images/images-1689930507.png
Sejarah
Riset

Begini Isi Kuliah Umum Soekarno Saat Pengukuhan Gelar Doktor Ilmu Sejarah

Pulung Ciptoaji

Jul 21, 2023

433 views

24 Comments

Save

Presiden Soekarno, Panglima Tertinggi Angkatan bersenyata/ Pemimpin Besar Revolusi didampingi Rektor UNPAD Sanusi Harjadinata, tiba di ruang pengukuhan gelar doktor dan doktor honoris causa dalam ilmu Sejarah

 

abad.id-Presiden Soekarno mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Negeri Pajajaran pada 23 Desember 1964 di Bandung. Gelar Doktor HC ini sudah ke 25 kalinya diberikan kepada Soekarno atas dedikasi, pengembangan keilmuan dan kemanusiaan. Gelar Doktor HC di Universitas Negeri Pajajaran ini berkat dukungan promotor Prof Dr Roeslan Abdulgani.

 

Baca Juga : Cita Cita Besar Sukarno Anti Kolonialisme Dimulai Dari Sini

 

Sebelumnya Soekarno pernah mendapatkan gelar Doktor HC dari beberapa universitas ternama di dunia. Antara lain dari Bukarest University, Rumania, Doctor bidang hukum,  dari Sofia University, Sofia, Bulgaria, Doctor bidang hukum, Budapest University, Hongaria, Doctor of Tech. nical Science, Al Azhar University Kairo, Doctor of Philo Sophy, La Paz University, Bolivia, Doctor of Social and Political Sciences, ITB Bandung, Doctor of Technical Science, Universitas Indonesia Jakarta,Doctor of Social Science, Universitas Hasanuddin Makasar Doctor of Law and Political Science and International Relations, Manila University of the Philippines, Doctor of Law,  Royal Phnom Penh University Phnom PenhKamboja, Doctor of Law, Institute of Academy Pyongyang, Korea Utara  Academician Doctor of Sciences, IAIN Jakarta Doctor Honoris Causa Ilmu Usuluddin bidang Da'wah, serta Universitas Pajajaran, Doctor Honoris causa dalam Ilmu Sejarah.

 

Menurut Soekarno, 24 kali gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas terkemuka sebelumnya berdasarkan atas penilaian Promotor atau Rektor dengan alasan-alasan tertentu. “Di universitas-universitas Amerika misalnya, Tuan Soekarno itu, Tuan Soekarno ini berjasa ini ini ini ini ini, singkat, maka berdasar itu kami menggelari beliau Doctor Honoris Causa,” cerita Soekarno dalam pidato gelar Doktor HC di Universitas Negeri Pajajaran.

 

Di Universitas-universitas lain secara panjang lebar promotor0promotor mengemukakan alasan-alasan. Misalnya di Karl University di Praha panyang lebar sekali. Demikian pula di Universitas Al Azhar di Cairo panyang sekali. Di Universitas-universitas di Tanah Air juga panyang sekali. “ 24 kali saya digelari, gelar Doktor Honoris Causa dengan alasan panjang atau singkat-singkatan dan tiap-tiap kali diminta saya memberi sambutan,” kata Soekarno berbangga.

 

Baca Juga : Menguji Wibawa Sukarno di Pertempuran 10 November

 

Dalam kuliah umum tersebut, Soekarno mengaku bahwa pisau analisa yang selalu dipakai dalam mengupas sejarah dan mengambil pelajaran penting daripada peristiwa tersebut menggunakan pisau analisa Marxisme. Marxisme merupakan tidak sekedar mengupas sejarah tetapi berhasil mengambil pelajaran dari sejarah. Seperti yang dikutip Sir John Seeley dalam bukunya "The expansion of England". Disebutkan bahwa harus mempelajari sejarah, agar menjadi bijaksana lebih dahulu. Agar menjadi tahu kemana harus berjalan. “Orang yang tidak mempelajari atau mengambil pengajaran dari sejarah sebetulnya orang yang tidak bijaksana. Orang yang tidak mengetahui sejarah, orang demikian itu tidak mengetahui tujuan. Oleh karena itu sejak muda saya sudah gemar dan mempelajari sejarah mengambil pengajaran dari sejarah,” kata Soekarno.

