Tokoh
Tribhuwanā Wijayottunggadewī Jayawiṣṇuwarddhani
Abad.id - Penguasa ketiga dari Kerajaan Majapahit adalah Tribhuwanā Wijayottunggadewī Jayawiṣṇuwarddhani atau lebih dikenal sebagai Bhre Kahuripan II (tempat daerah lungguhnya berasal, 1309-1328). Ia adalah anak dari Kêrtarājasa (Raden Wijaya) dari permaisuri Dewi Gayatri (Rajapatni). Nama aslinya Dyah Gitarja. Setelah dewasa dan menduduki tahta, ia menikah dengan Kêrtawardhana (Bhre Tumapêl/Siŋhasāri). Pada tahun 1328 Jayanegara mangkat karena dibunuh oleh Tañca, seorang dharmmaputra yang bertindak sebagai tabib. Dalam Pararaton peristiwa pembunuhan ini disebut “patañca”. Dengan kosongnya tahta Majapahit akibat mangkatnya Jayanegara, maka atas perintah Gayatri, Tribhuwanā menduduki tahta Majapahit menggantikan Jayanegara dengan gelar Tribhuwanā Wijayottunggadewī Jayawiṣṇuwarddhani.
Tribhuwanā Wijayottunggadewī memerintah didampingi suaminya, Kêrtawarddhana (Bhre Tumapêl/Siŋhasāri). Pekerjaan pertama begitu menduduki tahta kerajaan adalah menumpas pemberontakan Sadeng dan Keta (1331). Informasi dari Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima perang dalam penumpasan pemberontakan Sadeng. Agar pemberontakan tidak berlarut-larut, maka berangkatlah Tribhuwanā sebagai panglima menyerang Sadeng dengan didampingi sepupunya Ādityawarmman, putra Melayu yang dibesarkan di Majapahit.
Nampaknya pilihan Tribhuwanā siapa yang menduduki posisi Mahapatih jatuh pada Gajah Mada. Pada tahun 1334 Gajah Mada dilantik sebagai Rakryan Mahāpatih. Dalam pelantikannya Gajah Mada bersumpah bahwa tidak akan memakan rempah (mungkin mutih) sebelum dapat menyatukan Nusāntara. Sumpah Mahāpatih Gajah Mada ini dikenal sebagai Sumpah Palapa.
Selama masa pemerintahannya Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah teritorial Majapahit. Banyak sarjana yang menafsirkan bahwa wilayah kekuasaan Majapahit hampir seluas Nusāntara sekarang. Namun berdasarkan data Kakawin Nāgarakŗtāgama dan sumber tertulis lainnya dapat ditafsirkan ulang bahwa wilayah Majapahit hanya kira-kira seluas Provinsi Jawa Timur dan setengah Provinsi Jawa Tengah bagian timur. Daerah-daerah lain seperti yang disebut dalam Nāgarakŗtāgama merupakan daerah yang minta perlindungan pada Majapahit. Wilayah Majapahit di Tanah Jawa dikepalai oleh Bhre (semacam adipati masih keluarga raja) yang jumlahnya ada 12 Bhre. Di luar Tanah Jawa Majapahit menduduki Bali, Lombok, dan terjauh Sumbawa.
Gayatri atau Rajapatni mangkat pada tahun 1350. Bersamaan dengan itu Tribhuwanā turun tahta Majapahit. Hal ini menimbulkan kesan bahwa Tribhuwanā naik tahta Majapahit hanya mewakili Rajapatni. Meskipun Gayatri hanya putri bungsu dari Kertanegara, tetapi boleh jadi is adalah satu-satunya istri Raden Wijaya yang masih hidup sehingga ia dapat mewarisi tahta Jayanegara yang mangkat tanpa keturunan. Meskipun ia mewarisi tahta, namun ia lebih suka menjadi bhiksu Buddha. Roda pemerintahan diwakilkan pada Tribhuwanā.
Meskipun Tribhuwanā hanya sebagai pelaksana tugas Gayatri di Kerajaan Majapahit, namun banyak yang dia lakukan untuk kerajaan yang dipimpinnya. Ia dapat membersihkan/menumpas pemberontakan yang terjadi pada masa Jayanegara, ia dapat meluaskan wilayah Majapahit hingga ke arah timur hingga ke ujung Sumbawa dPulau Sanghiyang Api. Dalam bidang hukum ia berhasil menghimpun perundang-undangan Āgama yang kemudian diwariskan pada penerusnya Hayam Wuruk.
Berita yang menyebutkan turun tahtanya Tribhuwanā pada tahun 1350 tidak sepenuhnya benar, karena pada tahun 1350 Tribhuwanā misih menerbitkan Prasasti Singosari yang menyatakan bahwa pada tahun 1351 ia masih menjadi Ratu Majapahit. Boleh jadi setelah menerbitkan prasasti ia turun tahta kembali menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, semacam dewan pertimbangan agung kerajaan. Anggotanya adalah para kerabat kerajaan, termasuk para Bhre yang jumlahnya 12 orang.
Tidak diketahui dengan pasti bilamana Tribhuwanā mangkat, namun berdasarkan Pararaton yang menyebutkan bahwa Bhre Kahuripan mangkat setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai Patih Majapahit pada tahun 1371. Tribhuwanā mangkat didharmakan di Candi Pantarapura di Desa Panggih, sedangkan suaminya Bhre Tumapel mangkat pada tahun 1386 dan didharmakan di Candi Sarwa Jayapurwa di Desa Jayan.(mda)
Malika D. Ana
04.05.23
abad.id- Soekarno dikenal memiliki kharisma dan sangat dihormati lantaran telah mengantarkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Soekarno juga dikenal sebagai sosok laki-laki yang menawan dan bisa membuat perempuan jatuh cinta. Salah satu perempuan yang dibuat jatuh cinta adalah Fatmawati. Demi cintanya kepada sang proklamator, Fatmawati rela meninggalkan tempat kelahirannya di Bengkulu.
Cerita pertemuan keduanya pernah dikisahkan oleh tiga orang tokoh, yaitu Soekarno, Inggit istrinya, dan kekasihnya Fatmawati. Selanjutnya dua orang saksi, kawan Soekarno dari Muhammadiyah, Hien dan orang kepercayaannya, Riwu, menceritakan apa yang mereka ketahui.
Kedua orang wanita yang memegang peranan dalam hal ini, Inggit dan Fatmawati, sependapat tentang asal mula kisah cinta ini. Seperti yang dikutip dalam Biografi Soekarno 1901-1950 tulisan Lambert Giebelt, suatu hari di tahun 1938 di depan rumah Soekarno berhenti sebuah delman yang mengantarkan Hasan Din dan putrinya bernama Fatima berumur 15 tahun. Mereka berasal dari desa Curup, tempat Hasan Din memegang jabatan sebagai sekretaris Muhammadiyah setempat, di samping bekerja di perusahaan Borsumij. Empat puluh tahun kemudian, ketika menulis buku memoarnya, Fatmawati masih ingat betul hari itu. “Saya masih ingat bahwa waktu itu saya pakai baju merah dengan selendang kuning bordiran,” cerita Fatmawati.
Tuan dan nyonya rumah mengajak mereka duduk. Ia lebih menyenangi tuan rumahnya, yang langsung memperlakukan dengan ramah. Sambil tersenyum ia menawarkan kepadanya kue kering. Tak lama kemudian datang juga ke beranda seorang anak gadis yang dipanggil Ratna. Fatima memperhatikan bahwa anak perempuan itu lebih tambun dan berkulit amat jernih.
Bergambar bersama di Bengkulu. (Soekarno deret terakhir di tengah; Inggit deret tengah kedua dari kanan, Fatmawati dan Omi duduk di deret pertama masing-masing kiri dan kanan). Foto dok net
Hasan Din bercerita kepada Soekarno dan Inggit bahwa ia ingin menyekolahkan anaknya di Bengkulu. Sambil bercakap-cakap timbul pikiran untuk mengirim Fatima ke sekolah yang sama seperti Ratna, yaitu sekolah kejuruan Katolik. Namun, ada kesulitan kecil, anak gadis tersebut baru duduk di kelas 5 sekolah dasar. Soekarno berkata bahwa itu mudah dan bisa mengurusnya.
Sama seperti di Pulau Ende, di Bengkulu Soekarno membina hubungan baik dengan missi. Pada akhir 1929, para suster Cinta Kasih dari ordo Santo Carolus Borromeus bergabung dengan kelompok pater. Bulan Agustus 1936 para biarawati ini mendirikan sekolah kepandaian putri untuk menampung anak-anak perempuan yang lulus sekolah dasar. Sekolah ini disebut Sekolah Kejuruan. Setiba di Bengkulu, Omi masuk sekolah ini.
Soekarno menghubungi suster Vicenza, kepala Sekolah Kejuruan. Rupanya ia berhasil membujuknya supaya Fatima diterima, walaupun masih belum menamatkan sekolah dasarnya. Problem yang baru adalah uang sekolah sebesar 10 gulden per bulan. Hasan Din yang memiliki banyak anak tidak kuat membayarnya. Apalagi Hasan telah melepaskan pekerjaannya di Borsumij, agar bisa konsentrasi waktunya untuk Muhammadiyah. Beruntung Suster Vicenza mengurangi separuh jumlah biaya.
Untuk sementara Fatima mondok di rumah Soekarno. Ia satu kamar dengan Omi dan Kartika. Ia seakan-akan menjadi anak angkat ketiga untuk Soekarno dan Inggit. Seperti biasa Soekarno memberinya nama baru “Fatmawati”.
Tak lama kemudian suasana di rumah tersebut berubah dengan adanya tamu baru ini. Inggit kesal melihat kelakuan suaminya yang merayu anak gadis muda ini. Barangkali Omi tertular kejengkelan hati ibunya. Hingga akhirnya Fatmawati memutuskan pindah ke rumah neneknya di Bengkulu, tetapi ia tetap terpengaruh oleh gunjingan.
Pada bulan Agustus 1939 Omi menyelesaikan Sekolah Kejuruan. Diputuskan bisa berlibur beberapa minggu di Bandung bersama Inggit. Sebelum anak angkarnya berangkat, Soekarmo dengan menggoda, apakah ia sadar bahwa guru rumah yang dahulu mengajar di Ende bernama Asmarna Hadi, sedang jatuh cinta kepadanya. Muka Omi memerah karena malu, tetapi tidak terkejut. Si nasionalis muda itu kini telah menjadi pengurus Gerindo. Bakatnya juga menulis puisi. Beberapa karyanya telah muncul di majalah Poedjangga Baroe, menerbirkan beberapa sajak cinta yang isinya terselubung, Ratna menjadi pujaan hati.
Sebulan lamanya Inggit meninggalkan rumah. Kerika ia pulang kembali ke Bengkulu, ia langsung kaget melihat perubahan-perubahan. Ada kursi yang dipindahkan, di dapur panci dan kuali tidak disimpan pada tempatnya. Para pembantu berbisik-bisik. “Sampai hatikah ia berbuat begitu, pada waktu saya tidak ada,” itulah pertanyaan yang timbul mengganggu Inggit.
Di dalam otobiografinya Soekarno menegaskan bahwa perasaannya pada waktu itu hanya cinta seorang ayah kepada anaknya. Soekarno menceritakan bahwa malam hari ia suka mengajak Fatmawati berjalan-jalan di tepi pantai.
Rupanya Inggit sadar bahwa ia menjadi tua dan ada anak perawan yang menerobos masuk ke dalam perkawinannya. Dia muda dan cantik. Ia mengaku bahwa dirinya termakan oleh rasa cemburu. Dua puluh tahun lamanya ia membaktikan dirinya kepada seorang lelaki sejak sebagai seorang mahasiswa yang masih hijau. Waktu ia masih mencari kesempatan untuk membuka isi hatinya kepada Soekarno. Soekarno sendiri yang membuka pembicaraan. Ketika Inggit sedang menjahit, Soekarno yang terbaring di kursi sofa tiba-tiba berkata bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
"Tentang Fatma,bukan?" demikian ia langsung bereaksi.
"Dari mana kau tahu,"Soekarno bertanya heran.
"Dari semua bunga di sini, dari semua daun di pohon," jawabnya.
Seokarno mendambakan anak dari darah daging sendiri. Oleh karena itu, ia ingin mengawini Farmawati tanpa menceraikan Inggit. Pembicaraan ini berkembang menjadi pertengkaran hebat, yang disaksikan oleh Riwu dan Kartika di beranda.
"Saya melihat Inggit lari dari kamar, diikuti Soekarno,” demikian Riwu bercerita.
"Bu Inggit memandang saya sejenak, lalu memeluk Kartika. Matanya basah oleh linangan air mata"
Pertengkaran pertama yang akan diikuti sekian banyak lagi. Keadaan semakin sulit ketika sepupu Soekarno menikah dengan bibi Farmawari.
Soekaro mengimbau dalam bahasa Belanda. Umur saya sudah 40 tahun. Kalau Ratna marah, ia rela dipukul. Ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya anak, seorang putra. Inggit, yang saat itu sudah berumur 53 tidak bisa punya anak. Namun si wanita muda ini lebih membela ibu angkatnya.
Untuk sementara persoalan itu tidak terpecahkan. Namun, bahan pertengkaran antara Soekarno dan Inggit semakin menumpuk. Pada suatu hari Hien dipanggil ke rumah Soekarno. Pasangan suami istri itu ia temui di rumah. Soekarno sedang berusaha menutup pintu dengan sebuah lemari yang ingin dibuka oleh Inggit. Dengan muka pucat Soekarno berteriak kepada Hien, bahwa istrinya menyimpan keris pusaka dengan mata beracun. Inggit mengancam akan membunuhnya, lalu akan bunuh diri.
Hien berhasil melerai, lalu mengajak Soekarno keluar rumah. Soekarno berkata kepadanya bahwa di samping keris itu, Inggit masih menyimpan senjata lain di lemari berupa dokumen-dokumen politik. Soekarno tidak menceritakan isi dokumen-dokumen tadi. Malam hari kalau ia tidak bisa tidur dan melihat suaminya sedang tidur nyenyak, Inggit membangunkannya dan dengan suara penuh sakit hati menuduhnya bahwa dirinya dibuang karena ia sudah tua dan jelek.
Namun, baik perempuan yang tua maupun si gadis sependapat dalam satu hal, bahwa keduanya tidak mau dimadu. Ketika enam bulan berlalu, situasi sudah lain sama sekali. Jepang sedang dalam perjalanan menuju Indonesia.
Fatmawati Meninggalkan Istana
Sikap Soekarno yang mudah jatuh cinta rupanya menjadi bom waktu masalah bagi Fatmawati. Sebagai first lady Indonesia yang pertama mendampingi Soekarno menjadi presiden, kisah cinta ibu negara ini berakhir tidak bahagia. Fatmawati memilih pergi meninggalkan istana merdeka tak lama setelah kelahiran putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra.
Saat itu 13 Januari 1953, anak bungsu Soekarno dan Fatmawati lahir. Proses kelahiran Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra memerlukan banyak perjuangan. Bahkan Fatmawati harus banyak kehabisan darah dan dioperasi. Usai proses persalinan, Dokter menyarankan Fatmawati agar tidak mempunyai anak lagi dengan alasan membahayakan kesehatannya.
Seperti disambar petir yang menggetarkan hati, kabar dari dokter ini dibarengi dengan permintaan Soekarno meminta izin untuk menikah lagi dengan perempuan lain.
"Fat, aku mau minta izinmu, aku akan kawin dengan Hartini," ucap Soekarno yang ditulis Fatmawati.
Fatmawati tidak setuju. Karena sejak awal dinikahi oleh Soekarno, Fatmawati menolak keras poligami. Jika Soekarno berkukuh menikah, Fatmawati minta dipulangkan ke orang tuanya. Namun Soekarno tetap kekeh menikahi Hartini. Pernikahan tersebut ditentang oleh semua organisasi wanita di Indonesia waktu itu.
Hingga pada siang hari di Istana Merdeka, Fatmawati menghampiri Soekarno. Dia berniat pamit meninggalkan istana negara. Soekarno tak mengabulkan keinginan Fatmawati. Karena baginya, istana adalah rumah mereka yang harus ditinggali bersama.
"Di sini bukan rumahku, keadaan kita sekarang sudah lain," ucap Fatmawati yang ditulis dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno.
Ucapan itu ternyata kalimat perpisahan yang dilontarkan Fatmawati. Selepas mengatakan itu, tanpa keributan, Fatmawati mengucap bismilah melangkahkan kaki meninggalkan gerbang istana. Fatmawati pergi meninggalkan istana dan juga anak-anaknya yang lain. Hanya Guruh yang masih bayi yang dibawa ke rumah barunya di jalan Siliwangi, Kebayoran Baru.
Winoto Danuasmoro, sahabat dekat dan juga orang kepercayaan Soekarno menceritakan, setelah kepergian Fatmawati, Soekarno sempat meminta bantuannya untuk membujuk kembali ke istana.
“Bung Karno perlu orang ketiga lantaran Fatmawati tidak mau berbicara lagi dengannya. Namun, bujukan saya yang sudah dianggap kakak sendiri oleh Fatmawati, tak digubris,” cerita Winoto.
Dengan air mata berlinang Fatmawati meminta Winoto ikut mengawasi anak-anaknya dan juga para pengasuh agar tidak kurang apapun. (pul)
Pulung Ciptoaji
08.03.23
Sebutan Nonpri Bagi Warga Keturunan Cina
Abad.id - Ditengah berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955, RRC dan Indonesia membuat Perjanjian Kewarganegaraan Ganda Indonesia-Cina. Perjanjian itu ditandatangani oleh Perdana Menteri dan Menlu Cina Zhou Enlai (Chou En-lai) dan Menlu RI Sunario, 22 April 1955. Setelah dilakukan ratifikasi oleh kedua negara, perjanjian ini berlaku mulai 20 Januari 1960.
PM China Zhou En Lai di KAA Bandung
Latar Belakang
Berdasarkan hasil sensus tahun 1930, etnis Cina di wilayah koloni Hindia Belanda tercatat 1.233.000. Dari populasi ini, hampir dua pertiga lahir di Hindia Belanda. Sisanya, sepertiga, merupakan imigran dari Cina.
Di bawah UU Kewarganegaraan Belanda tahun 1910, etnis Cina yang lahir dari orang tua yang berdomisili di dalam negeri tergolong sebagai penduduk Belanda meski bukan warga negara Belanda, sesuai dengan hukum yang mengikuti prinsip ‘jus soli’, atau hak tanah.
Sedangkan pemerintah Manchu pada era Dinasti Qing pada tanggal 28 Maret 1909 memberlakukan UU Kewarganegaraan berdasarkan prinsip ‘jus sanguinis’. Prinsip ini mengakui bahwa setiap anak berbapak atau beribu Cina secara legal atau tak legal, dimana pun tempat lahirnya, merupakan warga negara Cina. Prinsip ini sebelumnya sudah diterapkan oleh bangsa Tiongkok sehingga warga Tionghoa yang lahir di Hindia Belanda merupakan penduduk Belanda sekaligus Cina.
Etnis Cina memprotes "pemaksaan naturalisasi” berdasarkan UU Kewarganegaraan Belanda itu. Mereka menuntut perlindungan kepada Konsul Cina. Namun demikian, sebagai imbalan adanya perwakilan konsuler di Hindia Belanda, Belanda dan Tiongkok menandatangani Konvensi Konsuler 1911 yang menetapkan yurisdiksi konsul Tiongkok atas orang-orang yang bukan penduduk Belanda saja.
Konvensi itu secara eksplisit tidak menyelesaikan persoalan kewarganegaraan ganda karena catatan yang terlampir di dokumen tersebut menunjukkan bahwa konvensi ini tidak bertujuan menentukan kewarganegaraan. Republik Tiongkok pimpinan Chiang Kai-shek menerapkan ‘jus sanguinis’ melalui undang-undang kewarganegaraan baru pada tahun 1929. Chiang Kai-shek juga menolak menandatangani Konvensi Kewarganegaraan Den Haag 1930, khususnya yang menyatakan bahwa ‘sebuah negara tidak berhak memberikan perlindungan diplomatik kepada salah satu warga negaranya apabila ia juga memiliki kewarganegaraan di negara asalnya’.
Setelah penandatanganan Perjanjian Kewarganegaraan Ganda Indonesia-Cina itu, Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo bertemu dengan mitranya, Zhou Enlai, di Beijing, 3 Juni 1955. Keduanya saling menyerahkan dokumen ratifikasi untuk melengkapi perjanjian. Dokumen ini dibuat terkait dengan rencana pembentukan komite bersama untuk penegakan perjanjian dan diuraikan pada lampiran perjanjian.
Pada saat pengunduran diri 24 Juli 1955, kabinet Ali Sastroamidjojo telah membuat kemajuan terkait dengan perjanjian itu. Kabinet selanjutnya dibentuk oleh koalisi partai-partai yang menentang perjanjian. Pembahasan masalah ini ditunda hingga selesainya pemilu legislatif September 1955.
Maret 1956 Ali Sastroamidjojo kembali sebagai Perdana Menteri. Perjanjian dengan RRC disahkan pada tanggal 3 Juli 1956, kemudian dibuatkan RUU dan diteruskan ke DPR awal Agustus 1956.
Menteri Kehakiman Muljatno mendesak DPR agar segera meratifikasi perjanjian bulan Desember 1956, tetapi pembahasan tidak juga dimulai sampai Maret 1957.
Pengesahan semakin tertunda sampai Kabinet Ali Sastroamidjojo dipaksa mengundurkan diri menyusul pemberontakan di Sumatera. DPR masuk masa reses selama enam minggu, baru April 1957 pembahasan dibuka kembali setelah kabinet baru di bawah Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja.
Kabinet Djuanda menyetujui perjanjian untuk kedua kalinya pada bulan Agustus 1957. Menteri Luar Negeri Subandrio mendesak DPR segera mengagendakan penetapan ratifikasi. DPR melakukan debat akhir mengenai perjanjian itu, 17 Desember 1957. Anggota Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) memberi isyarat untuk menunda pembahasan, tetapi dikalahkan oleh 39-110 suara. Perwakilan dari Masyumi dan PSI meninggalkan ruang sidang, perjanjian itu pun diratifikasi dengan suara bulat dari para delegasi yang tersisa.(mda)
Malika D. Ana
27.02.23
Penulis : Pulung Ciptoaji
abad.id- Sutan Syahrir perdana menteri pertama Indonesia yang memiliki peran cukup besar dalam kemerdekaan Indonesia. Sutan Syahrir, salah satu tokoh pergerakan Indonesia yang mengenyam pendidikan di Eropa memiliki sebuah kisah cinta yang unik. Kisah Syahrir layaknya sebuah cerita roman, tentang cinta buta hingga tragedi yang membuat keduanya terpisah.
Sebenarnya Sutan Syahrir berasal dari prototipe suatu keluarga belanda coklat. Syahrir dilahirkan di Padang Panjang pada 5 Maret 1909. Ayahnya Muhamad Rasad begelar Maharaja Sutan bekerja menjadi jaksa. Rasad ayah Syahrir sangat bahagia, sebab tinggal bersama dari 25 anak dari 3 istri. Saat masa keemasan pernah menjadi kepala jaksa dan dianugrahi tanda jasa sebagai ridder in de orde van oranje nassau. Ketika tinggal di Medan, Syahrir memasuki usia sekolah SD Belanda. Lalu melanjutkan di MULO. Dalam rangka kebutuhan pendidikan, pada tahun 1926 Syahrir dikirim ke Bandung untuk menjasi siswa di sekolah AMS. Sekolah AMS ini favoit dan pendidikan lanjutan bagi lulusan MULO. Lulusannya membuka jalan untuk melanjutkan lebih tinggi di Belanda.
Selama di Bandung, Syahrir muda yang berumur 15 tahun telah aktif di gerakan nasionalis. Di gerakan inilah dia sudah kenal dengan Sukarno di beberapa forum diskusi. Padahal Sukarno sudah menjadi lulus dari mahasiswa, sementara Syahrir masih pemuda yang penuh ambisi. Suatu saat Sukarno menjadi pembicara tamu, sementara Syahrir sebagai moderator. Pertemuan itu ternyata tidak berkesan bagi keduanya, sebab justru menimbulkan perang ide antara pelajar dengan pimpinan PNI yang 8 tahun lebih tua. Sukarno sangat tersinggung saat Syahrir memotong pembicaraan dengan mengetok palu. Saat itu tensi diskusi sedang seru-serunya. Penyebabnya Sukarno dianggap terlalu sering menggunakan kata-kata berbahasa Belanda di tengah forum yang dihadiri kaum pribumi.
Keluarga Syahrir sangat mampu untuk membiayai sekolah lanjutan ke belanda. Pada tahun 1929, Syahrir dikirim ke belanda untuk mengikuti pendidikan universitas. “ Tidak ada yang terasa asing bagi saya waktu tiba di Belanda,” kata Syahrir bercerita tentang perkenalannya dengan negara kincir angin itu.
Syahrir tiba di negeri Belanda di akhir musim panas tahun 1929. Syahrir dijemput keluarga Djoehana, temopat awal menumpang. Namun Dokter Djoehana dan Sjahrizal, kakak perempuan Syahrir, hanya sampai 1931 saja tinggal di Belanda. Begitu diploma diraih suami kakaknya, Syahrir hidup sebatang kara di negeri kincir angin.
Selama di Belanda, Syahrir sempat mendaftarkan diri ke fakultas hukum di Universitas Kotamadya Amsterdam, dan Universitas Negara di Leiden. Dari dua kampus tersebut, belum pernah ada catatan Syahrir berhasil menyelesaikannya. Syarir lebih banyak berkelana di Belanda, dan berdiskusi dari forum ke forum. Pemikiran Syahrir sangat dipengaruhi Marx dan Engels. Juga terdapat guru lain penganut marxis fanatik seperti Rosa Luxemburg, Kautsky serta henriette Roland Hols. Stahrir juga menjadi anggota aktif perkumpulan mahasiswa Indonesia, Perhimpunan Indonesia dibawah ketua Mohammad Hatta. Tidak terlalu lama, Syahrir menjadi sekretaris PI.
Setelah berkelana di Amsterdam untuk beberapa waktu, Syahrir mendapat pemondokan di rumah Sal Tas. Keduanya berkenalan di sebuah Perkumpulan mahasiswa Sosial Demokrasi yang diketuai Sal Tas. Perkumpulan ini agak condong ke SDA, tetapi layaknya perkumpulan mahasiswa jauh lebih radikal daripada partai induknya.
Maria Johanna Duchateau
Saat itu Maria Johanna Duchateau masih sangat cantik. Namun, Maria sudah jadi istri Salomon “Sal” Tas induk semangnya. Untung ada Sal Tas. Anak tukang roti yang gandrung pada sastra, musik, dan politik itu menampung Syahrir muda. “Dengan mudah Syahrir dan Tas berteman dan setelah keluarga Djoehana pergi, Syahrir pindah ke rumah kecil Tas yang tidak jauh dari situ,” tulis Rudolf Mrazek dalam Syahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia.
Rumah itu dihuni Sal Tas, istrinya Maria Johanna Duchateau, serta dua anak mereka, dan seorang perempuan bernama Judith van Wamel. Tentu saja ditambah Syahrir yang menumpang. Keluarga ini sering terlihat bersenang-senang ala mereka, mulai pergi ke rumah makan, teater, konser, juga pertemuan politik.
Namun pada November 1931, Syahrir harus angkat kaki dari Belanda setelah dipecat dari PI. Penyebabnya beberapa mahasiswa anggota PI menganggap syaahrir dan Hatta tidak solidaritas kepada Sukarno yang saat itu sedang mendekaam di penjara sukamiskin. Sebelum pulang, rupanya Syahrir sudah terlalu akrab dengan Maria Johanna Duchateau. Kala itu, Maria dan Tas sedang mengalami masa suram pernikahan. Meski sudah punya dua anak, keduanya tampak asyik dengan dunianya masing-masing.
Maria belakangan bahkan seolah-olah membiarkan Tas berhubungan dengan Judith. Sementara Maria Johanna Duchateau juga terlibat cinta dengan Syahrir. Dua sejoli ini punya panggilan kesayangan. Sidi untuk Syahrir dan Mieske untuk Maria. Sal Tas pun tak ambil pusing atas hubungan istrinya dengan sahabatnya itu.
Bulan Desember 1931, Syahrir sudah tiba di Batavia. Dia lalu jadi Ketua Redaksi Daulat Ra'jat. Syahrir tidak menjadi pengekor gaya kaum pergerakan, baik mereka yang dalam pengawasan maupun pemenjaraan seperti Sukarno. Syahrir sering muncul dengan dandanan bohemian: sarung lecek sebagai bawahan, jas sebagai atasan, juga peci di kepala.
Pertemuan Syahrir dengan Sukarno terjadi di Bandung pada 4 Januari 1932 di rumah Gatot seorang aktifis PNI. Sebenarnya keduanya tidak asing, meskipun Syahrir berusia lebih muda dari Sukarno. Syahrir juga dikenal seorang yang pintar menyimpan perasaan, sehingga saat pertemuan itu, dia lebih banyak diam dan Sukarno lebih dominan berbicara tentang arah perjuangan. Atau mungkin pikiran Syahrir sedang tidak nyaman dan masih terkenang perpisahan dengan kekasihnya Maria Duchateau. Sehingga tidak nyambung arah pembicaraan saat diskusi. “Sukarno sudah bebas dan akan mendirikan partai baru dengan tujuan mempersatukan kelompok PNI lama. Saya sudah berbicara dengannya, ia boleh dikatakan memohon bantuan saya. Walaupun demikian saya belum bisa memberi jawaban yang lugas. Saya nasihati dia untuk mempelajari posisi dan sudut pandang kami, dan setelah itu baru berbicara ke kami,” kata Syahrir tentang apa saja yang dibahas dalam pertemuan dengan Sukarno.
Hasil pertemuan dengan Sukarno tidak ada pembahasan penting yang perlu ditindak lanjuti. Saat itu pikiran Syahrir ingin segera ke edan untuk menjemput kekasih hatinya Maria Duchateau. Dalam surat yang dikirim terakhir, Maria akan datang tanggal 28 Maret 1032 di bersama dua anaknya.
Keduanya benar benar telah membuat sejarah gila. Pertama sebelum meninggalkan Belanda, ternyata Maria belum resmi bercerai dengan Sal Tas. Catatan lain keduanya hendak melakukan kawin campur di era kolonialisme yang rasis. Akhirnya tanggal 10 April 1932 mereka menikah siri di Masjid, dan langsung menjadi pasangan eksentrik di Medan. Mereka tinggal di sebuah rumah di kota Medan, berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Kesawen, atau sekedar berjalan santai bergandengan tangan mesra di Grand Hotel. Aksi itu tentu sangat terlarang bagi pribumi. “Maria berjalan-jalan di kota Medan, berkain sarung dan kebaya, bergandengan tangan dengan suaminya yang orang Indonesia,” tulis Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942.
Pasangan itu bikin gerah orang-orang Eropa rasis di Medan. Orang-orang kulit putih sangat risih, bahkan bertanya ke Maria, barangkali membutuhkan pertolongan. Hal ini menunjukan seolah-olah Syahrir pribumi yang jahat
Pernikahan dua ras yang berbeda itu menjadi perhatian mencolok bagi Belanda. Dengan cepat, berita soal Syahrir bersama Maria tersiar ke kalangan masyarakat Belanda hingga penduduk pribumi. Surat kabar Sumatra Post mengungkapkan bahwa wanita kulit putih yang bergandengan mesra dengan laki-laki pribumi, berjalana keliling kota dengan berlagak. Wanita yang bernama Maria ini sebenarnya masih istri sah dari seorang revolusioner Belanda yang terkenal. Tidak hanya itu media lokal ini juga memuat artikel untuk mendesak pemerintah bertindak terhadap Syahrir dan istrinya.
Kabar hubungan Syahrir dan Maria cepat tersiar dan sangat sinis. Membuat Imam yang mengawinkan mereka langsung menyatakan pernikahan tersebut tidak sah. Sebab Maria belum resmi bercerai dari suami sebelumnya yang berada di Belanda. Sehingga, pernikahan Syahrir dengan Maria hanya berjalan satu bulan.
Atas keputusan itu, pejabat Belanda memulangkan paksa Maria dan dua anaknya kembali ke kampung halamannya menggunakan kapal SS Marnix dari St Aldegonde. Maria pulang ke Belanda dalam keadaan hamil, namun akhirnya mengalami keguguran pada 14 Mei 1932. Peristiwa ini juga dijadikan peringatan penting dari pemerintah Belanda kepada aktivis pergerakan lainnya.
Setelah dipulangkan ke Belanda, Maria terus mencari akal untuk bisa kembali bertemu sang suami. Maria kirim surat kepada Ratu Belanda untuk bisa membawa kembali Syahrir, dengan alasan melanjutkan studi di Belanda. Namun permintaan itu ditolak. Hingga pada tahun 1934, pemerintah Belanda meringkus puluhan anggota PNI, tak terkecuali Bung Hatta dan Syahrir.
Syahrir ditangkap saat hendak bertolak ke Belanda menyusul Maria. Ikut pula diamankan sebuah tiket kapal SS Aramis yang sudah dipesannya jauh-jauh hari. Pertemuan dengan Maria kembali gagal karena Syahrir harus mendekam di balik jeruji penjara Cipinang. Selama masa tahanan, Syahrir ternyata dikenal orang yang tidak tahan kesendirian. Ia selalu berkiirm surat kepada orang yang dikasihinya, sebagai cara mengusir depresi kesendirian. Apa pun diceritakan Syahrir kepada Maria dalam bahasa Belanda, mulai ukuran sel tahanannya hingga makanan di penjara.
