images/images-1689830616.jpg
Sejarah
Riset

Ini Alasan Sultan Agung Menandai 1 Muharam dengan Suro

Pulung Ciptoaji

Jul 20, 2023

444 views

24 Comments

Save

 

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta. Foto Film youtube

 

abad.id-Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma merupakan raja Mataram ketiga. Dia memerintah dari tahun 1613 hingga 1645. Sultan Agung dikenal sebagai panglima perang yang ahli membangun negara dan menjadi kekuatan militer yang hebat. Sultan Agung atau Susuhunan Agung sebutan gelar dari sejumlah besar literatur yang meriwayatkan karena warisannya sebagai raja Jawa, pejuang, budayawan dan filsuf peletak pondasi Kajawen. Keberadaannya mempengaruhi dalam kerangka budaya Jawa dan menjadi pengetahuan kolektif bersama. Salah satunya berhasil mengubah penanggalan Saka ke Muharam, berdasarkan tahun baru Islam.

 

Baca Juga : Ketika Prajurit Mataram Terlibat Perang Tahi di Batavia

 

Dalam buku Kitab Terlengkap Sejarah Mataram tulisan Soedjipto Abimanyu, digambarkan perangainya tegas dan tanpa ampun. Sultan Agung akan menghukum mati siapa saja yang tidak becus dalam bekerja. Tak terkecuali panglima perangnya. Saat memimpin Mataram hingga mencapai kemasyhuran. Sultan Agung bernafsu untuk menguasai Banten. Keinginan tersebut begitu besar. Hal ini membuat Sultan Agung mencoba menaklukkan Banten yang dikuasai VOC Belanda.

 

Alasan Sultan Agung merasa cemas setelah mendapatkan kabar VOC berhasil merebut Jayakarta dari Kesultanan Banten. Jayakarta yang kemudian namanya diubah menjadi Batavia itu adalah salah satu wilayah yang belum mampu ditaklukan Kerajaan Mataram. Setelah Jayakarta jatuh, VOC memperbudak warga pribumi. Hal ini semakin mengganggu pikiran Sultan Agung.

 

Sebelum Jayakarta ditaklukkan, VOC bermarkas di Kepulauan Banda, Ambon, Kepulauan Maluku. VOC dibawah Gubernur Jenderal VOC di Batavia, Jan Pieterzoon Coen mengirimkan utusan untuk meminta izin Sultan Agung guna membuka loji-loji dagang di pantai utara Mataram. Tawaran itu pun ditolak Sultan Agung. Alasannya, Sultan Agung yakin jika izin diberikan, maka ekonomi di pantai utara akan dikuasai VOC.

 

Baca Juga : Ulah Gila Anak Sultan Agung, Raja dan Putra Mahkota Rerbutan Perawan Kencur

 

Setelah menaklukkan Jayakarta pada 1619, VOC memindahkan kantor pusatnya ke wilayah di pesisir utara Pulau Jawa. Pada tahun 1621, Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC. Kedua pihak saling mengirim duta besar. Di tahun-tahun tersebut Kerajaan Mataram sedang berkonflik dengan Kerajaan Surabaya dan Kesultanan Banten. Menyadari kekuatan VOC Belanda, Sultan Agung sempat berpikir untuk memanfaatkannya.

 

Namun VOC ternyata menolak membantu Mataram menyerang Surabaya. Akibatnya, hubungan diplomatik kedua pihak pun putus. Setelah Surabaya jatuh ke tangan Mataram, sasaran Sultan Agung selanjutnya adalah Kesultanan Banten di ujung barat Pulau Jawa.  Posisi Batavia yang menjadi "benteng" Kesultanan Banten perlu diserang terlebih dahulu.

 

Ada alasan Mataram melancarkan serangan terhadap VOC di Batavia. Pertama VOC telah melakukan pemaksaan kepada rakyat dan melakukan monopoli hasil bumi, sehingga menyebabkan rakyat menderita. Kemudian, berimbas pada stabilitas Kerajaan Mataram yang terganggu.