 

Orang yang tidak tahu Marxisme mendengar perkataan materialisme sudah njingkat. ”Njingkat artinya seperti disengat oleh unggas atau disengat oleh lebah yang sakit, terus berteriak, Ho,materialis! Marxis! Materialis! Marxis! dus tidak kenal barangbarang yang ghaib,”.

 

Menurut Soekarno, materialisme sejarah itu lain daripada filosofis materialisme, lain dari pada wijsgeerig materialisme. Materialisme historis satu pisau untuk mengupas sejarah, satu methode berfikir, satu methode untuk mengupas sejarah, untuk mengerti sejarah untuk mengetahui jalannya sejarah.

 

“Sejarah itu satu hal yang kompleks, satu kompleksitas, Saudara-saudara. Mahasiswa-mahasiswa jangan kira sejarah itu seperti tempo hari sudah pernah saya katakan, kejadian-kejadian tahun ini, kejadian itu, tahun ini kejadian itu, tahun ini kejadian itu, tahun ini kejadian itu, tahun ini kejadian itu. Kalau engkau sudah hafal kejadian kejadian serta tahun tahunnya, lantas kau berkata, bahwa engkau telah mengetahui sejarah. Tidak! Tidak! Kejadian-kejadian itu sekedar satu bagian, bagian, bagian, bagian, bagian dari sejarah,” kata Soekarno.

 

Baca Juga : Jenderal Loyalis Sukarno Tewas di Riung Gunung

 

Kejadian itu sendiri, kejadian kecil. Kejadian itu, ambillah misalnya tahun 1825 Diponegoro telah mulai peperangan melawan Belanda. Jangan kira kejadian tahun 1825 itu, itulah sejarah. Tidak, itu sekedar satu bagian dari sejarah.

 

Ambil contoh buat mahasiswa-mahasiswa, ini gedung, inilah yang dinamakan gedung, tapi jubin ini, ini bukan gedung, jubin ini adalah sekedar bagian gedung. Gedung ini terdiri dari jubin itu, itu, itu, dari jendela itu, dari plafond itu. Jubin ini adalah bagian dari pada gedung, tapi jubin ini bukan gedung. Pintu itu bagian daripada gedung, tapi pintu itu bukan gedung. Jendela itu adalah bagian daripada gedung, tapi jendela itu bukan gedung, atap di atas kita ini adalah bagian daripada gedung, tapi atap ini bukan gedung.

 

Jadi jikalau engkau he, mahasiswa-mahasiswi ingin mengetahui sejarah, ketahuilah lebih dahulu bahwa sejarah itu adalah satu kompleksitas, satu rangkaian daripada kejadian-kejadian dan sebagai kukatakan di Universitas Gajah Mada tiga hari yang lalu, kejadian-kejadian ini mempunyai causali teit satu sama lain, sebab dan musababnya.

 

“Ini adalah sebabnya yang melahirkan kejadian ini. Ini menyadi sebab pula daripada kejadian ini. Ini menyadi sebab pula daripada kejadian ini. Ini adalah pula suatu daripada kejadian ini. Ini menyadi sebab daripada kejadian ini. Ini adalah kejadian, kejadian, kejadian, kejadian, kejadian, kejadian, tetapi ini sendiri bukan sejarah, ini sendiri bukan scjarah, ini sendiri bukan sejarah, ini sendiri bukan sejarah, ini sendiri bukan sejarah, ini sendiri bukan sejarah, ini sendiri bukan sejarah. Sejarah adalah ini rangkaian kejadian kejadian yang bercausaliteit satu sama lain itu. Causaliteit yaitu, sebab musabab, sebab musabab, sebab musabab,” tambah Soekarno.