"Makin lama aku makin banyak melupakan apakah selera dan perangsang itu. Aku kini menganggap makan sebagai kewajiban, dan dengan demikian rasa kenyang beralih dari makan ke arah yang dimakan, kira-kira cara yang sama degan orang yag merasa puas menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kepuasan rohain dari jiwa lebih banyak daripada kepuasan hawa nafsu perut jadi kepuasan dengan spiritualital 'yang lebih tinggi'. Kamu dapat melihat apa yang ditekan jika makan memakai semangkok dari kaleng," tulis Syahrir dalam suratnya untuk Maria.
Akhirnya tanggal 16 November 1934, pemerinah Hindia belanda memutuskan lima pimpinan PNI diasingkan ke Boven Digul yang sangat terpencil. Bung Hatta dan Syahrir turut di dalamnya. Meskipun mereka menganggap pengasingan itu sebagai sebuah tamasya yang tak jelas kapan selesainya.
Akhir babak hubungan jarak jauh Syahrir dan Maria meskipun rajin bersurat mulai retak. Syahrir di Indonesia timur dan Maria di Belanda. Surat-menyurat itu sempat terputus oleh Perang Dunia II. Ketika Depresi Ekonomi eropa dampak perang terjadi, Sjahsam, salah seorang adik Syahrir dengan usia dua tahun lebih muda, diminta untuk membantu Maria dan anak-anaknya.
Kisah perjalanan mereka menuju Boven Digul yang saat itu ditakuti karena wabah malaria yang mematikan diceritakan Syahrir kepada Maria dengan pandangan optimis. Dia juga menceritakan buku-buku bacaanya selama menjadi tahanan yakni kitab Injil hingga novel. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik.
Dia pun bercerita soal interaksinya dengan "orang buangan" lain di Digoel yang tidak terpelajar. Selama di sana, tingkah laku Syahrir dianggap cukup aneh. Syahrir lebih senang berkelana melalui perahu kano menyusuri Sungai Digoel, berenang, hingga bermain bola. Syahrir juga dikenal sebagai "pengelana jenaka". Selama berada di pengasingan, Syahrir seolah-olah melepaskan diri dari dunia politik. Hal ini berbeda dengan rekannya, Bung Hatta yang masih aktif mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar.
Setelah ditelusuri, ternyata Syahrir membuat kesepakatan dengan Belanda untuk tidak menuliskan atau pun terlibat dalam pergerakan politik apa pun. Dengan catatan Syahrir akan mendapat tambahan uang dari Belanda untuk biaya korespondensi dengan Maria dari yang semula 2,6 gulden menjadi 7,5 gulden. Sebab bagi Syahrir, Maria adalah penyemangat hidupnya.
Ketika Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman, seluruh korespondensi terputus. Ternyata mulai dari 1931-1940, Maria menerima 287 surat dengan panjang antara 4-7 halaman dari Syahrir. Maria sempat berpikir untuk membakarnya namun dicegah suaminya yang juga adik Syahrir, Sutan Sjahsyam. Diputuskan surat surat itu akan dibukukan dengan judul Indonesische Overpeinzingen, dan diterbitkan di Amsterdam pada 1945.
Syahrir baru bertemu Maria setelah 15 tahun kemudian, yaitu pada 1947 di New Delhi. Kala itu Syahrir sudah menjadi Perdana Menteri Indonesia dan berkunjung ke India bersama rombongan. Ketika bertemu di bandara, Syahrir sempat mencium pipi kanan dan pipi kiri Maria. Tapi, menurut Maria Duchateau, merasakan Syahrir sudah berubah. Mungkin disebabkan Syahrir telah menjadi negarawan, atau sikap canggung karena sedang punya hubungan dekat dengan Popy sekretarisnya. (pul)
Pulung Ciptoaji
02.01.23
Ahli Strategi Perang Yang Dilupakan
Abad.id - Banyak orang yang mengenal Sun zu adalah ahli strategi perang China kuno yang legendaris. Kita juga mengenal Jendral Besar AH. Nasution sebagai peletak dasar strategi perang gerilya di Indonesia.
Tetapi kita juga memiliki ahli strategi perang yang sangat ulung, sehingga dalam 250 pertempuran tidak pernah terkalahkan. Beliau lebih dikenal sebagai pahlawan nasional ketimbang sebagai ahli strategi perang. Semua catatatanya tentang berbagai pertempuran yang dilakukannya dituangkan dalam tulisannya yaitu Babad Lelampahan.
Raden Mas Said, yang terkenal sebagai Pangeran Sambernyowo lahir di Kartosuro tanggal 7 April 1725 dan wafat di Surakarta pada tanggal 28 Desember 1795 dalam usia 70 tahun. Beliau adalah putra dari KPA Aryo Mangkunegoro, putra sulung dari Amangkurat IV (Pakubuwono I). Karena perlawanannya terhadap Belanda, Aryo Mangkunegoro diasingkan oleh Belanda ke Srilangka dan kemudian dipindahkan ke Tanjung Harapan.
Astana Mangadeg, tempat peristirahatan terakhir Pangeran Sambernyowo atau Aryo Mangkunegoro
Aryo Mangkunegoro adalah pewaris sah yang harus menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja Mataram. Tetapi karena campur tangan Belanda, justru adiknya yang bernama Raden Mas Probosuyoso yang pada waktu itu masih berusia 15 tahun diangkat menjadi raja menggantikan Pakubuwono I sebagai Raja Mataram dan bergelar Pakubuwono II.
Karena kesewenang-wenangan Ini, akhirnya Raden Mas Said melakukan perlawanan terhadap Belanda dan Pakubuwono II, kemudian Pakubuwono III. Selepas Perjanjian Giyanti, karena dianggap bekerja sama dengan Belanda, beliau juga bermusuhan dengan Hamengkubuwono I.
250 Pertempuran Tanpa Pernah Kalah
Raden Mas Said melakukan perlawanan terhadap Belanda dan sekutunya selama 16 tahun (1740 – 1757) sejak beliau berusia 15 tahun. Selama perlawanannya itu, Pangeran Sambernyowo telah mengalami 250 kali pertempuran tanpa pernah kalah.
Karena kehebatan pasukannya yang banyak menimbulkan bencana bagi musuh musuhnya itu, beliau mendapat julukan sebagai Pangeran Sambernyowo. Julukan ini justru berasal dari lawannya yaitu Gubernur VOC pada waktu itu Nicolaas Hartingh.
Strategi Perang Raden Mas Said
Untuk memperkuat persatuan dan semangat juang pasukannya, Raden Mas Said menggunakan semboyan Tiji Tibeh yang berarti mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh ( Mati satu mati semua, sejahtera satu sejahtera mulia semua). Doktrin ini membuat pasukannya sangat solid dan berani mati karena merasa satu tujuan dan satu perjuangan.
Dengan semboyan Tiji Tibeh dan didukung oleh semboyan Tri Darma, Pasukannya yang jumlahnya relatif kecil berkembang menjadi pasukan yang memiliki daya tempur tinggi dan pantang menyerah. Semboyan Tri Darma yang diajarkannya adalah :
1. Rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki)
2. Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela/mempertahankan)
3. Mulat sariro hangroso wani ( Mawas diri dan berani mengakui apa yang ada dalam dirinya sendiri, bahwa yang salah itu salah dan yang benar itu benar, implikasinya adalah selalu melakukan perbaikan secara terus menerus).
Untuk memberikan semangat dan kebanggaan terhadap pasukan elitnya, mereka diberi nama khusus di depan namanya yaitu Joyo, seperti Joyosantiko, Joyorencono, Joyopustito dan lain lain.
Setiap hari dilakukan latihan perang meliputi cara menyerang, menangkis, membela diri dan manuver. Selain itu mereka juga digembleng dengan latihan mental, keberanian dan kegigihan dengan cara menyepi di tempat tempat yang gawat dan keramat, berendam di sendang atau lubuk yang angker. Selain tirakat untuk melatih pengendalian diri, mereka juga ditanamkan keimanan oleh para kyai.
Latihan manuver yang intensif membuat pasukan Raden Mas Said memiliki kemampuan untuk mundur, menyerang dari kiri, kanan, depan dan dari belakang musuh secara mendadak. Salah satu strategi dan manuvernya yang mematikan adalah kemampuan untuk menyerang dengan cepat dengan cara berputar putar, kemudian menyerang dengan mendadak ke segala penjuru di mana posisi lawan dalam kondisi lemah. Kemampuan manuver yang hebat ini tentu hanya dimiliki oleh pasukan tempur yang bermoral dan memiliki disiplin yang sangat tinggi.
Pasukan Sambernyowo memang sangat kecil jumlahnya tetapi sangat terlatih. Mereka sangat ahli dalam menggunakan senjata, baik yang panjang maupun pendek, pistol, tombak, panah maupun keris. Mereka juga mahir dalam menggunakan senjata dalam pertempuran di atas punggung kuda.
Strategi Gerilya
Pangeran Sambernyowo adalah salah satu pemimimpin pasukan yang meletakkan strategi perang gerilya sebagai dasar pertempurannya. Ada 3 strategi andalannya dalam perang gerilya, yaitu Jejemblungan, dhedhemitan, dan weweludan.
Jejemblungan dari kata jemblung, atau gila. Ini adalah strategi berani mati yang membuat pasukannya tidak mengenal takut ketika berhadapan dengan musuh.
Dhedhemitan dari kata dhemit atau hantu, menjadikan pasukannya tidak mudah dikenali musuh.
Weweludan adalah strategi untuk menjadikan pasukannya licin, dengan kecepatan dan penempatan pasukan yang membuat musuh kesulitan menyergapnya. Mereka diberi kemampuan untuk melakukan kamuflase dengan menyamar sebagai musuh, sehingga dengan mudah bisa melalukan sabotase terhadap kekuatan lawan.
Dengan strategi gerilya ini pasukan diperintahkan untuk menghindari papagan (berhadapan langsung dengan musuh), apabila tidak memungkinkan untuk menang. Dengan jumlah yang lebih kecil dari pasukan musuh, pasukan harus melakukan manuver sedemikian rupa agar bisa membenturkan kekuatan tempurnya dengan kelemahan musuh.
Pembagian Pasukan/Divisi
Selain strategi gerilya, pasukan Raden Mas Said juga memiliki organisasi yang cukup baik. Mereka dibagi menjadi 3 matra, yaitu matra laut, matra darat dan matra gunung. Setiap matra dipilih pasukan dari penduduk asli yang sangat menguasai wilayahnya. Hal ini menjadikan pasukan menjadi hebat karena menguasai medan dalam setiap pertempurannya.
Pasukannya begitu terlatih untuk menaiki kuda dari gunung ke gunung, memasuki lembah bahkan menyeberang sungai. Mereka begitu mengenali medan sehingga bisa memanfaatkan tanaman tanaman yang bisa dimakan di medan apapun, bahkan di hutan sekalipun. Kemampuan ini membuat pasukannya tidak mengenal kelaparan.
Dalam setiap wilayah yang diduduki, diangkatlah pejabat yang bisa dipercaya dalam menyediakan logistik untuk keperluan perang. Kekuatan logistik adalah kekuatan yang sangat vital dalam menghadapi pertempuran. Selain itu dukungan dari rakyat membuatnya leluasa bergerak dan tidak kekurangan bahan makanan.
Pertempuran Ksatrian Ponorogo
Dalam buku harian mangkunegaran disebutkan bahwa pertempuran besar pertama Raden mas Said adalah melawan pasukan Mangkubumi (Sultan Hamengkubuono I) di Desa Ksatrian Ponorogo Jawa Timur Pada tahun 1752. Ksatrian adalah benteng pertahanan Raden Mas Said, sehingga Pangeran Mangkubumi mengirimkan pasukan yang luar biasa banyak.
Banyaknya pasukan dari yogyakarta ini digambarkan bagikan barisan semut yang tiada putus (Babad Lelampahan Karya Raden Mas Said). Sedangkan pasukan Mangkunegoro jumlahnya sangat kecil. Dalam pertempuran ini Pasukan Mangkunegoro berhasil menewaskan 600 pasukan musuh, sedangkan di pihaknya ada 3 orang yang gugur dan 29 luka luka.
Pertempuran Sitokepyak Rembang
Pertempuran ke dua adalah pertempuran di Hutan Sitokepyak Rembang pada tahun 1756. Dalam pertempuran ini Raden Mas Said dikepung oleh pasukan gabungan berjumlah 1000 orang terdiri dari dua detasemen pasukan Belanda yang berjumlah 200 orang, 400 pasukan Bugis dan 400 pasukan Kesultanan Yogyakarta.
Pertempuran di Desa Sitokepyak adalah peryempuran yang paling berat bagi Raden Mas Said. Karena Jumlahnya yang sangat kecil, pertempuran yang terjadi sampai 7 kali kali ini membuat pasukan Raden Mas Said kocar-kacir bagaikan terserang air bah yang sangat besar.
Tetapi dengan kehebatannya sebagai pemimpin pasukan, beliau berhasil membangkitkan semangat pasukannya.
Terinspirasi oleh cara memakan bubur katul yang panas (dimakan dari pinggir, melingkar, akhirnya menuju ke tengah. Karena bagian pinggir biasanya sudah adem, dan ketika sampai tengah, bubur itu juga sudah cukup dingin untuk dimakan) pasukannya membuat manuver dengan cara menyerang musuh melingkar dari tepi.
Kemudian dengan kecerdikannya Pangeran Sambernyowo berhasil menerobos pusat pertahanan musuh dan memenggal kepala komandan pasukan Belanda Kapten Van Der pol dengan tangan kirinya.
Pemimpin pangeran Van Der Pol tewas, sisa pasukannya lari tunggang langgang. Hanya karena pertolongan Allah lah Pangeran Adipati dapat memenangkan pertempuran. Pasukan musuh yang melarikan diri tidak dikejarnya. “Pengenge Kapitan Der Pol wus pejah, sasisane ingkang mati, Kumpeni lumejar, Kanjeng Pangeran Dipatyo, entuk pitulungan widhi, saboloniro, datan bujung ing jurit” (Babad Lelampahan, Durmo 73;321).
Jumlah tentara belanda yang tewas sebanyak 85 orang, sedang di pihak Pangeran Samber Nyowo 15 orang meninggal. 15 orang bukan jumlah yang kecil bagi Raden Mas Said, karena jumlah pasukannya sangat kecil.
Itulah sebabnya pertempuran di hutan Sitokepyak dianggap pertempuran yang paling berat, tetapi dengan pampasan perang yang sangat besar. Hal ini terjadi karena musuh tidak terkendali dan melarikan diri karena terbunuhnya Kapten Van Der Pol.
Pampasan perang terrdiri dari 120 ekor kuda, 140 pedang, 80 karabin kecil, 80 karabin panjang, 120 pistol dan pealatan perang lainnya. Semuanya dihibahkan kepada prajuritnya (Babad Lelampahan, Durmo, 77-80; 322).**
Malika D. Ana
04.07.23
Abad.id Seorang pria paruh baya lunglai setelah dihujani peluru. Tak lama setelahnya, dia menghembuskan nafas terakhirnya. Peluru-peluru tersebut telah mengakhiri kisah perjuangannya melawan kapitalis.
Tepat 9 Oktober 1967, Che Guevara tewas setelah peluru menghujam tubuhnya. Tokoh revolusioner ini meninggal dunia oleh hukuman tembak setelah sehari sebelumnya ditangkap tentara Bolivia.
Sejak itu nama Che Guevara terus terkenang hingga kini. Sebagian orang mengingatnya sebagai pemberontak, namun sebagian besar lainnya menganggapnya sebagai pahlawan. Kisah perjuangannya akan selaku dikenang.
Che Guevara akan selalu dianggap sebagai pejuang revolusi Marxis di Argentina. Lelaki ini terlahir pada 14 Juni 1928 dengan nama Ernesto Guevara Lynch de La Serna. Dia lahir di Rosario, kota terbesar di provinsi Santa Fe, di pusat Argentina (300 km barat laut dari Buenos Aires).
Sejak usia dua tahun, anak dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol menderita penyakit asma akut. Kondisi kesehatan Che yang demikian membuat orangtuanya mencari daerah yang lebih kering. Mereka ingin Che sehat dan daerah yang dipilihnya adalah Alta Gracia (Córdoba). Sayangnya kesehatan Che tak mengalami perubahan yang berarti.
Che lahir dari keluarga kaya, awalnya ia tak berminat di bidang politik, seluruh pikirannya hanya terpusat pada penyakitnya ‘asma’. Ia sangat tersiksa dengan penyakitnya ini, ia terus mencari tahu informasi tentang penyembuhan penyakitnya.
Hobi membacanya tumbuh karena ibunya Celia de la Serna, amat berminat di bidang sastra, ia ingin anaknya menyukai membaca, Celia tak hanya mengajari anaknya tentang huruf, ia mengajari kosa kata yang hidup, dari ibunya-lah pertama kali Che, mengenali bahwa ‘dibalik aksara’ ada kehidupan.
Karena itulah ia banyak membaca literatur tokoh dunia di perpustakaannya. Di umur 12 tahun ia suka sekali berkutat di ruang perpustakaan ayahnya. Dan ada satu buku yang amat menarik, sebuah buku berbahasa Spanyol terjemahan dari bahasa Jerman. Judulnya ‘Das Kapital’ karangan Karl Marx.
Ia menggeluti buku ini, ia mendefinisikan kemanusiaan, ia mendefinisikan bagaimana komoditi kemudian berkembang bukan sebagai ‘alat yang memudahkan manusia’ tapi sebagai alat penindasan–manusia terasingkan oleh kehidupannya.
Minat baca yang demikian tinggi telah menjadikannya seorang pemuda yang cerdas dan mengetahui tokoh-tokoh revolusioner dunia seperti Karl Marx, Engels, dan Sigmund Freud.
Untuk melanjutkan tingkat pendidikan dasarnya, Che kemudian dimasukan ke sekolah menengah pertama Colegio Nacional Deán Funes di Cordoba (1941). Di sekolah ini mendapat predikat terbaik untuk bidang sastra dan olahraga.
Terjunnya Che ke kancah perjuangan rakyat berawal saat dirinya melihat para pengungsi perang sipil Spanyol akibat rentetan krisis politik di Argentina. Krisis yang kemudian semakin memuncak di bawah pemerintahan diktator fasis Juan Peron.
Kondisi ini membuat hati Che tergerak untuk melakukan perlawanan. Terlebih, Juan Peron merupakan pemimpin yang paling ditentangnya.
Sebagai wujud perlawanan pertamanya terhadap pemerintah fasis, Che mengangkatnya dalam sebuah karya sastra, pantomin.
Dia menuangkan kebencian akan politisi militer dan kaum kapitalis di sebuah pertunjukan pantomin Demokrasi di parlemen.
Namun, Che masih terlalu muda untuk terjun langsung ke dunia politik dan memimpin rekan-rekannya untuk melawan kapitalisme. Karenanya Che muda tidak bergabung dalam gerakan pelajar revolusioner.
Minat politiknya saat itu masih sangat sedikit. Dan itu dipelajarinya saat dia menuntut ilmu kedokteran di Universitas Buenos Aires, (1947).
Che memilih dunia kedokteran karena ingin mempelajari penyakit yang dideritanya sejak kecil. Namun, sayangnya dia justru tertarik pada penyakit kusta.
Perjalanan ke Beberapa Negara
Usianya telah memasuki 21 tahun. Che muda memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang menjelajahi Argentina Utara pada 1949. Dengan menggunakan sepeda motor, Che mulai menelusuri desa-desa dan kota-kota terpencil dan terpelosok di Argentina Utara.
Ia mengajak kawannya Alberto Granado keliling Argentina. Semua hutan dimasukinya, melewati sungai, melihat perkampungan-perkampungan yang tak terlihat dengan motornya. Ia menaiki rakit dan berjalan terus menantang sinar matahari, dan tangannya mencoba meraih bulan di angkasa, hatinya penuh, ia bergembira sekaligus bertanya ‘kemanusiaan, kemanusiaan…’.
Ya, Che, menemukan kebahagiaan di atas tunggangannya, kuda besi dan dengan buku berlapis kulit ia mencatat seluruh yang ia lihat, orang miskin, para Indian yang terpinggirkan, mereka yang terlupakan, mereka yang harus berkutat dengan kehidupan, seluruh dari mereka yang tak bebas dan harus dibebaskan.
Dari situlah Che menyadari betapa sulitnya hidup di negara yang dipimpin oleh kaum kapitalis. Dalam perjalanannya, Che bersentuhan langsung dengan orang miskin dan sisa suku Indian.
Pengalaman dan pemikirannya dalam dunia politik mulai berkembang. Setelah menempuh ujian pertengahan semester, Che melanjutkan perjalanan panjangnya menjelajah Argentina dan beberapa negara Amerika Selatan lainnya pada 1951. Pada perjalanan keduanya, Che bersama seorang teman.
Dalam perjalanannya tersebut, dia bertemu dengan Salvador Allende saat berada di Chili dan di Peru. Dia bekerja sama selama beberapa minggu di Leprasorium San Pablo. Kala berada di Kolombia, Che dapat merasakan bagaimana hebatnya La Violencia (perang sipil) yang terjadi pada 1948-1958.
Che Guevara dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Foto: ist
Namun kala berada di Venezuela, dia ditangkap tetapi dilepaskan kembali. Setelah itu dia mengunjungi Miami.
Kisah perjalanan Che ini kemudian diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul The Motorcycle Diaries, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 1996 dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama pada 2004.
Setelah melakukan perjalanan panjang, Che kembali ke daerah asalnya.Namun, kehidupannya sebagai spesialis penyakit kulit tak membuatnya bahagia. Saat berada dalam masa revolusi nasional, Che kemudian pergi ke La Paz, Bolivia. Namun, dia justru dituduh sebagai seorang oportunis.
Tak berlama-lama berada di Bolivia, Che kemudian melanjutkan perjalanannya ke Guatemala. Kala itu Guatemala dipimpin oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang merupakan seorang sosialis. Meski sepaham, Che tidak serta merta bergabung dengan Partai Komunis pimpinan Jacobo. Karena itulah dia ditolak untuk menjadi tenaga medis pemerintah.
Che pun kemudian terpuruk dalam kemiskinan. Untuk mnyambung hidupnya dia memilih bertahan hidup dengan menjadi seorang penulis arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca.
Yakin Revolusi Menang
Guatemala menjadi awal perjalanan karirnya di dunia politik. Selama berada di Guatemala dan menjadi penulis arkeologi, Che lalu berkenalan dengan Hilda Gadea, penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik. Bahkan mereka pun tinggal bersama.
Perjalanan politiknya dimulai. Kepada Che, Hilda kemudian mengenalkannya dengan Nico Lopez, salah satu Letnan Fidel Castro. Che lantas banyak belajar tentang revolusi. Dia melihat dan memperhatikan cara kerja CIA sebagai agen kontrarevolusi.
Dari situlah keyakinannya akan kemenangan sebuah revolusi harus dilakukan dengan jaminan persenjataan.
Perjalanan politiknya di Guatemala berakhir, ketika Presiden Arbenz turun jabatan, Che lantas hijrah ke Kota Meksiko (September 1954) dan bekerja di rumah sakit umum. Demikian pula dengan Hilda Gadea dan Nico Lopez yang mengikuti Che ke Meksiko.
Rupanya Meksiko membawa perubahan besar dalam perjalanan hidup dari karir politiknya. Che bertemu dengan tokoh revolusioner Raul Castro dan Fidel Castro.
Che yakin Fidel Castro adalah sosok pemimpin yang patut diikutinya. Che pun memutuskan bergabung dengan pengikut Castro.
Bersama pengikut lainnya, dia dilatih perang gerilya oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo. Alberto Bayo juga merupakan seorang penulis buku Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959.
Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong. Kecerdasan Che membuat Bayo kagum dan menjadikannya murid kesayangan. Che pun ditunjuk sebagai pemimpin.
Pada Juni 1956, Che dan pasukannya menyerbu Kuba. Dalam penyerbuan Che diangkat menjadi komandan tentara revolusioner Barbutos.
Kepemimpinan Che semakin disegani. Che dinilai sebagai seorang pemimpin yang berdisiplin tinggi. Dia kerap menembak mati anggotanya yang ceroboh dan bisa membahayakan perjuangan demi melawan presiden Batista.
Revolusi pun dimenangkan. Che pun mendapat penghargaan sebagai orang kedua di bawah Fidel Castro untuk memimpin Kuba. Dalam pemerintahan ini, Che bertanggung jawab menggiring Castro ke komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks.
Dalam perjalanannya menuju komunisme merdeka, Che memimpin Instituto Nacional de la Forma Agraria dan kemudian menyusun hukum agraria.
Dalam hukum agraria besutan Che, pemerintah menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah), mendirikan Departemen Industri dan ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional Kuba dan menggusur orang orang komunis dari pemerintahan serta pos-pos strategis.
Ia bertindak keras melawan dua ekonom Perancis yang beraliran Marxis yang dimintai nasehatnya oleh Fidel Castro dan yang menginginkan Che bertindak lebih perlahan. Che pula yang melawan para penasihat Uni Soviet.
Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.
Che dan Indonesia
Setelah menjadi salah satu pemimpin di Kuba, Che melepas lanjang. Dia mempersunting Aledia March pada 1959. Tiga bulan setelah itu atau tepatnya 12 Juni 1959, Castro mengutusnya untuk mengunjungi 14 negara Asia.
Negara-negara yang dikunjungi kebanyakan peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Salah satunya Indonesia.
Che berkunjung ke Jakarta dan menyempatkan diri ke Borobudur. Aksi kunjungan Che dibalas oleh Soekarno. Presiden pertama Indonesia itu melakukan kunjungan balasan ke Kuba setahun kemudian atau tepatnya 13 Mei 1960.
Che Guevara bersama idolanya Bung Karno. Foto: ist
Setibanya di Bandara Jose Marti, Havana, Soekarno disambut oleh Presiden Kuba Fidel Castro dan Che Guevara.
Usai mengunjungi 14 negara Asia, Che diangkat menjadi Menteri Perindustrian. Setelah menjabat, pada Februari 1960, Che menandatangani pakta perdagangan dengan Uni Soviet dan melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika.
Che yakin perjuangannya akan membawa keberhasilan bagi revolusi Kuba. “Tidaklah penting menunggu sampai kondisi yang memungkinkan sebuah revolusi terwujud sebab fokus instruksional dapat mewujudkannya,” ucap Che sesuai dengan ajaran Mao Ze Dong.
Che percaya daerah pasti membawa revolusi ke kota yang sebagian besar penduduknya adalah petani.
Namun, aksinya itu justru mendatangkan petaka. Pada acara Solidaritas Asia-Afrika di Aljazair (Februari 1965), Che menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme. Ia juga menyerang pemerintahan Soviet atas kebijakan hidup bertetangga dan juga atas Revisionisme.
Sebagai wujud pertentangannya dengan Uni Soviet, Che mengadakan konferensi Tiga Benua. Tujuannya konferensi tersebut adalah merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan.
Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada negara kapitalis mendorong negara-negara komunis meminta Castro memberhentikan Che. Akhirnya pada 1965, Che diberhentikan.
Che pun terbang ke Kongo, Afrika. Namun dia dikabarkan telah tewas. Target Che di Kongo adalah mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. Untuk menerapkan taktiknya dia mengirim 120 orang Kuba ke Kongo.
Sayangnya, niatnya tak semulus kenyataan. Che dan pasukannya gagal di Kongo. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia. Che pun pada 1965, meminta Castro untuk menarik mundur bantuan dari Kuba.
Penghargaan Melawan Kapitalisme
Perjalanan panjang Che Guevara berakhir pada 9 Oktober 1967. Dia bergerilya ke Bolivia. Namun malang, Che ditangkap oleh tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967. Sehari setelah penangkapan, Che mendapat hukuman tembak.
Berita kematian Che pun lantas tersebar. Berbagai penghormatan atas kegigihannya melawan kapitalisme mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.
Berbagai tokoh sastra, musik dan seni telah mempersembahkan komposisinya kepada Che Guevara. Penyair Chili Pablo Neruda mempersembahkan kepadanya puisi Tristeza en la Muerte de unHéroe (Kesedihan karena kematian seorang pahlawan) dalam karyanya Fin del Mundo (Akhir dunia) pada 1969.
Pengarang Uruguay, Mario Benedetti menerbitkan pada 1967 serangkaian puisi yang dipersembahkan kepadanya dengan judul A Ras del Sueño (Pada tingkat impian). Penyanyi Carlos Puebla mempersembahkan sebuah lagu Hasta Siempre Comandante Che Guevara (Untuk selamanya komandan Che Guevara) dan Los Fabulosos Cadillacs, Gallo Rojo (Ayam jantan merah), yang muncul dalam album El León (Singa) pada 1991.
Pada 12 Juli 1997, jenazahnya dikuburkan kembali dengan upacara kemiliteran di Santa Clara di provinsi Las Villas, di mana Guevara mengalami kemenangan dalam pertempuran ketika revolusi Kuba.
Che menjadi legenda. Ia dikenang karena kehebatannya dalam memimpin sebuah revolusi. Ia juga idola para pejuang revolusi dan bahkan kaum muda generasi 1960-1970 atas tindakan revolusi yang berani yang tampak oleh jutaan orang muda sebagai satu-satunya harapan dalam perombakan lingkup borjuis kapitalisme, industri dan komunisme.
Che, bukanlah pemimpin yang senang hidup nyaman, ia berjuang hanya karena “harus” berjuang. Ia melihat bagian dunia lain masih sengsara, ia ingin membebaskan dunia, tapi kadang-kadang manusia punya kenaifannya, mungkin di Kuba Revolusi menemukan momentum-nya, tapi tidak di dunia lain.
Che gagal di Kongo, Afrika begitu juga saat ia memasuki Bolivia, Che ditangkap tentara pemerintah Bolivia, ia mati dengan kepala ditembusi peluru, peluru penindasan……
Itulah Che, seorang pejuang abadi, seorang yang menolak kemapanan, memilih revolusi angkat bersenjata sebagai jalan hidupnya, seorang yang berkata kepada isterinya,
“Kuberikan kebebasanku pada dunia, tapi aku tak bisa membebaskan dunia, aku mencintaimu sekali lagi mencintaimu”.
Dan seorang bapak yang amat mencintai anaknya seperti surat yang ia kirimkan kepada anak sulungnya Hildita, di hari ulangtahun Hildita :
Anakku, kau musti berjuang menjadi yang terbaik di sekolah, terbaik dalam setiap pengertian, dan kau akan mengetahuinya kelak: belajar dan bersikaplah revolusioner.
Apa itu sikap revolusioner? Sikap itu adalah kelakuanmu yang baik, cintamu yang tulus pada revolusi, pada persamaan manusia, persaudaraan.
Aku sendiri tidak bersikap demikian disaat usiaku sama denganmu, aku hidup dalam masyarakat yang berbeda, masyarakat yang kolot dan berpaham sempit, ‘dimana manusia menjadi ancaman bagi manusia lainnya’. Tapi kau nak, hidup dalam masa yang indah, memiliki kemudahan hidup di jaman yang lain dari jaman bapak-mu, kau harus bersyukur soal itu.
Bermainlah dalam dunia kanak-kanakmu, bermainlah ke rumah tetanggamu untuk menyapa mereka dan ceritakan pada mereka bagaimana kelakuan baik seharusnya dijalankan. Dekati adikmu Aleidita, ajarkan bagaimana bertindak baik, yang butuh perhatian besar darimu, sebagai anak tertua.
Oke, Tuan Putri……Sekali lagi aku berharap hatimu mekar berbahagia di hari ulang tahunmu ini, Peluk mesra untuk ibumu dan Gina. Aku memelukmu, memeluk dengan keabadian, memeluk sebagai rasa cinta bapak kepada anaknya hingga akhirnya kita berpisah. Papamu, Che Guevara.@dbs/nov
Author Abad
09.02.23
abad.id- Pukul 04.30 pagi Hatta sudah bangun. Selama di Boven Digul, dua kali Hatta diserang sakit malaria. Biasanya butuh 5 hari baru sembuh dari serangan malaria. Apabila mendapat serangan itu, Hatta segera ke rumah sakit untuk memperoleh obat. Resepnya harus menelan pil kinine 6 biji sehari, diminum tiga kali.
Buku-buku yang ikut dalam rombongan pembuangan, ternyata sangat bermanfaat untuk bahan bacaan. Buku itu kebanyakan dalam bahasa Belanda, dan jarang ditentukan. Di tempat pembuangan Hatta masih memberi waktu luang untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak muda seperti Boerhanuddin, Bondan, dan Suka, tentang ekonomi dan sekali tentang filosofi. Mereka sesama orang buangan di Digul yang berperkara politik. Biasanya pelajaran diberikan Hatta antara pukul 10.00 dan pukul 11.00. Pada malam hari sesudah makan, banyak kawan yang lama dan baru, datang ke rumah Hatta.
Hidup Hatta selama di Boven Digul sangat teratur, terpenting adalah menjaga kesehatan. Berhubung dengan itu Hatta membiasakan tidur malam mulai pukul 22.00. Di atas tempat tidur sudah disediakan pelindung kelambu dari nyamuk malaria.
Nyaris tidakada kegiatan penting sejak Hatta di Digul. Setelah bangun Sholat Subuh di atas tempat tidur saja. Kebetulan letak tempat tidur sesuai dengan kiblat. Dilanjutkan mandi. Kemudian dilanjutkan persiapan sarapan. Masak air panas dan merebus telur di dapur. Makan pagi dibiasakan pukul 07.00 pagi dan dilanjutkan semangkuk dua mangkuk kopi. Pukul 07.30 Hatta mulai jalan-jalan lewat Kampung A dan keliling Kampung B. Semuanya itu makan waktu setengah jam atau 40 menit.
