images/images-1688369183.jpeg
Indonesiana
Pariwisata

Rara Anteng dan Joko Seger Dalam Legenda Gunung Bromo

Pulung Ciptoaji

Jul 03, 2023

483 views

24 Comments

Save

Kesunyian dan kebekuan Gunung Bromo, adalah sambutan alam yang berasal dari kisah dramatis keluarga Rara Anteng dan Joko Seger. Foto Irul JTV  

 

gunung bromo

 

abad.id-Waktu kerajaan Majapahit diserang musuh, semua penduduknya pergi mengungsi. Demikian pula dewa-dewa yang pada saat itu turun ke dunia. Rakyat Majapahit lalu tinggal di lereng Gunung Bromo, sedangkan para dewata memilih tinggal di lereng Gunung Pananjakan yang letaknya jauh dari Gunung Bromo.

 

Seorang dewi menitis menjadi manusia. Sewaktu dilahirkan, bayi perempuan titisan dewi itu berparas cantik. la tidak menangis seperti bayi-bayi lainnya, sehingga bayi itu diberi nama Rara Anteng.

 

Baca Juga : Legenda Joko Jumput dan Babat Alas Surabaya

 

Seperti yang dikutip dalam Cerita Rakyat Dari Jawa Timur tulisan Dwianto Setyawan menceritakan, pada saat yang bersamaan, istri seorang pendeta melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu amat tampan dan bercahaya wajahnya. Tenaganya sangat luar biasa, genggamannya erat, tendangannya kuat, dan tangisnya kencang. Lalu ia dinamai Jaka Seger.

 

Hari demi hari kedua bayi itu menjadi besar. Jaka Seger berubah menjadi seorang pemuda rupawan. Rara Anteng menjelma menjadi seorang gadis manis. Karena sering bertemu, kedua remaja itu pun saling menaruh hati.

 

Namun, Rara Anteng yang jelita menjadi rebutan para pemuda. Mereka berlomba-lomba ingin meminangnya. Sayang sekali, cinta Rara Anteng hanya untuk Jaka Seger. la pun menolak semua pinangan untuknya.

 

Baca Juga : Legenda Bangku Kosong di Kelas Yang Hening

 

Suatu hari seorang perompak yang sakti datang meminang Rara Anteng. Kali ini, Rara Anteng tak berani langsung menolak pinangannya, sebab selain sakti, perompak itu amat bengis.

"Aku bersedia menjadi  istrimu  asalkan Kau sanggup membuat lautan di tengah-tengah gunung."ujar Rara Anteng dengan lemah lembut.

"Hahaha...! Pekerjaan itu amat   mudah. Aku sanggup nelakukannya untukmu,"sahut perompak itu pongah.

“Jangan bergirang dulu, karena lautan itu harus selesai dalam semalam,” tutur Rara Anteng menambahkan.

"Demi dirimu aku akan melakukan permintaanmu itu. Tunggu sampai esok pagi, Rara Anteng. Kau akan menjadi istriku," kata perompak.

 

Tepat pada saat matahari terbenam, perompak itu mulai bekerja. la mengeruk sisi-sisi Gunung Bromo dengan sebuah tempurung kelapa. Semalam suntuk perompak itu bekerja. Berkat kesaktiannya, sebelum ayam jantan berkokok, lautan itu hampir selesai.

 

Baca Juga : Legenda Lima Kambing Menjadi Kota Guangzhou

 

Rara Anteng amat cemas. la tidak bisa tidur. Berkali-kali ia mengintip pekerjaan perompak itu. Hatinya semakin masih dini hari.

“Duh, apa yang harus kulakukan? Perompak itu benar-benar saktil" pikir Rara Anteng.

 

Tak lama kemudian, ia beranjak menuju lumbung. Didekat kandang ayam itu, Roro Anteng menyalakan api sehingga membuat ayam jantan berkokok menandakan waktu sudah pagi. Seketika perompak sakti itu terkejut ketika mendengar ayam jantan berkokok.

"Oh, pagi telah menjelang. Ayam jantan sudah berkokok. Sungguh aneh! Kenapa ayam jantan itu berkokok sebelum garis putih itu muncul di ufuk timur?" pikir perompak tersebut.