 

Baca Juga : Sukarno dan Suharto Pernah Tunjuk Bintang Dua Jadi Panglima

 

Untuk mengerti rangkaian daripada sebab musabab ini, Soekarno selalu mempergunakan pisau yang amat tajam yaitu pisau historismaterialisme untuk mengupas sejarah. Jadi arti “historis" disini sudah jelas. Tapi apa itu, arti “materialisme" dalam, historismaterialisme"?. Materialisme disini harus dibedakan dari wijsgeerig atau filosofis materialisme. Apa itu wijsgeerig materialisme? Wijsgeerigmaterialisme satu isme yang boleh dikatakan dengan gampang tidak mengakui adanya barangbarang ghaib. Semua itu adalah barang wadah, barang benda, tidak ada barang ghaib, semua itu adalah benda, materi wadah. Itu adalah wijsgeerigmaterialisme, atau philosofis materialisme.

 

Misalnya kita mempunyai anggapan ghaib tentang pikiran. Pikiran adalah satu hal yang ghaib, memang siapa bisa merasa pikiran, siapa yang bisa melihat pikiran. Pikiran adalah satu hal yang ghaib, ghaib artinya tidak bisa dilihat, tidak bisa di raba, tidak bisa kita onderkennen, dengan kita punya panca indera. Itu ghaib. Tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita rasakan, tidak bisa kita raba, tidak bisa kita dengar, tidak bisa kita cium baunya. Apabila panca indera kita, atau five senses kita, penciuman, pendengaran, penglihatan, perasaan, dan satu lagi yaitu perabaan kita, ini panca indera kita, five senses kita tidak bisa onderkennen barang sesuatu, maka itulah dinamakan barang ghaib.

 

Wijisgeerig materialisme atau philosophical materialiame tidak mengakui akan adanya alam yang tidak bina diraba, di onder. Kennen dengan panca indera, misalnya aku tadi katakan fikiran. Kalau menurut wijageerig materialiame, fikiran itu sekedar satu syncretie daripada otak, Otak, hm, hm, hm, itu adalah materi di dalam kau punya tengkorak. Itu namanya otak, nah itu bisa dilihat, bisa diraba, itu ah berproses menyadi fikiran. Kalau otaknya itu mudah tidak ada, tidak akan ada fikiran. Itulah wijngcerigmaterialiame.

 

Tapi historis materialisme adalah lain, ia adalah cara pengupasan sejarah. Aaya bicara tentang sejarah oleh karena saya didokteri ilmu sejarah. Saya bicara tentang cara pengupanan sejarah menurut analisa materialistis dalam arti lain dari wijsgeerig materialisme.

 

Saudara-saudara, begini, supaya saudara saudara lebih mengerti, Marxisme itu pada dasarnya adalah satu filosofi yang dialektis. Mahasiswa-mahasiswi tahu dialektis itu apa, dialektis itu apa; dialektis ialah rangkaian daripada these dan anti these, selalu sesuatu hal membangunkan ia punya anti, sesuatu hal musti membangunkan ia punya anti these. These dan anti thene ini, menyadi satu. menjadi synthese tapi synthese ini menyadi these lagi, yang melahirkan satu anti these baru.

 

Baca Juga : Berhati Mulia, Sukarno Masih Mengampuni Maukar Calon Pembunuhnya

 

These dan anti these menyadi synthese, synthese menyadi these dan anti these baru. Ah terus berangkai. Itu adalah dialektika dalam filosofi. Dialektical filosofi, Ini Marx belajarnya atau mengambilnya daripada filosofinya Hegel. Hegel adalah gembong ahli filaafah Jerman. Dialektise filosofie daripada Hegel yaitu, bahwa segala sesuatu itu these anti these menjadi synthese, synthese menyadi these lagi dari anti these baru ini, menyadi synthese, synthese menyadi these begitu terus tidak ada berhenti berhentinya ini diambil over oleh Marx. Tapi Marx balikkan dalam mengambil over falsafah dialektik in. Untuk sejarah itu filasafat Hegel diputerkan oleh Marx, kepalanya di tanah, kakinya ditaruh di atas.

