru menjelang abad 12 porselin "gaya Korea" mulai muncul.

 

Porselin Korea umumnya berglasir pucat, hijau keputih-putihan. Tapi ada pula yang diberi glasir biru tua. Pada jaman Koryo, pabrik-pabrik porselin Korea juga membuat porselin seladon, khusus untuk keperluan keluarga kerajaan dan kaum bangsawan. Porselin zaman Yi tahun 1392 - 1910 paling digemari orang-orang asing dan banyak digunakan kalangan terhormat. Karena mutunya dinilai sangat tinggi. Penyebab kuwalitas baik sejak ditemukan bahan tanah liat putih (kaolin) di daerah sekitar Seoul. Sejak saat keramik Korea diakui dan dianggap "sederajat" dengan keramik China. Keramik bermutu tinggi tersebut dibuat di daerah Kwangyu. Bahan porselin Korea ditemukan di daerah Hadong. Porselin Korea konon lebih indah dibandingkan porselin China.

 

Tungku pembakaran di Kwangyu yang membuat keramik dari bahan kaolin, pada tahun 1466 berada di bawah pengawasan keluarga kerajaan. Pabrik porselin di Kwangyu memproduksi porselin untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga kerajaan, dan keperluan upacara agama. Para pemilik tungku bekerja atas dasar kontrak. Para penganjun Korea juga membuat porselin biru putih. Bahan pewarna biru, diperoleh dari dalam negeri sendiri. Produksi porselin biru putih sangat terbatas hanya diperuntukkan buat golongan ksatria. Periode invasi Jepang ke Korea pada tahun 1592 telah mempengarui jumlah produksi porselin. Sebab banyak pekerja pabrik porselin menjadi tawanan perang dan dikirim ke Jepang.

 

Porselin Korea abad 17 merupakan gabungan seni porselin China abad 15 dan seni porselin asli Korea. Ketika bahan pewarna biru kobalt dari negeri China (diimpor dari Persia) didatangkan ke Korea pada abad ke-18, maka seni porselin Korea sudah bisa disejajarkan dengan seni porselin China. Namun runtuhnya dinasti kerajaan Korea membuat bangkrut pabrik-pabrik porselin milik raja.

 

Sementara itu penemuan porselin Annam di Philipina dan beberapa negara Asia lainnya pada tahun 1960-an, awalnya dikirakan berasal dari porselin China. Setelah dilakukan penyelidikan yang lebih serius terhadap porselin Annam, dan dibuktikan denan ditemukan bekas-bekas tempat pembakaran porselin di sekitar Hanoi telah membuktikan bahwa kawasan itu juga memproduksi porselin. Bukti yang kuat terdapat 3 tungku pembakaran di Annam. Hanya saja ada dugaan Annam pernah menjadi produsen porselin China "tiruan' yang dipasarkan ke nusantara dan eropa. Annam telah memproduksi porselin sejak abad 15, dengan mendatangkan bahan-bahan pewarna dari China, antara lain bahan kobalt.

 

Di sekitar Hanoi pada abad 15 ditemukan bahan feldspar dan kaolin dalam jumlah yang melimpah. Di Porselin Hanoi awalnya hanya diproduksi untuk keperluan dalam negeri, dan tidak banyak untuk ekspor dengan motif biru putih. Porselin hasil pembakaran di daerah Thoha dan Bat Trang ini sering membuat orang terkecoh, karena produksi "tiruan" biru putih nyaris sama dengan porselin China. Porselin Annam buatan abad 16 dan 17 umumnya bermutu tinggi dan sanbgat dipengaruhi China awal Zaman dinasti Ming. Penganjun Annam juga menyukai hiasan yang khas. Misalnya burung cangak yang sedang terbang, rumpun-rumpun bambu, bunga teratai di atas telaga, katak yang sedang mengintip di sela-sela rumpun bambu di tepian sungai. Contoh karya seniman penganjun dari Annam banyak disimpan di Museum terkenal di dunia. Antara lain Museum di Hanoi, Museum Topkapi di Istambul, dan Museum Nasional Jakarta.