Perompak itu amat kecewa dan malu. la berdesis garang, "Keparat! Rara Anteng berhasil mengalahkanku!" Lalu, ia melemparkan tempurung kelapa yang dipegangnya dan pergi meninggalkan tempat itu.

 

Ajaib! Tempurung yang jatuh tengkurap itu menjelma menjadi sebuah gunung. Gunung itu kemudian dinamai Gunung Batok, sedangkan lautan yang belum berair itu disebut Segara Wedi (lautan pasir).

 

Baca Juga : Tirto dan Legenda Pergundikan Nusantara

 

Ketika tahu bahwa perompak itu telah pergi, Rara Anteng bersuka ria. la berhasil mengalahkan perompak itu meskipun dengan cara yang licik. Rara Anteng kemudian menikah dengan Jaka Seger.

 

Keduanya ingin hidup dengan damai dengan membabat hutan dan mendirikan sebuah perkampungan. Desa itu dinamai Tengger yang merupakan petikan dari nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Nama Rara Anteng didahulukan karena ia berderajat lebih tinggi. la keturunan dewa sedangkan Jaka Seger keturunan seorang pendeta.

 

Kedua orang itu hidup bahagia. Namun setelah bertahun-tahun menikah cobaan hidup belum juga usai. Roro Anteng dan Joko Seger tidak memiliki keturunan.

 

Baca Juga : Legenda Watu Blorok, Kisah Ksatria Majapahit Dikutuk Jadi Batu

 

“Kita harus memohon memohon kepada Hong Pukulun agar bisa mendapatkan keturunan, dengan cara bersemadi,” kata Rara Anteng.

“Apa pun akan kita lakukan, asal kita bisa mempunyai keturunan,"sahut Jaka Seger mantap.

 

Sesudah kesepakatan tercapai, pasangan suami-istri ini mulai bersemadi, mengheningkan cipta, memohon kemurahan Hong Pukulun. Dalam suasana khusyuk itu terungkap pula sebuah janji, "Berikan kami banyak keturunan, jika permohonan kami terkabul, kami akan rela mengorbankan anak bungsu kami ke kawah Gunung Bromo."

 

Rupanya sang Dewata mendengar permohonan pasangan Rara Anteng dan Joko Seger ini. Permintaan dengan tulus dikabulkan. Tak lama kemudian setelah upacara permohonan itu, Rara Anteng mengandung.

 

Baca Juga : Dari Napoleon Hingga Pangeran Edward, Inilah Legenda Cinta Para Ksatria Eropa

 

“Permohonan kita terkabul, Kanda! Kita akan punya anakl” kata Rara Anteng memberi tahu suaminya dengan wajah berseri-seri. Ketika saatnya tiba Rara Anteng pun melahirkan anaknya yang pertama.

 

Ternyata pasangan suami-istri itu memiliki 25 anak. Anak mereka yang lahir paling bungsu diberi nama Raden Kusuma. Namun karena sibuk mengasuh anak dan merasakan suasana bahagia, rupanya  Rara Anteng dan Joko Seger berusaha melupakan janjinya. Setiap terpikirkan janji kepada Dewata tentang akan menyerahkan anak bungsunya, Rara Anteng dan Joko Seger akan menjadi murung dan sedih.

 

Hingga suatu saat, Rara Anteng dan Jaka Seger mendiskusikan sumpah mereka. "Tidak mungkin kita mengorbankan Raden Kusuma," Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ibu mana yang sampai hati mencemplungkan anaknya ke dalam kawah?"

"Aku mengerti, Dinda. Akan tetapi, jangan lupa kita sudah bersumpah di hadapan dewata. Kukira kita tidak bisa mengingkarinya begitu saja," sahut Jaka Seger.

"Apakah Kanda tega mengorbankan Kusuma?" tukas Rara Anteng.

"Aku... aku...."Jaka Seger tidak mampu melanjutkan omongannya. Lelaki itu diam termangu-mangu. Lama kemudian baru ia berkata, "Sama dengan engkau, aku juga tidak tega. Akan tetapi, aku takut dewata akan mengutuk kita."