Sesudah kembali di rumah, Hatta mulai belajar dan membaca buku-buku filosofi. Jika pejuang lain menganggap pembuangan ini sebagai jalan hidup bahkan akdir, namun tidak bagi Hatta. Pembuangan di Digul justru sebagai awal untuk koreksi dan penguatan keilmuan. Hatta semakin sering membaca dari buku Wilhelm Windelband, Präludien, jilid I dan II. Serta bukunya Lehrbuch der Geschichte der Philosophie beserta Heinrich Rickert, Der Grenzen der naturwissen-schafilichen begrifsbildung. Biasanya Hatta belajar pagi sampai pukul 11.00 atau 11.30. Sesudah itu Hatta bekerja di dapur, menanak nasi dan merebus sayur-sayuran.
Orang tua teman dari Kampung A sering datang ke rumah Hatta mengajarkan cara memasak ransum yang diperoleh dari pemerintah. Sering pula ia membawakan telur dan sayur-sayuran.
Sebagai seorang naturalis, si orang tua tersebut hidup dari memelihara ayam dan berkebun. Hatta diajarkan bagaimana mempergunakan ikan asin sebagai ransum sebaik-baiknya. Dia bawakan cabai, Sebagian ikan asin dengan minyak kelapa yang diperoleh dari pemerintah hanya sepertiga botol limonade digoreng sampai matang. Sesudah dingin, dimasukkan ke dalam suatu stoples. Saban hari kalau mau makan diambil sedikit dari stoples itu dan digoreng sebentar.
Dengan cara begitu, ikan asin itu bisa tahan sampai tiga minggu. Sesudah tiga minggu ikan asin Hatta ganti dengan sardin, yang bisa dibeli di toko Tionghoa yang ada di Tanah Merah. “Ransum yang kuperoleh dari pemerintah setempat pada permulaannya berlebih-lebih. Hanya ikan asin dan kacang hijau yang habis. Mula-mula yang berlebih itu kuberikan kepada siapa yang kekurangan. Beras paling banyak kumakan 10 kilo sebulan. Sisanya 8 kilo kuberikan kepada siapa yang datang meminta,” cerita Hatta.
Hatta juga sering menerima tamu seorang Kayakaya dari Uni Umi yang mau iap membantu. Mereka adalah warga pribumi yang sudah beradaptasi dengan para pendatang. Banyak dari warga Kayakaya ini bisa berkomunikasi dengan Hatta menggunakan bahasa Indonesia yang terbatas. Jika kurang mengerti, tentu butuh bantuan bahasa isyarat.
Pada prinsipnya orang Kayakaya ini sangat baik dengan pendatang, namun tidak mau bersiko untuk kerjasama melanggar peraturan orang buwangan. Sebab petugas penjaga akan memberi hukuman kepada warga Kayakaya, dan sebaliknya orang buwangan akan dipindah di tempat isolasi.
Hatta sangat membutuhkan tenaga warga Kayakaya ini, untuk mencuci pakaian, bersih bersih-rumah dan kadang-kadang membantu menanak nasi. Beras ransum separoh diberikan kepada warga Kayakaya beserta ikan asin. Bagi orang Kayakaya, ikan asin itu hanya dibakar saja. “Pagi ia datang, apabila saat aku sudah kembali dari berjalan-jalan, kira-kira pukul 09.00. Pada pukul 17.00 ia sudah pergi lagi. Sebagaimana biasa, upahnya hanya sehelai baju tangan pendek dan celana. Selama aku di Digul kubelikan juga untuk dia tiap kali mau pulang, sekilo tembakau,” tambah Hatta.
Di Tanah Merah ada seorang orang buangan yang sudah lama di Digul. Hatta lupa namanya. la dibuang ke Digul bersama-sama dengan rombongan yang pertama. la berasal dari Minangkabau. Jika Hatta tak salah, ia dibuang bersama-sama dengan Sutan Said Ali. la juga seorang guru. Selama ia di Digul sudah pandai bertukang, dan dialah selalu diminta memimpin mendirikan atau merenovasi rumah. “Kutanyakan kepadanya, berapa tahun lagi rumahku akan tetap berdiri. Dijawabnya, bagian-bagian yang terbuat dari seng sebagai atap dan dinding dalam akan lama sekali tahannya. Tetapi, dinding luar yang terbuat dari kulit kayu paling lama tahan lima tahun lagi,” kata Hatta.
Karena Hatta masuk golongan naturalis dan kemungkinan akan lama di Digul, maka perlu membuat rencana tinggal di Digul sekurang-kurangnya 10 tahun. Pada sore hari, kalau ada rumah yang dibangun, Hatta belajar di sana sebagai pembantu tukang. Guru tadi banyak memberikan petunjuk kepada Hatta tentang berbagai hal yang belum diketahui.
Surat Hatta Menjadi Koreksi Sistim Penjara Digul
Pada akhir Februari atau permulaan Maret 1935 Hatta menulis surat, biasanya dialamatkan kepada saudara ipar Dahlan Sutan Lembaq Tuah di Jawa. Dalam surat itu Hatta menceritakan keadaan di Digul, pembagian dua golongan orang buangan yang disebut werkwillig dan naturalis, serta Hatta memilih menjadi naturalis. Diceritakan pula tentang ransum yang diterima saban bulan harganya sama dengan separuh harga makanan orang hukuman di bui. Hatta menceritakan pula bahwa ingin membuat sebuah rumah yang tahan sekurang-kurangnya 10 tahun, dan ia sendiri ikut serta membangunnya. Berhubung dengan itu, Hatta minta supaya dikirimi berbagai alat pertukangan.
Menerima surat dari Digul, Dahlan Sutan Lembaq Tuah memperlihatkan surat tersebut kepada Sacrun, redaktur kepala surat kabar Pemandangan. Sacrun memuat isi surat itu dalam surat kabarmya. Rupanya surat itu dikutip oleh beberapa sural kabar lainmya, juga oleh surat kabar Belanda. Kemudian Hatta mendengar bahwa isi surat itu dibaca di Nederland oleh Dr.H. Collijn, Kepala Partai Anti Revolusioner. Dalam pidatonya pada Tweede Kamer dikatakannya bahwa menginternir Mohammad Hatta di Boven Digul adalah untuk memisahkannya dari masyarakat, bukan untuk membinasakannya.
Dampak pidato Dr.H. Collijn, pada Juli 1935 datanglah ke Boven Digul Residen Haga dari Ambon. Sebelum ia datang, penguasa di Boven Digul Kapten Van Langen sudah digantikan Kapten Wiarda. Waktu Residen Dr. Haga tiba di Boven Digul, diperintahkannya kepada Kapten Wiarda supaya Sjahrir dan Hatta datang menghadap.
Sebagai pembuka Dr. Haga menanyakan kesehatan Hatta. Ia mengaku sudah tahu Hatta berusaha hidup dari karangan-karangan di surat kabar. Berhubung dengan itu, pemerintah mau membantu membayar porto pos. Setiap bulan Hatta akan menerima f7,50. Hatta menjawab, apa artinya tiga ringgit itu, tidak ada bedanya dengan harga makanan dalam natura yang diterima saban bulan. “Kalau diberi bantuan di atas jumlah yang biasa diberikan untuk orang interniran, kenapa aku tidak diberi bantuan sebanyak yang diberikan kepada kaum intelektuil yang diinternir di tempat lain, seperti Dr. Tjipto dan Mr. Iwa Koesoema Soemantri di Banda Neira atau Ir. Sukarno di Endeh,” protes Hatta
Lalu Dr. Haga menjawab bahwa peraturan bantuan berlain-lainan menurut daerah. “Kalau begitu, biarlah aku menerima bantuan hidup menurut rezim yang berlaku di sini. Bantuan f 7,50 itu untuk ongkos pos mengirim karangan-karanganku tidak perlu Tuan berikan." Jelas Hatta dengan sengit.
Residen Dr. Haga sebentar terdiam. Lalu, dijawab "Bantuan itu tidak banyak jumlahnya. Cobalah Tuan pikirkan dulu semalam. Tadi Tuan katakan, tidak begitu banyak bedanya bahan makanan dalam natura yang Tuan terima. Sekalipun Tuan terima tawaran bantuan f 7,50 itu, bahan makanan dalam natura akan terus tuan terima." kata Dr. Haga
" Saya kira sekalipun dipikirkan tawaran Tuan itu semalam, pendapat saya tidak akan berubah." Jawab Hatta
"Betapapun juga, baiklah Tuan pikirkan semalam, besok pagi Tuan datang kembali memberikan jawaban yang terakhir,” kata Dr. Haga
"Baiklah, izinkan saya kembali ke kampung pembuangan," kata Hatta
Sesudah itu mereka berjabat tangan, kemudian Hatta mengundurkan diri. Lalu Sjahrir diminta masuk. Kira-kira 15 menit ia bicara dengan Residen dr. Haga. Hatta menduga serupa dengan yang ditawarkannya kepada Hatta. Setelah Sjahrir keluar dari kamarnya, Hata bertanya apa yang ditawarkan. Sjahrir menjawab bahwa yang dikemukakan Residen dr Haga kira-kira sama dengan yang ditawarkan kepada Hatta. Cuma ia belum memberikan jawab yang tegas.
Pada dasarnya Syahrir menolak, tetapi kepada Residen Haga dikatakannya bahwa ia akan membicarakan dahulu dengan Hatta, dan Residen Haga meminta ia kembali keesokan harinya bersama-sama dengan Hatta.
Esok paginya keduanya kembali menemui Residen dr Haga di kantor pemerintah setempat. Hatta diterimanya lebih dahulu. Waktu duduk berhadapan, Hatta mengatakan tetap pada pendirian dan menyesal tidak dapat menerima bantuan pemerintah sejumlah f 7,50 sebulan. Waktu Hatta keluar, Sjahrir diminta masuk ke dalam. Kira-kira 10 menit ia di dalam. Tatkala ia sudah keluar ia katakan kepada Hatta, ia terpaksa menerima bantuan f 7,50 sebulan, karena ia tidak punya uang sama sekali untuk ongkos-ongkos korespondensinya dengan istrinya di Nederland, Surat itu dikirim tiap-tiap kali kapal putih berangkat kembali dari Digul.
Pasca pertemuan dengan Residen Dr. Haga ini, Sjahrir dicela oleh kaum naturalis, yang menuduh dia menyerah kepada pemerintah. Sementara Hatta mendapat pujian karena mempertahankan prinsipnya. Padahal mereka yang mencela tidak mengerti kondisi Sjahrir bahwa bantuan uang f 7,50 sebulan sangat bermanfaat untuk mengongkosi korespondensinya dengan istrinya di negeri Belanda. Setelah dua minggu, aksi mencela Sjahrir sudah tidak terdengar lagi.
Di Digul Hatta selalu berpesan kepada kawan-kawan dibuang kepada yang lama dan yang baru, supaya menjaga kesehatan, pikiran dan perasaan. Jangan terganggu apa-apa, tetap menerima segalanya dengan hati yang tenang. (pul)
Pulung Ciptoaji
06.05.23
Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat, Presiden RI Prabowo Subianto berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,2 triliun pada tahun 2025 untuk pemeriksaan kesehatan gratis. Lebih dari 52,2 juta warga Indonesia dapat mendapatkan manfaat dari program tersebut. Program cek kesehatan gratis ini diharapkan dapat meningkatkan akses layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat kelas menengah dan kelas bawah.
Apa saja yang termasuk dalam program ini?
Program cek kesehatan gratis ini mencakup berbagai layanan penting, seperti:
-
Pemeriksaan tensi darah untuk memantau tekanan darah masyarakat.
-
Cek gula darah guna mendeteksi risiko diabetes sejak dini.
-
Foto rontgen untuk screening penyakit katastropik, seperti kanker dan penyakit paru-paru.
Selain cek kesehatan gratis pemerintah juga menargetkan penuntasan TBC (Tuberkulosis) dan peningkatan layanan rumah sakit yang saat ini masih menjadi masalah utama dalam bidang kesehatan di Indonesia.
Penuntasan TBC dan Peningkatan Layanan Rumah Sakit
Pemerintah baru juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp8 triliun untuk menuntaskan TBC melalui peningkatan fasilitas pengobatan dan deteksi dini. Serta alokasi anggaran sebesar Rp1,8 triliun untuk memperbaiki sarana dan prasarana, serta menaikan status rumah sakit tipe D menjadi tipe C.
“anggota DPR RI Edi Wuryanto menilai program pemeriksaan kesehatan gratis sejalan dengan komitmen DPR RI yang ingin memperkuat langkah preventif dan transformasi pelayanan kesehatan primer, pemeriksaan kesehatan gratis sebaiknya diarahkan untuk mengatasi penyakit menular dan tidak menular khususnya penyakit TBC dan kanker yang bersifat persisten di Indonesia dimana sebagian besar penderita TBC adalah masyarakat tingkat ekonomi rendah.” kata Edi, seperti dikutip kanal Youtube TV Parlemen, pada 23 Oktober 2024.
Menuju Indonesia yang Lebih Sehat
Langkah-langkah ini menjadi bagian dari visi besar untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Dengan dukungan layanan kesehatan yang lebih baik, masyarakat Indonesia dapat menjaga kesehatan dengan lebih mudah dan terjangkau.
Mari bersama-sama wujudkan masa depan yang lebih sehat!
Untuk mendapatkan informasi terkini seputar kebijakan ekonomi, perkembangan industri, dan diskusi menarik lainnya, jangan lupa kunjungi laman Instagram resmi INRY. Dapatkan insight terbaru dan ikut serta dalam pembahasan isu-isu penting yang relevan bagi masa depan ekonomi Indonesia. Follow sekarang dan tetap update!
Mahardika Adidaya
24.10.24
Mas Marco Kartodikromo pernah berujar: “Misbach itu seperti harimau di dalam kalangannya binatang-binatang kecil. Dia tidak takut mencela kelakuan orang-orang yang mengaku Islam tetapi selalu mengisap darah teman sendiri.”
Abad.id Doktrin Marxisme dilandaskan filsafat materialisme. Sedangkan Islam berdasarkan spiritualisme dan kepercayaan secara empiris. Meski keduanya sama-sama mengandung unsur antikapitalisme, namun susah dipertemukan.
Hampir semua pendiri bangsa mengadopsi pemikiran Karl Marx, tentunya dengan kadar berbeda-beda.Soekarno menerapkan ideologi kirinya dengan mencocokkan kondisi masyarakat Indonesia dan menamainya Marhaenisme. Demikian pula Hatta, Syahrir, Tan Malaka juga merupakan sosialis atau komunis. Namun berbeda dengan Haji Misbach. Dia justru menggabungkan dua unsur tersebut, Marxisme dan Islam. Dunia perjuangan kemerdekaan geger. Sayang, namanya kini seolah dihapuskan dalam sejarah bangsa. Mungkin karena dia dikenal sebagai ‘Haji Merah’.
Saat itu, awal Maret 1923, adalah Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Islam (SI) di Bandung. Kongres itu dihadiri dua komunis dari Sumatera Barat, yaitu Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Seorang haji menaiki podium. Dia memperkenalkan diri. “Saya bukan Haji, tapi Mohammad Misbach, seorang Jawa, yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci ke Mekah dan Madinah,” terangnya.
Dalam kongres itu, Misbcah jadi bintang. Dia tampil memukau di kalangan cabang-cabang PKI dan SI merah, terutama mereka yang bercorak agamis. Ketika baru memulai uraiannya, Haji Misbach langsung menusuk ke jantung persoalan. Ia berusaha menguraikan kesamaan-kesamaan prinsip antara Qur’an dan Komunisme. “Quran, misalnya, menetapkan bahwa merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mengakui hak azasi manusia, dan pokok ini juga ada dalam prinsip-prinsip program komunis.” Berjuang melawan penindasan dan penghisapan, menurut Misbach, merupakan perintah Tuhan. “Ini juga salah satu sasaran komunisme,” kata Misbach. Gagasan inilah kemudian yang disebut Islam-Komunis. “Orang yang mengaku dirinya Islam tetapi tidak setuju adanya komunisme, saya berani mengatakan bahwa mereka bukan Islam sejati, atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama Islam,” sebutnya.
Misbach juga menganggap saat itu SI di bawah pimpinan Tjokro telah memecah-belah gerakan rakyat dengan memberlakukan disiplin partai. Meskipun bergelar haji dan sudah pernah ke Tanah Suci, tapi Misbach tidak pernah mengenakan sorban ala Arab ataupun peci ala Turki. Dia hanya mengenakan tutup kepala dan bergaul dengan rakyat apa saja. Misbach dikenal mubaligh ulung. Dia fasih ayat-ayat Alquran. Maklum, dia sudah lama mengeyam pendidikan di pesantren.
Haji Misbach dilahirkan di Kauman, Surakarta, tahun 1876, dan dibesarkan sebagai anak seorang pedagang batik yang kaya raya.Mas Marco Kartodikromo, teman seperjuangannya, menggambarkan Misbach sebagai seorang yang ramah dan teguh kepada ajaran Islam. Keduanya memang sempat berkhidmat dalam lapang pergerakan Sarekat Rakjat/PKI. Namun Misbach dan Marco Kartodikromo tak pernah lagi disebut-sebut dalam sejarah resmi yang disusun Orde Baru. Tak mengherankan bila Haji Misbach baru diangkat kembali peran dan sosoknya oleh seorang peneliti asing. Sejarawan dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Soewarsono menceritakan, Haji Misbach dikenal sebelum 1965-1966. Salah satu buku yang ditulis almarhum profesor Harsa Bachtiar dari UI menyebut, Haji Misbach sebagai orang di antara pemimpin pergerakan kebangsaan di Indonesia, atau tepatnya dikenal dengan pemimpin komunis keagamaan yang mempropagandakan ideologis komunis dengan kutipan-kutipan dari Alquran.
Haji Misbach, juga dikenal sebagai orang yang dibuang di Manokwari, dan meninggal dua tahun kemudian. Sebuah jalan di Solo pernah dinamai dengan Jalan Haji Misbach, tapi setelah peristiwa 1965/1966, jalan itu dihapus.Dihilangkan Dari Sejarah Politik sejarah telah menyembunyikan tiap-tiap tokoh, peristiwa dan lain-lainnya, yang dapat menimbulkan inspirasi perjuangan bagi bangsa Indonesia. Pahlawan-pahlawan Indonesia yang berhasil mengalahkan Belanda, yang berjuang sampai tetes darah penghabisan, yang berjiwa nasional, dikaburkan oleh sejarawan-sejarawan kolonial dalam tumpukan arsip-arsip tua. Tidak dikenalnya Marco, bukanlah kejadian yang kebetulan saja, akan tetapi merupakan sebuah politik kolonial yang direncanakan, karena Marco adalah tokoh yang inspiratif dan tokoh-tokoh yang tidak penah mau berkompromi dengan Belanda.
“Nama Haji Misbach dicoba untuk ditiadakan dalam realitas masyarakat Indonesia, maupun sejarah Indonesia. Pembicaraan mengenai Haji Misbach muncul kembali di kalangan akademisi itu, sejauh yang saya tahu sejak 1980an, ketika seorang penulis mengutip nama Haji Misbach sebagai seorang Jawa dan Komunis. Belakangan menjadi terkenal karena studi seorang sarjana dari Jepang, Takashi Siraishi yang menulis tentang pergerakan radikalisme rakyat di Jawa 1912-1926. Satu di antara tokoh yang dibahas secara intensif dan mendalam, adalah Haji Misbach. Lewat studi itu pula, nama Haji Merah muncul,” jelas Soemarsono. Takashi Shiraishi memulai disertasinya pada 1986. Bisa dianggap Takashi orang pertama yang menjelaskan secara mendalam dan detail, siapa dan apa peran yang dimainkan Haji Misbach selama masa yang disebut “zaman bergerak”.
Meskipun dalam karyanya, ia memaparkan radikalisme dalam zaman pergerakan secara umum, ia pun mengakui peran penting Haji Misbach dan tulisan-tulisannya, bukan hanya dalam masa hidupnya, namun juga dalam mengilhami dan memengaruhi karyanya ini. Dalam prakata bukunya, misalnya, ia menulis, “Konsepsi buku ini berasal dari pertemuan saya dengan serial artikel Hadji Mohammad Misbach dalam Medan Moeslimin, “Islamisme dan Komunisme”, yang saya temukan di Perpustakaan Museum Nasional Jakarta, pada Desember 1977. Oleh karena tidak dapat memahaminya, saya mencari dan coba merekonstruksi sebuah konteks historis yang bermakna untuk menempatkan dan membaca artikel tersebut. Hal ini membuat saya mempertanyakan historiografi ortodoks tentang pergerakan.”
Yang dimaksud dengan historiografi ortodoks oleh Takashi adalah klasifikasi yang diterapkan pada kelompok-kelompok dalam zaman pergerakan, dan penyederhanaan-penyederhanaan yang reduksionistik dalam melihat pergerakan. Dalam historiografi ortodoks, lapangan pergerakan dibagi secara kaku dan saklek menjadi tiga golongan yang baku berdasar ideologi (nasionalisme, Islam, dan komunisme), tanpa dimungkinkan adanya sintesa dan percampuran hibrida antar ketiganya.
Karenanya, ia akan gagap menjelaskan adanya fenomena orang-orang yang bergerak di lebih dari satu lapang pergerakan (semisal orang yang aktif di Insulinde dan menjadi anggota SI, atau anggota Budi Utomo yang juga aktif di SI, dan seterusnya). Juga, ia kesulitan mengidentifikasi adanya nuansa dan keberagaman dalam satu organisasi, yang tak bisa disederhanakan dalam klasifikasi-klasifikasi tersebut. Dalam hal ini peran Haji Misbach begitu penting. Apalagi Soewarsono melalui buku yang ditulisnya ‘Jejak Kebangsaan Kaum Nasionalis di Manowari dan Bovendigul’ juga menceritakan, sosok Haji Misbach adalah muslim yang baik, lulusan pesantren, serta pernah berhaji sebelum memulai pergerakan Nasional. Haji Misbach juga seorang pimpinan media.
“Pergerakan Nasional dimulai oleh Haji Misbach ketika menjadi jurnalis. Haji Misbach memiliki dua surat kabar namanya Medan Muslimin yang didirikan 1915, dan Islam Bergerak pada 1917. Ini yang akan menjadi dasar dia berkegiatan dalam politik pergerakan saat itu. Hanya saja, masa pergerakan itu dimulai saat ia bergabung dalam organisasi yang didirikan Cipto Mangunkusumo, Insulinder yang berubah menjadi Sarikat Hindia, atau National Indische Partij,” terangnya. Seorang Islam sejati seperti Haji Misbach, jelas Soewarsono, mengalami perkembangan politik pada konteks pertamanya adalah pergerakan yang bersifat kebangsaan, atau saat ini dikenal dengan ‘Tiga Serangkai’ (Cipto, Dowes Dekker, dan Suhardi Suryaningrat) hingga tahun 1923, sebelum kemudian Sarikat Hindia dihancurkan oleh Belanda. Padahal sosok ini tak bisa bahasa Belanda, karena hanya lulusan pesantren dan sekolah ongko lorho. Karena tidak bisa bahasa Belanda, Haji Misbach tidak bisa mengakses buku-buku tentang komunis terbitan Belanda. Untuk menyiasatinya, ia menggunakan bahasa daerah dan melayu yang dikuasainya untuk mengakses karya-karya komunisme yang ditulis dalam bahasa melayu.
Karya Tan Malaka dan Semaun saat itu memang banyak beredar. Semisal Novel Hikayat Kabirun, karya Semaun. Karya-karya yang dibacanya itu membuat Haji Misbach berpandangan lain tentang Islam dan komunisme. Meskipun ia tahu Islam dan komunisme dua hal yang berbeda. Tak jelas dari mana ketertarikan dan kesadaran Haji Misbah terhadap isu yang tak begitu populer bagi kalangan agamawan ini muncul. Yang jelas, seperti tergambar dari kesaksian Marco terhadap sosoknya, ia adalah seorang haji yang terbuka, eklektik, mau menerima pengetahuan dari mana saja, dan tak canggung untuk bergaul dengan siapa saja dari latar belakang apa saja.
Hal-hal ini mungkin yang kemudian memantik kesadarannya dan membangkitkan perhatiannya terhadap persoalan masyarakat pinggiran. Kepedulian Haji Misbach terhadap rakyat kecil pun bukan semata didasari empati dan rasa kasihan, namun juga dilengkapi dengan pengetahuan sebagai perangkat untuk menganalisa dan mengaitkannya dengan struktur ekonomi yang lebih luas pada masa itu.
Hal ini kemudian melahirkan sesuatu yang unik, yaitu sintesis pemikiran. Dalam banyak tulisannya, terutama sejak 1918, ia sering mengombinasikan penguasaannya terhadap pengetahuan agama (patut diingat, pada masa itu, gelar Hadji hampir pasti menunjukkan orang yang menyandangnya adalah Muslim taat dengan pengetahuan agama yang luas dan mendalam), dengan mengutip mashadir al-ahkam (sumber hukum) dan dalil-dalil agama, termasuk juga cerita-cerita perjuangan Nabi, dengan pemahamannya yang juga terbilang cukup baik terhadap konsep ekonomi-politik yang diungkapkan dengan istilah sederhana pada masa itu, seperti “kapitalisme”, “penghisapan”, dan “penindasan” ekonomi.
Akhir Petualangan Haji Merah
Misbach pembela komunis dan pembela Islam. Saat itu Martodharsono yang menerbitkan tulisan Djojodikoro dalam surat kabar yang dikelolanya, Djawi Hisworo. Umat Islam meradang karena Djojodikoro menulis begini dalam artikel yang terbit pada Januari 1918 itu: “Gusti Kanjeng Nabi Rasul minum gin, minum opium, dan kadang suka mengisap opium.” Atas tulisan tak senonoh itu, Misbach meminta kepada pihak-pihak berwenang, yakni pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, agar menjatuhkan tindakan tegas kepada dua jurnalis Solo itu lantaran telah melecehkan Islam.
Misbach bahkan mendirikan laskarnya sendiri yang diberi nama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV) untuk mendampingi Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM). Selain itu, ia menyebar seruan tertulis yang menyerang Martodharsono. Segeralah beredar kabar bahwa Misbach akan berhadapan dengan mantan wartawan Medan Prijaji di arena debat. Jantung peradaban Jawa pun berguncang. Tersengat oleh semangat Misbach, kaum muslimin dari berbagai daerah berbondong-bondong menghadiri tabligh akbar yang disponsori TKNM dan SATV di Lapangan Sriwedari Solo pada 24 Februari 1918.
Takashi Shiraishi menyebut pertemuan besar di Sriwedari itu diramaikan oleh lebih dari 20.000 orang. Sangat riuh, persis seperti Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang dipusatkan di Jakarta beberapa waktu lalu.Misbach memang pembela Islam sejati. Dia tak segan-segan menyerang orang-orang yang menistakan agamanya, bukan lewat aksi fisik tentunya tapi melalui debat atau tulisan.“Barangsiapa yang merampas agama Islam, itulah yang wajib kita binasakan!” tukas Misbach di surat kabar Medan Moeslimin (1918).
Bahkan terhadap sesama muslim yang justru tidak menghargai Islam, Misbach pun siap menerkam. Rekan Misbach sesama pejuang pergerakan nasional, Mas Marco Kartodikromo, pernah berujar: “Misbach itu seperti harimau di dalam kalangannya binatang-binatang kecil. Dia tidak takut mencela kelakuan orang-orang yang mengaku Islam tetapi selalu mengisap darah teman sendiri.”
Dan ketika kaum putihan “termakan” propaganda politik identitas oleh PSI/CSI tentang komunisme, tanpa tahu apa itu komunisme, Misbah justru menyatakan: Begitoe djoega sekalian kawan kita jang mengakoei dirinja sebagai seorang kommunist, akan tetapi misi soek mengeloewarkan fikiran jang bermaksoed akan melinjapkan igama Islam, itoelah saja berani mengatakan bahoewa mereka bukannya kommunist jang sedjati atau mereka beloem mengerti doedoeknja kommunist; poen sebaliknja, orang jang soeka mengakoe dirinja Islam tetapi tidak setoedjoe adanja kommunisme, saja berani mengatakan bahoewa ia boekan Islam jang sedjati, ataoe beloem mengertibetoel2 tentang doedoeknja igama Islam.
Pada bulan-bulan berikutnya, ia tetap aktif mengorganisir serikat-serikat buruh dan tani, dan pemogokan-pemogokan ketika dianggap diperlukan untuk menyuarakan isu-isu tertentu, seperti rendahnya upah, dan sebagainya yang tak didengarkan ketika disampaikan secara “baik-baik”. Sampai ketika pada pertengahan Mei 1920, ia diperintahkan untuk ditangkap, dan melalui pengadilan landraad (pengadilan untuk pribumi) di Klaten, diputuskan untuk dipenjara selama dua tahun atas tuduhan provokasi dan hasutan pemogokan melalui rapat-rapat umum yang dihadirinya di desa-desa di sekitar Surakarta.
Dari perjuangannya sebagai Haji Merah, Misbach harus masuk penjara dua kali. Selain keterlibatannya di Sarikat Hindia, dia juga masuk ke partai PKI. Setelah itu menjadi propagandis PKI SI Merah.
Pergerakan politiknya di Propagandis PKI SI Merah ini menjadi gerakan yang menakutkan terutama di Surakarta, dan Solo, yang membuat ia ditangkap dan dibuang di luar Jawa. Dan, dia adalah orang pergerakan pertama yang dibuang di Manokwari.
Dia dianggap sebagai salah satu dalang dari kerusuhan yang terjadi pada Oktober 1923. Per tanggal 18 Juli 1924, ia memulai perjalanan pengasingan ke Manokwari dari pelabuhan Surabaya. Saat itu penjagaan polisi sangat ketat.
Ketika Misbach kembali sebentar ke Surakarta, hanya Sjarief dan Haroenrasjid dari Medan Moeslimin, di samping kerabatnya, yang diizinkan menjenguknya. Anggota-anggota PKI dan SR Surabaya pergi ke pelabuhan, tetapi usaha ini sia-sia karena ia dikurung dalam kabin. Dan Misbach meninggalkan Jawa dalam keterpencilan.
Pada 24 Mei 1926, Haji Misbach wafat setelah mengidap penyakit malaria, menyusul istrinya yang sebelumnya meninggal karena TBC. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman Penindi, Manokwari, dengan diantar oleh sekelompok kecil anggota Sarekat Rakjat Manokwari, yang jumlahnya tak lebih dari 20 orang.
Sebagai seorang mantan anggota organisasi pergerakan semacam Insulinde dan Sarekat Rakjat, dan sebagai mantan propagandis yang terbiasa berhubungan dengan ratusan bahkan ribuan orang, kematian dan penguburannya yang sunyi memang ironi.
Namun, ini hanya pengulangan semata dari apa yang sudah menimpa pendahulunya, Tirto Adhi Soerjo—yang oleh Pramoedya Ananta Toer didaulat sebagai “Sang Pemula” penyebaran kesadaran nasional— atau yang kelak menimpa rekannya, Marco Kartodikromo—yang menurut Soe Hok Gie, adalah wartawan pembela rakyat tertindas yang berani nan “bandel”, yang wafat dalam kesunyian pengasingan Boven Digoel pada 1932.
Haji Merah itu kini telah tiada. Namun ada yang perlu dicatat, Haji Misbach telah melihat ada titik-titik persamaan antara Islam sebagai ajaran kemasyarakatan dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik. Dia mencoba menggabungkannya.
Misbach menyadari betul Marxisme berpengaruh terhadap bapak-bapak bangsa dan berperan besar di era perjuangan kemerdekaan, sebagai pisau analisa terhadap kondisi kolonialisme yang dialami bangsa Indonesia kala itu.
Soekarno saja mengakui teori Marxisme adalah satu-satunya teori yang dianggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, politik, dan kemasyarakatan. Bahkan Sjahrir yang dikemudian hari pandangan ekonomi-politiknya dianggap kanan (karenanya disebut soska alias sosialis kanan), dengan tegas mengatakan bahwa gerakan nasionalisme di Asia-Afrika tak dapat dilepaskan dari ketertarikan mereka terhadap Marxisme.
Mengenang Haji Misbach seperti menyadarkan kembali bahwa tidak ada yang perlu ditakuti terhadap paham Marxisme, atau menganggapnya sebagai ancaman. Alih-alih bangsa ini harusnya mengapresiasi karena peran yang besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa, dan karena kesamaan tujuannya yang mulia dengan Islam, yakni membebaskan masyarakat tertindas.@nov
*) diolah dari berbagai sumber
caption 1: Misbach dijuluki Haji Merah. Foto: repro
caption 2: Buku Takashi Shiraishi berjudul “zaman bergerak”.tahun 1986 menjelaskan peran Haji Misbach. Foto: repro
caption 3: Surat kabar Medan Muslimin yang dipimpin Haji Misbach. Foto: repro
caption 4: Kongres Sarekat Islam (SI) di Bandung. Dalam kongres itu banyak kaum putihan kepincut paham Marxisme setelah Haji Misbach naik podium. Foto: repro
caption 5: Makam Haji Misbach di Manokwari. Foto: repro
Author Abad
11.01.23
Emansipasi Wanita dari Mina Kruseman ke R.A. Kartini
Abad.id - Masih tentang Mina Kruseman, tokoh feminis pejuang kesetaraan gender (emansipasi wanita) asal Belanda. Mengapa?
Ini penting untuk diketahu bahwa Mina Kruseman adalah pejuang emansipasi wanita (kesetaraan gender) pertama di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Sebelum ada RA Kartini.
Ketika muda, Mina Kruseman pernah tinggal di Semarang mengikuti bapaknya yang berdinas sebagai tentara KNIL. Lalu balik ke negaranya, Belanda.
Ketika remaja, Mina memperdalam dan mengembangkan arti kebebasan dan kesetaraan gender di beberapa negara di Eropa dan Amerika.
Menginjak dewasa dengan berprofesi sebagai artis, Mina Kruseman balik ke Hindia Belanda dan menyuarakan kesetaraan gender melalui panggung panggung hiburan. Mina Kruseman banyak menghabiskan waktunya di Surabaya.