 

“Kemarin dulu di Univesitas Gajah Mada saya berkata: dijungkir balikkan filsafat dialektik Hegel, Hegel berkata begini yaitu yang nanti didjungkir balikkan oleh Marx , bahwa ini tadi yang dinamakan alam fikiran dan lain-lain itu. Itulah sumber dan dasar daripada sagala materi di dunia ini. Alam fikiran manusia, perasaan manusia itu adalah dasar, kata Hegel yang melahirkan segala hal yang materil,” jelas Soekarno.

 

“Marx berkata: Salah! Salah! Salah! Bukan bewustzijn dalam alam fikiran, bukan perasaan, yang melahirkan barang-barang. Materiil, tapi sebaliknya barang-barang materiillah yang melahirkan bewustzijn manusia. Yang dibalik itu ucapan Hegel tadi itu yang berkata alam fikiran, perasaan melahirkan barang materiil, cara hidup materiil, itu adalah hasil dan akibat daripada akal, fikiran, perasaan,” kata Soekarno..

 

“Marx berkata: no Sir, tidak! Harus dibalik! Ia berkata: ,Es ist nicht das Bewusztsein des Menschen das sein Gesellschaftlebensein, aber sein Gesellschaftlebensein das sein Bewusztsein bestimmt". Dalam bahasa Belandanya, Het is niet het bewustzijn van de menschen, dat hun materieel zijn bepaalt. Maar omgekeerd hun materieel zijn, dat hun bewustzijn bepaalt". Itu yang diputarbalikkan,” jelas Soekarno.

 

Baca Juga : Jejak Sukarno Dibalik Pemberontakan Peta di Blitar Meragukan

 

Nah, inilah pisau historis materialisme yang selalu pergunakan untuk mengupas sejarah. Oleh karena itu Bung Karno selalu membalikkan segala sesuatu kejadian kejadian didunia ini kesitu, kesitu, kesitu sampai sampai persoalan imperialisme Bung Karno berkata: No, imperialisme itu bukan sebagai dikatakan oleh Gustaf Klemm, dan Gustaf Klemm berkata bangsa kulit putih ngereh, menjajah dunia Timur itu untuk membawa "missionsacree", untuk membawa civilization. Atau Prof Moon berkata bahwa imperialisme itu datang untuk menunjukkan kemegahan daripada, whiteman". tidak! tidak!

 

Soekarno menyawab pada waktu itu tahun '26: tidak! Mereka datang disini untuk materieelever houding, untuk keperluan materiil, untuk keperluan ekonomi. Untuk keperluan ini untuk keperluan itu. Nah, ini pisau yang saya pakai.

 

“Saudara saudara misalnya, ambillah satu misal, tadi Cak Roeslan menceriterakan hal "La grande revolution Francaise", Revolusi Perancis yang besar. Saudara saudara tahu bahwa revolusi Perancis yang besar itu adalah membawa akibat, yaitu demokrasi parlementer. Tudjuan demikian dikatakan, daripada revolusi Perancis yang mendatangkan demokrasi parlementair; Revolusi Perancis itu bersemboyan: Engalité, Fraternité dan Liberté! Egalité itu sama rasa dan sama rata. Fraternité persaudaraan, Liberte kemerdekaan. Terjadilah revolusi Perancis di atas, karena, karena semboyannya. Semboyan yang dikemukakan oleh ahli ahli filsafah sebentar sebelum revolusi Perancis meledak; oleh Montesquieu, Voltaire, Rousseau dan sebagainya,” jelas Soekarno..

 

Ini salah! Revolusi Perancis bukan karena ciptaan cita-cita Egalité, Fraternité, Liberté, yaitu ciptaan daripada satu ide, lantas menjadi revolusi Perancis, tidak! Revolusi Perancis disebabkan oleh hal hal materiil, politik materiil. Sebagai yang saya kupaskan, hasil daripada pengupasan saya adalah: 

revolusi Perancis itu hasil daripada penindasan ekonomi politik daripada kaum feodalisme dan kaum Gereja, kepada apa yang dinamakan stand ketiga, derde stand dulu itu.

