images/images-1691216504.jpg
Sejarah
Budaya

Candi Dibangun Oleh Orang India ?

Malika D. Ana

Aug 05, 2023

538 views

24 Comments

Save

Candi Dibangun Oleh Orang India ?

 

 

Abad.id - Pembangunan candi tidak sesederhana yang kita kira, misalnya tentang teknik pondasi, untuk membeuat pondasi candi yang beratnya berates-ratus ton kita butuh pengetahuan tentang daya dukung tanah, seperti membuat bangunan gedung tinggi hari ini, hanya saja candi adalah bangunan yang sangat berat, tidak efisien, sebagai contoh, batu di candi lesung batu yang sekarang beratnya kira-kira 2,7 ton per meter kubik.

 

Pembangun candi dengan tipe pondasi tapak mesti tahu tegangan geser dan tegangan tarik tanah, kalau tidak candinya berantakan, dan mesti tahu persis bagaimana menata batu candi, batu kunci, dan sikap strukturnya, supaya candi bisa berdiri tegak lurus dan tidak geser kiri kanan, jika salah hitung candinya mletat-mletot.

 

Pengetahuan teknik pondasi tapak dan struktur batu ini berasal dari India, sementara teknik pondasi kita lebih kepada pondasi umpak, cakar ayam, atau pondasi non batu tapak, rumah panggung yang ringan, bukan candi yang beratnya ratusan ton.

 

Candi adalah bukan bangunan Austronesia, tetapi bangunan adaptasi dari budaya India, dan buku tentang tata cara membuat candi disebut Manasara Silpasastra (salah satunya).

 

Buku manual cara membuat candi ini disebut MANASARA SILPASASTRA. Dalam kitab Manasara-Silpasastra pada awal pembuatan candi terdapat seseorang yang mempunyai ide. Orang itulah yang dianggab sebagai penggagas pertama yang bertujuan untuk mendirikan suatu bangunan candi, tokoh pencetus ide itulah yang dapat dinamakan sebagai Yajamana. Dia kemudian menghubungi pendeta yang tinggi ilmu agamanya dan telah menjadi seorang Acaryya. Pendeta tersebut yang bertindak sebagai Sthapaka. Dia kemudian menghubungi Pandeta-Pendeta seniman lain (Silpin) seperti Sthapati, Sutagrahin, Taksaka, dan Wardakin, maka mulailah mereka merancang dan melaksanakan pembangunan candi.

 

Pembangunan sebuah candi juga pasti diprakarsai oleh raja atau seorang penguasa yang disebut yajamana tadi bilamana suatu bangunan candi merupakan candi kerajaan yang akan dipuja seluruh penduduk negeri.

 

Sebagai langkah pertama sebelum candi dibangun, raja menggelar sidang pleno. Selain para pejabat kerajaan, sidang dihadiri para pejabat daerah yang juga membawa serta para seniman pahat, ahli sastra, ahli bangunan dan lain-lain. Setelah mengutarakan maksud dan tujuan membangun candi, raja menunjuk seorang brahmana kepercayaannya, yang nanti bertindak sebagai stapaka, kira-kira sama artinya dengan arsitek perencana. Di pundak arsitek pendeta yang memang mahir dalam kitab-kitab serta seni bangunan suci inilah seluruh proses pembangunan candi dibebankan.

 

Restrukturisasi candi Prambanan

 

Membangun candi tentu bukan tugas ringan. Karena itu dalam operasionalnya stapaka selaku otak perencana utama dibantu oleh 4 orang dengan keahlian yang berbeda. Sthapati berfungsi sebagai arsitek pelaksana pembanguan candi, sutragrahin adalah pemimpin umum teknis di lapangan, taksakha merupakan ahli pahat-memahat arca, dan vardhakin ialah seniman ukir yang bertugas membuat ukiran ornamen dan relief cerita pada dinding-dinding candi. Para arsitek dan seniman itu bekerja dengan berpegang pada pedoman seperti yang tertuang dalam kitab Vastusastra, Silpasastra, dan Silpaprakasa.

 

Setelah seksi-seksi kerja terbentuk dan para hadirin paham akan maksud raja membangun candi, pimpinan sidang diambil alih oleh stapaka. Yang pertama kali dibahas dalam sidang ini adalah soal bhumisamgraha, yaitu pemilihan lokasi tempat candi akan didirikan. Lokasi ini dianggap sangat vital karena harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya harus dekat dengan sungai. Pujangga menulis kitab Silpaprakasa memperingatkan, "Jangan mendirikan candi di lahan tanpa sungai karena air memiliki sifat mensucikan sekaligus menyuburkan." Sejauh mana fatwa pujangga itu dipraktekkan oleh para pelaku pembangunan candi di masa lalu.

  

Jadi menurut saya, arsitek dan insiyur candi-candi itu adalah orang India yang menguasai teknik pembuatan candi dengan sistem fondasi tapak, dan relief-relief candi dan berbagai batunya di pahat oleh material logam yang tidak dibuat dengan resep disini, atau resep logamnya import.

 

Jadi gitu dulu deh, sebelum kita mengklaim bahwa kita atau Austronesia bisa membuat candi; Ada perbedaan yang sangat mendasar antara arsitektur Austroeneis adan Austorasiatic, dan tinggal kita ngaca saja, kalau hidung nya mancung melengkung berarti keturunan India, kalau hidungnya Austroenesia pesek berdaging.(mda)

 

Artikel lainnya

Ilmu Bung Karno dan Pak Harto yang Diperebutkan

Author1 Abad1

Dec 20, 2022

Badan Pengelola Cagar Budaya Masuk Perda Cagar Budaya Kota Surabaya

Author1 Abad1

Nov 28, 2022

Max Meijer: Sisa Tembok Kota Surabaya Bisa Menjadi Penunjang Wisata