images/images-1688656864.png
Riset
Dunia

Balada Letnan Sutikno, Bagi Indonesia Dianggap Penghianat, di Malaysia Disebut Pahlawan

Pulung Ciptoaji

Jul 06, 2023

637 views

24 Comments

Save

 

Seorang penyusup dari Indonesia yang tertangkap setelah pendaratan di Pontian, Johor Baru,10 September 1964.(Sumber: Tentera Malaysia dalam Era Konfrontasi)

 

abad,id-Tengah malam pada 29 Oktober 1964, sebanyak 52 orang penyusup dari Indonesia sengaja mendarat di mulut Sungai Kesang perbatasan Johor-Malaka. Aksi penyusup dalam misi komando ganyang Malaysia ini, dipergoki para nelayan. Sebuah pemblokiran ketat segera dilakukan oleh polisi diraja Malaysia dibantu satuan batalion Australia dan Selandia Baru. Dalam waktu 30 jam, 50 orang penyusup terpaksa menyerah, sementara dua orang sisanya baru menyerah dua minggu kemudian. Mereka menyerah setelah kehabisan tenaga dan kelaparan.

 

Baca Juga : Pierre Tendean Perwira Andalan Operasi Ganyang Malaysia

 

Gagal bukan berarti gelombang pendaratan pasukan berhenti. Dua bulan kemuduian pendaratan besar lainnya dilakukan di sepanjang pantai barat Malaya. Tanggal 23 Desember, 28 orang Indonesia mendarat di sebelah barat daya Johor. Dalam waktu singkat, mereka berhasil dipojokkan di sebuah kawasan berawa-rawa hutan bakau yang lebat. Penyeludupan dlawan dengan gempuran gabungan serangan darat dan serangan udara, hingga menewaskan tiga orang. Hingga akhirnya 25 penyusup yang tersisa akhirnya menyerah.

 

Baca Juga : Ini Alasan Trunojoyo Ikut Terlibat Perang Jawa

 

Hanya selang sehari, tanggal 24 Desember, kelompok penyusup lainnya berusaha mendarat di sebelah barat laut Kuala Lumpur dengan membajak 10 perahu nelayan Malaysia. Konvoi itu dihentikan oleh kapal fregat HMS Ajax. Kopral Yacobus terkena tembakan di siku kanan, sedangkan Prajurit Satu Siahuri terluka parah.

 

suara malaysia

 

Penyusup Indonesia Letnan Dua Sutikno diwawancarai Radio Suara Malaysia.

 

Dalam buku Operasi Dwikora Sebuah Perang Yang Terlupakan di Indonesia tulisan Nino Oktorino, dari kelompok Siagian, hanya tiga orang yang berhasil kembali ke pangkalannya di Indonesia, sedangkan Siagian sendiri tertangkap. Sementara itu, sekalipun kelompok Mursid berhasil tiba di Gunung Pulai, tujuan mereka telah diketahui musuh. Sehingga pasukan KKO dikepung oleh musuh. Dalam pertempuran yang terjadi, tiga orang prajurit KKO, termasuk Mursidterbunuh. Sisa anggota regu tertawan musuh.

 

Baca Juga : Perang Candu di Tanah Jawa

 

Sementara itu Kontingen penerjun payung mendukung penyusupan sejak April 1964, terdiri atas tiga peleton PGT di bawah Letnan Dua Sutikno Citrosomarto dan Letnan Satu Suroso. Pada tanggal 1 September 1964, kontingen penerjun payung akhirnya diterjunkan di atas Malaya dari dua pesawat angkut C-130 Hercules.

 

Sebenarnya, Hercules lagi yang dikirimkan, tetapi pesawat tersebut hilang dalam perjalanan. Kemungkinan jatuh di laut setelah dihalau pesawat Javelin, dan menewaskan Komandan Resimen Tim Pertempuran (PGT), Letnan Kolonel Sugiri Sukani. Bersama rombongan sang letnan kolonel tersebut, ikut terbunuh 47 orang anak buahnya, termasuk Letnan Satu Suroso, dan 10 orang gerilyawan Malaysia.