Bahkan Mina Kruseman menjadi pimpinan kelompok sandiwara Constantia di Surabaya. Constantia adalah kelompok sandiwara besar dan berpengaruh. Melalui kelompok itulah, Mina Kruseman terus menyuarakan hak hak wanita dan kesetaraan gender.
Datang ke Surabaya
Mina Kruseman diakui sebagai tokoh penggerak feminisme dan tokoh emansipasi wanita pertama di Hindia Belanda.
Mina Kruseman adalah 4 bersaudara dari pasangan Hendrik Georg Kruseman (1802-1880) dan Jennij Dorotheé Hermine Cornelie Cantzlaar (1810–1859). Mina anak pertama yang lahir di Velp, Gelderland pada 1839. Di masa mudanya, awal belasan tahun, ia pernah tinggal di Semarang karena mengikuti tugas bapaknya sebagai tentara KNIL. Tidak lama, bapaknya pulang balik ke Belanda dan membawa serta anak anaknya, termasuk Mina.
Beberapa tahun kemudian Mina balik ke Hindia Belanda, karena disuruh oleh salah satu adiknya yang sudah tinggal terlebih dahulu di Surabaya. Adiknya menikah dengan Residen Surabaya yang bernama S. Van Deventer. Ia menjabat sebagai Residen Surabaya mulai 1868-1873.
Menurut GH Von Faber dalam "Oud Soerabaia", adiknya menyuruh Mina Kruseman berangkat ke Hindia Belanda pada 1 September 1877. Mina berangkat menggunakan kapal uap Princes Amelia dan tiba di Hindia Belanda melalui Batavia pada bulan Oktober 1877. Ia tinggal di Batavia selama beberapa bulan. Selama di Batavia, ia sempat memberi kuliah dan ceramah akademik di gedung kesenian setempat. Mina sempat menggelar pementasan pada 14 November 1877 di Batavia.
Mina memang tidak lama tinggal di Batavia. Selain memberikan kuliah dan sekali pementasan, ia sempat mengiklankan diri untuk memberi pelajaran menyanyi, pidato dan les piano. Mungkin dianggap terlalu mahal sehingga tidak banyak yang berminat. Akhirnya Mina hijrah ke Surabaya untuk mendekati adiknya yang diperistri oleh pejabat Residen Surabaya, S. Van Deventer.
Mina akhirnya berangkat ke Surabaya. Masih menurut Oud Soerabaia, bahwa Mina kali pertama masuk Surabaya dan tinggal di jalan Rustenburger (sekarang Jl. Pesapen Kali) dan kemudian pindah ke Gemblongan. Ia tinggal dengan keluarga Magelink.
Pada awal kehidupannya di Surabaya, Mina memberikan les kepada puteri pimpinan orang Cina dan priyayi Pribumi. Mina mulai sering menyuarakan pemikiran emansipasi wanita. Bahkan ia memberikan buku yang ditulisnya tentang feminisme. Dalam buku itu, ia menuliskan perempuan perempuan yang mulai sadar akan hak hak perempuan di Belanda.
Mereka itu di antaranya adalah nyonya Domis, nyonya Van Der Swaan, Nona Van Der Swaan, nyonya Van Der Steen dan nona Van Der Geyn.
Di awal hidupnya di Surabaya, Mina Kruseman memberi ceramah di gedung Concordia pada 17 Oktober 1877. Sambutannya luar biasa dan pada hari hari berikutnya isi ceraman Mina menjadi trending topik bagi kalangan nonik nonik di Surabaya.
Yang menarik adalah ceramah Mina sempat diolok olok oleh kaum pria, khususnya para suami. Bahkan ada para suami yang menghinanya. Ini hal wajar ketika kesetaraan gender di suarakan. Surabaya adalah tempat menggelorakan feminisme dan kesetaraan gender yang pertama di Hindia Belanda.
Di rumah keluarga Magelink, seorang guru di HBS, yang tinggal di Gemblongan, Mina Kruseman mulai membuka sekolah menyanyi dan drama pada 1 September 1879. Kelasnya buka 2 kali seminggu: Rabo dan Sabtu sore. Bayarnya 15 Gulden sebulan. Mereka dipersiapkan bisa tampil di depan umum. Ada nilai nilai kesetaraan perempuan disisipkan dalam karya karyanya. Pertunjukan seni menjadi alat menyuarakan kesetaraan gender.
Selain pelajaran di kelas klasikal, Mina juga membuka les privat. Harganya per orang 25 Gulden per bulan. Sambil berjalan, proses pembelajaran, Mina membentuk kelompok drama yang diagendakan bisa tampil dalam Vorstenschool.
Pada tahun 1879, Mina Kruseman berkenalan dengan putera pemilik hotel Marine, Fritz Hoffman. Hotel ini berada di Westkalimas (sekarang Kalimas Barat), menghadap ke kanal Kalimas. Fritz Hoffman lebih muda sekitar 20 tahun.
Sejak berkenalan dengan Fritz dan akhirnya "menikah", Mina meninggalkan rumah Magelink di Gemblongan dan masuk ke rumahnya sendiri di Nieuwe Hollandstraat (sekarang jalan Belakang Penjara). Rumah ini tidak jauh dari Hotel Marine.
Pimpinan Constantia
Kiprah Mina Kruseman di Surabaya cepat terkenal. Ia memang profesional di bidang seni. Hidupnya pada masa remaja hingga menginjak dewasa dihabiskan di negara negara Eropa sambil memperdalam minat dan bakatnya di bidang seni termasuk mengasah kepeduliannya di bidang emansipasi wanita, dan ketika kembali ke Hindia Belanda lalu tinggal di Surabaya, maka Surabaya menjadi ajang implementasi semua bakat dan perjuangannya demi emansipasi wanita.
Bidang seni dan panggung pertunjukan menjadi sarana menyuarakan segala kemampuan dan perhatiannya. Karena ke profesionalnya itu, dia mendapat kesempatan memimpin sebuah kelompok seni musik Constantia. Constantia ini lahir dari De Jonge Constantia.
Sebenarnya De Jonge Constantia adalah organisasi yang dibentuk oleh para pemuda Indo (Oud Soerabaia). Organisasi ini hanya menampilkan beberapa pertunjukan saja.
Selanjutnya F. Reyneke, H.W. Sand, F.A.Lubeck, V. Wardenaar dan A. Berckholst mendirikan Constantia pada 10 September 1875. Dalam perjalanan organisasi, ketika Mina Kruseman tiba di Surabaya pada 1877, selanjutnya ia diberi mandat memimpin Constantia.
Baik dalam organisasi Constantia maupun dalam kelompik dramanya sendiri, Mina tidak lepas dari gerakan emansipasi wanita. Memang tidak mudah bagi Mina yang single fighter dalam menyuarakan emansipasi wanita. Ia bahkan dimusuhi para suami orang. Ia juga dimusuhi para wanita, yang sudah nyaman dalam naungan kaum pria. Apalagi setelah dia "menikah" dengan Fritz Hoffman, maka semakin lama semakin menjadikan hidupnya di Surabaya bagai dalam sebuah neraka.
Di akhir akhir masa ia tinggal di Surabaya, ia bagaikan minoritas dalam memperjuangkan emansipasi wanita meskipun sudah semakin banyak kaum wanita yang mulai mengertj hak haknya sebagai wanita. Tetapi perlawanan terhadapnya sebagai feminis juga semakin kuat. Apalagi yang dihadapi adalah orang orang kuat dan berpengaruh di Surabaya.
Tapi bagaimanapun, sebagian kecil dari jumlah wanita di Surabaya sudah mulai menjadi agen estafet emansipasi wanita, minimal bagi diri individunya masing masing.
Pada 1883, Mina dan Fritz Hoffman meninggalkan Surabaya. Sebuah surat kabar lokal Soerabaya Courant terbitan 5 November 1883 mengabarkan tentang kepergian Mina Kruseman dan Fritz Hoffman menuju Singapura untuk perjalanan ke Eropa. Pertama menuju ke Italia dan berikutnya tinggal di Perancis.
Mereka tidak pernah kembali ke Hindia Belanda hingga akhirnya mereka meningal di Perancis. Hoffman meninggal pada tahun 1918. Kemudian pada 1922, Mina Kruseman meninggal pada usia 82 tahun.
Raden Ajeng Kartini
Ketika Mina Kruseman meninggalkan Surabaya, Hindia Belanda pada 1883, Raden Ajeng Kartini masih berusia 4 tahun karena Kartini lahir pada 1879.
Waktu Kartini umur 4 tahun, Mina sudah berumur 40 tahun. Kartini masih kategori Balita (bayi lima tahun). Raden Ajeng Kartini belum mengenal emansipasi wanita.
Sementara Mina Kruseman sudah bergelut dengan upaya memperjuangkan emansipasi wanita. Kota Surabaya adalah ladang perjuangannya.
Mina Kruseman dan Raden Ajeng Kartini hidup di masa yang berbeda. Pada masa Kartini, adalah masa perjuangan lainnya untuk emansipasi wanita. Kartini lah yang selanjutnya menjadi emansipator wanita. Perjuangannya tampak pada surat surat Kartini yang dikirim ke sahabatnya di Belanda J.H. Abendanon.
Jacques Henrij Abendanon dan Rosa Abendanon (istri) adalah sepasang suami-istri yang dikenal karena menjadi salah satu sahabat pena Kartini dan kemudian menerbitkan surat-suratnya dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. J.H. Abendanon lahir di kota Paramaribo, Suriname pada 14 Oktober 1852,
Di Hindia Belanda (Indonesia) pada pasca kemerdekaan tahun 1945, RA Kartini menjadi pemikir modern Indonesia pertama yang memperjuangkan emansipasi wanita. Selanjutnya tanggal lahirnya 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini untuk memperingati hari emansipasi wanita (kesetaraan gender).
Di masa remajanya, sekitar 20 tahunan, Kartini yang bisa berbahasa Belanda, di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.
Dari buku-buku, koran dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang lebih rendah daripada pria.
Dari penerbitan dalam negeri (Hindia Belanda), Kartini banyak membaca surat kabar Semarang "De Locomotief". Ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Ada juga majalah wanita Belanda "De Hollandsche Lelie".
Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya yang ditulis, tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian sambil membuat catatan-catatan. Ia juga membaca sejumlah buku buku.
Di antara buku buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali.
Dapat diduga, entah dari judul buku yang mana dari Multatuli atau Eduard Douwes Decker, yang terkait dengan surat surat cinta Multatuli, disana tentu ada lembar surat cintanya untuk Mina Kruseman. Multatuli dan Mina Kruseman memang sempat jatuh cinta.
"Oud Soerabaia" menuliskan bahwa Mina Kruseman dan Multatuli berkenalan di Weimar, Belanda pada 1873. Saat itu adalah momen ketika Mina berusaha mendekati orang orang terkenal untuk upaya membuat pemantasan berdasarkan karya karya tulis mereka. Mina berhasil mencuri perhatian Multatuli dan membuat drama berdasarkan tulisan Multatuli.
Dari buku Multatuli, yang berisi surat surat cintanya, dimungkinkan R.A. Kartini mengenal Mina Kruseman yang berpacaran dengan Multatuli dan pernah memperjuangkan emansipasi wanita di Surabaya.
Selain itu, Kartini juga membaca De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus dan karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Dari buku buku yang ia baca maka semangat emansipasi nya pun semakin menggelora dan apalagi Kartini melihat fakta bagaimana wanita wanita pribumi saat itu. Wanita wanita di era Kartini remaja pada 1899 hingga 1900 seperti terkungkung. Termasuk dia sendiri yang juga terkungkung.
Padahal ketika Mina Kruseman di Semarang pada 1850-an, ia merasakan dan melihat kebebasan dan dari Semarang ia mulai mengerti apa itu emansipasi dan kemudian memperjuangkan emansipasi itu.
Melalui surat surat cinta dalam buku Multatuli, Raden Ajeng Kartini diduga mulai mengenal Mina Kruseman dan semakin mengenal perjuangan emansipasi wanita. (Nanang).
Malika D. Ana
23.02.23
Jan Pieterszoon Coen Gubernur Jenderal tahun 1619-1623 dan 1627-1629
abad.id- Ini cerita tentang kehidupan Kota Batavia yang teratur dan penuh kenangan tahun 1828. Kehiduan warga Kota Batavia dikisahkan Kapten Woodes Roger dan dr Stehler yang ditulis Frieda Amran. Ada sebuah kota yang penuh warga lalu lalang. Digambarkan Kota Batavia sangat indah. Beberapa tempat usaha sangat maju dan menguntungkan. Usaha penginapan selalu penuh pada saat Sabtu malam. Juga tempat hiburan juga bebas, namun harus mengikuti aturan. Sebab saat-saat tertentu ada prajurit-prajurit tampan melakukan patroli berkuda. Sesekali mereka mendekati kereta-kereta yang berisi wanita-wanita cantik. Acara seperti ini merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh nona-nona berbangsa Eropa dan Indo-Eropa untuk memamerkan kecantikan serta perhiasan kepada dunia.
Menurut dr Stehler, musik yang diperdengarkan di sebuah tempat penginapan tak kalah dengan yang ada di Eropa. Masyarakat di Batavia merangkul pemusik dan seniman dari Eropa. Di negeri sendiri, tidak banyak pemusik yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dengan keahliannya. Di Batavia, pendidikan musik mahal harganya dan orang bersedia mengeluarkan uang beberapa gulden untuk dapat belajar bermain musik.
Jika sore hari menjelang petang, udara terbuka di Batavia sangat menyenangkan. Saat telinga menikmati musik yang mengalun, setiap mata tak henti berputar mencari wanita-wanita cantik. Di sana-sini terdengar tawa meledak dan suara orang berkelakar. Banyak orang membawa bekal makanan dan minuman dari rumah. Berisi aneka cemilan ditemani gelas-gelas anggur merah dan bir.
Di Batavia semua orang tidur siang antara pukul. 13.00 dan 16.00. Bila tidak beristri, seorang lelaki yang merasa penat namun tak juga dapat tertidur, memanggil satu atau dua pembantu perempuan untuk memijatnya. Perempuan-perempuan itu mulai memijat perlahan-lahan. Di Hindia-Belanda, pijat-memijat butuh sebuah keahlian tersendiri.
Peraturan bagi tamu yang menginap di hotel. Foto facebook
Pertama-tama, dilakukan apa yang disebut pidjit, lengan, kaki, punggung, leher, dan kepala diberi tekanan-tekanan halus. Pidjit diikuti oleh sapoe-sapoe, yaitu gosokan-gosokan halus dengan telapak tangan. Setelah tubuh tuan besar rileks, para pembantu itu melanjutkan dengan gosok-gosok. Yaitu menyeka tubuh dengan handuk hangat. Ini diikuti oleh tombok, yaitu melakukan tekanan halus dengan kepalan tangan. Dr Stehler menyebutnya tjowit, cubitan-cubitan kecil di kulit dan ramas, yaitu menarik jari-jari kaki dan tangan hingga berderak, menutup seluruh rentetan pijat-memijat pada siang hari. Ketika akhirnya, kedua perempuan pembantu itu menutup pintu kamar, hanya terdengar dengkur Sang Tuan sebagai ucapan terima kasih.
Pada sore hari, semua orang Batavia bersiap pergi. Saat itu, hari Kamis dan Sabtu ada latihan Korps Musik Militer di depan istana Weltevreden. Setelah matahari terbenam, dari segala arah berdatangan kereta-kereta kuda. Setiap kereta dipenuhi wanita-wanita cantik. Kereta-kereta itu berhenti berdampingan membentuk setengah lingkaran mengitari barisan Korps Musik Militer. Tidak lama kemudian kereta kuda bergerak ke segala penjuru Batavia.
Batavia Dibangun Menjadi Kota Religius
Cita-cita Jan Pieterszoon Coen membangun Kota Batavia sebagai Gubernur Jenderal tahun 1619-1623 dan 1627-1629, ingin mendidik warganya untuk taat kepada Tuhan. Ia bertindak sebagai penjaga moral. “Tiada ampun bagi orang Belanda yang melanggengkan praktik perzinaan di Batavia, terutama pedofilia. Mereka diancam hukuman mati,”
Tepat setelah dua tahun berdirinya Batavia, Coen memperketat peraturannya. Isinya terpampang jelas jika semua laki-laki dengan jabatan apapun dilarang melakukan perzinahan. Apapun bentuknya. Peraturan itu juga ditunjukkan kepada wanita Eropa. Kaum wanita Eropa dilarang berhubungan seksual tanpa ikatan dengan sesama kaumnya, apalagi dengan kaum lain – dari Mardijker hingga orang Moor.
“Untuk mengendalikan arus balik tersebut, Pemerintah Agung menerapkan sejumlah peraturan ketat yang mengatur kehidupan bermasyarakat sesuai norma hidup di ‘Republik Kristen.’ Pergundikan dan ‘kumpul kebo’ dilarang keras dan mereka yang tertangkap basah melakukannya dihukum amat berat. Untuk menerapkan kebijakan itu jaksa kota dengan menunggang kuda dan pendeta dengan berjalan kaki rajin menyisir lingkungan pemukiman dan rumah-rumah,” tulis Sejarawan Hendrik E. Niemeijer dalam buku Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII.
Coen sebagai Gubernur Jenderal yang berkantor pusat di Batavia, banyak didedikasikan untuk memberantas penyakit moral. Pemberantasan makin kuat ketika Coen menaklukkan Jayakarta dan mengubahnya menjadi Batavia pada 1619. Ia serta merta menginginkan Batavia muncul sebagai kota yang menganut nilai-nilai religius.
Coen mengupayakan segala cara untuk memberantas penyakit moral. Peraturan mengikat yang berlaku untuk semua orang Belanda yang tinggal di Batavia dikeluarkan olehnya. Orang Belanda di Batavia dilarang memiliki satu atau lebih budak wanita untuk dijadikan gundik dengan alasan apapun. Bagi Coen, terlalu banyak kasus aborsi di Batavia sangat menyedihkan. (pul)
Pulung Ciptoaji
14.03.23
Kiai Subchi Ulama Pencetus Senjata Bambu Runcing
Kiai Subchi mengangkat bambu runcing dan mengarahkan ujung runcingnya ke arah pesawat yang melintas di atas kepalanya. “Allahu Akbar..!’’ teriak Kiai Subkhi. Pesawat itu tiba-tiba oleng dan jatuh.
Abad.id Dengan bersenjatakan bambu runcing, perjuangan Arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945 mampu menandingi senapan penjajah. Bagaimana bisa bambu runcing menandingi persenjataan canggih tentara sekutu?
Bambu runcing memang senjata sederhana. Namun tidak sesederhana itu menjadikannya senjata. Banyak versi yang menceritakan kemunculan senjata ini. Dari cerita yang beredar, senjata ini diprakarsai oleh seorang kiai bernama Subchi. Ulama tersebut berada di sebuah pesantren. Saat rakyat berjuang untuk kemerdekaan, banyak santrinya yang ingin ikut berjuang.
Di sinilah Kiai Subchi memperkenalkan bambu runcing sebagai senjata. Para santri dan rakyat yang ingin berjuang terlebih dahulu diajarkan membuat bambu runcing sebelum berangkat perang. Bahan dasarnya hanyalah bambu yang salah satunya diruncingkan. Konon, Kiai Subchi juga mendoakan bambu runcing yang dibuat sehingga memiliki kesaktian untuk membuat para santri dan pejuang selalu menang dalam peperangan. Doa tersebut ditulis di sisi atas bambu runcing.
Kiai Subchi pada tahun 1945 telah berusia 87 tahun. Lahir 31 Desember 1858. Beliau termasuk kiai sepuh. Asalnya dari Parakan, Magelang, Jawa Tengah. Memiliki nama lahir Muhammad Benjing. Setelah berumah tangga namanya berganti menjadi R. Somowardojo.
Namanya berubah lagi setelah beliau menunaikan ibadah haji. Berganti nama menjadi Subchi. Kiai Subchi meninggal di tempat kelahirannya tersebut pada 6 April 1959 saat berusia 100 tahun.
Kakek Kiai Subchi, Kiai Abdul Wahab merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab inilah yang menjadi pengikut Pangeran Diponegoro, dalam periode Perang Jawa (1825-1830).
Ketika laskar Diponegoro kalah, banyak pengikutnya yang bersembunyi di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri.
Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan.
Kawasan Parakan merupakan titik penting arus transportasi kawasan Kedu, yakni sebagai persimpangan Banyumas, Kedu, Pekalongan dan Semarang. Keluarga Kiai Abdul Wahab kemudian menetap di Parakan, sebagai tempat bermukim untuk menggembleng santri dan menyiapkan perlawanan terhadap penjajah.
Pasukan Belanda tidak henti-hentinya mengejar pengikut Diponegoro di berbagai pelosok Jawa, terutama Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ibunda Kiai Subchi mengandung, Belanda masih sering mengejar keturunan Kiai Wahab, serta santri-santri yang diduga menjadi pengikut Diponegoro. Pada tahun 1885, Subchi kecil berada di gendongan ibundanya yang tengah mengungsi dari kejaran pasukan Belanda.
Subchi kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayah Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.
Bambu Runcing Jatuhkan Pesawat
Dalam perjuangannya, Kiai Subchi tidak bisa dipisahkan dari pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Kiai Subchi memiliki karakter yang tegak, kuat, gagah, dan tajam. Sama halnya dengan bambu runcing.
Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Temanggung, didampingi Kiai Ali (Pesantren Zaidatul Maarif Parakan) dan Kiai Raden Sumomihardho, sebagai wakil dan sekretaris. Nama terakhir merupakan ayah Kiai Muhaiminan Gunardo, yang menjadi tokoh pesantren dan NU di kawasan Temanggung-Magelang.
Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi. Pada 1941, Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) mengadakan pengkaderan di Temanggung, yang langsung dipantau oleh Kiai Subchi.
Kiai Subchi dikenal sebagai kiai alim dan pejuang yang menggelorakan semangat pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Di kemudian hari, Kiai Subchi dikenal sebagai “Kiai Bambu Runcing”.
Dari kisah yang beredar di kalangan mantan pejuang Hizbullah, karomah bambu runcing Kiai Subchi mulai terkenal saat menjelang pertempuran Ambarawa. Pada suatu pagi, seusai mengajar santrinya, Kiai Subchi berdiri di tengah halaman sembari memegang sebilah granggang (bambu yang ujungnya runcing). Tiba-tiba tepat di atas langit pesantren, melintaslah pesawat pengebom Belanda yang saat itu memang sangat ditakuti pejuang kemerdekaan. Pesawat itu oleh para pejuang diberi julukan cocor merah karena bagian depan pesawat tersebut dilumuri cat berwarna merah.
Nah, karena kesal terhadap pesawat itu, tiba-tiba saja Kiai Subchi mengangkat bambu runcing yang dipegangnya seraya mengarahkan ujung runcingnya ke arah pesawat cocor merah yang tengah melintas di atas kepalanya. “Allahu Akbar..!’’ teriak Kiai Subkhi sembari mengarahkan bambu runcingnya.
Anehnya, entah karena apa, setelah takbir diteriakkan dan bambu runcing diarahkan, pesawat cocor merah tiba-tiba terlihat oleng. Tak hanya itu, pesawat pengebom itu kemudian menukik kencang ke arah bumi. Semua santri pun terkesima. Dan beberapa jam kemudian, datang laporan dari para pejuang yang menyatakan bahwa ada pesawat cocor merah terjun ke Rawa Pening. Katanya, pesawat itu mengalami gangguan mesin, sehingga pesawat pun jatuh tercebur masuk ke dalam rawa.
Kisah inilah yang kemudian meluas. Menteri agama di era Presiden Sukarno, Kiai Syaifuddin Zuhri mengisahkan, saat itu berbondong-bondong barisan-barisan Laskar dan TKR menuju ke Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sindoro dan Sumbing. Di antaranya yang paling terkenal adalah barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur.
Ada pula “Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia” di bawah pimpinan Bung Tomo, “Barisan Banteng” di bawah pimpinan Dr Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir Sakirman, “Laskar Pesindo” di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Semua badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju ke Parakan.
Kiai Saefudin Zuhri yang juga ayah dari menteri agama Lukman Hakim Saefudin, bahkan sempat mengantarkan para terkemuka seperti Kiai Wahid Hasyim, Kiai Zainul Arifin, dan beberapa petinggi negara untuk datang ke Parakan. Sejak itulah Parakan di dalam masa perang kemerdekaan dikenal sebagai kota ganggrang atau bambu runcing.
Pada masa revolusi itu, banyak pemuda mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma dan doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung melawan musuh. Senjata bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan warga Indonesia untuk mengusir penjajah.
Menyepuh Ribuan Bambu di Blitar dan Didoakan
Jelang pertempuran 10 November 1945, konon bambu-bambu dikumpulkan para santri dari tegalan. Setelah diruncingkan, bambu lalu lalu diolesi cairan di ujungnya yang lancip. Ada yang mengatakan bambu sebelum diruncingkan lalu diberi cairan sejenis racun atau oli yang sudah diberi asma atau doa oleh kiai. Kemudian bambu yang runcing itu dibakar sampai berwarna kehitaman di ujungnya.
Sebelum bertempur, ribuan tentara Hizbullah dan Sabilillah juga Tentara Keamanan Rakyat sempat membanjiri rumah Kiai Subchi untuk menyepuh bambu runcingnya dengan doa.
Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma, Kiai Subchi justru menangis tersedu. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, Kiai Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bambu Runcing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar.
Bahkan untuk keperluan menyemayamkan kekuatan spiritual, Jenderal Soedirman dan anak buahnya juga berkunjung ke rumah Kiai Subchi. Jenderal Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Jenderal Sudirman memang dikenal sebagai santri Kiai Subchi.
Setelah menyepuh, ribuan bambu itu lalu diangkut menggunakan kereta api untuk dikirim menuju Surabaya. Ya, bambu runcing dibuat dari Blitar. Pembuatan bambu runcing dikomandoi Kiai Mansyur setelah mendapat isyaroh dari Kiai Subchi.
“Asal mula bambu runcing itu dari Kyai Subchi Parakan, Temanggung. Kiai Subchi membuat bambu runcing untuk daerah Jateng, sementara Kiai Mansyur membuat bambu runcing untuk Surabaya,” ungkap Kiai Hisyam, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fattah. Kiai Hisyam merupakan anak dari Kiai Mansyur, pendiri Ponpes Al Fattah.
Setelah mendapat mandat tersebut, Kiai Mansyur mulai mengumpulkan bambu runcing di Blitar. Ponpes Al Fattah di Desa Kalipucang Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar ini pun menjadi pusat bambu runcing. “Kirimnya menggunakan kereta api. Sekali kirim bisa ribuan,” tandas Kiai Hisyam.
Kiai Mansyur memang dikenal sebagai penyempuh atau pengisi kekuatan bambu runcing. Tak hanya itu, Kiai Mansyur juga membuat senjata lain untuk para pejuang seperti sumpit, bambu runcing, dan juga ketapel.
Pembuatan bambu runcing dilakukan kiai bersama dua putranya yakni Kiai Masruri dan Kiai Mashudi. Kehebatan bambu runcing hasil sepuhan Kiai Mansyur sangat terkenal waktu itu. Bahkan, jika ada orang yang tanpa izin memperlakukan seenaknya bambu runcing yang sudah disepuh, akan langsung mendapat ganjaran.
“Pernah suatu saat bambu mau dikirim sudah dalam keadaan terikat. Ada seorang satri berjalan melangkahi ikatan bambu runcing itu. Tiba-tiba tubuhnya seperti didorong dari belakang hingga jatuh terjungkal,” papar seorang menantu dari santri kesayangan Kiai Mansyur, Abu Sujak.
Abu Sujak juga cerita, suatu ketika bambu runcing yang seharusnya tidak dikirim ke Surabaya malah terbawa kereta api ke sana. Sampai di Malang, tak seorangpun yang kuat mengangkat ikatan bambu runcing itu.
“Terbawa sampai di Malang. Karena keampuhan bambu runcing, gak ada yang kuat angkat, akhirnya dikirim balik ke Blitar. Sampai sini ya hanya santrinya Kiai Mansyur yang kuat angkat dibawa balik ke pondok,” ucap Abu.
“Bahkan disaat genting-gentingnya perang di Surabaya itu, Bung Tomo sempat ke Kalipucung, ke Kiai Mansyur untuk minta doa restu,” paparnya.
Kisah penyepuhan bambu runcing yang dilakukan oleh Kiai Subchi dan santrinya dijelaskan hampir bersamaan dengan perlawanan dari laskar santri di Surabaya dan rakyat Semarang. Mereka secara bersama-sama mengadakan perlawanan ketika tentara Sekutu juga mendarat di Ibukota Jawa Tengah itu.
Dijelaskan Kiai Saifuddin Zuhri dalam bukunya Guruku Orang-orang dari Pesantren, dalam peperangan tersebut, lahirlah pertempuran di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat Indonesia melawan Sekutu (Inggris).
Kabar pecahnya peperangan di sejumlah daerah tersebut juga tersiar ke daerah Parakan. Dengan niat jihad fi sabilillah untuk memperoleh kemerdekaan dan menghentikan ketidakperikemanusiaan penjajah, Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan ikut bergabung bersama pasukan lain dari seluruh daerah Kedu.
Setelah berhasil bergabung dengan ribuan tentara lain, mereka berangkat ke medan pertempuran di Surabaya, Semarang, dan Ambarawa. Namun sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu mampir ke Kawedanan Parakan guna mengisi dan memperkuat diri dengan berbagai macam ilmu kekebalan dari Kiai Subchi. Dan tentara-tentara Allah inilah yang kemudian berbaris dengan bambu runcingnya. Setelah masing-masing diberkahi doa Kiai Subchi, semangat keberanian mereka tak tergoyahkan dalam melawan penjajah meski hanya berbekal bambu runcing.(nov)
Author Abad
20.12.22
Penulis : Pulung Ciptoaji
abad.id-Barbara Cartland seorang wanita yang memegang rekor sangat produktif menulis novel cinta. Sepanjang hidupnya telah menulis 300 buku novel romantis dan telah diterjemahkan dalam 17 bahasa. Lebih mengagumkan Barbara Cartland telah menjual 300 juta bukunya. Artinya karya Barbara Cartland paling banyak dibaca warga di seluruh dunia, bahkan selama abad ke 21. Mungkin hanya Stalin dan Agatha Christe yang sanggup menandingi produktifitasnya. Namun Barbara Cartland lebih produktif, sebab pernah sepanjang tahun 1979 menerbitkan 24 buku novel. Jumlah Ini berarti setiap 2 minggu lahirlah buah pikir romantis dari Barbara Cartland.
Dengan didampingi seekor anjing peliharaannya, si Ratu Novel Cinta mengawali kesehariannya dari sebuah rumah Camfield Place Hatflield utara kota London Inggris. Seorang sopir dan sebuah mobil Roll Royce sedang menunggu di Barbara Cartland pergi mencari angin ke tengah kota London. Sementara beberapa tukang kebun sedang menyirami tanaman bunga yang tumbuh subur di pekarangan sebuah rumah besar berpagar jeruji. Di dekat pintu gerbang yang berwarna Turquoise terdapat sebuah hiasan dengan bentuk mahkota. Ini sebuah gambaran bentuk istana Ratu Novel Cinta, Barbara Cartland.
Inspirasi Barbara Cartland selalu muncul dari sebuah ruangan yang berwarna hijau. Dua buah patung dewa cinta dengan perut gendut tampak menyangga buket bunga. Saat itu Barbara Cartland sedang menunggu seorang tamu, mengenakan gaun berwarna lila. Wajahnya dipoles bedak tebal sehingga mirip sebuah boneka. Rambutnya berwarna platina mulai bercampur dengan warna lain karena usia. Barbara Cartland tampil sangat anggun dengan hiasan rangkaian mutiara dan bebetapa cincin berlian.
Barbara Cartland si Ratu Novel Romantis. Foto dok femina
Setiap hari pukul 16.00 Barbara Cartland mulai menerima tamu. Mereka terdiri dari penggemar, penerbit novel dan manager actress. Gagasan kisah novel cinta muncul disela-sela kesibukan menerima tamu hingga saat sedang menikmati istananya. Seorang sekretaris sangat rajin menulis setiap kata yang didekte Barbara Cartland. Sang sekretaris selalu mencatat di belakang Barbara Cartland sebanyak 6 ribu kata tiap bab.
Sebenarnya alur novel cinta karya Barbara Cartland hampir ada kemiripan satu dengan yang lainnya. Sebab imajinasi Barbara Cartland juga semakin terbatas saat umur tidak bisa ditipu. Umumnya selalu menggambarkan sosok gadis desa dari keluarga sederhana. Karena kepribadiannya yang baik, si cantik yang masih perawan ini bernasib mujur. Ada nama-nama yang menjadi lazim menjadi tokoh dalam novel Barbara Cartland, misalnya nama Serena, Vernita, Romara atau Camara. Tokoh-tokoh wanita itu dipersunting oleh seorang laki-laki bangsawan yang usia sudah dewasa. Biasanya tokoh bangsawan baru saja mengalami masa kemalangan. Bumbu-bumbu romantis selalu dimunculkan dengan sedikit masalah diantara hubungan mereka. Hubungan keduanya harus terpisah karena persoalan. Meskipun pada akhirnya kisah cinta mereka berakhir dengan happy ending yang mengharukan.
“ Sudah seperti perjanjian dalam prinsip hidup saya, bahwa tokoh perempuan tidak boleh tidur dengan tokoh pria sebelum mereka menikah,” kata Barbara Cartland sambil mengerutkan alis hitam palsunya.
Sungguh patut disyukuri, masih ada tokoh konservatif pada jaman yang sudah bebas seperti Barbara Cartland. Pada tahn 1977, Barbara Cartland selalu menyerukan hargailah keperawanan, meskipun Barbara Cartland tidak menentang gaya hidup bebas dan sekuler. “Kesalahan wanita saat ini menjadi lebih mandiri, mencoba menyaingi pria dan mengerjakan pekerjaan pria. Justru itulah yang tidak saya sukai,” pendapat Barbara Cartland secara umum yang ditulis dalam alur cerita novelnya.