 

Sejak kedatangan VOC di Batavia, Sultan Agung sudah menampakkan ketidaksukaannya. Apalagi, terbukti kalau VOC berbuat semena-mena terhadap rakyat. Sebagai penguasa Mataram, Sultan Agung pun menyiapkan pasukan guna menyerang kedudukan Belanda di Batavia. Berbagai persiapan pun dilakukan dalam rangka penyerangan tersebut, mulai dari perbekalan hingga melatih keterampilan perang para prajurit Mataram.

 

Baca Juga : Geger Sepoy, Saat Tahta Kesultanan Yogyakarta Dijarah Inggris

 

Keinginan menguasai Banten sebagai pintu masuk menyerang VOC harus dicapainya dengan banyak cara. Pada tanggal 22 Agustus 1628, Tumenggung Bahureksa dari Kendal yang diberi titah Sultan Agung memimpin penyerbuan ke Benteng Belanda, mendaratkan 59 perahu berisi 900 prajurit ke teluk Jakarta. Di dalam kapal, armada Bahureksa membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras. Semua itu tentu saja tidak diakui sebagai perbekalan untuk menyerang benteng Batavia.

 

Tumenggung Bau Reksa membawahi 20.000 pasukan. Menyusul satu bulan kemudian di bulan Oktober 1628, pasukan yang dipimpin Pangeran Mandurareja (cucu Ki Juru Martani) membawa 10.000 prajurit.

 

Perang besar pun terjadi di benteng Holandia. Namun,sayangnya, serangan ini gagal lantaran pasukan Mataram terserang wabah penyakit dan kekurangan bekal (air dan makanan). Selain itu, kegagalan tersebut juga disebabkan oleh terpecahnya konsentrasi pasukan. Sebab, pada saat bersamaan, pasukan yang menuju ke Batavia juga berperang melawan kerajaan-kerajaan di sepanjang pesisir utara Jawa.

 

Karena kegagalan itu, dua bulan berikutnya pada Desember 1627, Sultan Agung mengirim algojo untuk menghukum mati dua panglimanya Tumenggung Bau Reksa dan Pangeran Mandurareja. Namun sebuah sumber menyebutkan bahwa Panglima Bau Reksa terbunuh dalam penyerangan di markasnya, dan bukan karena dihukum pancung oleh Sultan Agung.

 

Baca Juga : Sri Sultan Hamengkubuwono IX Dukung Total Republik Indonesia 100 Persen

 

Penyerangan kedua ini dipimpin oleh dua panglima perang Mataram, yakni Adipati Ukur dan Adipati Juminah. Romboongan pertama dipimpin Adipati Ukur diberangkatkan pada bulan Mei 1629, sedangkan pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat bulan Juni. Jumlah semua pasukan Mataram untuk penyerangan kedua ini adalah 14.000 orang.

 

Namun, sayangnya, lagi-lagi penyerangan kedua berhasil digagalkan oleh VOC. Salah satu penyebab kegagalan ini adalah dibakarnya tempat penyimpanan makanan pasukan Mataram oleh VOC dan banyak prajurit yang terjangkit wabah kolera, sehingga pasukan Mataram banyak yang mati. Bahkan, penyakit ini juga menewaskan Gubernur Jenderal VOC di Batavia, Jan Pieterzoon Coen.

 

Sementara itu Adipati Ukur tak berani menghadap ke Sultan Agung. Ia takut bila dipenggal kepalanya. Selanjutnya Adipati Ukur dan pasukannya bersembunyi di kawasan Gunung Lumbung yang sekarang masuk wilayah Bandung.

 

Pembangkangan Adipati Ukur ini dilaporkan oleh seorang panglima Mataram kepada Sultan Agung. Sontak penguasa Mataram marah besar, dan mengutus pasukannya untuk mencari Adipati Ukur. Pasukan Mataram pun berangkat menuju Gunung Lumbung sebagaimana laporan intelijen Mataram. Perang pun terjadi saat pasukan Mataram bertemu dengan pasukan Adipati Ukur di Gunung Lumbung.