"Aku ada akal. Sebaiknya kita pindah saja. Kita menjauh dari tempat ini, demi keselamatan Raden Kusuma,"usul Rara Anteng.

 

Baca Juga : Kejam, Amangkurat I Hukum Mati 40 Selir dan Dayang Tanpa Diberi Makan

 

Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, mereka benar-benar memutuskan untuk pindah. Tempat tinggal baru yang mereka pilih adalah di lereng Gunung Pananjakan tempat asalnya.

 

Pada hari yang ditentukan, rombongan keluarga besar ini mulai berjalan beriringan menuju Gunung Pananjakan. Mereka membawa peralatan dan perlengkapan seperlunya untuk memulai suatu hidup baru di lereng gunung itu.

 

Namun belum jauh melangkah, tiba-tiba terjadi suara bergemuruh daru Gunung Bromo. Kawah yang sebelumnya tenang mulai menggelegak. Makin lama semakin dahsyat. Lalu muncul lidah api dari mulut kawah. Rara Anteng dan keluarganya dicekam ketakutan. 

“Tidak ada pilihan lain. Kita harus terus berjalan meskipun cuaca buruk,” kata Joko Seger.

"Ayo, Anak-anak! Cepat! Kita lari menuju gunung penanjakan!" perintah Rara Anteng.

 

Baca Juga : Amangkurat I Bunuh 6 Ribu Ulama hanya 30 Menit

 

Keluarga itu berusaha sekuat tenaga menjauhi bencana. Namun sebuah malapetaka tetap tidak bisa dihindarkan. Gunung Bromo seolah-olah sedang murka. Tiba-tiba sebuah lidah api yang berasal dari kawah menjulang ke angkasa. Kemudian, bagaikan sehelai selendang panjang berwarna merah menyala, lidah api itu meliuk dan menyeret tubuh Raden Kusuma.

"Anakku!"jerit Rara Anteng.

 

Namun, sudah terlambat. Dengan cepat lidah api itu kembali ke arah gunung, dan menghilang ke dalam kawah. Raden Kusuma terbawa bersamanya. Korban yang diincarnya hanya satu, Raden Kusuma, si anak bungsu.

 

Rara Anteng dan Joko Seger bersma saudara-saudarinya menangis sejadinya, ketika melihat kejadian sangat cepat di depan mata mereka. Raden Kusuma lenyap dibawa ke kawah Gunung Bromo.

 

Namun bersamaan hilangnya Raden Kusuma ini, perlahan letusan Gunung Bromo langsung mereda. Di tengah suasana hening ditengah badai pasir, terdengarlah suatu suara gaib.

“Ayah Ibu, serta saudara-saudaraku, aku sudah damai bersama Dewata. Aku sudah menemui janji dan sumpah kalian dihadapan Dewata. Namun, ada satu pesanku, untuk mengenang peristiwa ini dan pengorbananku, datanglah kalian ke Bromo setahun sekali. Bawalah sesaji." Bunyi suara gaip yang mirip dengan anak bungsu Raden Kusuma.

 

Baca Juga : Kisah Perih Perbudakan Nusantara

 

Permintaan itu tidak akan diabaikan oleh anggota Rara Anteng dan Joko Seger dan setiap orang Tengger yang menjadi keturunan mereka. Setiap tahun keluarga besar suku Tengger membawa sesaji berupa hasil pertanian, buah dan bunga, untuk dilempar ke kawah Gunung Bromo. Ritual tersebut dikenal dengan Upacara Kasada.

 

Kasada berarti bulan ke-12. Kasada sebagai bulan terakhir menurut perhitungan penanggalan orang Tengger dianggap cocok untuk melaksanakan upacara keagamaan. Pada bulan itu warha suku Tengger mengucapkan syukur kepada Tuhan atas segala rezeki dan karunia yang telah mereka terima. Di samping itu, merupakan sebuah upaya untuk memenuhi harapan Raden Kusuma, leluhur mereka. (pul)

 

Artikel lainnya

The Begandring Institute Lahir Mewarnai Peringatan Tahun Baru Imlek

Malika D. Ana

Jan 16, 2023

Pameran Foto Membuka Wadah Kreativitas dan Ekonomi Kreatif