Sebenarnya gaya penulisan Barbara Cartland juga biasa saja. Kalimat-kalimatnya banyak yang pendek dan lebih mengutamakan dialog. Satu alenia tidak lebih dari lima baris kalimat. Harapannya siapapun bisa membaca dan mudah memahami cerita. Salah satu keberhasilan menulis Barbara Cartland karena terinspirasi prinsip Walt Disney “ Setiap kali film berbau porno diproduksi, saat itu pula saya meningkatkan karya saya”
Barbara Cartland Menulis Sejak Belia
Barbara mulai menulis sejak tahun 1918 ketika ayahnya terbunuh dan meninggalkan keluarga tanpa penghasilan. Pada waktu itu tulisan Barbara Cartland berhasil menunjang keuangan keluarga dan menjadi mata pencaharian hidup. Namun kemampuan istimewa Barbara Cartland justru lebih populer di Amerika Serikat.
Ceritanya pada tahun 1974 di tengah-tengah dunia sedang gencar menolak pronografi, Bantam Books sebuah penerbitan raksasa asal Amerika Serikat menerbitkan sebuah karya Barbara Cartland setiap minggu. Setiap penerbitan oplahnya 500 ribu eksemplar. Dua bulan kemudian penjualan bukunya berada di peringkat atas best seller.
Sejak saat itulah Amerika Serikat dianggap benteng pertahanan moralitas. Barbara Cartland makin rajin menulis karya untuk mempertahankan norma-norma sosial melalui cerita novel. Dari Amerika Serikat ini karya Barbara Cartland dibaca warga dunia dan diterjemahkan dalam 17 bahasa. (pul)
Pulung Ciptoaji
28.01.23
“Bermimpilah seakan akan kau hidup selamanya. Hiduplah seakan akan kau akan mati hari ini” ungkapan James Dean aktor Amerika Serikat yang hidupnya sebentar namun sangat bernilai.
abad.id-Aktor tampan era 50-an, James Dean, sosok yang dikenal menyukai dunia roda empat. Bahkan, dirinya kerap tertangkap kamera sedang kebut-kebutan di jalan mengendarai mobil kencang Porsche 550 Spyder. Sialnya, hobinya tersebut membawa ke kematiannya. Tepatnya tanggal 30 September 1955, Dean mengalami kecelakaan hebat hingga membuatnya tewas di tempat. Mobilnya juga hancur setelah menabrak sedan Ford Tudor di sebuah persimpangan kota Cholame, California.
James Dean lahir di kota pertanian kecil Fairmount, Indiana, AS, pada tahun 1931. Dalam hidupnya yang singkat, dia berhasil menjelma sebagai salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah sinematik. Sejak kecil James Dean sudah mengasah hidupnya dengan seni dan kegiatan acting. “Walaupun aku terlibat dalam fungsi teaterikal atau lainnya sejak aku masih kecil, baik urusan sekolah, musik maupun olahraga, namun semuanya hanyalah kecelakaan. Bagiku aking adalah cara yang paling logis untuk neurosis orang-orang untuk mewujudkan diri mereka sendiri. Semua ini kita perlukan untuk mengekpresikan diri kita. Menurutku latihan untuk seorang aktor tersusun bahkan sebelum dia dalam buaian sang ibu,” kata James Dean dalam bukuberontak bukan tanpa sebab.
Memang, sejak berada di SMA, Dean sudah menjadi atlet bintang dan menunjukkan minat pada drama. Didorong oleh guru dramanya, Dean mendapat peran pertamanya sebagai bintang iklan Pepsi. Setelah itu, dia segera mendarat peran kecil dalam drama televisi.
James Dean kemudian pindah ke New York pada tahun 1951 dan mulai belajar serius di Actors Studio dengan guru legendaris Lee Strasberg. Dia segera mendapat peran di atas panggung dalam berbagai produksi seperti The Immoralist dan See the Jaguar, serta dalam banyak drama televisi lain. Hingga tahun 1954, Dean menandatangani kontrak dengan Warner Bros, salah satu studio terbesar pada saat itu.
Bagi James Dean, memahami signifikan kehidupan adalah tugas seorang aktor, menafsirkan dan menunjukkannya dalam dedikasinya. Menjadi seorang aktor adalah pilihan yang paling sunyi di dunia ini. “Kau sendiriaan dan konsentrasi dan imajinasimu dan hanya itulah yang kau miliki. Menjadi aktor yang baik itu sulit. Menjadi aktor itu lebih berat. aku ingin menjadi keduanya sebelum aku melakukannya,” tambah James Dean
Film pertama yang dibintangi James Dean adalah Elia Kazan’s East of Eden pada tahun 1955, yang diadaptasi dari buku karya John Steinbeck. Dean sempurna memerankan anak bermasalah, Cal Trask. Dia mampu mengekspresikan berbagai emosi seperti keterasingan, kecemasan, dan kecemburuan. Di film itu, Dean langsung mendapatkan nominasi Aktor Terbaik Oscar secara anumerta.
Banyak yang berspekulasi bahwa kehidupan Dean dipenuhi dengan kesepian seperti karakter yang dia mainkan. Kecintaannya pada mobil dan memacu dengan kecepatan tinggi akhirnya mengakhiri hidup singkat James Dean.
Pada tahun 1955, Dean tewas saat mengemudi mobil sport Porsche Spyder miliknya. Dia bertabrakan dengan mobil lain dan tewas seketika pada usia 24 tahun.
“Karena usiaku baru 24 tahun, aku kira aku punya wawasan ke dalam generasi yang muncul ini sebaik orang muda lainnya seusiaku. Dan aku tau bahwa banyak pemuda tidak berdiri seperti patung atau bicara seperti Demosthenes. Oleh karena itu, ketika aku berperan sebagai seorang pemuda, seperti dalam Rebel Without A Cause, aku berusaha meniru kehidupan,” kata James Dean dalam sebuah wawaancara sebelum ajal menjemput.
Kematian James Dean justru membuat dirinya melegenda. Pihak produser segera merillis sebuah film sebulan setelah kematiannya berjudul Rebel Without a Cause. Film tersebut langsung hits terutama di kalangan remaja.
Dalam pengakuan James Dean, film Rebel Without a Cause berkaitan dengan problem-problem anak muda modern. Inilah konsepsi romantis anak muda yang menyebabkan munculnya banyak kesulitan dengan kesalahan memahami kaum muda sekarang. Dalam pikiran James Dean, dalam film tersebut menunjukan dispoporsi psikologis dari permintaan anak muda terhadap orang tua. Para orang tua dianggap sering melakukan kesalahan, namun namun anak muda harus melakukan beberapa hal juga.
Dalam film Rebel Without a Cause tersebut, Dean mampu menggabungan sensitivitas Montgomery Clift dengan seksualitas dan ledakan kemarahan Marlon Brando. Sekali lagi, dia menggambarkan keterasingan, kebingungan, dan kecemasan yang mewakili suara generasinya.
James Dean mengenakan jeans, jaket merah, dan T-shirt putih menjadi salah satu gambar sinema paling ikonik. Foto istimewa
Film ketiga dan terakhir James Dean, Giant (1956) juga fenomenal. Perannya sebagai Jett Rink yang kesepian dan tersiksa membawanya mendapatkan nominasi Aktor Terbaik Academy Award.
Misteri Porsche Yang Terkutuk
Banyak pandangan James Dean tentang dunia peran di hidupnya yang sebentar. Terutama dalam panggung hiburan yang digelutinya di Holywood. Baginya, seorang aktor adalah kisah yang nyata dalam film sebenarnya yaitu hidup. Jika seorang aktor memainkan suatu adegan secara teat sesuai kehendak sutradara, maka ini bukanlah akting. Ini sekedar mengikuti intruksi. Siapapun dengan kualifikasi fisikal dapat melakukannya. “
Jadi tugas sutradara hanyalah menyutradarai sebagaimana aktig itu dikendalikannya. Kemudian aktor mengambil alih. Dia harus membiarkan ruang dan kebebasan mengepresikan dirinya dalam peran. Tanpa ruang itu, aktor tidak lebih daripada robot tanpa akal,” nasehat James Dean yang sangat melegenda.
Kata bijak ini selalu diingat oleh calon bintang di Holywood, bahwa hidup seorang superstar itu singkat. Begitu pula dengan kenikmatan dunia itu hanya sederhana, yaitu kepuasan dan ambisi.
Porsche 550 Spyder yang membawa maut. Foto dok net
Nah, ambisi dan kepuasan inilah yang menjadi malapetaka bagi Dean. Dirinya merasa bebas dan jantan jika sudah mengendarai mobil roda empat dengan kecepatan tinggi. Dean seing tertangkap kamera sedang melakukan aski kebut-kebutan di jalan mengendarai Porsche 550 Spyder. Sialnya, aksi yang dianggap prinsip hidup itu membawa ke kematiannya.
Tanggal 30 September 1955, dunia dikejutkan dengan peristiwa kecelakaan yang dialami idola muda Dean. Mobilnya yang dikendarainya hancur setelah menabrak sedan Ford Tudor di sebuah persimpangan kota Cholame, California. Selain Dean, ada dua orang lain yang terlibat dalam kecelakaan tersebut, yakni pemilik sedan Ford bernama Donald Turdnupseed yang mengalami shock berat, dan juga mekanik Rolf Wutherich yang mengalami luka di sekujur tubuhnya.
Penuh misteri, setelah peristiwa kecelakaan tersebut, mobil yang sudah dalam perbaikan kedapatan sering bergerak sendiri tanpa ada yang mengendalikan. Bahkan, Porsche yang ditupangi Dean tersebut pernah melaju mendekati montir yang berdiri di dekatnya. Kemudian menghantamnya keras-keras, hingga tulang kaki sang montir remuk.
Merasa ada tak beres, akhirnya montir memutuskan menghukum mobil tersebut dan mempreteli seluruh komponen mobil dan menjualnya ke siapapun yang berminat. Sialnya, misterius justru semakin tidak terkendali. Komponen-komponen yang terjual itu, rupanya membawa petaka bagi mereka yang menggunakannya.
Mobil yang menerima komponen mesin dan ban Porsche terlibat kecelakaan mematikan. Truk yang membawa sasis Spyder Porsche juga tergelincir di jalan tol dan membuat sopirnya tewas. Lalu bagian-bagian mobil Porsche lainnya lenyap, dan tak pernah diketahui keberadaannya.
Persis seperti kisah film penuh hantu, sang mekanik Wutherich juga turut dihantui rasa bersalah atas keputusan menjual komponen Porschetersebut. Wutherich sempat mencoba bunuh diri dua kali selama 1960-an namun gagal. Hingga akhirnya, pada 1967, Wutherich ditemui sudah gila dan menikam istrinya 14 kali menggunakan pisau. Tak berselang lama, Wutherich sang mekanik ditemukan tewas dalam keadaan mabuk saat mengemudi pada tahun 1981. Sedang pemilik sedan Ford bernama Donald Turdnupseed akhirnya ikut tewas karena kanker paru-paru tahun 1981.
Memang seperti sebuah kutukan dari arwah Dean. Sehingga penggemar cerita perjalanan aktor tampan ini selalu yakin bahwa film Rebel Without a Cause adalah sebuah pesan dari roh canayang. Di film tersebut akan selalu diingatkan orang-orang lain juga punya perasaan. Mungkin mereka akan berkata, apa yang kita butuhkan untuk semua itu. “ Jika suatu film termotifasi secara pshikologis, maka aku pikir film itu akan melakukannya dengan baik. Aku sungguh percaya Rebel Without a Cause adalah film seperti itu,” tutup Dean. (pul)
Pulung Ciptoaji
27.01.23
abad.id-Nama Kurt Cobain masih membekas di hati penggemar fanatiknya. Bahkan hingga kini, Kurt Cobain masih dicintai di seluruh dunia. Bersama band Nirvana, Kurt Cobain pernah membius jutaan penggemar fanatik di seluruh dunia lewat karya-karya besarnya.
Kurt Donald Cobain atau yang lebih dikenal dengan nama Kurt Cobain lahir tanggal 20 Februari 1967 merupakan penyanyi dan musisi dari Amerika Serikat yang lahir di Aberdeen, Washington, AS. Ia seorang gitaris sekaligus vokalis yang pembentuk grup band grunge, Nirvana.
Kurt Cobain dikenal sosok yang pendiam, tempramen dan juga emosional. Rasa frustrasi dan depresi sering ia alami-lah yang membuat dia terjun ke dunia musik. Kurt Cobain sangat membenci hidupnya dan selalu merasa frustrasi.
Kisah Kurt Cobain dan Courtney Love, pertama kali bertemu di klub malam kota Portland pada tahun 1990. Courtney Love pernah sekali menonton pertunjukan Nirvana tahun 1989 dan langsung menyimpan perasaan terhadap Kurt Cobain. Tidak lama mereka berpacaran, Courtney Love kemudian hamil, mengandung anaknya Kurt Cobain. Foto dok net
Dia pernah mengatakan, “I hate myself and I want to die”. Rasa kebencian dan frustrasinya-lah yang membuat dia masuk ke dunia musik. Dia ingin menuangkan ungkapan rasa frustrasi tersebut ke dalam lagu dan musik yang keras dan kemudian dikenal dengan musik grunge.
“Ada yang bilang lirik-lirik lagu ciptaanku bermuatan rujukan gay yang provokatif. Namun aku tidak akan mengatakan bahwa lirik-lirik itu merupakan refleksi pada waktu itu. aku hanya menciptakannya dengan keyakinanku sekarang. Aku kira lirik-lirik itu provokatif secara komersial berdasarkan seberapa banyak album kami yang terjual,” kata Kurt Cobain di catatan Berotak Bukan Tanpa Sebab.
Dunia Keras Kurt Cobain
Sejak usia balita, Kurt Cobain sudah mulai memainkan alat musik. Di umur 4 tahun ia mulai menyanyikan lagu-lagu buatannya secara spontan setelah berkunjung di taman-taman sekitar tempat tinggalnya. Di usia 9 tahun, orang tua Kurt Cobain cerai. Perceraian tersebut membuatnya merasakan hal yang sangat memalukan dalam perjalanan hidupnya. Bahkan selalu malu dengan teman-temannya di sekolah, karena keluarganya hancur. Hal tersebut yang membuat masa kecilnya menjadi suram.
Di usia remaja dia mulai bertingkah seperti orang dewasa. Dia mulai melakukan kekerasan terhadap teman-teman sekolahnya. Kegematannya bermusik dipengaruhi lagu-lagu The Ramones dan The Beatles sejak kecil. Sebab sang bibi sering memutarkan lagu ‘Hey Jude’ saat Kurt Cobain masih kecil. Selain itu, Kurt Cobain tergila-gila dengan musik rock klasik era 70-an seperti Queen, Led Zeppelin, Aerosmith, Black Sabbath, Kiss, AC/DC, dan sebagainya. Seiring waktu, pemahaman musik dan favoritnya mulai berganti.
Bakat seninya memang sudah terlihat sejak muda. Ia pernah menghabiskan waktu di masa sekolah untuk melukis. Dia pernah melukis karikatur Michael Jackson dan presiden AS saat itu, Ronald Reagen. Tidak puas dengan melukis, Kurt Cobain kemudian mempelajari gitar saat di bangku sekolah.
Dalam pengakuannya, Kurt Cobain mulai menulis sekitar umur 14 atau usia anak SMP. Awalnya tidak pernah menganggap serius hasil tulisannya. Bahkan tidak pernah menyimpannya dalam jurnal pribadi. Kurt Cobain tidak pernah menulis buku harian, bait bait puisi dan sajak-sajaknya juga selalu abstrak.
“Sejak awal aku bercita-cita ingin menjadi seniman komersial. Ibu sangat mendukung gagasan itu dan menyarankan dengan memulaai dengan lukisana-lukisan. Maka aku berusaha membangun seperti itu. ketika aku sudah di tingkat 9 aku mengikuti kelas seni komersial sekaligus, dan guruku sering mengikutkan aku dalam lomba-lomba melukis,” kata Kurt Cobain.
Kurt Cobain pernah menjadi fan fanatik musik punk rock. Ia sangat mengidolakan band asal Britania Raya, Sex Pistols. Hingga pada akhirnya mengambil jalan lain dengan membangun gagasan alternative rock, yang memadukan berbagai aliran ke dalam musik rock sebagai musik dasar.
Di masa-masa ia duduk di bangku sekolah, ia mencari-cari teman yang bisa diajak bermain musik bersama. Ia sering pindah tempat tongkrongan hanya untuk menyalurkan bakat musiknya. Hingga suatu saat bertemu dengan Krist Novoselic, yang merupakan penggemar berat punk rock. Ibu Krist memiliki salon kecantikan, dan mereka sering bermusik bersama di lantai atas salon tersebut.
Hingga angkirnya mereka menemukan kecocokan musik satu sama lain. Kurt Cobain menawarkan Krist untuk membentuk grup band, dan mengajukan lagunya sebagai demo. Setelah tawaran berbulan-bulan, Krist Novoselic akhirnya setuju. Mereka berdua kemudian bergabung untuk membentuk band yang disebut ‘Nirvana’.
Kurt Cobain yakin dalam konsep Buddha puncak tertinggi tujuan hidup adalah ‘Nirvana’. Juga memiliki arti bebas dari segala rasa sakit dan tempat merasakan kebahagiaan. Nirvana sepanjang karirnya sering sekali berganti drummer, hingga akhirnya menemukan Dave Grohl di tahun 1990.
Di awal karir Nirvana, memakai jasa lokal untuk memproduseri album debut mereka, Bleach. Album tersebut dipengaruhi oleh musik-musik heavy metal dan juga punk. Hingga pada akhirnya mulai dikenal dan digemari oleh pecinta musik sejak dirilisnya album Nevermind tahun 1991. Di album ini satu kebanggaan besar bagi Kurt Cobain karena dapat menggeser album Dangerous Michael Jackson di tangga lagu Billboard Amerika Serikat.
Keberhasilan ini diluapkan dalam album “Smells Like Teen Spirit”. Dalam album tersebut ada lagu yang selalu dikenang sepanjang masa berjudul Come As You Are dan juga Breed. Kata “Smells Like Teen Spirit” terinspirasi dari tulisan temannya bernama Kathleen Hanna yang sedang berdiskusi tentang anarki, punk rock dan topik-topik yang serupa. bernama Kathleen Hanna merupakan penyanyi dari band punk Bikini Kill.
Dia mencoret dinding tempat tinggal Kurt Cobain dengan tulisan “Kurt Smells Like Teen Spirit.” Teen Spirit merupakan nama sebuah merek deodoran, dan bernama Kathleen Hanna berkata bahwa Kurt Cobain baunya seperti deodoran Teen Spirit tersebut.
Bagi Kurt Cobain, menganggap kalimat tersebut memiliki arti revolusioner, dan terinspirasi mengungkapkan perasaannya dengan lagu “Smells Like Teen Spirit.”
Kesuksesan besar berikutnya mengikuti Nirvana. Penggemar beratnya ada dimana-mana termasuk di Indonesia. Kurt Cobain dan Nirvana dianggap sebagai bentuk revolusi musik dengan grunge-nya yang saat itu masih baru.
Kurt Cobain pernah berseteru dengan pentolan grup band rock legendaris Guns N’ Roses, Axl Rose. Perseteruan mencapai puncaknya di belakang panggung MTV Video Music Award. Foto dok net
Sampai Nirvana bubar tahun 1994, mereka berhasil merilis 3 album yaitu Bleach (1989), Nevermind (1991), In Utero (1993). Sejak terbentuknya mereka telah berhasil menjual 50 juta keping album di seluruh dunia, dan lebih dari 20 juta keping di Amerika Serikat. Penghargaan pernah mereka raih sebagai album nomor 1, single nomor satu juga MTV Music Awards.
Kisah Kematian Kurt Cobain
Saat tur Nirvana di Jerman tahun 1994, Kurt Cobain didiagnosa mengidap bronkhitis dan juga laringitis. Keesokan harinya Kurt Cobain diterbangkan ke Roma untuk terapi medis, dan disusul oleh istrinya. Saat mereka menginap setelah bangun Courtney Love menemukan Kurt Cobain dalam kondisi overdosis sampanye dan campuran Rohypnol.
Dalam sebuah pengakuannya dalam buku berontak bukan tanpa sebab, Kurt Cobain mengaku sebagai pemakai heroin selama lebih setahun. Alasannya punya masalah dengan perut selama 5 tahun terakhir. Ada kalanya selama atur, Kurt Cobain merasa sangat butuh dengan bahan terlarang itu. Kurt Cobain mengaku tidak adaa yang salah dengan memakai zaat tersebut.
“Aku memutuskan bahwa jika aku akan merasa seperti seorang pecandu setiap pagi sehingga aku bisa menemukan subtansi yang membunuh rasa sakit itu,” kata Kurt Cobain.
Beberapa waktu kemudian saat Kurt Cobain berada dalam sebuah rumah sakit untuk penyembuhan, ia diketahui kabur dari rumah sakit dan kembali ke kota Seattle. Usaha pencarian dilakukan di sekitar kota Seattle, hingga akhirnya Kurt Cobain ditemukan tekah tewas di tempat tinggalnya. Jenasah pertama kali ditemukan pada 8 April 1994 oleh seorang Ahli listrik yang hendak memperbaiki sistem keamanan di apartemen Kurt Cobain.
Di sekitar jenasah juga ditemukan shotgun mengarah ke dagunya dan heroin, serta jenis narkoba lain di dekat tubuhnya. Catatan kecil juga ditemukan di dekat jenazah Kurt Cobain. Darah berceceran dimana-mana, termasuk mengalir dari telinganya. Kurt Cobain diketahui bunuh diri dengan menembakkan shotgun ke dalam mulutnya.
Menurut identifikasi forensik, Kurt Cobain diketahui telah meninggal beberapa hari sebelum mayatnya ditemukan. Ada kemungkinan tewas tanggal 5 April 1994, atau 3 hari sebelum jenasah ditemukan. Diduga Kurt Cobain sudah tidak sadarkan diri karena obat-obatan saat melakukan aksi bunuh diri.
Konspirasi kematiannya masih menjadi cerita menarik. Sebab karena pengaruh halusinasi maka Kurt Cobain menjadi berani mengarahkan shotgun ke arah mulutnya. Lalu ada juga yang bilang Kurt Cobain sengaja dibunuh oleh istrinya sendiri yang sebelumnya sering bertengkar.
Courtney Love takut diceraikan oleh Kurt Cobain, dan jika mereka cerai harta Kurt Cobain akan diwariskan dengan anaknya. Oleh karena itu ada kecurigaan Courtney Love menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Kurt Cobain agar hartanya jatuh ke tanggannya. Terbukti, setelah kematian Kurt Cobain banyak uang hasil kerja keras Kurt Cobain telah menjadi milik Courtney Love. (pul)
Pulung Ciptoaji
26.01.23
Mas Marco Kartodikromo pernah berujar: “Misbach itu seperti harimau di dalam kalangannya binatang-binatang kecil. Dia tidak takut mencela kelakuan orang-orang yang mengaku Islam tetapi selalu mengisap darah teman sendiri.”
Abad.id Doktrin Marxisme dilandaskan filsafat materialisme. Sedangkan Islam berdasarkan spiritualisme dan kepercayaan secara empiris. Meski keduanya sama-sama mengandung unsur antikapitalisme, namun susah dipertemukan.
Hampir semua pendiri bangsa mengadopsi pemikiran Karl Marx, tentunya dengan kadar berbeda-beda.Soekarno menerapkan ideologi kirinya dengan mencocokkan kondisi masyarakat Indonesia dan menamainya Marhaenisme. Demikian pula Hatta, Syahrir, Tan Malaka juga merupakan sosialis atau komunis. Namun berbeda dengan Haji Misbach. Dia justru menggabungkan dua unsur tersebut, Marxisme dan Islam. Dunia perjuangan kemerdekaan geger. Sayang, namanya kini seolah dihapuskan dalam sejarah bangsa. Mungkin karena dia dikenal sebagai ‘Haji Merah’.
Saat itu, awal Maret 1923, adalah Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Islam (SI) di Bandung. Kongres itu dihadiri dua komunis dari Sumatera Barat, yaitu Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Seorang haji menaiki podium. Dia memperkenalkan diri. “Saya bukan Haji, tapi Mohammad Misbach, seorang Jawa, yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci ke Mekah dan Madinah,” terangnya.
Dalam kongres itu, Misbcah jadi bintang. Dia tampil memukau di kalangan cabang-cabang PKI dan SI merah, terutama mereka yang bercorak agamis. Ketika baru memulai uraiannya, Haji Misbach langsung menusuk ke jantung persoalan. Ia berusaha menguraikan kesamaan-kesamaan prinsip antara Qur’an dan Komunisme. “Quran, misalnya, menetapkan bahwa merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mengakui hak azasi manusia, dan pokok ini juga ada dalam prinsip-prinsip program komunis.” Berjuang melawan penindasan dan penghisapan, menurut Misbach, merupakan perintah Tuhan. “Ini juga salah satu sasaran komunisme,” kata Misbach. Gagasan inilah kemudian yang disebut Islam-Komunis. “Orang yang mengaku dirinya Islam tetapi tidak setuju adanya komunisme, saya berani mengatakan bahwa mereka bukan Islam sejati, atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama Islam,” sebutnya.
Misbach juga menganggap saat itu SI di bawah pimpinan Tjokro telah memecah-belah gerakan rakyat dengan memberlakukan disiplin partai. Meskipun bergelar haji dan sudah pernah ke Tanah Suci, tapi Misbach tidak pernah mengenakan sorban ala Arab ataupun peci ala Turki. Dia hanya mengenakan tutup kepala dan bergaul dengan rakyat apa saja. Misbach dikenal mubaligh ulung. Dia fasih ayat-ayat Alquran. Maklum, dia sudah lama mengeyam pendidikan di pesantren.
Haji Misbach dilahirkan di Kauman, Surakarta, tahun 1876, dan dibesarkan sebagai anak seorang pedagang batik yang kaya raya.Mas Marco Kartodikromo, teman seperjuangannya, menggambarkan Misbach sebagai seorang yang ramah dan teguh kepada ajaran Islam. Keduanya memang sempat berkhidmat dalam lapang pergerakan Sarekat Rakjat/PKI. Namun Misbach dan Marco Kartodikromo tak pernah lagi disebut-sebut dalam sejarah resmi yang disusun Orde Baru. Tak mengherankan bila Haji Misbach baru diangkat kembali peran dan sosoknya oleh seorang peneliti asing. Sejarawan dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Soewarsono menceritakan, Haji Misbach dikenal sebelum 1965-1966. Salah satu buku yang ditulis almarhum profesor Harsa Bachtiar dari UI menyebut, Haji Misbach sebagai orang di antara pemimpin pergerakan kebangsaan di Indonesia, atau tepatnya dikenal dengan pemimpin komunis keagamaan yang mempropagandakan ideologis komunis dengan kutipan-kutipan dari Alquran.
Haji Misbach, juga dikenal sebagai orang yang dibuang di Manokwari, dan meninggal dua tahun kemudian. Sebuah jalan di Solo pernah dinamai dengan Jalan Haji Misbach, tapi setelah peristiwa 1965/1966, jalan itu dihapus.Dihilangkan Dari Sejarah Politik sejarah telah menyembunyikan tiap-tiap tokoh, peristiwa dan lain-lainnya, yang dapat menimbulkan inspirasi perjuangan bagi bangsa Indonesia. Pahlawan-pahlawan Indonesia yang berhasil mengalahkan Belanda, yang berjuang sampai tetes darah penghabisan, yang berjiwa nasional, dikaburkan oleh sejarawan-sejarawan kolonial dalam tumpukan arsip-arsip tua. Tidak dikenalnya Marco, bukanlah kejadian yang kebetulan saja, akan tetapi merupakan sebuah politik kolonial yang direncanakan, karena Marco adalah tokoh yang inspiratif dan tokoh-tokoh yang tidak penah mau berkompromi dengan Belanda.
“Nama Haji Misbach dicoba untuk ditiadakan dalam realitas masyarakat Indonesia, maupun sejarah Indonesia. Pembicaraan mengenai Haji Misbach muncul kembali di kalangan akademisi itu, sejauh yang saya tahu sejak 1980an, ketika seorang penulis mengutip nama Haji Misbach sebagai seorang Jawa dan Komunis. Belakangan menjadi terkenal karena studi seorang sarjana dari Jepang, Takashi Siraishi yang menulis tentang pergerakan radikalisme rakyat di Jawa 1912-1926. Satu di antara tokoh yang dibahas secara intensif dan mendalam, adalah Haji Misbach. Lewat studi itu pula, nama Haji Merah muncul,” jelas Soemarsono. Takashi Shiraishi memulai disertasinya pada 1986. Bisa dianggap Takashi orang pertama yang menjelaskan secara mendalam dan detail, siapa dan apa peran yang dimainkan Haji Misbach selama masa yang disebut “zaman bergerak”.
Meskipun dalam karyanya, ia memaparkan radikalisme dalam zaman pergerakan secara umum, ia pun mengakui peran penting Haji Misbach dan tulisan-tulisannya, bukan hanya dalam masa hidupnya, namun juga dalam mengilhami dan memengaruhi karyanya ini. Dalam prakata bukunya, misalnya, ia menulis, “Konsepsi buku ini berasal dari pertemuan saya dengan serial artikel Hadji Mohammad Misbach dalam Medan Moeslimin, “Islamisme dan Komunisme”, yang saya temukan di Perpustakaan Museum Nasional Jakarta, pada Desember 1977. Oleh karena tidak dapat memahaminya, saya mencari dan coba merekonstruksi sebuah konteks historis yang bermakna untuk menempatkan dan membaca artikel tersebut. Hal ini membuat saya mempertanyakan historiografi ortodoks tentang pergerakan.”
Yang dimaksud dengan historiografi ortodoks oleh Takashi adalah klasifikasi yang diterapkan pada kelompok-kelompok dalam zaman pergerakan, dan penyederhanaan-penyederhanaan yang reduksionistik dalam melihat pergerakan. Dalam historiografi ortodoks, lapangan pergerakan dibagi secara kaku dan saklek menjadi tiga golongan yang baku berdasar ideologi (nasionalisme, Islam, dan komunisme), tanpa dimungkinkan adanya sintesa dan percampuran hibrida antar ketiganya.
Karenanya, ia akan gagap menjelaskan adanya fenomena orang-orang yang bergerak di lebih dari satu lapang pergerakan (semisal orang yang aktif di Insulinde dan menjadi anggota SI, atau anggota Budi Utomo yang juga aktif di SI, dan seterusnya). Juga, ia kesulitan mengidentifikasi adanya nuansa dan keberagaman dalam satu organisasi, yang tak bisa disederhanakan dalam klasifikasi-klasifikasi tersebut. Dalam hal ini peran Haji Misbach begitu penting. Apalagi Soewarsono melalui buku yang ditulisnya ‘Jejak Kebangsaan Kaum Nasionalis di Manowari dan Bovendigul’ juga menceritakan, sosok Haji Misbach adalah muslim yang baik, lulusan pesantren, serta pernah berhaji sebelum memulai pergerakan Nasional. Haji Misbach juga seorang pimpinan media.
“Pergerakan Nasional dimulai oleh Haji Misbach ketika menjadi jurnalis. Haji Misbach memiliki dua surat kabar namanya Medan Muslimin yang didirikan 1915, dan Islam Bergerak pada 1917. Ini yang akan menjadi dasar dia berkegiatan dalam politik pergerakan saat itu. Hanya saja, masa pergerakan itu dimulai saat ia bergabung dalam organisasi yang didirikan Cipto Mangunkusumo, Insulinder yang berubah menjadi Sarikat Hindia, atau National Indische Partij,” terangnya. Seorang Islam sejati seperti Haji Misbach, jelas Soewarsono, mengalami perkembangan politik pada konteks pertamanya adalah pergerakan yang bersifat kebangsaan, atau saat ini dikenal dengan ‘Tiga Serangkai’ (Cipto, Dowes Dekker, dan Suhardi Suryaningrat) hingga tahun 1923, sebelum kemudian Sarikat Hindia dihancurkan oleh Belanda. Padahal sosok ini tak bisa bahasa Belanda, karena hanya lulusan pesantren dan sekolah ongko lorho. Karena tidak bisa bahasa Belanda, Haji Misbach tidak bisa mengakses buku-buku tentang komunis terbitan Belanda. Untuk menyiasatinya, ia menggunakan bahasa daerah dan melayu yang dikuasainya untuk mengakses karya-karya komunisme yang ditulis dalam bahasa melayu.
Karya Tan Malaka dan Semaun saat itu memang banyak beredar. Semisal Novel Hikayat Kabirun, karya Semaun. Karya-karya yang dibacanya itu membuat Haji Misbach berpandangan lain tentang Islam dan komunisme. Meskipun ia tahu Islam dan komunisme dua hal yang berbeda. Tak jelas dari mana ketertarikan dan kesadaran Haji Misbah terhadap isu yang tak begitu populer bagi kalangan agamawan ini muncul. Yang jelas, seperti tergambar dari kesaksian Marco terhadap sosoknya, ia adalah seorang haji yang terbuka, eklektik, mau menerima pengetahuan dari mana saja, dan tak canggung untuk bergaul dengan siapa saja dari latar belakang apa saja.
Hal-hal ini mungkin yang kemudian memantik kesadarannya dan membangkitkan perhatiannya terhadap persoalan masyarakat pinggiran. Kepedulian Haji Misbach terhadap rakyat kecil pun bukan semata didasari empati dan rasa kasihan, namun juga dilengkapi dengan pengetahuan sebagai perangkat untuk menganalisa dan mengaitkannya dengan struktur ekonomi yang lebih luas pada masa itu.