 

Ada golongan feodal, Raja dengan ia punya Hertoghertog dengan dia punya Countcountnya dan lain lain, satu golongan yang pada waktu itu bercakrawarti, berkuasa tinggi; ada lagi satu kekuasaan di Perancis pada waktu itu, kekuasaann kaum gereja. Dalam semua hal kaum gereja yang berkuasa. Kemudian ada satu golongan yang besar sekali, rakyat jelata dengan di dalam ada satu kelas yang memandang dirinya kelas ketiga. Kelas ke satu feodal, kelas ke dua gereja, kelas ke tiga ialah satu golongan dari rakyat jelata ini.

 

Baca Juga : Panggung Sukarno di Hadapan Wartawan Asing 

 

Di Perancis hendak tumbuh, hendak timbul apa yang dinamakan kapitalistische produksi wijze, cara memprodusir barang barang secara kapitalisme dengan timbulnya fabrik fabrik dan kaum buruh. Fabrik dengan kaum buruh, fabrik dengan kaum buruh, fabrik dengan kaum buruh. Itulah cara productie kapitalistis. Timbul kaum buruh yang dinamakan proletar oleh Marx; dan alat alat produksi terlepas dari miliknya kaum buruh. Alat alat produksi ini dimiliki oleh kelas ketiga yang belakang ini dinamakan kelas bordjuis. Dan kelas bordjuis ini merasa nggak enak, kok segala kekuasaan politik di dalam tangannya kaum feodal dan gereja. Kelas bordjuis yang sedang timbul ini,  the rising bordjuis , merasa tidak punya kekuasaan untuk merobah materiile verhoudingen di dalam masyarakat agar dia kelas bordjuis ini bisa berkembang. Oleh karena itulah kelas bordjuis atau bordjuasi yang sekarang sedang tumbuh ini  derde stand; kelas yang ketiga  memberontak terhadap feodalisme, memberontak terhadap kepada gereja.

 

Karena memberontak terhadap feodalisme dan gereja itu secara sendirian tidak bisa, mereka masih kecil kelas bordjuasi itu  mereka mempergunakan rakyat jelata, mengelabui matanya rakyat jelata, memperkudakan rakyat jelata. Rakyat jelata dikerahkan untuk ikut ikut dengan mereka memberontak terhadap feodalisme dan gereja.

 

Nah, ini inti sari dan arti daripada revolusi Perancis. Mereka menghendaki jangan hanya kaum feodal saya, juga jangan kaum gereja saja, tetapi juga kami, kami, kami harus mempunyai hak pula untuk menentukan hukumhukum negara, hukum hukum ekonomí, hukum pemerintahan. Jalannya ialah apa yang kemudian dinamakan parlementer demokrasi, demokrasi parlementer. Tiap tiap orang boleh menjadi anggota parlemen, tiap tiap orang boleh dipilih menyadi anggota parlemen dan tiap tiap orang boleh memilih anggota parlemen. 

 

“Belakangan saudara saudara kita, kita, kita,kita yang kita melihat wah lah ini, ini parlementer demokrasi, demokrasi parlementer seperti yang dikehendaki oleb kaum bordjuasi itu sebetulnya hanya menguntungkan kaum bordjuasi saya. yah, sebab demokrasi parlementer itu sekedar hanyalah demokrasi politik. Tiap tiap orang boleh memilih dan tiap tiap orang boleh dipilih, menjadi anggota parlemen. Di dalam parlemen itulah yang anggota anggotanya adalah hasil daripada zoogenaamde pemilihan umum duduklah disitu wakil wakil dari bordjuasi, wakil dari rakyat jelata. Wakil dari feodal, wakil dari gereja,” jelas Soekarno.

 

Baca Juga : Sukarno Marah Atas Tragedi Cikini, Yakin Kartosuwiryo Terlibat

 

Tetapi bordjuasi selalu mempunyai kemampuan untuk mengadakan pemilihan umum demikian rupa sehingga wakil merekalah yang terbanyak di dalam parlemen itu, dengan mereka punya uang, mereka punya buku buku, mereka punya surat kabar, mereka punya sekolah sekolah, mereka punya universitas universitas etc, etc. Mereka mempunyai cukup alat alat untuk toch di dalam parlemen itu mencapai satu majority.

