images/images-1681367220.jpg
Tokoh

Jojon dan Cerita Kumis Minimalis

Pulung Ciptoaji

Apr 13, 2023

1457 views

24 Comments

Save

Penampilan Jojon dengan kumis minimalis. Foto dok net

 

abad.id- Jika pelihat foto Alrmahum pelawak Jojon, kumisnya masih segitu-gitu aja berbentuk kotak, menempel di bawah lubang hidung. Model celananya juga tidak berubah dari 20-an tahun lalu. Bagian pinggang ditarik sampai ke atas perut dan ujung bawah cuma sampai di bawah lutut. Yang membuat penampilannya berbeda adalah kacamata besar yang sekarang selalu ia kenakan untuk sebuah acara komedi di televisi.

 

Dalam perannya Jojon selalu memerankan tokoh yang sedikit bodoh. Padahal sebenarnya Jojon dikenal sosok religius. Hal tersebut diungkapkan sahabat dekat Jojon yang juga merupakan personel grup lawak Jayakarta. "Khusus Jojon, dia itu lulusan Ponpes Wanaraja. Dialah yang menjadi guru ngaji saya pada awal-awalnya," kata Cahyono.

 

Pelawak legendaris ini mempunyai nama asli Djuhri Masdjan lahir 5 Juni 1947 di Karawang. Sejak muda sudah terbiasa dengan menjadi pemain sandiwara keliling. Karirnya melejit tatkala bergabung bersama grup lawak bernama "Jayakarta Group" bersama U'uk, Esther, dan Cahyono pada era 70-an.

 

Jayakarta Group menjadi grup lawak paling fenomenal saat itu setelah tampil di berbagai acara TVRI salah satunya Aneka Ria Nusantara. Mereka juga kerap mendapat tawaran manggung dari berbagai daerah Indonesia. Penampilan Jojon sendiri yang selalu memakai kumis minimalis dan celana selutut tentunya menjadi daya tarik yang mengundang tawa.

 

Ketika disapa, Jojon selalu menarik ujung-ujung bibir, lalu mengajak tersenyum. Setiap ingat Jojon selalu ada panggilan khas dari Cahyono (salah satu pelawak senior sahabatnya), “Cahyonooo...”dengan meliuk-liukkan mirip anak kecil.

 

Di sebuah wawancara khusus di majalah Readers Diges Indonesia tahun 2019, Jojon salah satu pelawak nyentrik yang 'malas' disorot media ini mengaku, sebenarnya selalu serius. Setiap kali diajak ngobrol dengan tema diluar dunia haha hihi kaw kw kw ww, yang disampaikan justru filsafat hidup dan agama. “Saya ini orang-nya serius,” kata Jojon bapak enam anak yang sudah menekuni dunia lawak lebih 30 tahun.

 

Kumis minimalis sudah ada sejak jaman Hitler dan pelawak caplin. Konsep kumis minimalis Jojon dimulai ketika sedang merias diri di ruang ganti. Jojon berpikir, apa yang bisa membuat suatu yang serius menjadi lucu. Tiba-tiba iseng menggambar bentuk kumis kotak di bawah lubang hidung dengan pensil alis. Di depan cermin, Jojon tertawa sendiri. “Lucu juga kumis yang nggak jadi ini. Tapi pertanyaannya, berapa lama kumis itu akan mampu bertahan di wajah saya? Bisakah saya membawakan itu,” pikir Jojon

 

Setelah berdandan dengan kumis palsu model minimalis, ternyata disambut baik penonton. Bahkan kawan lain dalam group lawak Jayakarta menjadikan kumis minimalis menjadi bahan lawakan. Hingga akhirnya konsep kumis Jojon sudah melekat. “Jika saya tampil tanpa kumis, orang tidak akan mengenali saya,” kata Jojon.