Hal ini kemudian melahirkan sesuatu yang unik, yaitu sintesis pemikiran. Dalam banyak tulisannya, terutama sejak 1918, ia sering mengombinasikan penguasaannya terhadap pengetahuan agama (patut diingat, pada masa itu, gelar Hadji hampir pasti menunjukkan orang yang menyandangnya adalah Muslim taat dengan pengetahuan agama yang luas dan mendalam), dengan mengutip mashadir al-ahkam (sumber hukum) dan dalil-dalil agama, termasuk juga cerita-cerita perjuangan Nabi, dengan pemahamannya yang juga terbilang cukup baik terhadap konsep ekonomi-politik yang diungkapkan dengan istilah sederhana pada masa itu, seperti “kapitalisme”, “penghisapan”, dan “penindasan” ekonomi.
Akhir Petualangan Haji Merah
Misbach pembela komunis dan pembela Islam. Saat itu Martodharsono yang menerbitkan tulisan Djojodikoro dalam surat kabar yang dikelolanya, Djawi Hisworo. Umat Islam meradang karena Djojodikoro menulis begini dalam artikel yang terbit pada Januari 1918 itu: “Gusti Kanjeng Nabi Rasul minum gin, minum opium, dan kadang suka mengisap opium.” Atas tulisan tak senonoh itu, Misbach meminta kepada pihak-pihak berwenang, yakni pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, agar menjatuhkan tindakan tegas kepada dua jurnalis Solo itu lantaran telah melecehkan Islam.
Misbach bahkan mendirikan laskarnya sendiri yang diberi nama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV) untuk mendampingi Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM). Selain itu, ia menyebar seruan tertulis yang menyerang Martodharsono. Segeralah beredar kabar bahwa Misbach akan berhadapan dengan mantan wartawan Medan Prijaji di arena debat. Jantung peradaban Jawa pun berguncang. Tersengat oleh semangat Misbach, kaum muslimin dari berbagai daerah berbondong-bondong menghadiri tabligh akbar yang disponsori TKNM dan SATV di Lapangan Sriwedari Solo pada 24 Februari 1918.
Takashi Shiraishi menyebut pertemuan besar di Sriwedari itu diramaikan oleh lebih dari 20.000 orang. Sangat riuh, persis seperti Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang dipusatkan di Jakarta beberapa waktu lalu.Misbach memang pembela Islam sejati. Dia tak segan-segan menyerang orang-orang yang menistakan agamanya, bukan lewat aksi fisik tentunya tapi melalui debat atau tulisan.“Barangsiapa yang merampas agama Islam, itulah yang wajib kita binasakan!” tukas Misbach di surat kabar Medan Moeslimin (1918).
Bahkan terhadap sesama muslim yang justru tidak menghargai Islam, Misbach pun siap menerkam. Rekan Misbach sesama pejuang pergerakan nasional, Mas Marco Kartodikromo, pernah berujar: “Misbach itu seperti harimau di dalam kalangannya binatang-binatang kecil. Dia tidak takut mencela kelakuan orang-orang yang mengaku Islam tetapi selalu mengisap darah teman sendiri.”
Dan ketika kaum putihan “termakan” propaganda politik identitas oleh PSI/CSI tentang komunisme, tanpa tahu apa itu komunisme, Misbah justru menyatakan: Begitoe djoega sekalian kawan kita jang mengakoei dirinja sebagai seorang kommunist, akan tetapi misi soek mengeloewarkan fikiran jang bermaksoed akan melinjapkan igama Islam, itoelah saja berani mengatakan bahoewa mereka bukannya kommunist jang sedjati atau mereka beloem mengerti doedoeknja kommunist; poen sebaliknja, orang jang soeka mengakoe dirinja Islam tetapi tidak setoedjoe adanja kommunisme, saja berani mengatakan bahoewa ia boekan Islam jang sedjati, ataoe beloem mengertibetoel2 tentang doedoeknja igama Islam.
Pada bulan-bulan berikutnya, ia tetap aktif mengorganisir serikat-serikat buruh dan tani, dan pemogokan-pemogokan ketika dianggap diperlukan untuk menyuarakan isu-isu tertentu, seperti rendahnya upah, dan sebagainya yang tak didengarkan ketika disampaikan secara “baik-baik”. Sampai ketika pada pertengahan Mei 1920, ia diperintahkan untuk ditangkap, dan melalui pengadilan landraad (pengadilan untuk pribumi) di Klaten, diputuskan untuk dipenjara selama dua tahun atas tuduhan provokasi dan hasutan pemogokan melalui rapat-rapat umum yang dihadirinya di desa-desa di sekitar Surakarta.
Dari perjuangannya sebagai Haji Merah, Misbach harus masuk penjara dua kali. Selain keterlibatannya di Sarikat Hindia, dia juga masuk ke partai PKI. Setelah itu menjadi propagandis PKI SI Merah.
Pergerakan politiknya di Propagandis PKI SI Merah ini menjadi gerakan yang menakutkan terutama di Surakarta, dan Solo, yang membuat ia ditangkap dan dibuang di luar Jawa. Dan, dia adalah orang pergerakan pertama yang dibuang di Manokwari.
Dia dianggap sebagai salah satu dalang dari kerusuhan yang terjadi pada Oktober 1923. Per tanggal 18 Juli 1924, ia memulai perjalanan pengasingan ke Manokwari dari pelabuhan Surabaya. Saat itu penjagaan polisi sangat ketat.
Ketika Misbach kembali sebentar ke Surakarta, hanya Sjarief dan Haroenrasjid dari Medan Moeslimin, di samping kerabatnya, yang diizinkan menjenguknya. Anggota-anggota PKI dan SR Surabaya pergi ke pelabuhan, tetapi usaha ini sia-sia karena ia dikurung dalam kabin. Dan Misbach meninggalkan Jawa dalam keterpencilan.
Pada 24 Mei 1926, Haji Misbach wafat setelah mengidap penyakit malaria, menyusul istrinya yang sebelumnya meninggal karena TBC. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman Penindi, Manokwari, dengan diantar oleh sekelompok kecil anggota Sarekat Rakjat Manokwari, yang jumlahnya tak lebih dari 20 orang.
Sebagai seorang mantan anggota organisasi pergerakan semacam Insulinde dan Sarekat Rakjat, dan sebagai mantan propagandis yang terbiasa berhubungan dengan ratusan bahkan ribuan orang, kematian dan penguburannya yang sunyi memang ironi.
Namun, ini hanya pengulangan semata dari apa yang sudah menimpa pendahulunya, Tirto Adhi Soerjo—yang oleh Pramoedya Ananta Toer didaulat sebagai “Sang Pemula” penyebaran kesadaran nasional— atau yang kelak menimpa rekannya, Marco Kartodikromo—yang menurut Soe Hok Gie, adalah wartawan pembela rakyat tertindas yang berani nan “bandel”, yang wafat dalam kesunyian pengasingan Boven Digoel pada 1932.
Haji Merah itu kini telah tiada. Namun ada yang perlu dicatat, Haji Misbach telah melihat ada titik-titik persamaan antara Islam sebagai ajaran kemasyarakatan dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik. Dia mencoba menggabungkannya.
Misbach menyadari betul Marxisme berpengaruh terhadap bapak-bapak bangsa dan berperan besar di era perjuangan kemerdekaan, sebagai pisau analisa terhadap kondisi kolonialisme yang dialami bangsa Indonesia kala itu.
Soekarno saja mengakui teori Marxisme adalah satu-satunya teori yang dianggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, politik, dan kemasyarakatan. Bahkan Sjahrir yang dikemudian hari pandangan ekonomi-politiknya dianggap kanan (karenanya disebut soska alias sosialis kanan), dengan tegas mengatakan bahwa gerakan nasionalisme di Asia-Afrika tak dapat dilepaskan dari ketertarikan mereka terhadap Marxisme.
Mengenang Haji Misbach seperti menyadarkan kembali bahwa tidak ada yang perlu ditakuti terhadap paham Marxisme, atau menganggapnya sebagai ancaman. Alih-alih bangsa ini harusnya mengapresiasi karena peran yang besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa, dan karena kesamaan tujuannya yang mulia dengan Islam, yakni membebaskan masyarakat tertindas.@nov
*) diolah dari berbagai sumber
caption 1: Misbach dijuluki Haji Merah. Foto: repro
caption 2: Buku Takashi Shiraishi berjudul “zaman bergerak”.tahun 1986 menjelaskan peran Haji Misbach. Foto: repro
caption 3: Surat kabar Medan Muslimin yang dipimpin Haji Misbach. Foto: repro
caption 4: Kongres Sarekat Islam (SI) di Bandung. Dalam kongres itu banyak kaum putihan kepincut paham Marxisme setelah Haji Misbach naik podium. Foto: repro
caption 5: Makam Haji Misbach di Manokwari. Foto: repro
Author Abad
11.01.23
Bu Dar mortir pendiri dapur umum selama pertempuran 10 November. (foto: istimewa)
abad.id-Pertempuran di Surabaya makin sengit, sementara amunisi peluru para pejuang sangat terbatas. Mereka datang dari penjuru kota di Indonesia berniat ingin berkorban jiwa dan raganya untuk kemerdekaan. Namun yang mereka jumpai, kota Surabaya seperti neraka yang penuh bara api dan aroma amis darah. Mayat mayat bergelimpangan, serta terdengar dari jauh suara merintih kesakitan. Usaha pertolongan semakin sia-sia, sebab harus melewati rintangan perlawanan dari tentara lawan.
Hanya satu tempat yang paling damai dan jauh dari kebisingan perluru dan bom. Tempat itu berada tersembunyi di garis pinggir, namun sangat menentukan arah pertempuran. Yaitu dapur umum yang dikelola Bu Dar Mortir.
Nama lengkap perempuan itu Dariyah Soerodikoesoemo, namun lebih dikenal sebutan Bu Dar Mortir. Sejak suaminya ikut tewas dalam pertempuan, hidupnya menjadi luntang-lantung tanpa tujuan.
Sebelum pecah perang, kehidupan Bu Dar sangat mapan untuk kelas warga pribumi. Namun kedatangan sekutu di Surabaya sejak September 1945 telah menimbulkan gejolak keamanan dan ketertiban. Para pemuda dan TKR ramai-ramai melakukan pelucutan sepihak senjata dan aset tentara Jepang. Sempat terjadi beberapa pertempuran dan kekacauan di Surabaya karena ada perlawanan. Beberapa pemuda dan TKR tewas dalam kekacauan itu.
Begitu pula dengan keluarga kecil Bu Dan dan suaminya Soerodikoesoemo yang bekerja sebagai pamong praja. Soerodikoesoemo ikut tewas dan mengakibatkan Dariyah menjadi janda. Dariyah marah dan sangat sedih sambil memeluk tubuh suaminya yang tertembak. Saat pemakaman Soerodikoesoemo, Bu Dariyah semakin bertekat ingin membalas kejahatan itu.
Kekuatan tidak seimbang menyebabkan jumlah korban pemuda Surabaya sangat banyak. Pemimpin aksi perlawanan setempat bersama pejabat republik meminta Surabaya harus dikosongkan. Saat itu Bu Dar yang prihatin melihat tentara yang lapar dan terluka. Seketika Bu Dar mendatangi sebuah toko, dan melepas kalung dan gelang emas harta satu satunya yang dibawa mengungsi. Barang berharga seberat 100 gram itu ia tukarkan dengan bahan-bahan makanan mulai beras, saryur dan ikan. Bahan makanan itulah yang kemudian diolah bersama-sama ibu-ibu lain di bekas gudang yang ditinggal pemiliknya di Wonokromo. Kelak asupan ransum ini sangat bermanfaat bagi para pejuang di garis depan.
Aksi Bu Dar membuat dapur umum secara swadaya ini terdengar pimpinan COPP VI di bawah Letkol Latif Hadiningrat. Perang berkecamuk makin besar, Bu Dar langsung diajak terlibat dalam perencanaan menu dan kebutuhan logistik makanan. Terlebih saat Surabaya jatuh ke tangan Inggris dan pasukan pemuda dan TKR melakukan perlawanan gerilya, Bu Dar diminta mengurusi dapur umum. Sementara pasukan COPP VI di bawah pimpinan Letkol Latif Hadiningrat bertugas mencari bahan yang dimasak.
Untuk kebutuhan beras diambil dari gudang beras Sri Sedana yang ada di Sooko. Gudang milik orang Cina itu penuh dengan bahan makanan yang dikumpulkan oleh Jepang sebelum menyerah kalah. Gudang beras itu merupakan tempat penimbunan perbekalan terbesar di Mojokerto. Gudang sejenis yang lebih kecil juga tersebar di wilayah lainnya seperti di Mojosari dan lainnya. Bahan makanan itu dikirim ke Surabaya menggunakan kereta api.
Dalam satu hari, dapur umm Bu Dar di kawasan karang pilang bisa membuat 5 ribu nasi bungkus daun. Ransum itu dibagikan secara estafet oleh kelompok voluntir. Tak hanya mengomando produksi makanan, Bu Dar juga mengawasi distribusi nasi bungkus daun itu. Bu Dar tidak ingin para pejuang mati karena menerima atau mengonsumsi makanan itu dalam keadaan basi. Bahkan, bukan hanya di dapur, rupanya Bu Dar juga menyiapkan dan mengorganisasi pos-pos palang merah. Khususnya untuk merawat para pejuang yang terluka akibat pertempuran.
Sementara beberapa pemuda dan TKR yang sedang istirahat juga memilih mendatangi dapur umum untuk makan sambil ngobrol. Berita berita pertempuran sangat cepat beredar di dapur umum. Sehingga diantara pemuda dan TKR langsung melakukan perencanaan strategi sambil makan dan minum manis.
Kegiatan Dapur umum tidak pernah berhenti selama 24 jam. Di buku Tentara Pelajar, para pemuda dan TKR sangat tidak doyan makan. Begitu selesai perang, perut langsung lapar. Kalau membawa bekal ransum nasi bungkus langsung dimakan. Namun kalau tidak, mereka mendatangi dapur umum terdekat untuk makan apapun yang ada. Bahkan sisa-sisa nasi agak basi juga dimakan.
Ada beberapa saksi yang mengenal Bu Dar Montir dikenal sangat keras dan cekatan. Jika melihat anggota lain kerja lamban menyiapkan ransum, maka lansgung dilempar susur ( bahan kinang dari tembakau dan suruh). Terhadap Keberhasilan Bu Dar Montir membuat dapur umum ini sangat diapresiasi pimpinan militer lainnya. Dalam waktu singkat, Bu Dar diminta membuat 50 dapur umum serupa di titi titik yang sudah disiapkan. Dia adalah 'combat cook' atau dapur umum pusat selama perang yang tidak kenal jam. Dia yang memperhatikan dan merawat pejuang. SDM-nya ada ratusan sampai ribuan orang.
Dalam pertempuran amunisi paling mendukung untuk menang berupa ransum makanan. Ransum tersebut dimasak oleh para relawan ibu-ibu dan didistribusikan hingga garis depan. Foto istimewa
Hingga awal tahun 1946, dapur Umum itu di daerah Wonokromo masih aman dari bahaya perang. Kiriman bahan makanan dari luar kota seperti beras, kelapa, minyak masih lancar menggunakan kereta dan diambil orang suruhan di stasiun. Namun setelah kota Surabaya tidak bisa dipertahakan lagi, maka dapur umum juga dipindahkan mengikuti garis pertahanan yang ditentukan. Dapur Umum kemudian dipindahkan ke Mojokerto yang koordinasinya dibawah kendali DPDS. Pusat kegiatan dapur umum ada di gedung pertemuan Brantas dekat pasar Kliwon. Gedung itu juga menjadi tempat transit bagi para pengungsi yang datang ke Mojokerto sebelum dipindah ke rumah-rumah penduduk. Selain memenuhi kebutuhan para tentara di garis depan, dapur umum juga menyediakan makanan bagi pengungsi.
Pada tahun 1946 sistem pertahanan pejuang disusun menurut garis linier dengan membangun pos pada titik tertentu. ransum makanan bagi pejuang yang berada di garis depan menjadi tanggung jawab dapur umum terdekat. Makanan basah maupun kering harus segera di distribusikan sehingga sering tidak dibungkus rapi. Bungkusan sering rusak saat diterima para pejuang, sehingga makanan sudah basi saat dimakan.
Tugas penyediaan makanan untuk tentara akhirnya dihapuskan dari dapur umum pada awal tahun 1947. Penghapusan karena ada insiden Pesindo dengan Hizbullah. Dua kelompok ini terlibat ketegangan karena Pesindo menuduh Hizbullah menyerobot jatah makan organisasi lain, karena jumlah yang diterima selalu melebihi kebutuhan. Rupanya Pesindo tidak mengerti bahwa selain jatah rutin dari dapur umum, Hizbullah juga memperoleh kiriman makanan dari muslimat NU. Untuk menghindari kecemburuan semacam itu, kemudian diputuskan jatah makanan dirupakan bahan mentah untuk diolah sendiri oleh kesatuannya. Sejak saat itu peran dapur umum mulai berkurang, dan Bu dar Mortir lebih berkonsentrasi penyedian makanan untuk pengungsi.
Cerita dapur umum menjadi kekuatan perlawanan pemuda dan TKR mulai tidak terdengar setelah Mojokerto di duduki tentara NICA pada pertengahan Maret 1947 menjelang perjanjian Linggarjati. Menurut cerita, dapur umum juga ikut pindah ke Jombang mengikuti gerak mundur Pemuda dan TKR yang dipimpin Residen Surabaya, Sudirman. Kiprah dapur umum semakin meredup seiring penataan personil dan para pengungsi mulai menyebar ke tempat-tempat yang bisa memberi kehidupan. Begitu pula kisah perjuangan Bu Dar Montir juga menghilang tanpa meninggalkan catatan apapun. (pul)
Pulung Ciptoaji
10.01.23
abad.id-Pada tanggal 8 Desember 1980, Mark Chapman menembakkan empat peluru ke tubuh penyanyi Jhon Lenon. Pembunuhan tanpa motif yanag jelas itu segera mengubah sejarah the Beatles yang sebelumnya sudah didera konflik. Jhon Lenon legenda musik asal Inggris itu tewas seketika, meninggalkan Yoko dan anaknya Sean.
Sekitar tahun 1980-an pasca kejadian pembunuhan Jhon Lenon, kehidupan janda Yoko selalu bersembunyi dari keramaian. Di belakang kacamatanya yang besar menutupi tubuhnya yang mungil itu, Janda Yoko harus sering berpindah apartemen bersama Sean. Semangat hidup semakin kuat dan memilih tidak terlalu lama berduka. Yoko harus menyelamatkan semua kegiatan bisnis mantan suaminya yang terbengkalai, serta melanjutkan beberapa perusahaan yang sudah dirintis. Disamping kegiatan lain kembali merekam beberapa album Jhon Lenon yang belum sempat dirilis.
Dibalik kesibukannya itu, Yoko masih gelisah dengan masa depan hidupnya bersama Sean. Sebab sejak pembunuhan Jhon Lenon, mata dunia masih terus mengejar kehidupan privasinya. Dampaknya perkembangan phiskologis Sean selalu dicekam ras takut. Untuk itu Yoko harus menyewa beberapa pengawal bersenjata untuk mendampingi Sean yang baru genap 7 tahun. Sebaliknya Sean juga mengkawatirkan kehidupan Yoko yang menjadi orang tua tunggal. “ Mama jangan pergi-pergi tanpa ada pengawalan, sebab jika mama dibunuh, aku tidak punya siapa siapa lagi di dunia,” kata Sean suatu ketika.
Sebenarnya tidak mudah bertahan setelah tragedi penembakan Jhon Lenon itu. Sebab antara Yoko dan Jhon Lenon seperti bermuka dua. Di satu pihak sebagai istri Yoko menangis seperti anak kecil yang membutuhkan bujukan mainan dan kata-kata manis. Namun di pihak lain sebagai janda harus mengatasi kesedihan demi anaknya Sean. “Aku harus menjaga dan membesarkan Sean, disamping mengelola warisan-warisannya,” kata Yoko .
Sean Lenon bersama john lennon dan ibunya Yoko ono. Potret keluarga kecil itu terlihat sangat bahagia. Foto dok net
Kehidupan mapan sudah dirasakan Yoko sejak kecil. Yoko lahir sebagai putri seorang bankir asal Jepang dan melewatkan masa kecilnya dengan pendidikan yang baik. Akhir minggu misalnya, diisi dengan kegiatan membaca dan membuat puisi. Ketika di usia remaja, Yoko senang melukis dan selepas sekolah dia menekuni drama dan nyanyi. Hingga suatu saat Yoko bertemu dengan komponis Jepang Thosi Ichiyanagi. Mereka menikah muda usai Yoko menyelesaikan sebuah pertunjukan. Namun pernikahan tidak bertahan lama, dan mereka memutuskan bercerai. Tidak lama kemudian, Yoko menikah lagi dengan produser film Amerika Anthony Cox. Mereka dianugrahi seorang putri bernama Kyyoko pada tahun 1963.
Dalam kurun waktu 4 tahun setelah Kyyoko lahir, karir Yoko di dunia film mulai bersinar. Melalui film berjudul Original et Cerebral, namanya sering diperbincangkan di Holywood. Jhon Lenon yang saat itu mulai sering konser di benua Amerika mulai tertarik dengan Yoko dari sampul cover film yang beredar. Karena begitu tenarnya, Jhon Lenon meminta foto Yoko untuk sampul luar sebuah album piringan hitam Les Deux Vierges. Saat itu Jhon Lenon sedang menduduki puncak karir sebagai penyanyi idola remaja di Inggris, dan telah memiliki istri Cynthia yang cantik dan mempunyai seorang putra yang masih kecil. Saat media massa menggosipkan keduanya, tiba tiba Jhon Lenon malah menyampaikan ungkapan yang kontroversial. “ Yoko dan saya saling mencintai, dan kami akan segera menikah setelah bebas”
Ungkapan seperti sebuah doa dan semakin ramai menjadi berita gosip di media Inggris. Setelah keduanya berhasil bercerai dari masing masing pasangannya, Jhon Lenon dan Yoko melangsungkan pernikahan pada tahun 1969 di Gibraltar.
Menjadi Manusia Kuat Setelah Kematian Jhon Lenon
Setelah melewati periode panjang yang pemnuh kesedihan, semangat hidup Yoko bersama Sean kembali bergairah karena musik. Tiga tahun setelah peristiwa itu, Yoko sudah kembali muncul di sebuah wawancara televisi. Meskipun wajahnya yang mungil tertutup kaca mata hitam yang besar, para fans Jhon Lenon seperti terobati oleh semangat Yoko . Kehadirannya untuk mempromosikan sebuah album piringan hitam yang baru berjudul it’s Allight. Lagu-lagu dalam album tersebut berisikan cutahan hati Yoko setelah peristiwa kematian suaminya.
Yoko telah menjadi wanita yang sangat sibuk. Diluar karier sebagai artis, dia harus mengurusi perusahaan dan peninggalan barang-barang koleksi Jhon Lenon. Yoko juga membangun sebuah yayasan yang digagas Jhon Lenon, berupa banyak kegiatan investasi dan badan amal. “ Total ada 10 perusahaan piringan hitam, 7 rumah yang disewakan, 4 ranch di Florida dan Viginia, sebuah hotel di New York. “Saya harus mengelola sendiri mulai memegang buku keuangan dan megawasi para direktur.” Kata Yoko yang mengaku hanya butuh waktu tidur 5 jam perhari karena bekerja keras. (pul)
Pulung Ciptoaji
09.01.23
Dr Cipto Mangunkusumo (duduk memakai peci) menjelang dipulangkan dari pengasingan di negeri Belanda tahun 1914. Foto dok net
“Aku anak rakyat, anak si kromo”
Waktu itu kejadian di Kepanjen Malang sekitar tahun 1910 sedang terjangkit wabah pes. Rakyat yang sudah melarat banyak yang menjadi korban penyakit pes. Pemerintah Belanda cukup kewalahan dengan mengamuknya penyakit itu. Apalagi banyak dokter yang bekerja di Pemerintah Hindia Belanda menolak terlibat menangani penyakit pes.
Melihat kondisi itu dr Cipto menangis. Ia begitu iba melihat nasib sebangsanya yang penuh dengan penderitaan. Dengan kesadarannya sendiri, dr Cipto mengajukan permohonan untuk ikut memberantas penyakit pes. Permohonan itu langsung dikabulkan dan tidak lama kemudian dr Cipto diberangkatkan ke Malang.
Tiba di Kepanjen Malang, dr Cipto harus berjuang menyembuhkan ratusan warga yang terkena penyakit pes. Dia datang tanpa dibekali pengaman, seperti masker dan sarung tangan. Tekatnya sudah bulat, ingin mengabdi untuk sesama kaumnya warga bumiputra. Hingga suatu saat di sebuah desa terpencil terdegar tangisan bayi yang melengking dari sebuah gubuk yang sepi. Bagi dr Cipto dan beberapa perangkat desa, suara itu menimbulkan kecurigaan. Sebab hampur seluruh warga di desa tersebut telah meninggal dunia akibat wabah pes. Saat didekati, suara itu semakin melengking dan mengarah di sebuah gubuk. Satu satunya yang masih hidup hanya bayi itu, sementara orang tuanya sudah tergeletak tewas disebelahnya. Dengan kasih sayang, dr Cipto memungut bayi itu dan mengadopsi selayaknya anaknya sendiri. Dr Cipto memberi nama bayi Pesyati, untuk mengenang sebuah peristiwa besar wabah pes di Kepanjen Malang.
Di dalam hidupnya yang tidak terlalu panjang, dr Cipto dikenal sebagai profil yang teladan. Julukannya dokter Jawa yang berbudi diberikan kepadanya karena tindakannya tercetus karena rasa kemanusiaan. Selama dr Cipto berada selalu menjadi pusat perhatian rakyat kecil yang ingin berobat. Selama praktek pengobatan, dr Cipto memasang tarif mahal bagi pasien yang kaya, namun menggratiskan bagi rakyat miskin. Kemampuannya menjinakan anak kecil selalu dikenang para mantan pasiennya. Ia selalu berhasil menaklukan anak anak yang umumnya takut kepada dokter.
Pengabdian Kepada Kemanusiaan
Dr Cipto lahir pada 4 Maret 1886, putra pertama dari seorang kepala sekolah di Cangakan Jepara. Bapaknya Mangunkusumo mendidik Cipto dengan disiplin ketat namun sangat demokratis. Misalnya soal cita-cita, Cipto dibebaskan untuk memilih sekolah. Sebab sekolah itu bisa menentukan masa depan sekaligus kehidupannya tua kelak. Lulus dari sekolah rendah, Cipto mengikuti ujian masuk untuk menjadi pegawai pangreh praja. Ternyata hasil ujian Cipto berhasil lulus dengan peringkat nomor 1. Namun ketika Mangunkusumo bertanya apakah serius ingin menjadi pegawai pamreh praja, ternyata jawabannya Cipto tidak berniat. Ujian itu hanya ingin menunjukan kemampuannya kepada kawan kawan di sekolah. Alasan lain, Cipto ingin masuk ke Stovia ingin menjadi dokter.
“Saya tidak ingin menjadi pegawai pamreh praja yang hidupnya disembah-sembah dan harus menyembah nyembah kepada atasannya,” alasan Cipto.
Bagi Cipto, menjadi dokter lebih baik dan leluasa memberi pertolongan kepada banyak orang tanpa harus kehilangan pekerjaan. Sebab sebagai dokter bisa membuka praktek pengobatan tanpa terikat. Setelah sekolah di Stovia 5 tahun, pada tahun 1905 di usia 19 Cipto lulus dan berhak menyandang gelar dokter. Saat dilantik menjadi dokter, dalam hatinya Cipto berjanji “Aku Anak Rakyat, Anak Si Kromo”. Kata-kata itu diucapkan dengan penuh keyakinan oleh anak muda lulusan Stovia.
Begitu pula saat sesi pemotretan, dr Cipto mangunkusumo menggunakan baju yang berbeda dengan kawan-kawan lainnya. Semua peserta wisuda mewajibkan mengenakan pakaian daerah masing-masing. Bagi siswa Belanda atau eropa lainnya, tentu menggunakan baju jas dan celana panjang. Sedangkan dr Cipto Mangunkusumo memakai baju kebesaran para leluhurnya yaitu beskap lurik tenunan Klaten yang biasa dipakai rakyat pribumi, kepala diikat batik sederhana, bawahan jarik parang serta tanpa alas kaki. Dr Cipto sadar bahwa kedudukannya sebagai bangsawan mestinya bisa merubah penampilannya menjadi apapun. Namun karena prinsip yakin bahwa dirinya bukan siapapun dan apapaun bagi rakyat, maka sejak pelantikan itu, tatapan mata dr Cipto hanya ingin memanusiakan bangsanya sendiri.
Dr Cipto Mangunkusumo usai dilantik dokter. Foto dok net
Semangat berjuang menuntut keadilan kaum pribumi semakain gencar dilakukan dr Cipto Mangunkusumo usai dilantik dokter. Jika selama mahasiswa hanya datang sebagai peserta forum forum diskusi kebangsaan, kini dirinya yang mempelopori gerakan politik itu. Dr Cipto Mangunkusumo bersama dr Sutomo dan Douwes Dekker memprakasai organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Gagasan politik kebangsaan Budi Utomo ini dianggap cikal bakal lahirnya gagasan menjadi negara merdeka. Belanda semakin represif atas gerakan politik kebangsaan, sehingga perlu mengasingkan tokoh tokohnya. Maka tahun 1913, dr Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara dan Douwwes Dekker diasingkan ke Belanda. Setahun ditepat pengasingan, dr Cipto dikembalikan ke Hindia Belanda karena mengalami sakit asma. Rupanya dr Cipto Mangunkusumo tidak tahan cuaca dingin eropa dan membuat penyakit asma makin ganas menyerangnya.
Tegas Memegang Prinsip
Bagi para kolega sesama kelompok nasionalis, hampir semuanya punya penilaian yang sama terhadap dr Cipto Mangunkusumo. Bangsawan Jepara ini dikenal keras kepala dan tegas terhadap prinsip hidupnya. Dr Cipto keluar dari kepengurusan Budi Utomo dengan penuh amarah. Penyebabnya ada beberapa usulan demi berkembangnya organisasi, namun ditolak. Dr Cipto Mangunkusumo hanya mengenal hitam dan putih sebuah masalah, serta apapun yang sudah diucapkan tidak pernah sudi ditariknya. Sejak saat itu dia sering bentrok pemikiran dengan rekan rekan satu organisasi di Budi Utomo. Hanya dengan Ki Hajar Dewantara dan Douwwes Dekker xaja, dia bisa akrab. Ketiga nama yaitu dr Cipto Mangunkusumo, Douwwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai “Tiga Bapak” dan Pelopor Nasionalisme Indonesia. Ada juga julukan lain yang lebih dikenal yaitu “Trio Orang Buangan”.
Pemerintah Hindia Belanda juga pernah dibuat kesal dengan kekerasan hati dr Cipto Mangunkusumo ini. Ceritanya saat dirinya mengajukan diri untuk terlibat langsung dalam penanganan wabah pes di Solo. Dr Cipto yakin metode pananganan yang digagasnya akan berhasil, sebab telah terbukti selama pemberantas wabah pes di Kepanjen Malang. Namun apa daya, niat tersebut ditolak mentah mentah oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Hindia Belanda. Dengan penuh emosi, dr Cipto mendatangi kepala Dinas Kesehatan sambil membawa bintang Ridder Orde van Oranye Nassau yang diterimanya dari pemerintah Belanda. Bintang jasa tersebut sebagai penghargaan telah berhasil menangani wabah pes di Malang dan hendak dikembalikan.
Dr Cipto wafat pada 8 Maret 1943 karena sakit asma. Karena dedikasinya terhadap perjuangan membangkitkan nilai nilai nasionalisme dan kebangsaan, namanya diabadikan pada sebuah rumah sakit di Jakarta. (pul)
Penulis : Pulung Ciptoaji
Pulung Ciptoaji
06.01.23
Penulis : Pulung Ciptoaji
abad.id- Sutan Syahrir perdana menteri pertama Indonesia yang memiliki peran cukup besar dalam kemerdekaan Indonesia. Sutan Syahrir, salah satu tokoh pergerakan Indonesia yang mengenyam pendidikan di Eropa memiliki sebuah kisah cinta yang unik. Kisah Syahrir layaknya sebuah cerita roman, tentang cinta buta hingga tragedi yang membuat keduanya terpisah.
Sebenarnya Sutan Syahrir berasal dari prototipe suatu keluarga belanda coklat. Syahrir dilahirkan di Padang Panjang pada 5 Maret 1909. Ayahnya Muhamad Rasad begelar Maharaja Sutan bekerja menjadi jaksa. Rasad ayah Syahrir sangat bahagia, sebab tinggal bersama dari 25 anak dari 3 istri. Saat masa keemasan pernah menjadi kepala jaksa dan dianugrahi tanda jasa sebagai ridder in de orde van oranje nassau. Ketika tinggal di Medan, Syahrir memasuki usia sekolah SD Belanda. Lalu melanjutkan di MULO. Dalam rangka kebutuhan pendidikan, pada tahun 1926 Syahrir dikirim ke Bandung untuk menjasi siswa di sekolah AMS. Sekolah AMS ini favoit dan pendidikan lanjutan bagi lulusan MULO. Lulusannya membuka jalan untuk melanjutkan lebih tinggi di Belanda.
