images/images-1691421102.jpeg
Budaya
Indonesiana

Warisan Ludruk Tanpa Kesudahan

Pulung Ciptoaji

Aug 07, 2023

815 views

24 Comments

Save

Pementasan Ludruk Luntas di Rumah Budaya Rakyat di Jalan Karangmenjangan 21. Foto Pulung

 

ludruk luntas

 

abad.id-Setelah era Srimulat dan ludruk suram, gedung Taman Hiburan Rakyat Surabaya terbengkalai dan tidak terurus. Padahal beberapa seniman masih bersemangan menghiburan rakyat dengan cara bergerilya dari satu gedung ke panggung. Terkadang seniman ludruk harus pentas dari lapangan desa ke tanggapan lainnya.

 

Saat itu masih beruntung Komunitas Ludruk Luntas lebih dari 6 bulan ini bisa menempati ruang panggung di Rumah Budaya Rakyat di Jalan Karangmenjangan 21. Letaknya di Surabaya bagian timur dekat RSU Dr Sutomo Surabaya.

 

Komunitas Ludruk Luntas ini kebetulan belum pernah merasakan manisnya gedung THR Surabaya. Memang, Komunitas Ludruk Luntas beranggotakan seniman muda yang terus berkarya dan semakin berkembang media hibuan. Ternyata idealisme terhadap kesenian tradisional belum hilang. Hingga kini, pegiat dan seniman tradisonal masih setia mengembangkan daya kreativitas yang justru berlawaman dengan media televisi. Mereka memililn panggung tradisional sehagai pementasan utama. Mereka tidak mencoba memasuki televisi, atau memang televisi tidak menginginkan mereka.

 

ludruk luntas

Di Rumah Budaya Rakyat di Jalan Karangmenjangan 21 Surabaya ini, Seniman ludruk berbaur dengan UMKM kuliner. Foto istimewa

 

Mereka-mereka pegiat ludruk tradisional tetapi menjalani hidup sebugai seniman keliling yang mengacu pola masa lampau. Mereka seperti kaum gipsy yang berpindah demi sebuah pementasan. Dan, di dunia pementasan itu, mereka disebut seniman-semiman tobong karena hidup berada di sekitar punggung pementasan.

 

Rumah Budaya Rakyat di Jalan Karangmenjangan 21 Surabaya ini, Seniman ludruk berbaur dengan UMKM kuliner. Kehidupan mereka saling mengisi antara pentas ludruk dengan hasil berjualan makanan. Unik, Gaya hidup nomaden inilah rupanya masih dilakukan seniman zaman sekarang. Pilihannya faktor kenyamanan meskipun hanya mengandalkan hasil pementasan tobong sumbangan seiklasanya dari penonton. Pentas hanya saat Sabtu malam, dengan jumlah penonton tidak bisa dipertahankan.

 

Apa yang mereka bangun dari awal, yaitu kesenian tobong telah menjadi jalan hidup untuk meraih kesejatian bagi mereka. Lamban laut, pola kesenian seniman tobong makin menghilang. Penerus dinasti ludruk tradisional makin berkurang seiring dengan perubahan zaman yang makin materialis dan instan.

 

Untuk pentas di panggung ini menggunakan properti yang sederhana. Sebab panggung sangat kecil sehingga akan menyulitkan jika menggunakan banyak barang ke atas pentas. Skenario pangung kecil juga harus menyesuaikan jumlah pemain dan lakonnya.

 

robet bayonet

Teknologi membantu pementasan ludruk menjadi sederhana. Foto Pulung

 

Beruntung teknologi sangat membantu pementasan panggung ludruk. Untuk audio cukup menggunakan rekaman mines one tanpa perlu gamelan. Sebuah mixer disiapkan di samping panggung, dioperasikan sesuai kebutuhan instrumen. Tidak ada hal rumit untuk pengeras suara, karena sudah mengunakan mix wireless tanpa kabel. Namun pemain tetap harus berhati-hati mengucapkan kelimat agar mudah didengar para penonton.

 

Menurut Cak Robet Bayonet dalam pembukaannya,  media pangung Ludruk harus melakukan tranformasi. Ludruk juga harus mengikuti perubahan. Sebab kalau tidak berubah akan terganggu hingga punah. Jaman sekarang pementasan ludruk lebih mudah karena banyak terbantu dengan perubahan dan inovasi.

 

Komunitas ludruk juga harus menyesuaikan dengan mengurangi mobilitas pindah tempat dengan memilih menetap. Ada banyak strategi mengundang penonton, dengan menambah jaringan serta promo lewat flayer.  Pertunjukan juga bisa disiarkan secara langsung di media sosial. Pertunjukan ludruk luntas gratis, hanya mengandalkan sumbangan donatur yang peduli, serta bagi hasil penjualan kuliner. “Prinsip kami menghidupkan ludruk, tidak mencari hidup dari ludruk,” kata Cak Robert

 

Malam itu, ludruk luntas mementaskan cerita dengan judul Warisan Pak Dhe. Mengisahkan tentang dua orang yang menjadi angkat angkat seniman besar. Anak laki-laki sangat berambisi segera mendapatkan warisan. Sebelum sang seniman meninggal, menyerahkan dua warisan berupa amplop kepada anak perempuan dan sebuah keris untuk anak laki-laki. Setelah dibuka amplop tersebut berisi wasiat yang isinya titip duit senilai Rp 400 juta untuk dijadikan pentas ludruk di seluruh Surabaya. “Pemilihan cerita harus lebih kekinian dan menggunakan bahasa yang familer untuk mengurangi perdebatan bagi komunitas pecinta Ludruk terutama anak-anak muda,” kata Cak Robet. (pul)

 

Artikel lainnya

Mahasiswa Australia Dukung Pengembangan Peneleh