 

hitler dan caplin dengan kumis minimalisnya

Hitler dan Charlie Chaplin dengan kumis minimalisnya. Foto dok net

 

Munculnya ide kumis ini jauh dari sosok lain yang menginspirasi misalnya Charlie Chaplin atau Hitler. Jojon yakin bahwa idenya orisinil,  tidak terbersit sosok Chaplin dan Hitler yang lebih dahulu memakai kumis minimalis. “Adolf Hitler dan Charlie Chaplin berkumis sama, tenar dengan cara yang berbeda,” kesan Jojon

 

Kumis Jojon sudah dianggap trade mark, selain  celana aneh sampai ke perut. Soal konsep celana berawal dari gagasan banyak komedian memakai celana panjang yang mengecil di ujung bawahnya, lalu menggelembung di pinggang. Sedangkan celana yang dipakai Jojon berupa modifikasi dari celana itu. Bagian bawah dipotong sampai bawah lutut, lalu pada bagian pinggang di naikkan sampai ke perut.

 

Jojon orangnya serius. Di tengah keluarga hanya sesekali melucu dan bercanda. Jojon mengaku sebenarnya tidak punya bakat melawak. Bahkan darah seni juga nggak ada. “Bapak saya dulu seorang masinis kereta api,” kata Jojon.

 

Lalu , bagaimana bisa terjun ke dunia lawak.  Saat itu tahun 1978 Jojon ikut kesenian Reog Jawa Barat yang main di Taman Ria Monas. Di situ, sudah ada Cahyono seorang pelawak tetap di kelompok kesenian itu. “Kami berkenalan, dan seminggu kemudian Mas Cahyono datang ke rumah saya mengajak gabung di Grup Jayakarta. Sejak itulah saya jadi pelawak,” cerita Jojon.

 

Membuat orang tertawa sebenarnya sangat susah. Harus ada trik khusus sedemikian rupa sehingga mengundang tawa. Mempertahankan eksistensi bagi pelawak yang sudah senior seperti Jojon sangat penting. Mengingat sudah banyak bintang-bintang baru yang masih muda.  Menurut Jojon, untuk mempertahankan eksistensi  dengan cara kerja tim. Dalam setiap permainan tidak boleh egois mau lucu sendiri, tapi harus memberi umpan juga ke lawan main. “Kita melucu untuk membuat orang tertawa, bukan untuk ditertawakan. Kalau untuk ditertawakan mah gampang. Kita terpeleset dan terjatuh orang akan tertawa, tapi mereka tertawa karena kekonyolan, bukan kelucuan kita,” kata Jojon.

 

Jojon juga punya cara menjadikan pertunjukan lawak menjadi lucu. Menurutnya tergantung kepada cerita, dan konsep bagaimana dan penontonnya siapa. Kalau itu sudah ditentukan, lalu segera dibuat garis besar ceritanya dan menjaga benang merahnya jangan sampai terputus. Selebihnya, improvisasi, baik sendiri maupun bareng-bareng. Dalam arti saling melempar umpan lawakan dengan lawan main.

 

Selain itu, hal-hal lain seperti sound system, lampu dan panggung juga berpengaruh. Apalagi bagi pelawak yang mengandalkan omongan, ekspresi dan gerak tubuh. Panggung yang pendek, misalnya, bisa menggagalkan pertunjukan lawak. Sebab, penonton yang di belakang tidak bisa melihat panggung, mereka lalu kecewa dan memilih untuk pulang saja.

 

Namun sosok Jojon yang selalu membuat senang orang di depan TV ini tinggal kenangan. Pelawak Jojon menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung pukul 06:04 WIB tanggal 6 Maret 2014 di RS Ramsey Premier Jatinegara, Jakarta. Jojon meninggal dunia dalam usia ke-66 tahun.  (pul)

 

Artikel lainnya

Sikap Kritis PDIP Terhadap Danantara

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Perubahan Diksi dan Proses Pembodohan

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Pertamina sebagai "Mesin Uang" Politik

Malika D. Ana

Mar 19, 2025

Dari Hero ke Blunder

Malika D. Ana

Mar 23, 2025

Ironi Wacana Perpu Perampasan Aset

Malika D. Ana

Mar 27, 2025

Blunder Yang Dilakukan Prabowo

Malika D. Ana

Mar 23, 2025