Selama di Bandung, Syahrir muda yang berumur 15 tahun telah aktif di gerakan nasionalis. Di gerakan inilah dia sudah kenal dengan Sukarno di beberapa forum diskusi. Padahal Sukarno sudah menjadi lulus dari mahasiswa, sementara Syahrir masih pemuda yang penuh ambisi. Suatu saat Sukarno menjadi pembicara tamu, sementara Syahrir sebagai moderator. Pertemuan itu ternyata tidak berkesan bagi keduanya, sebab justru menimbulkan perang ide antara pelajar dengan pimpinan PNI yang 8 tahun lebih tua. Sukarno sangat tersinggung saat Syahrir memotong pembicaraan dengan mengetok palu. Saat itu tensi diskusi sedang seru-serunya. Penyebabnya Sukarno dianggap terlalu sering menggunakan kata-kata berbahasa Belanda di tengah forum yang dihadiri kaum pribumi.
Keluarga Syahrir sangat mampu untuk membiayai sekolah lanjutan ke belanda. Pada tahun 1929, Syahrir dikirim ke belanda untuk mengikuti pendidikan universitas. “ Tidak ada yang terasa asing bagi saya waktu tiba di Belanda,” kata Syahrir bercerita tentang perkenalannya dengan negara kincir angin itu.
Syahrir tiba di negeri Belanda di akhir musim panas tahun 1929. Syahrir dijemput keluarga Djoehana, temopat awal menumpang. Namun Dokter Djoehana dan Sjahrizal, kakak perempuan Syahrir, hanya sampai 1931 saja tinggal di Belanda. Begitu diploma diraih suami kakaknya, Syahrir hidup sebatang kara di negeri kincir angin.
Selama di Belanda, Syahrir sempat mendaftarkan diri ke fakultas hukum di Universitas Kotamadya Amsterdam, dan Universitas Negara di Leiden. Dari dua kampus tersebut, belum pernah ada catatan Syahrir berhasil menyelesaikannya. Syarir lebih banyak berkelana di Belanda, dan berdiskusi dari forum ke forum. Pemikiran Syahrir sangat dipengaruhi Marx dan Engels. Juga terdapat guru lain penganut marxis fanatik seperti Rosa Luxemburg, Kautsky serta henriette Roland Hols. Stahrir juga menjadi anggota aktif perkumpulan mahasiswa Indonesia, Perhimpunan Indonesia dibawah ketua Mohammad Hatta. Tidak terlalu lama, Syahrir menjadi sekretaris PI.
Setelah berkelana di Amsterdam untuk beberapa waktu, Syahrir mendapat pemondokan di rumah Sal Tas. Keduanya berkenalan di sebuah Perkumpulan mahasiswa Sosial Demokrasi yang diketuai Sal Tas. Perkumpulan ini agak condong ke SDA, tetapi layaknya perkumpulan mahasiswa jauh lebih radikal daripada partai induknya.
Maria Johanna Duchateau
Saat itu Maria Johanna Duchateau masih sangat cantik. Namun, Maria sudah jadi istri Salomon “Sal” Tas induk semangnya. Untung ada Sal Tas. Anak tukang roti yang gandrung pada sastra, musik, dan politik itu menampung Syahrir muda. “Dengan mudah Syahrir dan Tas berteman dan setelah keluarga Djoehana pergi, Syahrir pindah ke rumah kecil Tas yang tidak jauh dari situ,” tulis Rudolf Mrazek dalam Syahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia.
Rumah itu dihuni Sal Tas, istrinya Maria Johanna Duchateau, serta dua anak mereka, dan seorang perempuan bernama Judith van Wamel. Tentu saja ditambah Syahrir yang menumpang. Keluarga ini sering terlihat bersenang-senang ala mereka, mulai pergi ke rumah makan, teater, konser, juga pertemuan politik.
Namun pada November 1931, Syahrir harus angkat kaki dari Belanda setelah dipecat dari PI. Penyebabnya beberapa mahasiswa anggota PI menganggap syaahrir dan Hatta tidak solidaritas kepada Sukarno yang saat itu sedang mendekaam di penjara sukamiskin. Sebelum pulang, rupanya Syahrir sudah terlalu akrab dengan Maria Johanna Duchateau. Kala itu, Maria dan Tas sedang mengalami masa suram pernikahan. Meski sudah punya dua anak, keduanya tampak asyik dengan dunianya masing-masing.
Maria belakangan bahkan seolah-olah membiarkan Tas berhubungan dengan Judith. Sementara Maria Johanna Duchateau juga terlibat cinta dengan Syahrir. Dua sejoli ini punya panggilan kesayangan. Sidi untuk Syahrir dan Mieske untuk Maria. Sal Tas pun tak ambil pusing atas hubungan istrinya dengan sahabatnya itu.
Bulan Desember 1931, Syahrir sudah tiba di Batavia. Dia lalu jadi Ketua Redaksi Daulat Ra'jat. Syahrir tidak menjadi pengekor gaya kaum pergerakan, baik mereka yang dalam pengawasan maupun pemenjaraan seperti Sukarno. Syahrir sering muncul dengan dandanan bohemian: sarung lecek sebagai bawahan, jas sebagai atasan, juga peci di kepala.
Pertemuan Syahrir dengan Sukarno terjadi di Bandung pada 4 Januari 1932 di rumah Gatot seorang aktifis PNI. Sebenarnya keduanya tidak asing, meskipun Syahrir berusia lebih muda dari Sukarno. Syahrir juga dikenal seorang yang pintar menyimpan perasaan, sehingga saat pertemuan itu, dia lebih banyak diam dan Sukarno lebih dominan berbicara tentang arah perjuangan. Atau mungkin pikiran Syahrir sedang tidak nyaman dan masih terkenang perpisahan dengan kekasihnya Maria Duchateau. Sehingga tidak nyambung arah pembicaraan saat diskusi. “Sukarno sudah bebas dan akan mendirikan partai baru dengan tujuan mempersatukan kelompok PNI lama. Saya sudah berbicara dengannya, ia boleh dikatakan memohon bantuan saya. Walaupun demikian saya belum bisa memberi jawaban yang lugas. Saya nasihati dia untuk mempelajari posisi dan sudut pandang kami, dan setelah itu baru berbicara ke kami,” kata Syahrir tentang apa saja yang dibahas dalam pertemuan dengan Sukarno.
Hasil pertemuan dengan Sukarno tidak ada pembahasan penting yang perlu ditindak lanjuti. Saat itu pikiran Syahrir ingin segera ke edan untuk menjemput kekasih hatinya Maria Duchateau. Dalam surat yang dikirim terakhir, Maria akan datang tanggal 28 Maret 1032 di bersama dua anaknya.
Keduanya benar benar telah membuat sejarah gila. Pertama sebelum meninggalkan Belanda, ternyata Maria belum resmi bercerai dengan Sal Tas. Catatan lain keduanya hendak melakukan kawin campur di era kolonialisme yang rasis. Akhirnya tanggal 10 April 1932 mereka menikah siri di Masjid, dan langsung menjadi pasangan eksentrik di Medan. Mereka tinggal di sebuah rumah di kota Medan, berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Kesawen, atau sekedar berjalan santai bergandengan tangan mesra di Grand Hotel. Aksi itu tentu sangat terlarang bagi pribumi. “Maria berjalan-jalan di kota Medan, berkain sarung dan kebaya, bergandengan tangan dengan suaminya yang orang Indonesia,” tulis Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942.
Pasangan itu bikin gerah orang-orang Eropa rasis di Medan. Orang-orang kulit putih sangat risih, bahkan bertanya ke Maria, barangkali membutuhkan pertolongan. Hal ini menunjukan seolah-olah Syahrir pribumi yang jahat
Pernikahan dua ras yang berbeda itu menjadi perhatian mencolok bagi Belanda. Dengan cepat, berita soal Syahrir bersama Maria tersiar ke kalangan masyarakat Belanda hingga penduduk pribumi. Surat kabar Sumatra Post mengungkapkan bahwa wanita kulit putih yang bergandengan mesra dengan laki-laki pribumi, berjalana keliling kota dengan berlagak. Wanita yang bernama Maria ini sebenarnya masih istri sah dari seorang revolusioner Belanda yang terkenal. Tidak hanya itu media lokal ini juga memuat artikel untuk mendesak pemerintah bertindak terhadap Syahrir dan istrinya.
Kabar hubungan Syahrir dan Maria cepat tersiar dan sangat sinis. Membuat Imam yang mengawinkan mereka langsung menyatakan pernikahan tersebut tidak sah. Sebab Maria belum resmi bercerai dari suami sebelumnya yang berada di Belanda. Sehingga, pernikahan Syahrir dengan Maria hanya berjalan satu bulan.
Atas keputusan itu, pejabat Belanda memulangkan paksa Maria dan dua anaknya kembali ke kampung halamannya menggunakan kapal SS Marnix dari St Aldegonde. Maria pulang ke Belanda dalam keadaan hamil, namun akhirnya mengalami keguguran pada 14 Mei 1932. Peristiwa ini juga dijadikan peringatan penting dari pemerintah Belanda kepada aktivis pergerakan lainnya.
Setelah dipulangkan ke Belanda, Maria terus mencari akal untuk bisa kembali bertemu sang suami. Maria kirim surat kepada Ratu Belanda untuk bisa membawa kembali Syahrir, dengan alasan melanjutkan studi di Belanda. Namun permintaan itu ditolak. Hingga pada tahun 1934, pemerintah Belanda meringkus puluhan anggota PNI, tak terkecuali Bung Hatta dan Syahrir.
Syahrir ditangkap saat hendak bertolak ke Belanda menyusul Maria. Ikut pula diamankan sebuah tiket kapal SS Aramis yang sudah dipesannya jauh-jauh hari. Pertemuan dengan Maria kembali gagal karena Syahrir harus mendekam di balik jeruji penjara Cipinang. Selama masa tahanan, Syahrir ternyata dikenal orang yang tidak tahan kesendirian. Ia selalu berkiirm surat kepada orang yang dikasihinya, sebagai cara mengusir depresi kesendirian. Apa pun diceritakan Syahrir kepada Maria dalam bahasa Belanda, mulai ukuran sel tahanannya hingga makanan di penjara.
"Makin lama aku makin banyak melupakan apakah selera dan perangsang itu. Aku kini menganggap makan sebagai kewajiban, dan dengan demikian rasa kenyang beralih dari makan ke arah yang dimakan, kira-kira cara yang sama degan orang yag merasa puas menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kepuasan rohain dari jiwa lebih banyak daripada kepuasan hawa nafsu perut jadi kepuasan dengan spiritualital 'yang lebih tinggi'. Kamu dapat melihat apa yang ditekan jika makan memakai semangkok dari kaleng," tulis Syahrir dalam suratnya untuk Maria.
Akhirnya tanggal 16 November 1934, pemerinah Hindia belanda memutuskan lima pimpinan PNI diasingkan ke Boven Digul yang sangat terpencil. Bung Hatta dan Syahrir turut di dalamnya. Meskipun mereka menganggap pengasingan itu sebagai sebuah tamasya yang tak jelas kapan selesainya.
Akhir babak hubungan jarak jauh Syahrir dan Maria meskipun rajin bersurat mulai retak. Syahrir di Indonesia timur dan Maria di Belanda. Surat-menyurat itu sempat terputus oleh Perang Dunia II. Ketika Depresi Ekonomi eropa dampak perang terjadi, Sjahsam, salah seorang adik Syahrir dengan usia dua tahun lebih muda, diminta untuk membantu Maria dan anak-anaknya.
Kisah perjalanan mereka menuju Boven Digul yang saat itu ditakuti karena wabah malaria yang mematikan diceritakan Syahrir kepada Maria dengan pandangan optimis. Dia juga menceritakan buku-buku bacaanya selama menjadi tahanan yakni kitab Injil hingga novel. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik.
Dia pun bercerita soal interaksinya dengan "orang buangan" lain di Digoel yang tidak terpelajar. Selama di sana, tingkah laku Syahrir dianggap cukup aneh. Syahrir lebih senang berkelana melalui perahu kano menyusuri Sungai Digoel, berenang, hingga bermain bola. Syahrir juga dikenal sebagai "pengelana jenaka". Selama berada di pengasingan, Syahrir seolah-olah melepaskan diri dari dunia politik. Hal ini berbeda dengan rekannya, Bung Hatta yang masih aktif mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar.
Setelah ditelusuri, ternyata Syahrir membuat kesepakatan dengan Belanda untuk tidak menuliskan atau pun terlibat dalam pergerakan politik apa pun. Dengan catatan Syahrir akan mendapat tambahan uang dari Belanda untuk biaya korespondensi dengan Maria dari yang semula 2,6 gulden menjadi 7,5 gulden. Sebab bagi Syahrir, Maria adalah penyemangat hidupnya.
Ketika Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman, seluruh korespondensi terputus. Ternyata mulai dari 1931-1940, Maria menerima 287 surat dengan panjang antara 4-7 halaman dari Syahrir. Maria sempat berpikir untuk membakarnya namun dicegah suaminya yang juga adik Syahrir, Sutan Sjahsyam. Diputuskan surat surat itu akan dibukukan dengan judul Indonesische Overpeinzingen, dan diterbitkan di Amsterdam pada 1945.
Syahrir baru bertemu Maria setelah 15 tahun kemudian, yaitu pada 1947 di New Delhi. Kala itu Syahrir sudah menjadi Perdana Menteri Indonesia dan berkunjung ke India bersama rombongan. Ketika bertemu di bandara, Syahrir sempat mencium pipi kanan dan pipi kiri Maria. Tapi, menurut Maria Duchateau, merasakan Syahrir sudah berubah. Mungkin disebabkan Syahrir telah menjadi negarawan, atau sikap canggung karena sedang punya hubungan dekat dengan Popy sekretarisnya. (pul)
Pulung Ciptoaji
02.01.23
abad.id-Tinggi wanita itu hanya 1,5 meter dan sangat kecil untuk ukuran wanita kulit putih. Kulitnya menjadi kecoklatan karena terlalu lama berada di tengah udara tropis negara India. Diwajahnya penuh dengan garis-garis ketuaan, serta mata birunya memancarkana harapan hidup dan kasih sayang. Tangannya menjadi kasar, banyak mengelupas kulit ari seperti milik tangan pembantu rumah tangga. Di usia yang ke 73 tahun itu, Bunda Teresa sudah tidak lagi segesit dulu. Apalagi tubuhnya juga digerogoti penyakit jantung.
Hari itu tahun 1979, tampilan Ibu teresa begitu apa adanya. Dunia yang kagum atas perjuangan dan dedikasi Bunda Teresa menyebutnya Bidadari Kaum Gelandangan, atau Bidadari Kaum Sengasa. Hari istimewa bagi Bunda Teresa sebab mendapatkan nobel perdamaian dan pehargaan Order of Merit Dari kerajaan Inggris. Ditengah gemerlap prestasi itu, Bunda Teresa masih tinggal di kota termiskin dan paling jorok Kalkuta. Hiruk pikuk udara yang berdebu dan bau busuk memudahakan siapapun terkena broncistis atau asma.
Di komplek tempat tinggal yang dia sebut Mother House, setiap hari berkumpul para gelandangan lapar. Mereka berpakaian compang camping menunggu makanan dan obat gratis dari Mataji, (panggilan orang orang itu kepada Bunda Teresa). Suasana antri dan wajah yang resah itu berbaur dengan suara klakson dan bisingnya kota.
Bunda Teresa lahir 27 Agustus 1910 di Skopje (Yugoslavia) dari orang tua bernegara Albania. Nama aslinya Agnes Gonxha Bejaxhin. Ketika kecil tingkah lakunya seperti anak laki-laki. Meskipun demikian Bunda Teresa selalu tertarik dengan tugas-tugas misionaris. Di usia muda 18 tahun, ia berlayar ke Dublin (Irlandia) untuk belajar bahasa Inggris di Biara Ordo Loreto sebelum dikirim ke India. Di usia 20 tahun ia mengajar di St Marys High Scool di Kalkuta, dan sejak saat itu para siswa sering memanggilnya dengan Bunda Teresa.
Kedekatannya dengan kaum miskin berawal ketika menggelar retret di Darjeeling ( Bengali Utara ). Di tempat itu dia seperti mendengar suara perintah Tuhan. Isinya memerintahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan kepada kaum miskin dan sengsara. Sejak saat itu Bunda Teresa minta ijin keluar dari biara dan tinggal di daerah yang paling miskin (Slum) kota Kalkuta. Bunda Teresa meninggalkan kebiasaan Ordo Loreto, dan kini memakai pakian sari putih dengan piringan biru. Pakaian ini kelak dijadikan ordo baru yang didirikannya pada taun 1950 di Kalkuta, The Society of the Missionaries of Charity. Bunda Teresa juga mengundurkan diri sebagai guru di St Marys High Scool karena menganggap tugasnya terhadap kaum miskin lebih penting.
Kini Bunda Teresa hanya memakai pakian sari putih dengan piringan biru. Pakaian ini kelak dijadikan ordo baru yang didirikannya pada taun 1950 di Kalkuta, The Society of the Missionaries of Charity.
Totalitas Bunda Teresa mengabdi untuk warga miskin dimulai dengan pindah kewarga negaraan India pada tahun 1948. Serta membuka sekolah pertama yang diperuntukan bagi orang miskin. Sekolah itu didirikan yang pertama di wilayah termiskin kota Kalkuta. Bantuan finansial terhadap aksi simpatik Bunda Teresa dari seluruh dunia, membuahkan hasil dengan membuka Nirmal Hridai Home, sebuah rumah perawatan khusus bagi orang yang menjelang ajal. Kemudian menyusul mendirikan Shinshu Bhavans, sebuah panti yang merawat bayi-bayi dan anak terlantar. Pada tahun 1957, Bunda Teresa membuka sebuah Leprosarium atau rumah perawatan bagi penderita penyakit lepra.
Kini ordo yang diadirikan telah berkembang di seluruh India dan 30 negara. Di Kalkuta saja memiliki 250 biarawati dan 1800 diantaranya tersebar di seluruh dunia. Ordo ini mengendalikan 87 panti yatim piatu di India dan 4- di negara lain. Juga mengendalikan 213 rumah obat seperti apotik, 54 rumah sakit lepra dan 60 sekolah. Semuanya disediakan untuk orang miskin dan tidak dipungut biaya. Banyak sukarelawan dari penjuru dunia datang ke India untuk membantu di panti panti perawatan Ibu teresa.
Nirmal Hriday House, Rumah Tunggu Kematian
Nirmal Hriday House atau rumah bagi kaum miskin yang menjelang ajal, dijadikan tempat latihan bagi pelamar yang ingin menjadi relawan Bunda Teresa. Siapapun diwajibkan bekerja terlebih dahulu di rumah perawatan ini sebelum mereka bekerja di Shinshu Bavans atau Leprosarium. Salah seorang biarawati yang bekerja mengaku jika anda bisa bertahan bekerja disini maka anda juga akan tahan bekerja di manapun juga.
Penghuni rumah perawatan ini menderita berbagai macam penyakit. Umumnya masalah gizi, TBC dan disentri. Setiap orang yang memasuki ruangan perawatan harus menahan diri untuk tidak muntah, sebab udara berbau busuk. Disinfektan dianggap tidak berhasil menghalau bau kotoran manusia atau muntahan pasien yang berceceran.
Namun bagi Bunda Teresa, Nirmal Hriday House ini adalah tempat kasih sayang. Ia tidak pernah lupa orang-orang pertama yang dirawatnya. Pada tahun 1952 ketika sedang berjalan di kota Kalkuta, ia menemukan orang yang terbaring di selokan tepi jalan. Tampaknya korban sakit parah. Dipungutnya pria terlantar itu dan dibawa pulang.” Itulah orang pertama yang aku tolong, setelah dimandikan dan dibersihkan luka lukanya, kubaringkan di balai-balai. Kemudian ia berkata seumur umur saya hidup bagaikan binatang, menggelandang sepanjang jalan. Kini saya akan mati bagaikan bidadari dicintai dan dirawat. Tiga jam kemudian ia meninggal dunia dengan senyum di bibirnya,” cerita Bunda Teresa.
Penghui pertama lain seorang wanita yang ditemukan Bunda Teresa di tepi jalan depan sebuah rumah sakit. orang malang ini sedang digigit tikus dan tubuhnya penuh koreng digerogoti belatung. Ibu teresa membawanya pulang dan membersikan tubuh dan lukanya. “ Ketika saya baringkan di tempat tidur, dipeganglah lenganku. Satu satunya ucapannya adalah terimakasih dan iapun meninggal dunia,” tutur Bunda Teresa.
Ada sukarelawan lain Levia dari Yorkshire (Inggris) menceritakan, Nirmal Hriday House dihuni 107 penderita yang tidak lama lagi akan meninggal dunia. Selanjutnya tempat mereka akan digantikan penderita lain. Salah seorang penghuni itu bernama Kelok, wanita muda berusia 20 tahun yang menderita TBC parah. Berat tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Ia berbaring di sebuah tempat tidur dengan tungkai yang tidak lebih besar dari dua jari tangan manusia dewasa normal. Pasien lain bernama Lakhi juga menderita TBC, disentri dan kekuragan gizi. Melihat penampilananya dikira usia 40 tahun, padahal Lakhi baru berumur 10 tahun. Lakhi tidak pernah mengeluh meskipun tubuhnya sakit. karena levernya membengkak sampai 3 kali lipat. Penghuni lainnya Gauri seorang wanita cantik usia 18 tahun yang menderita TBC parah. Meskipun tubuhnya kurus, Gauri masih senang bercanda dan menggoda suster dan biarawati yang merawatnya. Ada harapan Gauri untuk sembuh.
Di usia senjanya itu, banyak pihak yang menyarankan Bunda Teresa mengurangi aktifitasnya. Keadaan kesehatan juga menurun akibat penyakit jantung. Beberapa tahun terakhir memang pernah dirawat di beberapa rumah sakit, namun Bunda Teresa tetap ingin dekat dengan orang miskin dan sengsara. “Semua terserah kepada Tuhan,” kata Bunda Teresa.
Pengabdian kepada Tuhan dan kaum miskin dan sengsara sudah maksimal. “Yang patut diingat, jangan merendahkan mereka hanya karena miskin. Orang miskin itu adalah manusia seperti kita juga yang punya perasaan dan keinginan. Berilah mereka perhatian dan kasih sayang,” pesan Bunda Teresa. (pul)
Pulung Ciptoaji
23.12.22
Penulis : Pulung Ciptoaji
Sekarang Sukarno harus menjaga sikap. Di hadapan Jepang dia harus tampil sebagai sekutu yang setia sambil berusaha membujuk untuk mewujudkan janjinya memberi kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara di hadapan para pemimpin nasional lainnya serta Masyumi, Sukarno harus membuktikan janji Koiso. Lebih dari itu, Sukarno harus bermain aman agar posisinya sebagai tokoh sentral tidak goyah. Sebab ada kelompok rakyat telah menghubungkan namanya sebagai tokoh yang kurang menyenangkan. Bahkan ada yang bilang Sukarno hanya "budak Jepang"
Strategi para pemimpin nasionalis yang belum tampak tujuannya itu rupanya sudah terbaca oleh rakyat yang mulai muak dengan perilaku Jepang. Kelakuan Jepang yang bengis dan diluar batas kewajaran dan adat, benar-benar membuat jengkel kaum priyayi dan rakyat. Kelakuan tentara Jepang itu membuat marah tentara PETA yang mestinya bertugas mendukung program Romusa. Maka pada tanggal 14 februari 1945 di Blitar terjadi perlawanan tentara PETA terhadap Jepang. Tokoh pemimpin aksi perlawanan ini seorang pemuda berpangkat soudanco bernama Supriyadi.
Supriyadi memiliki nama kecil Priyambodo. Sejak kecil dia terbiasa mendengar cerita kepahlawanan para wayang dan sikap hidup kesatria dari kakek tirinya. Kisah-kisah itu membekas pada jiwa dan kepribadian Supriyadi. Pemuda asal Trenggalek lahir 13 April 1923 ini, ikut kesatuan semi militer Jepang Barisan Pemuda atau Seinendan di Tangerang. Berikutnya, Supriyadi pun terpilih mengikuti PETA yang dibentuk Jepang pada 3 Oktober 1943.
Mengutip Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara oleh Gamal Komandoko, Supriyadi pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Belanda, ELS (Europese Lagere School) dan melanjutkannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Sebelum bergabung denan PETA, priyayi Jawa ini sempat melanjutkan pendidikan ke sekolah pamong praja, OSVIA (Opleiding School Voor Indlandse Ambtenaren) di Magelang.
Setelah memperoleh pendidikan militer di PETA, Supriyadi diangkat sebagai Dai Ichi Shodan atau Peleton 1 wilayah Blitar. Tugasnya selama di Blitar mengawasi pekerjaan romusha. Namun, pekerjaan itu ditolaknya dengan alasan terlalu kejam untuk memperbudak bangsanya sendiri.
Dalam buku Sukarno biografi 1901-1950, Lambert Giebels penulis berkebangsaan Belanda itu menyebutkan supriadi sangat percaya diri mampu melakukan perlawanan. Ia menimba kekuatan dari hubungan mistiknya dengan Pangeran Diponegoro. Atas keyakinan ini, banyak anggota PETA lain yakin dan ikut dengan aksi Supriyadi
Sebulan sebelum aksi pemberontakan, terdapat 16 anggota PETA aktif mulai melakukan rapat di sebuah tempat yang tertutup. Para tokoh pemuda itu Supriyadi, Halir, Ismangil dan beberapa tokoh kelompok rakyat. Mereka memutuskan aksi pemberontakan tanggal 14 Pebruari 1945 pukul 04.00 sebelum apel pagi. Dalam keyakinannya, para tokoh pemuda ini akan menyerbu markas dan asrama batalyon PETA di Blitar.
Namun rupanya para pemuda ini lupa strategi dan tujuan aksi pemberontakan itu. Bisa jadi aksi serangan pagi hari ini hanya bentuk ketidak puasan atas tentara Jepang, atau ada masalah dendam pribadi. Strategi penyerangan juga belum matang. Mereka tidak mengukur bagaimana menguasai senjata, bagaimana cara melakukan langkah gerilya jika aksi mereka gagal.
Seperti yang sudah disepakati, pagi itu menjelang subuh sudah muncul rentetan senjata menyerang markas batalyon PETA. Banyak pasukan Jepang yang sedang tidur langsung disergap dan dibunuh. Para pemberontak juga merampas senjata, mobil pengangkut barang dan kas tentara sebesar 10 ribu gulden. Menjelang fajar, masa pemberontak bergerak menuju penjara kota Blitar yang berada dekat alun-alun. Disana mereka membebaskan 250 tahanan kriminal dan segera bergabung dengan pasukan.
Dalam catatan sejarah aksi para pemuda PETA ini penuh dengan semangat dan kepahlawanan, dan benar benar menguasai kota Blitar. Menang dalam satu gebrakan. Pukul 10 pagi sudah banyak mayat tentara Jepang bergelimpangan di markas dan di jalan. Belum puas, massa bergerak semakin bengis dengan melakukan penjarahan toko-toko yang dihuni etnis China. Bahkan Lambert Giebels berani menyebut pasukan liar semakin bengis dengan melakukan aksi pemerkosaan wanita Indo Belanda. Situasi kota Blitar benar-benar tidak bisa dikendalikan. Namun sekali lagi massa ini tidak memperhitungkan strategi pertahanan jika ada aksi balasan dari tentara Jepang. Supriyadi yang menjadi tokoh utama gerakan masih terlalu muda dan emosional tidak bisa mengendalikan massa yang terlanjur euforia.
Rupanya Jepang langsung kalap penuh kemarahan begitu mendengar kabar kota Blitar dilumpuhkan dan banyak tentaranya dibunuh. Serangan para pemberontak PETA ini dibalas Jepang dengan skala lebih besar. Batalyon dari Malang dan Kediri didatangkan untuk mengepung Blitar. Akibatnya situasi tak seimbang. Para pemberontak yang kurang berpengalaman tempur kocar kacir menyelamatkan diri masuk ke hutan dan Gunung Kelud. Sementara para pemimpin berhasil ditangkap dan diajukan ke pengadilan militer Jepang di Jakarta. Di berbagai buku sejarah menyebutkan, Supriyadi tidak ikut diadili dan diduga sudah lebih dahulu dihabisi Jepang.
Aksi pemberontakan PETA ini juga dipantau para pemimpin nasional, dan mereka mengambil sikap berbeda-beda. Ada pihak yang menuding Supriadi terlalu gegabah dan terburu-buru. Bahkan ada kelompok nasionalis lain yang menyalahkan cara Supriyadi, sebab dianggap menggangu rencana dan strategi awal untuk menjadi negara merdeka sesuai janji Koiso. Namun ada kelompok lain menganggap justru dengan pemberontakan PETA ini membukikan kekuatan rakyat bisa mengalahkan tentara Jepang. Berkat aksi pemberontakaan ini posisi Jepang yang sebelumnya sudah banyak kalah perang di beberapa wilayah perang pasifik semakit terdesak. Aksi pemberotakan PETA juga membangkitkan rasa patriotik rakyat yang tinggal di batalyon wilayah lain, dan sudah menyiapkan diri akan melakukan langkah sama jika diperlukan.
Sementara itu bagi Sukarno, serangan PETA ini membuat posisinya yang sebelumnya sangat aman menjadi dilematis. Sebab aksi pemberontakan itu berada di Kota Blitar tempat tinggalnya. Sukarno kawatir muncul kesan seakan-akan aksi pemberontakan itu dibawah kendalinya. Sukarno harus mencari cara agar keluarga di Blitar aman dari incaran Jepang.
Untuk menghilangkan keraguan tentara Jepang terhadap Sukarno, segera menawakan diri untuk bertindak sebagai salah satu juri pribumi yang diperbantukan kepada pengadilan militer di Jakarta. Mereka yang tertangkap ini para pemimpin mulai Halir dan dr ismail. Namun upaya Sukarno ini ditolak Jepang karena akan berdampak negatif dengan namanya. Dalam sidang militer Jepang itu, para pimpinan pemberonak mendapatkan vonis hukuman mati dengan cara dipancung sesuai tradisi samurai.
Rupanya keterangan berbeda dalam otobiografi Sukarno yang ditulis wartawan Amerika Cindy Adams. Sukarno mengatakan bahwa secara tidak langsung ikut terlibat dalam aksi pemberontakan PETA. Sukarno membesar-besarkan keterlibatannya. Seakan-akan membuka rahasia yang tidak banyak diketahui orang. Katanya sebelum dilakukan rapat-rapat di markas, para pimpinan pemberontak mendatangi rumah orang tua Sukarno di kelurahan Gebang Bendogerit yang tidak jauh dari lokasi markas. Mereka mengungkapkan rencana aksinya. Raden Sukemi orang tua Sukarno menemui para pimpinan PETA itu memberi semangat. Namun juga mengingatkan bahwa kalau nanti mendapatkan kesulitan, ia tidak bisa membantu karena keterbatasannya.
Memang dampak pemberonakan PETA ini benar benar merubah tingkat kepercayaan diplomatik terhadap pemimpin nasionalis di Jakarta. Sumber dari Jepang kolonel Miyamoto Shizuo perwira staf dari tentara ke 16 bagian transportasi dan komunikasi mengatakan, pemberontakan batalyon PETA harus mengubah strategi Jepang. Setelah kejadian itu PETA tidak lagi dipercaya sepenuhnya oleh Jepang jika terjadi pertempuran besar melawan sekutu di pulau Jawa. Bahkan Jepang mulai curiga dengan PETA. Dikawatirkan akan muncul pemberontakan susulan yang bisa terjadi saat serangan sekutu di tanah Jawa. Atas kejadian itu, semua tenaga cadangan di kepulauan Indonesia termasuk divisi 48 di wilayah timur segera ditarik untuk mempertahankan pulau Jawa. Sehingga kekuatan Jepang di pulau Jawa meningkat menjadi 80 ribu tentara.
Bahkan jika muncul serangan sekutu ke pulau Jawa, kekuatan Jepang akan dikonsentrasikan di daratan tinggi Bandung. Di kota ini akan dirancang menjadi palagan pertempuran yang menentukan. Beruntung, semua langkah tersebut tidak semua dilakukan oleh Jepang, sebab 2 bom besar di kota Hirosima dan Nagasaki telah menundukan Jepang dari kemungkinan perang yang lebih dasyat. (pul)
Author Abad
20.12.22
Rasputin termasuk manusia yang paling sukar dimengerti dalam sejarah modern. Sebagai manusia suci, Rasputin memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Rasputin diangkat sebagai penasehat spiritual sang raja alias dukun politik. Dia kemudian menggunakan kekuasan untuk hal-hal jahat. Puluhan istri maupun gundik pejabat negara dikencani. Beberapa perempuan malah rela menyerahkan kehormatannya karena sang Rasputin dikenal memiliki penis sepanjang 30 cm. Gejolak pun timbul. Rasputin dimusuhi banyak orang. Dia dibunuh. Penisnya dipotong dan dijadikan tontonan.
Abad.id Namanya Grigori Efimovich Rasputin. Dia dikenal dengan julukan si rahib sinting. Dia seorang yang memiliki karunia menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dia mendapat pengelihatan-pengelihatan mengenai seorang perempuan yang masih perawan. Bila ia mendekati anak tersebut, maka pendarahannya akan berhenti.
Rasputin terlibat dalam penyembahan seks iblis. Karena itu ia dapat mengendalikan Tsarina (permaisuri). Ia dimusuhi kalangan atas. Banyak orang percaya bahwa Rasputin seorang yang dikuasai oleh iblis. Inilah yang mengendalikan Rusia dari balik layar. Bahkan Tsar (Raja Rusia) takut akan kekuatan anehnya.
Semenjak masih muda, Rasputin telah mengikuti aliran “aneh”. Aliran ini percaya untuk dekat dengan Tuhan. Bahkan mereka harus berdosa dulu bila ingin masuk ke dalam aliran tersebut. Ketika mereka sudah besimbah dosa, mereka meminta ampunan dosa. Dengan begitu mereka bisa dekat dengan Tuhan. Lalu rasputin mulai pengembaraannya sebagai pendeta.
Yang paling aneh dari aliran ini adalah, aliran ini menghalalkan berhubungan seks dengan siapapun saat melakukan upacara keagamaan.