 

Satu Tahun Berlayar Untuk Ekspor Porselin

 

Porselin China, Jepang, Korea dan Annam yang banyak diekspor ke luar negeri, umumnya motif biru putih. Sebab harganya dianggap cukup murah, juga dari segi estetika memang sangat indah. Dari catatan seorang pedagang lnggris, konon harga porselin di negeri asal antara 5 shilling sampai 2 pence perbuah. Porselin jenis polikrom ini sangat terkenal di Eropa sejak abad 18 dan harganya menjadi sangat mahal.

 

Pada abad 17 para pedagang VOC Belanda menguasai perdagangan keramik di Eropa. Seratus tahun kemudian peranan pedagang VOC Belanda digantikan oleh pedagang Inggris. Catatan pada tahun 1777-1778 menuliskan, impor lnggris dari pelabuhan Canton ke Eropa sebanyak 348 ton yang diangkut dengan 8 kapal. Sementara VOC Belanda dalam tahun yang sama cuma mengimpor dari Canton sebanyak 111 ton yang diangkut dengan 4 buah kapal.

 

 

 

Di antara porselin import itu termasuk porselin pesanan dengan desain menurut selera Eropa. Para pedagang itu mengirim contoh desainnya dengan model-model dari kayu, logam dan gelas. Bentuk cangkir teh yang kecil-kecil, konon merupakan refleksi bahwa harga daun teh di Eropa sangat mahal. Pada zaman itu orang Eropa umumnya minum coklat atau kopi yang lebih murah.

 

Dari seluruh produksi porselin di Jepang,sebanyak 45% dieksport. Porselin Imari yang kaya dengan warna-warni banyak disukai konsumen Inggris. Karena keramik Jepang dimonopoli VOC Belanda, maka pada tahun 1713 pedagang Inggris memberikan pesanan China untuk membuat 15.000 stel cangkir dan lapik lalas cangkir bergaya motif Jepang. Namun demikian porselin China umumnya diakui lebih baik mutunya dibandingkan dengan porselin dari negeri lainnya.

 

Sejak tahun 1720 porselin China yang diekspor ke Eropa semakin bertambah. Seorang pedagang Inggris yang pergi ke China tahun 1732 menggambarkan pusat pembakaran porselin di daerah Ching-te Chen terdapat lebih dari 500 tungku. Waktu malam kota tersebut seperti sedang terbakar karena tungku-tungku pembakaran porselin bekerja siang malam. “Pada siang hari saya melihat ratusan orang bekerja di serambi yang sangat luas. Mereka itu ada yang sudah sangat lanjut usianya, tapi ada pula anak-anak kecil yang baru berusia enam-tujuh tahunan. Dengan keahlian seorang artis, mereka membuat lukisan-lukisan pada porselin."

 

Namun keuntungan para pedagang Eropa tidaklah diperoleh dengan cara mudah. Perjalanan sebuah kapal layar dari China ke Eropa memakan waktu satu tahun. Bila cuaca buruk, baru dapat berlayar tahun berikutnya. Sebagai gambaran, kapal layar milik kongsi Harrison Company berangkat ke Canton dari Inggris pada bulan Oktober 1727. Sampai di Canton bulan Agustus 1728. Harrison baru tiba kembali di lnggris pada bulan Juli 1729. Perjalanan berikutnya "lebih lancar". Dia berlayar kembali ke Canton pada 27 Juli 1731, dan tiba kembali di London bulan Juli 1732.

 

Dalam pelayaran yang tergantung angin ini, tidak jarang terjadi kecelakaan kapal-kapal layar besar akibat amukan angin topan. Maka banyak jalur pelayaran seringnya ditemukan keramik kuno oleh para nelayan. Terutama di sekitar kawasan lautan China selatan. Ditempat itu, banya kapal layar pengangkut porselin yang diamuk badai selagi berlayar menuju negeri tujuan. (pul)

 

Artikel lainnya

Perubahan Diksi dan Proses Pembodohan

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Sikap Kritis PDIP Terhadap Danantara

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Pertamina sebagai "Mesin Uang" Politik

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Dari Hero ke Blunder

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Ironi Wacana Perpu Perampasan Aset

Malika D. Ana

Mar 27, 2025

Blunder Yang Dilakukan Prabowo

Malika D. Ana

Mar 23, 2025