 

Karena itu maka Jean Jaures, yang tadi juga disitir oleh Cak Roeslan, pagi pagi telah berkata, ini political democracy. ini adalah hanya political democracy saya yang dikehendaki oleh revolusi Perancis. Ini hanyalah memintakan atau mengadakan atau merebut hak sama untuk semua orang di lapangan politik. tidak: dilapangan ekonomi. Di lapangan ekonomi tidak ada kekuasaan dari kaum buruh, dilapangan ekonomi tidak ada kekuasaan daripada rakyat jelata. Oleh karena itu maka pihak sosialis mengatakan tidak puas dengan parlementaire demokrasi daripada La Grande Revolution de France, tapi menuntut atau berjuang untuk diadakan sosiale demokrasi, sosiale demokrasi, demokrasisosial; bukan sosial demokrasi, social democracy, satu aliran daripada sosialisme.

 

Bukan itu, tetapi yang dituntut ialah demokrasi sosial, yaitu politik ekonomise demokrasi, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, sama rasa sama rata dilapangan politik, dilapangan sosial dan dilapangan ekonomi untuk semua orang. Nah, inilah pengupasan daripada sejarah historis materialistis daripada revolusi Perancis.

 

“Pengupasan ini saya jalankan dengan pisau historis materialisme itu. Demikian pula tatkala dalam tahun antara '30'40 kita melihat satu fenomeen besar di Jerman yang dinamakan National sozialismus, atau dinamakan fasisme, Hitlerisme. Saya mencoba pisau analisa ini, apa ini Hitlerisme itu kok lain daripada gerakan gerakan yang dulu. Dulu rakyat di Eropa berrevolusi untuk mengadakan demokrasi parlementer, kemudian rakjat Eropa berjuang hebat untuk mendatangkan sosialisme yaitu pergerakan kaum buruh.  Sekarang ada lagi pergerakan hebat, nationalsosialisme, fasisme yang dipimpin oleh Hitler dan Mussolini,” kata Soekarno..

 

Soekarno kupas dengan pisaunya historis materialisme dan saya sampai kepada satu konklusi: ooh ini adanya fasisme ini, adanya national sosialisme adalah satu kenotwendigan historis.

 

Baca Juga : Dari Sinilah Kedekatan Sukarno Dengan Nasution Dimulai

 

Sebagai dikatakan oleh Cak Roeslan, ini sudah historis gedetermineerd, sudah lebih dahulu tertulis di dalam kalbunya sejarah, bahwa nanti satu ketika boleh tidak boleh pasti di Eropa itu datang fasisme, ada Hitler atau tidak ada Hitler. Dengan pengupasan saya ini, saya Saudara saudara sampai kepada keyakinan, ini bukan Hitler yang menggerakkan.

 

“Hitler itu sekedar sebagai satu·tool, sebagai satu alat, satu penyelenggara saja, yah, sebagaimana misalnya Tengku Abdul Rachman adalah sekedar satu alat, alat daripada imperialisme, alat dari Neokolonialisme yang sekarang ini mempertahankan diri di AsiaTenggara. Malaysia, Saudara saudara saya ini nyimpang sebentar pasti ada. Meskipun ada atau meskipun tidak ada Tengku Abdul Rachman Putra, tetapipun kita berkeyakinan Malaysia itu pasti akan hancur, ada Soekarno atau tidak ada Soekarno. Kenapa saya datang kepada keyakinan kok fasisme itu: adalah historis gedetermineerd,”? jelas Soekarno.

 

Soekarno memakai kupasan historis materialisme, saya melihat kejadian kejadian daripada kapitalisme itu disatu pihak ditentang oleh satu gerakan hebat, gerakan kaum buruh yang menghendaki hilangnya exploitation de l'homme par l'homme.