Rasputin mulai memasuki dunia pemerintahan ketika dia berhasil mengobati anak Tsar Rusia Nikolas yang memiliki Hemophilia, penyakit kelainan darah keturunan yg didapat dari garis keturunan ratu Victoria Inggris.
Semua dokter, tabib, dukun angkat tangan dalam mengobati penyakit Nikolas. Hingga sampai nama Rasputin di kalangan bangsawan. Namanya diajukan sebagai alternatif.
Tsarina Rusia yang sudah putus asa bersedia nerima Rasputin. Dan entah bagaimana caranya (banyak teori tentang ini) Rasputin cuma menemui anak tersebut. Secara ajaib pendarahannya berhenti.
Sejak itu nama Rasputin mulai diperhitungan di kalangan kerajaan Rusia. Selain Bahkan banyak keputusan kerajaan selalu meminta nasihat darinya. Tak heran jika Tsar Nikolas dan Tsarina sangat percaya dengan dukun ini.
Meski Rasputin sudah termasuk bagian dari tatanan kerajaan, tapi ia tetap menjalankan ibadah anehnya, yakni sering mengadakan pesta orgy seks di basement rumahnya sebelum minta pengampunan dosa. Selain itu, pendeta ini juga jarang mandi. Dia hanya mandi sebulan sekali!!
Pesta Seks Perawan
Grigori Yefimovich Rasputin atau Grigori Yefimovich Novy atau (риго́рий Ефи́мович Распу́тин/Григорий Ефимович Новый) terkenal sebagai anak berandalan yang suka mabuk dan main cewek.
Dia dilahirkan lahir pada 22 Januari 1869 di sebuah desa terpencil di Pokrovskoye, tepatnya sepanjang sungai Tura Sungai di Tobolsk Guberniya (sekarang Tyumen Oblast) Siberia.
Tidak banyak yang tahu mengenai masa kanak-kanak Rasputin. Rasputin memiliki dua saudara kandung bernama Maria dan yang paling lebih tua bernama Dmitri.
Sewaktu kecil Maria menderita epilepsy (ayan). Suatu hari Rasputin sedang bermain di sungai bersama kedua saudaranya. Tiba-tiba penyakit Maria kambuh. Ia tercebur ke sungai. Melihat itu, Dmitri masuk ke dalam sungai dan berusaha menolong Maria. Sayang, karena keduanya tak bisa berenang, mereka pun hanyut terseret arus sungai.
Melihat kejadian itu, Rasputin hanya diam. Dia tak berusaha menolong atau menyelamatkan kedua saudaranya. Keduanya dibiarkan mati. Maria mati tenggelam karena penyakit epilepsinya kumat, sedang Dmitri tenggelam karena tak bisa berenang. Sehingga radang paru-parunya tak kuat menampung air.
Kematian kedua saudaranya itu, tak pelak, mempengaruhi perkembangan Rasputin. Tak heran jika kemudian Rasputin memberi nama anak-anaknya dengan nama Maria dan Dmitri, diambil dari nama saudara-saudaranya.
Sepeninggal saudara-saudaranya, kontan kehidupannya berubah. Rasputin kecil kerap menyendiri dan mengurung dalam kamar. Dia tak mau bergaul dengan teman-teman sebayanya. Dia lebih memilih berdiam diri di tempat-tempat yang angker dan keramat.
Bukan itu saja, dalam melakukan pencarian jati diri, Rasputin jarang menyentuh air alias tak pernah mandi. Badannya jadi kusut, bau, dan lusuh. Pun pakaiannya mirip pengemis dibanding orang lelaku.
Setiap orang kampung berpapasan dengan Rasputin, mereka buru-buru menutupi hidungnya. Karena badannya mengeluarkan aroma tak sedap, laki-laki itu mulai dijauhi keluarga maupun teman-temannya.
Suatu hari Efimy Rasputin, ayah Rasputin mendapati kudanya hilang dicuri maling. Setelah diperiksa, ternyata si pencurinya tak lain adalah anaknya sendiri, tak lain Rasputin. Dia pun diusir ayahnya. Ketika itu usianya baru menginjak 18 tahun.
Setelah diusir dari rumah, Rasputin mulai melakukan pengembaraan. Dia masuk ke sebuah biara Verkhoturye. Tujuannya adalah penebusan dosa atas pencurian yang pernah dilakukannya.
Selama dalam pengembaraan, Rasputin mengalami banyak pengalaman spritual. Berbagai sekte atau aliran sesat dilakoninya demi mendapatkan ilmu yang diinginkan. Bahkan akhirnya, dia bergabung dengan sebuah aliran sesat. Aliran ini berkiblat pada seks. Setiap mengadakan upacara keagamaan, aliran ini sebelumnya harus melakukan ritual seks. Dalam ajarannya, aliran ini selalu berpedoman bahwa setiap manusia yang ingin dekat dengan Tuhan, maka ia harus melakukan perbuatan terlarang.
Inilah pertama kali Rasputin mengenal seks. Darah mudanya terpacu. Apalagi, di antara pengikut-pengikut tersebut, Rasputin dikenal memiliki alat kelamin paling besar dan panjang. Menurut catatan sejarah, penis Rasputin berukuran 30 cm. Di kalangan pengikut aliran sesat tersebut Rasputin dijuluki dewa seks. Selain memiliki alat yang besar dan panjang, dia ternyata jago bermain seks.
Tidak sedikit para pengikut-pengikutnya (khususnya wanita) yang puas bila berhubungan dengan Rasputin. Rasputin bukan saja hebat bermain di ranjang, tapi juga hebat melayani 5 hingga 7 wanita sekaligus.
Setiap kali memulai aliran sesatnya, sang dewa seks selalu mengajak teman-temannya untuk melihatnya berhubungan intim dengan lawan jenisnya. Pengikutnya bertelanjang bulat. Di sudut ruangan yang remang-remang itulah, beberapa pria dan wanita mulai melakukan ritual keagamaan dengan saling bercengkraman dan tumpang tindih.
Orang pertama yang memulai tentu saja Rasputin. Di depannya telah terlentang seorang wanita muda. Kulitnya putih dan mulus. Wanita itu pura-pura tertidur nyenyak di sebuah ranjang.
Wajahnya tenang, mulutnya terlukis sesungging senyum. Sesekali ia membuka matanya dan melihat sosok kekar Rasputin dan berharap agar lelaki itu segera mendekatinya.
Secara phisik, gadis ini sangatlah bahagia dan sejahtera. Ia dikelilingi lelaki dan wanita yang tengah bertelanjang bulat. Dalam usia yang relatif muda, gadis itu mulai dijejali dijejali pemandangan erotis di sekelilingnya. Entah bagaimana awalnya ia bisa tergabung dalam aliran sesat tersebut. Yang jelas gadis itu telah siap melakukan ritual keagamaan yang dianut Rasputin.
Sementara Rasputin muda mulai digelayuti keresahan. Keindahan tubuh si gadis membuat jakun Rasputin naik turun. Gairah Rasputin naik. Antara ragu dan takut, Rasputin berusaha untuk menahan gairahnya. Dalam hatinya berkata, mampukah ia melakukan perbuatan terlarang tersebut.
Lagi-lagi perang batin kian berkecamuk di hatinya. Rasputin resah dan tak bisa mengatupkan mata. Malam terus merangkak. Dingin menempel di jendela, dan terus merayap memenuhi ruang tua tersebut.
Melihat perubahan yang dialami Rasputin, beberapa orang yang hadir dan si gadis tadi terpekur. Mereka melihat perubahan yang sangat dramatis dialami laki-laki kusut tersebut. Alat kemaluan Rasputin makin lama makin membesar.
Si gadis makin bernafsu. Detup jantung di seluruh ruangan membahana. Nafas Rasputin dan si gadis memburu hebat. Otaknya berpikir keras. Saat itulah Rasputin dan si gadis mulai naik ke peraduan. Keduanya tak tertutupi kain apa-apa. Bahkan, perbuatan mereka dapat dilihat oleh yang lain.
Rasputin terus merayap. Sampai akhirnya keluarlah lengkuhan panjang dari si gadis. Pemandangan ini sontak membuat orang-orang di sekitarnya, baik pria dan wanita mulai mengikuti langkah Rasputin.
Mereka akhirnya mulai melakukan pesta seks. Saling merangsang, saling tindih, dan saling tukar pasangan.
Tak berhenti sampai di situ. Rasputin terus saja melakukan ritualnya. Dia menindih lagi si gadis. Ia memasukkan lingganya ke yoni gadis ini. Saat itulah keluar darah perawan dari si gadis. Melihat hal itu, Rasputin makin penasaran dan meneruskan ‘pekerjaannya’.
Kejadian itu berlangsung lama. Dan itulah pesta seks perawan yang dilakukan Rasputin dan pengikutnya. Ritual tersebut dilakukan untuk menjajal ilmu kesaktiannya. Hampir setiap malam bulan purnama, Rasputin melakukan ritual seks. Bukan satu gadis yang ditindih, melainkan banyak.
Kegilaan Rasputin ini sempat mendapat pujian dari para pengikut aliran sesat lainnya. Tak heran jika setelah melakukan ritual terlarang tersebut, Rasputin mendapat julukan sebagai dewa seks.
Dibunuh Kaum Homo, Penisnya Dipotong dan Diawetkan
Rasputin sempat menikah menikah dengan Prascovie Dubrovin pada usia 19 tahun. Namun demikian dia tetap ‘bermain’ dengan banyak wanita. Rasputin juga semakin dihormati karena sering melakukan pengembaraan spiritual ke daerah lain dan pintar menafsirkan kitab suci. Pengikutnya semakin banyak sampai pendeta di desanya cemburu.
Seorang pertapa dari Makari menganjurkan padanya untuk mengembara ke Pegunungan Althos, Pusat Gereja Ortodoks setelah Rasputin melihat bayangan Perawan Maria. Dalam perjalanan Rasputin menginap dirumah-rumah penduduk dan membayar dengan menceritakan kisah-kisah perjalanannya. Namanya menjadi semakin terkenal karena kearifannya dalam mendiskusikan agama, memberikan nasihat, dan menolong orang sakit.
Dua setengah tahun, Rasputin pulang ke kampung halamannya sebagai orang suci. Ketika penduduk desa Pokrovskoe tahu bahwa Rasputin telah kembali dari pengembaraannya , mereka berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk mendengarkan kisah pengalamannya.
Mereka dibuat terpesona dengan perubahan yang terjadi padanya. Rasputin tidak lagi memakan daging dan minum vodka. Ketika dia berbicara tentang agama, kesungguhan dan kedalamannya membuat semua terpikat.
Rasputin selalu merasionalisasi perilakunya dengan falsafah Khlyst, bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dan nafsu seks. Dalam menghadapi murid wanitanya dia menerapkan kebijaksanaan berbeda. Untuk dibebaskan dari dosa kita harus berbuat dosa terlebih dahulu, katanya.
Rasputin mendirikan tempat pemujaan di bawah tanah tepat di bawah lumbung penyimpanan gandum bersama dengan teman-temannya.
Nama Rasputin kian menyebar di lingkungan petani dan biarawan Siberia. Bahkan Rasputin dianggap mampu menyembuhkan orang sakit. Penduduk Kiev di Kazan yang kebanyakan bangsawan dan tokoh gerejanya mulai mengenal Rasputin.
Kazan , yang terletak di tepi sungai Volga adalah kota yang didirikan oleh bangsa Tartar pada abad ke 15. Dikota ini berkumpul berbagai bangsa : Cina , Negro, Tartar, Turki, Arab dan bangsa Rusia dari segala daerah.
Salah satu yang menjadi perhatian Rasputin di Kazan adalah Biara Bogoroditski yang dibangun pada tahun 1579. Di dalam biara itu terdapat patung Perawan Hitam Kazan yang sangat indah. Patung itu mengingatkannya pada pertemuannya dengan Perawan Suci Maria di ladang.
Tokoh gereja yang ditemui Rasputin di Kazan antara lain Pendeta Chrisanthos dan Uskup Andrey. Pendeta Chrisanthos dengan cepat bersimpati, akan tetapi Uskup Andrey mulai meragukan Rasputin sebagai orang suci.
Pada awal abad ke 20 Rasputin dan istrinya mempunyai tiga anak: Dmitri (1895), Maria (1898) dan Varya (1900).
Di tahun 1900 saat Rasputin berusia 29 tahun, dia berdiri diambang kejayaan dan kekuasaan, juga ancaman kebencian dan bahaya.
Rasputin mulai menarik perhatian kalangan Istana Romanov ,dan Grand Duchess Militsa mengundangnya untuk datang menghadap. Militsa terkesan dan mengundang kembali Rasputin untuk datang ke St. Petersburg.
Militsa adalah seorang wanita yang berpengaruh dan licik. Suaminya Peter adalah saudara sepupu Tsar. Militsa adalah putri raja Nikita penguasa Monte-Negro (kini Yugoslavia). Dia mempunyai pengaruh yang besar di istana Rusia karena keakrabannya dengan Tsarita. Mereka akrab karena sama-sama menyukai spiritualisme, komunikasi dengan arwah, ramalan dan keagamaan.
Saat itulah Rasputin diangkat sebagai penasehat spiritual oleh istana. Dalam perjalanannya, sepak terjang Rasputin kian kuat. Dari sisi spiritual, banyak pejabat-pejabat istana, terutama istri-istri pejabat, meminta nasehat kepada Rasputin. Layaknya seorang sakti, Rasputin dengan bijak memberi wejangan kepada mereka.
Namun demikian, nasehat yang diberikan Rasputin tidak gratis. Sebab setiap kali memberi nasehat, dia selalu meminta imbalan. Dan imbalannya adalah berhubungan intim. Tentu saja hal itu dilakukan hanya untuk istri-istri pejabat.
Dan memang awalnya Rasputin suka dengan seks, maka semua wanita di seluruh istana pernah tidur dengan Rasputin. Dan kebanyak wanita-wanita tersebut sangat puas bila berhubungan badan dengan Rasputin. Mereka melihat Rasputin adalah sosok laki-laki yang perkasa. Belum lagi dia memiliki penis yang sangat panjang.
Hal ini pula yang membuat istri-istri pejabat tersebut tidak menolak untuk diajak tidur. Bukan saja wanita di lingkungan istana yang pernah ditindih, Tsarita sendiri, permaisuri raja malah pernah takluk akan keperkasaan Rasputin. Menurut Tsarita, Rasputin adalah pria yang luar biasa. Dalam satu malam dia bisa berhubungan badan dengan 3-4 perempuan.
Rasputin memang seorang yang jago bermain kata-kata. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya ibarat dewa. Dan apapun yang diinginkan Rasputin harus dipenuhi. Jika tidak, maka dewa-dewa akan marah.
Kejayaan Rasputin dari tahun ke tahun telah menenggelamkan dirinya. Di istana, dia menjadi orang yang paling dipercaya. Banyak orang yang takut kepadanya. Pejabat istana bahkan tidak berani menentang Rasputin. Bukan itu saja, mereka juga takut jika ucapan Rasputin akan menjadi kenyataan.
Tapi kemudian muncul kebencian terhadap Rasputin. Para pejabat mulai mencium gelagat tidak baik dalam diri Rasputin. Mereka mulai tahu bahwa Rasputin pernah meniduri istri-istri mereka. Selain itu pula, para pejabat dari aliran konservatif ini mulai khawatir akan pengaruh Rasputin terhadap istri tsar.
Yah, dengan menguasai permaisuri, otomatis permintaan Rasputin akan dipenuhi tsar. Maka, pada tanggal 29 Desember 1916, para pejabat istana mulai merencanakan sebuah siasat untuk membunuh Rasputin.
Suatu hari saat perjamuan makan malam di istana, seseorang memberi racun sianida. Dosisnya setara untuk menewaskan 10 orang. Tapi karena diketahui kemudian bahwa sianida tersebut sudah rusak oleh pemanasan makanan, Rasputin gagal mati.
Kesempatan itu kemudian dilakukan pada malam harinya, di saat Rasputin hendak pulang ke kampungnya. Dalam perjalanan pulang, beberapa pria tak dikenal menembak Rasputin dari belakang. Penembak itu bernama Felix Yusupov. Felix sendiri adalah utusan dari istana. Dia seorang gay atau homo. Bersama teman-teman homonya, Felix mulai melakukan aksi bengisnya. Tapi saat Rasputin ditembak, sang dukun masih dapat bertahan hidup. Ia ditembak lagi 3 kali, tapi tidak mati juga.
Saking berangnya melihat Rasputih tidak mati, mereka lantas memukulnya dengan tongkat berkali-kali dan beramai-ramai. Saat itulah Rasputin langsung tewas seketika. Dan sebelum tewas, para pembunuh gay ini memotong penis Rasputin. Penis itu dipotong untuk dijadikan bukti kepada pejabat istana bahwa musuhnya telah mati. Jika saat tegang penis Rasputin bisa memanjang sampai 30 cm, nah pada saat tewas (tidak tegang, red) penisnya menyusut menjadi 27 cm. Namun tetap saja panjang.
Setelah memotong penis Rasputin, para pembunuh bayaran tersebut kemudian menenggelamkan jasad Rasputin ke Sungai Neva yang dingin. Menurut beberapa sumber di istana, seorang pembantu menemukan penis Rasputin di tempat sampah, tak jauh dari istana. Jelas itu adalah konspirasi tinggi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat istana yang benci dengan Rasputin.
Namun demikian, tak ada penyidikan lebih lanjut mengenai pembunuhan tersebut. Di tahun 1920-an, penis Rasputin sepanjang 27 cm kemudian disimpan oleh sekelompok wanita Rusia di Paris. Para wanita ini menyembah penis ini sebagai lambang kesuburan, dan menyimpannya di dalam sebuah kotak kayu. Mendengar hal ini, anak Rasputin, Marie, meminta mereka mengembalikan penis ayahnya kepadanya. Marie lantas menyimpannya sampai ia meninggal pada tahun 1977.
Sepeninggal Marie, seseorang bernama Michael Augustine mengaku telah membeli penis ini dan beberapa barang kepunyaan Rasputin dari ahli waris. Dan kini penis tersebut diawatkan di sebuah museum di Bonhams.@nov
*) diolah dari berbagai sumber
Author Abad
20.12.22
Bung Tomo, tokoh penting di balik pertempuran 10 November 1945. Di mata istrinya, Sulistina, pejuang yang membakar semangat arek-arek Surabaya itu bukan hanya dianggap sebagai “pahlawan keluarga” tapi juga sosok yang romantis.
Abad.id Buku berjudul “Romantisme Bung Tomo, Kumpulan Surat dan Dokumen pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan” merupakan hasil kumpulan surat-surat Sutomo–nama panjang Bung Tomo–yang dikumpulkan alm Sulistina (istri) selama puluhan tahun.
“Saya menyalin sendiri tulisan-tulisan itu dengan laptop saya,” kata Sulis, panggilan akrabnya, semasa hidup.
Ibu empat anak dan nenek dari 12 cucu itu menceritakan perjalanan kisah cintanya dengan Bung Tomo pada masa pergolakan revolusi. Dan, cerita-ceritanya hingga kini masih relevan untuk diceritakan pada generasi muda.
Sulis menceritakan, saat itu, dia–yang tercatat sebagai anggota PMI cabang Malang–sedang ditugasi kantornya ke Surabaya. Di kota itulah, gadis kelahiran kota dingin Malang itu bertemu Bung Tomo yang usianya lebih tua lima tahun.
Menurut Sulis, saat itu tidak banyak lelaki yang berani mendekatinya. Namun, pria kelahiran Kampung Blauran, Surabaya, yang disebut Mas Tomo itulah yang berani mendekatinya.
“Bahkan ia berani menyatakan cintanya kepada saya. Dari sana saya menyadari bahwa di balik sosok Mas Tomo yang keras, juga memiliki sisi romantis” kata Sulis.
Meski mereka resmi sudah memadu kasih sejak Januari 1946, namun karena kota Surabaya masih dikuasai tentara Sekutu, mereka pun bertemu secara sembunyi-sembunyi.
Bung Tomo yang dikenal sebagai pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) saat itu merupakan salah satu tokoh yang diincar oleh tentara sekutu. Pada 19 Juni 1947 pasangan itu memutuskan untuk menikah di kota Malang.
Pernikahan pun diputuskan di Jalan Lowokwaru IV/2 Malang. Banyak kawan-kawan beliau dari BPRI dan PMI (Teman-teman istrinya) yang hadir, tetapi bukan berarti mudah menjadi istri Bung Tomo karena masih diburu-buru Belanda, mereka harus pindah ke Jogjakarta.
Untuk urusan dapur beliau memang jago memasak rawon, lodeh, sayur asem, sambel goreng taoco. Bahkan beliau sendiri yang mengajari istrinya memasak. “Waktu kecil aku sering ikut ibu membantu orang yang punya hajat perkawinan. Mereka sering kali bilang, kalau perempuan yang bisa mengulek pasti pandai melayani suami di tempat tidur. Makanya kamu harus pandai memasak supaya aku betah di rumah” ucap Bung Tomo kepada istrinya.
Di bawah tekanan hidup di awal kemerdekaan yang serba susah, termasuk posisi Bung Tomo yang masih “diburu” Sekutu, pasangan muda itu memutuskan pindah ke kota Malang. Di kota dingin itu, Sulis mengaku bahagia kendati kehidupan ekonominya sangat berat. “Saya sampai harus gali lobang tutup lobang. Tapi, yang saya salut Bung Tomo tidak mau menyerah menghadapi kenyataan yang berat itu,” katanya.
Meski kejadiannya sudah lebih lebih setengah abad lalu, Sulis masih bisa mengingat secara tepat tanggal-tanggal yang dianggapnya sangat istimewa. Dia ingat betul kapan Bung Tomo menyatakan cintanya hingga peristiwa-peristiwa politik yang menimpa suami, termasuk saat Bung Tomo meninggal saat naik haji pada 1981.
Menulis Surat Cinta
Di mata Sulis, sosok Bung Tomo adalah seorang pribadi yang memiliki jiwa ksatria, pemberani, dan romantis. Di bawah berbagai tekanan yang dialaminya, Bung Tomo selalu mencurahkan isi hati kepada keluarga melalui puisi dan surat-surat cintanya di balik kamar tahanan.
Karena merasa surat-surat itu sangat berharga, wanita itu mengumpulan kumpulan surat yang didokumentasikan melalui buku yang disusunnya. “Jika dihitung-hitung jumlahnya ratusan. Bahkan kalau diukur panjangnya bisa mencapai 15 meter,” katanya.
Seperempat abad lebih setelah kematian Bung Tomo di tanah suci Makkah pada 1981, cinta Sulistina kepada sang suami seperti tak pernah pupus. Bahkan, sampai hari ini pun, wanita kelahiran Malang itu mengaku masih terkenang dengan si Bung yang disebutnya sebagai “perayu ulung” itu.
Banyak cara orang mengungkapkan rasa cinta kepada pasangannya. Namun, Sulistina memilih membuat buku. “Saya sedang mempersiapkan buku kumpulan sajak-sajak Bung Tomo,” kata Sulis, panggilan akrab Sulistina.
Menurut Sulis, buku adalah persembahan cinta terbaik bagi suami. Sebab, dengan menulis, jiwa dan pikiran Bung Tomo tidak hanya bisa dibaca oleh anak keturunannya, tapi juga publik secara luas.
Salah satunya adalah surat cinta Sulis kepada Bung Tomo yang dibacakan budayawan tersohor Taufik Ismail. Taufik membawakan puisi tersebut dengan syahdu hingga orang yang hadir, termasuk Sulis, terpana. Dia mulai menyadari arti penting surat-surat yang ditulis Bung Tomo yang disimpannya secara apik selama puluhan tahun.
Bung Tomo yang suaranya menggelegar membangkitkan perlawanan arek-arek Surabaya pada pertempuran 10 November 1945, kata Sulis, adalah sosok yang romantis. Dengan mengandalkan laptop milik cucunya, Tami Rahmilawati, Sulis mengetik ulang sajak-sajak romantis yang ditulis pada 1951-1971 itu dengan penuh emosi siang dan malam.
“Dalam sehari, saya bisa menyelesaikan lima surat,” kata wanita yang pandai berbahasa Belanda itu.
Selain surat cinta, buku itu juga memuat surat-surat Bung Tomo selama masa tahanan rezim Orde Baru pada 1977-1978. Saat itu, suaminya ditahan di Penjara Nirbaya, di kawasan Pondok Gede, Jakarta. Bung Tomo adalah sosok yang kritis kepada rezim Soekarno maupun Soeharto. Akibat sikapnya itu, Bung Tomo oleh Orde Lama maupun Orde Baru diasingkan secara politik, bahkan dibui.
Dari ratusan pucuk surat dan puisi romantis Bung Tomo, ada beberapa yang paling membuat Sulis terharu. Salah satunya adalah puisi cinta berjudul Melati Putih, Pujaan Abadi Hatiku.
Puisi tersebut dibuat Bung Tomo di Penjara Nirbaya pada 26 Juni 1978. Dalam puisi itu, pejuang kemerdekaan tersebut berusaha mengungkap kembali perasaan cinta kedua insan yang menikah pada saat pergolakan revolusi pada 1947. Sajak itu dedikasikan untuk putri pertama mereka, Tien Sulistami, yang lahir pada 29 Juni 1948.
“Mas Tom merupakan perayu yang ulung. Dia tidak pernah berhenti menyanjung saya setiap waktu. Pada puisi itu, Mas Tom menyebut saya sebagai Melati Putih, hati siapa yang tak tersanjung disebut seperti itu,” katanya.
Masih saat di Penjara Nirbaya, Bung Tomo yang ketika itu sudah berusia 58 tahun tetap bersemangat menulis puisi untuk istrinya. Dalam puisi itu, lagi-lagi Bung Tomo memuji kecantikan wajah istrinya saat bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini.
Ini Hari Kartini, Dik!
Terbayang wajahmu nan cantik
Penaku kini henti sedetik
Terlintas semua jasamu
Sejak kita bertemu
Sulis tidak pernah merasa kecil hati mengungkap seluruh dokumen pribadinya kepada pembaca. Justru dia ingin itu menjadi sejarah yang tidak terlupakan. “Biar pembaca bisa mengambil hikmah dan mengerti betapa indahnya hidup ini,” ujarnya.
Menolak Dimakamkan
Sulis mengakui kehidupan cintanya bersama Bung Tomo dilalui lewat pasang surut perjalanan republik. Dulu, keduanya memadu cinta ketika Bung Tomo masih diburu tentara sekutu di Surabaya.
Keromantisan Bung Tomo tampak dalam setiap surat-suratnya. “Tiengke” panggilan sayang untuk Sulistina selalu menghiasi kop surat. Dalam beberapa surat panggilan sayang itu dikombinasi dengan kata-kata mesra lainya. Misalnya “Tieng adikku sayang”, “Tieng isteri pujaanku”, “Dik Tinaku sing ayu dewe”, “Tieng Bojoku sing denok debleng” atau “Tiengke Sayang”.
Dalam sebuah surat yang ditulis pada 13 Maret 1951 Bung Tomo memahami bahwa istrinya sudah terlalu lama ditinggal di rumah bersama anak-anaknya. Selain menanyakan kabar buah hatinya, Bung Tomo juga berpesan: “Bila kesepian, ambilah buku pelajaran bahasa Inggris kita, en…success,”. Indahnya ucapan itu hingga Sulistina mengaku selalu tak sabar menunggu surat-surat berikutnya.
Selera humor Bung Tomo juga membuat Tiengke terpesona. Dalam satu kesempatan di 20 Maret 1951 surat Bung Tomo diterima. Dalam suratnya pria yang lahir pada 1920 itu menceritakan bahwa foto Sulistina dipuji teman-temannya dan beberapa ibu-ibu.
“Malah ono sing kanda (malah ada yang bilang) een paar’dames (beberapa ibu-ibu) memper (mirip) Ingrid Bergman! Bintang film Swedia di USA,’’ begitu petikan surat Bung Tomo.
Kemesraan yang terjalin melalui surat-surat Bung Tomo tak membuat nafas perjuangannya hilang. Dalam surat balasan kepada Bung Tomo, Sulistina pernah bertanya, kapan perang kemerdekaan ini akan selesai? Karena jarang sekali mereka berdua bertemu dan anak-anaknya selalu menanyakan kapan Bung Tomo datang.
Melihat istrinya mengeluh dengan perjuangannya yang tak kunjung berakhir, Bung Tomo menulis: “Tieng kowe tak seneni ya? Sesuk-sesuk adja sok kanda kapan telase merdeka ini, ya? Wong sedih merga ora bareng-bareng dua minggu wae kok ndukani “Merdekane”. (Tieng aku boleh marah ya? Lain kali jangan pernah bilang kapan selesainya perang kemerdekaan ini. Cuma sedih karena tidak bersama-sama dua minggu saja, kok menyalahkan “Merdekanya”).
Dukungan seorang istri atas perjuangan suami benar-benar menjadi sebuah perekat hubungan yang sudah terjalin. Bagaimana tidak? Saat Bung Tomo ditahan selama setahun (1978-1979) oleh rezim Soeharto, Sulistina tak tinggal diam. Presiden pun disurati. Dalam surat itu Sulistina menyebut Pak Harto saja, tanpa embel-embel presiden.
“Orang yang sudah mempertaruhkan jiwa-raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya, tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri,” protes Sulistina dalam surat itu.
Di era kemerdekaan Bung Tomo lalu berkarir sebagai politisi di Jakarta, sebelum kemudian berseberangan dengan Bung Karno. Saat Orde Baru lahir, Bung Tomo ikut mendukung. Tapi, sikap kritisnya membuat Soeharto berang sehingga Bung Tomo ditahan.
Wanita itu bersyukur, perkawinan mereka dikaruniai empat anak yang berbakti. Mereka adalah Tin Sulistami (59), H M. Bambang Sulistomo (57), Sri Sulistami (56), dan Ratna Sulistami (49).
Seperti dia, sebagian besar anak-anak Bung Tomo itu menetap di Perumahan Kota Pesona, Bogor, setelah rumah warisan ayah mereka di Menteng, Jakarta, dijual.
Lantaran begitu cintanya kepada istri, tutur Sulis, Bung Tomo pernah berkelakar aneh kepada dia. Intinya, Bung Tomo ingin Sulis menyusul mati tiga hari setelah kematiannya. Alasannya, supaya Sulis punya cukup waktu untuk membaca tulisan wartawan soal kematiannya. “Supaya saya menceritakan ulang tulisan wartawan kepadanya di akhirat,” kata Sulis seperti yang ditulis dalam buku Bung Tomo, Suamiku.
Kelakar pejuang itu ternyata “benar-benar” terjadi. Saat keduanya menunaikan ibadah haji pada 7 Oktober 1981, tiba-tiba Bung Tomo jatuh sakit dan meninggal di Makkah tepatnya di Padang Arafah. Sulis yang saat itu pontang-panting mengurus jenazah sang suami sehat-sehat saja. Tapi, tepat tiga hari, ibu Sulis–mertua Bung Tomo–yang meninggal dunia.
Hanya, Sulis tidak bercerita apakah ibunya sempat membaca berita-berita koran yang saat itu ramai memberitakan kematian suaminya.
Meski hingga kini Bung Tomo tak kunjung dinobatkan sebagai pahlawan nasional, Sulis tidak terlalu mempermasalahkannya. Sebab, dia tetap menganggap Bung Tomo sebagai pahlawan baginya. “Saya yakin masyarakat Indonesia tetap menganggapnya sebagai pahlawan. Begitu pula saya,” ceritanya.
“Sampai sekarang, nama Bung Tomo tidak pernah hilang. Saya saja yang tidak pernah berjuang ikut terbawa harum,” katanya sambil tertawa.
Bung Tomo mempertahankan kekecewaannya kepada pemerintah sampai wafat. Dalam wasiatnya, dia dengan tegas mengaku tidak mau dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta. “Alasannya, di sana dimakamkan banyak koruptor,” ungkap Sulis.
Menurut Sulis, setahun setelah meninggal di tanah suci, jenazah suaminya dibawa kembali ke tanah air. Sesuai dengan amanahnya, Bung Tomo dimakamkan di pekuburan rakyat di Ngagel, Surabaya. Di jalan menuju makam itu, kini berdiri plang Jalan Bung Tomo.
Kesetiaan Sulistina kepada Bung Tomo tidak perlu diragukan lagi. Cinta mereka tak terhalang ruang dan waktu. Setelah Bung Tomo meninggal dunia pun, Sulistina tetap rajin menulis surat. Kejadian apa pun selalu diceritakan dalam surat yang tak pernah terkirim itu.
Surat-surat Cinta Bung Tomo
“Datanglah. Waktuku amat sempit. Ada yang ingin aku ceriterakan padamu” atau, “Aku rindu padamu tetapi tak punya waktu,. Bisa Jeng menemuiku?”
“Jeng Lies aku cinta padamu. nanti kalau perang sudah usai. Dan…Kita akan membuat Mahligai.”
“Tak terlalu tinggi cita-citaku. Impianku kita punya rumah diatas gunung. Jauuuh dari keramaian. Rumah yang sederhana seperti pondok. Hawanya bersih, sejuk & pemandangannya Indah. Kau tanam bunga-bunga dan kita menanam sayur sendiri. aku kumpulkan muda-mudi kudidik mereka menjadi patriot bangsa.”
“Waktu kecil aku sering ikut ibu membantu orang yang punya hajat perkawinan. Mereka sering kali bilang, kalau perempuan yang bisa mengulek pasti pandai melayani suami di tempat tidur. Makanya kamu harus pandai memasak supaya aku betah di rumah.”
“Waktu bebas, aku tidak mempunyai kesempatan membaca, nah sekarang kesempatan itu ada dan harus ku pergunakan. Tuhan memberi cobaan, tentu ada hikmahnya.”
“You are a hero, a patriot, a great lover sampai hari akhirmu.” @nov
*) diolah dari berbagai sumber