 

Adipati Ukur dapat ditangkap dan dibawa ke Cirebon pada 1632 Masehi. Dari Cirebon inilah Adipati Ukur dibawa ke Mataram untuk dihadapkan ke Sultan Agung. Dikarenakan sudah murka, Sultan Agung menjatuhkan hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya di alun - alun.

 

Sepeninggal Adipati Ukur, Sultan Agung menyerahkan jabatan bupati wedana Priangan kepada Pangeran Adipati Rangga Gede, yang telah bebas dari hukumannya. Selain itu, Sultan Agung juga melakukan reorganisasi pemerintahan di Priangan untuk memberikan stabilitas situasi dan kondisi di daerah itu.

 

Baca Juga : Inilah Penyebab Kegagalan Serangan Sultan Agung ke Batavia

 

Saat diperintah Pangeran Adipati Rangga Gede, kekuasaan Mataram di Sunda semakin kokoh. Di wilayah pesisir utara, banyak pasukan Mataram yang tidak kembali ke Mataram dan lebih memilih menikahi penduduk setempat. Para prajurit Mataram ini selanjutnya membuka lahan persawahan di daerah Karawang.

 

Ada beberapa penyebab umum dari kegagalan kedua penyerangan tersebut. Pertama, jarak antara Mataram dan Batavia yang terlalu jauh. Hal ini kemudian mengakibatkan melemahnya ketahanan para prajurit Mataram, mereka harus menempuh perjalanan kaki selama satu bulan dengan medan yang sangat sulit.

 

Kedua, sistem persenjataan yang kurang canggih. Ini menjadi penyebab umum kedua dari kegagalan penyerangan terhadap VOC di Batavia. Seperti diketahui, VOC sudah memiliki senjata yang serba modern, sementara prajurit Mataram masih menggunakan senjata tradisional.

 

Ketiga, pengkhianatan Portugis. Dalam penyerangan itu, sebenarnya Mataram telah membuat kesepakatan dengan Portugis. Dalam kesepakatan itu, Portugis berjanji akan membantu Mataram dengan menyerang Batavia lewat laut, sedangkan Mataram lewat darat. Namun, Portugis mengingkari janjinya sehingga menyebabkan Mataram menghadapi Belanda tanpa bantuan Portugis.

 

Baca Juga : Kejam, Amangkurat I Hukum Mati 40 Selir dan Dayang Tanpa Diberi Makan

 

Keempat, kesalahan langkah politik. Dalam hal ini, Sultan Agung tidak memanfaatkan Banten yang juga musuh VOC untuk diajak bekerja sama melawan VOC.

 

Kelima, penyerangan yang tidak serempak. Terjadi miskomunikasi antara armada laut dengan darat dalam penyerangan tersebut. Ternyata, angkatan laut mengadakan penyerangan lebih awal sehingga rencana penyerangan Mataram ini diketahui Belanda.

 

Keenam, dikhianati oleh orang pribumi. Ini adalah penyebab paling fatal dari kegagalan serangan terhadap Batavia tersebut, yaitu adanya pihak pribumi yang berkhianat kepada Mataram dengan membeberkan usaha serangan Mataram tersebut kepada pihak musuh. Akibatnya, rencana penyerangan yang disiapkan dengan matang itu pun berhasil diketahui oleh Belanda.

 

Kegagalan Misi Batavia Dijadikan Penanada Tanggalan Muharam

 

Sultan Agung satu-satunya raja Mataram yang sangat bersemangat memerangi VOC Belanda di Batavia. Meskipun dua kali gagal, tekad untuk mengusir penjajah dan kemampuan Sultan Agung mengirim ekspedisi merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Puluhan ribu prajurit dikerahkan, ratusan perahu dan berton-ton perbekalan berhasil dimobilisasi. Hal itu membuktikan bahwa Sultan Agung seorang raja Mataram yang sangat hebat dalam urusan politik.