 

Namun karena cuaca buruk, du Hercules yang tersisa terpaksa menerjunkan pasukan payung secara tersebar. Kelompok pertama mendarat pada pukul 01.45 di zona pendaratan yang salah dan tidak dapat menemukan kontainer mereka yang berisi senjata, ransum, dan peralatan yang telah ditemukan polisi Malaysia. Kelompok kedua mendarat di zona pendaratan yang tepat di tengah hutan lebat dan turun lewat tali dari puncak pohon. Pasukan ini juga tidak bisa menemukan kontainer mereka.

 

Baca Juga : Perang Diponegoro Sangat Menjemukan, Banyak Serdadu Frustasi

 

Penerjunan itu sendiri telah diamati oleh para penjaga pantai Malaysia, yang segera menyiagakan aparat keamanan. Didukung oleh pesawat-pesawat tempur Hawker Hunters maupun unit-unit Gurkha dan Selandia Baru, pasukan perburuan.

 

Dalam waktu satu bulan, hampir semua anggota pasukan payung berhasil ditangkap atau dibunuh. Di antara mereka yang tertangkap terdapat Letnan Dua Sutikno, komandan operasi.

 

Selama interogasi, Sutikno memberitahu para penangkapnya bahwa ia diperintahkan dari Jakarta untuk membangun sebuah basis di kawasan Labis guna membantu "pembebasan rakyat Malaysia". Juga diberitahu bahwa para penerjun payung akan disambut sebagai “pahlawan”. Karena itu, ia dan rekan-rekannya “merasa terpukul” saat menemukan bahwa penduduk lokal ternyata bersikap bermusuhan.

 

Letnan Dua Sutikno juga mengakui seluruh operasi itu "gagal total'. Bahkan dalam sebuah wawancara dengan sengit mengkritik para perwira atasannya di Jakarta karena menyesatkan dirinya dan anak buahnya, seraya menambahkan bahwa "mereka hanya mati sia-sia." Pihak Inggris kemudian berhasil membujuk Letnan Dua Sutikno, untuk menyampaikan pesan propaganda yang meminta agar anak buahnya menyerah.

 

Baca Juga : Sudah Diramal, Nanti Akan Perang Semut Ireng Melawan Londo Ireng

 

Selain itu, pesawat-pesawat terbang Sekutu juga menyebarkan pamflet di atas Sumatra dan Kepulauan Riau, yang isinya mendorong orang Indonesia agar jangan mau dikecoh tentang persepsi mereka mengenai sikap orang Malaysia terhadap perang.

 

Namun, reaksi bangsa Indonesia terhadap taktik psikologis ini benar-benar di luar dugaan. Alih-alih mencerca Sutikno sebagai seorang pengkhianat, ia malah dijadikan sebuah contoh tindakan kepahlawanan dan semangat revolusioner karena diperlukan 5.000 orang prajurit Persemakmuran untuk menangkapnya.

 

Terkait situasi yang memburuk dan menyudutkan Indonesia, maka Menteri Pertahanan Nasution, yang sejak awal tidak terkesan dengan pelaksanaan operasi penyusupan ke Malaya, menyangkal keterlibatan TNI. Jenderal Ahmad Yani sendiri tidak tahu akan pendaratan tersebut, yang menimbulkan kecurigaan bahwa bukan hanya para komandan Angkatan Darat dilewati dalam perencanaan tetapi ,tanpa disadari oleh mereka, juga sedang dijerumuskan ke dalam operasi militer yang jauh lebih luas daripada yang mereka perkirakan sebelumnya.

 

Baca Juga : Perang dan Muslihat Sentot Ali Basyah

 

Namun apa daya, pengaruh dua jendral ini terhadap presiden Sukarno sangat minim dibanding PKI. Sukarno dianggap lebih mendengar pendapat PKI untuk menentukan kebijakan militer. Bahkan Soekarno mengangkat Soebandrio tokoh PKI sebagai ketua KOTI, yang kedudukannya bisa menentukan penggelangan kekuatan militer dibanding para jendral-jendral TNI. Padahal langkah penyusupan ini bisa menggelincirkan konfrontasi ke dalam situasi regional yang tidak stabil. Akibatnya, Angkatan Darat menjadi kecewa karena tidak dianggap sebagai sebuah kekuatan nasional dan telah dilangkahi oleh PKI. (pul)

 

Artikel lainnya

Penyelamatan dan Pemanfaatan Bangunan Langka di Kota Tua Surabaya