Pelawak gepeng, Mamik bersama kelompok Srimulat. Foto Istimewa
Rombongan Srimulat diundang keluarga Cendana untuk menghibur dalam rangka ulang tahun cucu kesayangan Arseto. Foto istimewa
abad.id-Di era Soeharto, kampanye pemenangan pemilu yang pada wakru itu didominasi Golkar. Kampanye pemilu selalu melibatkan seniman dan unsur kebudayaan rakyat. Namun, kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan ternyata tidak merasakan pemerataan pembangungan seutuhnya. Miris dengan kondisi itu, Soeharto berusaha menjadikan Golkar sebagai pemenang Pemilu di Indonesia.
Lalu, lewat rapat Dewan Pimpinan Gollar ditunjuklah Edi Sud, dedengkot acara Aneka Ria Safari yang mempunyai kekuasaan kekuasaan penuh dalam mengorganisasi artis. Untuk menarik massa, Edi Sud segera menghubungi Teguh Srimulat.
Baca Juga : Begini Rahasia Awet Ngakak Srimulat
Dalam buku Srimulat Aneh dan Lucu tulisan Soni Set dan Agung Pewe menggambarkan bagaimana perintah Edi Sud kepada para seniman Srimulat. Tokoh yang sangat disegani semua artis ibu kota ini meminta di Jakarta harus kuning. Namun bagi Teguh, ini merupakan tugas yang sangat berat.Teguh selaku pimpinan Srimulat berpikir cepat. la terima tawaran untuk berkampanye dengan artis-artis Safari pimpinan Edi Sud. Ia segera mengorganisasi semua anggotanya untuk bergabung dan mulai berkampanye.
Maka, dimulailah hari-hari awal kampanye Golkar. Logika dan strategi yang diusung bagaimana menggaet massa dengan menampilkan artis-artis Srimulat yang pada saat itu berada di puncak kejayaannya. Panggung off air yang dipusatkan di titik-titik kampanye, seperti Monas, Senayan, dan Lebak Bulus selalu berhasil mengumpulkan puluhan ribu massa. Mereka mengelu-elukan Gepeng, Jujuk, Asmuni, Kadir, dan para pengocok perut yang tergabung dalam Srimulat.
Baca Juga : Dunia Makin Tidak Lucu, Melawakpun Butuh Gelar Sarjana
Dalam lawakan paggung, juga disesuaikan dengan konteks pemesannya. Jika biasanya mencoba memutar balikan logika dengan guyon ala Srimulat, saat kampanye Golkar harus menyampaikan pesan sponsor untuk memainkan logika itu.
"Pejah Gesang Nderek Golkar!”
“Apa,”?
“Sampeyan semua nggak ngerti artinya Pejah Gesang?”
Tentu saja dijawab dengan kata,"tidak” oleh sebagian besar penonton yang menyemut.
“Eh. sampeyan kayak ngak tahu aje. Kite lagi kampunye,”
Sukses Srimulat sukses juga Edi Sud. Jakarta langsung menguning. Golkar sukses memenangkan pemilu dan menjadi juara di daerah pemilihan Ibu Kota. Edi Sud sangat puas dengan bantuan Srimulat. la memuji Teguh sebagai seorang pimpinan dan berhasil mencitrakan Golkar sebagai miliknya wong cilik lewat Srimulat.
Baca Juga : Beratnya Pelawak Dulu, Dipaksa Bisu Harus Melucu
Sejak saat itu, Srimulat makin dekat dengan kekuasaan. Beberapa kali keluarga Cendana mengundang Srimulat untuk menggung dan menghibur. Namun anehnya, Teguh Srimulat mimilih menarik diri untuk kembali ke kota Solo dan tidak berusaha terjun ke hiruk-pikuknya politik di Jakarta. (pul)