 

Baca Juga : Amangkurat I Bunuh 6 Ribu Ulama hanya 30 Menit

 

Kekalahan dalam perang, kehilangan para panglima perang, kemaatian banyak prajurit dan meninggalkan ribuan janda serta sawah kehilangan tenaga kerja laki-laki karena ikut berperang, membuat kemunduran Mataram. Sultan Agung mulai gelisah dan menganggap perang ini sama seperti peristiwa Asyura. Yaitu saat Nabi Muhamad kehilangan orang-orang terdekat di bulan yang sama. Mulai Sang Istri tercinta Khodijah, paman yang melindungi serta sahabat-sahabat mati Syahid di medan perang.

 

Suro berasal dari bahasa arab, yaitu asyura yang berarti kesepuluh atau jatuh pada 10 Muharram. Sama seperti orang Jawa, menurut orang Islam Suro juga diyakini sebagai bulan memiliki arti sangat penting.

 

Secara etimologis, Muharram berarti bulan paling mulia yang berhubungan erat dengan realitas empirik dan simbolik. Sebab, bulan ini penuh dengan berbagai peristiwa besar, seperti sejarah para nabi dan rasul Allah. Muharram  merupakan nama bulan pertama  dalam  sistem  penanggalan Hijriyah yang juga menjadi Tahun Baru Islam.

 

Penamaan Muharram memiliki dua makna berbeda. Pertama, pada Muharram atau Suro, seseorang diharamkan melakukan pembunuhan. Kedua, pada bulan tersebut, seseorang juga dilarang melakukan perbuatan haram yang lebih ditekankan daripada bulan lainnya  karena dianggap bulan mulia.

 

Baca Juga : Legenda Joko Jumput dan Babat Alas Surabaya

 

Sultan Agung menganggap, kejadian tahun-tahun sebelumnya merupakan perjalanan suci masyarakat Jawa menuju kemulyaan atau jihad. Maka Sultan Agung menganggap harus diperingati dengan membuat tetenger, dengan penentuan tahun baru Jawa Saka disamakan ke Muharam tahun baru Islam.  Sultan Agung memberlakukan mulai 8 Juli 1633 Masehi sebagai awal tahun 1 Suro atau Muharam. Sekaligus tahun Jawa pada Kalender Saka berakhir di tahun 1554 Masehi. Kalender Saka yang sesuai sistem perjalanan matahari mengelilingi bumi (Syamsiyah). Sementara kalender Sultan Agung  mengikuti sistem perjalanan bulan mengelilingi bumi (Qomariyah), seperti kalender Hijriyah.

 

Kalender Jawa versi Sultan Agung yang digunakan sampai sekarang menjadi bentuk asimilasi dari tiga budaya, yaitu Islam, Hindu, dan Jawa. Dengan demikian, dalam kalender ini menggunakan sistem kalender Hijriah, namun dalam penulisan angka tahun memakai kalender Saka.

 

Bertepatan malam 1 Suro atau Muharam, dimulai setelah magrib. Karena  pergantian tanggal atau hari  Jawa ketika matahari terbenam dari hari sebelumnya. Dalam peringatan malam 1 Suro, keraton melakukan berbagai ritual yang dilaksanakan setiap tahun. Selain itu, terdapat pula beragam sesajen yang merupakan wujud budaya animisme dan dinamisme.

 

Peringatan malam 1 Suro dilakukan masyarakat Jawa dengan khusyuk melalui laku tirakat, lek-lekan, atau tidak tidur satu malam. Ritual ini dilakukan secara individu untuk membersihkan diri secara lahir batin, melakukan introspeksi, dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan pemilik semesta.

 

Baca Juga : Ki Joko Bodo dan Sostrokartono, Dua Orang Pintar Langganan Pejabat

 

Selama bulan Suro tiba, masyarakat Jawa diwajibkan untuk selalu eling dan hati-hati. Eling berarti masyarakat Jawa harus selalu ingat siapa dirinya dan kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sementara itu, hati-hati dipahami sebagai manusia yang harus terjaga dan waspada dari godaan menyesatkan. (pul)

Artikel lainnya

Penyelamatan dan Pemanfaatan Bangunan Langka di Kota Tua Surabaya