 

Kemarin dihadapan para wanita Soekarno berkata bahwa itu ucapan, perkataan exploitation de l'homme par l'homme saya ambil over dari Jean Juares. Jean Juares pemimpin kaum buruh Perancis. Kapitalisme ini ditentang oleh kaum buruh disatu pihak, dilain pihak kapitalisme itu menderita penyakit dalam tubuhnya sendiri. Penyakit penyakit yang inhaerent, inhaerentic daripada sistim kapitalisme sendiri.

 

Baca Juga : Johnny Florea Wartawan Asing Ikut Safari Sukarno

 

Apa penyakit penyakit inhaerent daripada sistim kapitalisme itu sendiri? Oleh Marx dikatakan Kapitalisme tidak boleh tidak membawa innnerlijke conflicten, kapitalisme tidak boleh tidak membawa penyakit penyakit sendiri, bukan penyakit dari luar, tidak. Tetapi dari dalam tubuhnya sendiri, yang karena sistim kapitalisme sendiri, antara lain penyakcit krisis. Kapitalisme tentu mengalami krisis, krisis, krisis, krisis, krisis. Oleh karena produksi, overproduksi, overproduksi, krisis, produksi, overproduksi, overproduksi, overproduksi yang berdasarkan meerwaarde.

 

“Meerwaarde itu ah, Asmara Hadi apa bahasa Indonesianya, (Asmara Hadi : ,nilai lebih!") ech, nilai lebih, oleh nilai lebih ini, produksi overproduksi telah banyak tidak bisa dijual. Krisis, overproduksi, produksi produksi, produksi, yang berdasarkan nilai lebih. Akhirnya overproduksi, krisis. Dan aku melihat bahwa krisis itu datangnya makin lama makin sering. Dulu sekian tahunlah baru ada krisis, kemudian aku melihat ini ini jangka waktu ini makin lama makin menyempit, penyakit yang inhaerent daripada sistim kapitalisme. Dan aku melihat bahwa pada satu soal kapitalisme itu seperti orang tua, yang selalu kena penyakit.  Entah penyakit malaria, bagaimana dokter, reumatik, betul,  sekali kena penyakit malaria, sembuh, sekali kumat malarianya, sembuh, sekali kumat malarianya, sembuh, dan antara apa itu sakit dan sakit itu makin lama makin sempit dan aku melihat makin lama makin ia punya badan seperti tidak ada tenaga untuk menentang malaria itu tadi. Tadinya dia kalau berpenyakit malaria hanya dalam tempo 4 hari minum pil sehat lagi. Kemudian sudah satu minggu minum pil belum sehat, kemudian dua minggu minum pil belum sehat lagi,” ujar Soekarno.

 

Makin lama, makin lama, makin lama, badannya itu seperti tidak ada tenaga untuk mengatasi penyakit malaria itu. Aku melihat di dalam sistim di dalam masyarakat kapitalisme, krisis makin lama makin dekat, tetapi aku melihat pula bahwa tubuh kapitalisme ini makin lama makin tidak mampu.

 

Nah dilain pihak gerakan kaum buruh makin mendesak, makin mendesak makin mengadakan pukulan pukulan terhadap kapitalisme ini. Dari luar dihantam oleh gerakan kaum buruh, dari dalam menderita penyakit penyakit yang inhaerent tadi. Maka aku datang pada satu konklusi, sebagaimana konklusiku mengenai perang Lautan Teduh tadi itu. Nanti tidak boleh tidak, tidak boleh tidak pasti pecah perang Lautan Teduh. Dan aku berkata nanti tidak boleh tidak di dalam peperangan Lautan Teduh itu kita akan menjadi merdeka oleh karena aku lihat lebih dari dulu, terdahulu juga bahwa rantai daripada imperialisme itu yang paling lemah, de schakel is het zwakst di Vietnam dan Indonesia.

 

Kalau nanti ada perang Lautan Teduh tidak boleh tidak, ini rantai pecah di Vietnam dan Indonesia. Zonder aku menjebutkan tanggal dan harinya, kata Cak Roeslan. Itu memang benar, aku cuma mengadakan analisa darinada kejadian kejadian. 

 

Baca Juga : Van Mook Rival Sukarno Calon Penguasa Indonesia

 

“Demikian pula aku mempunyai analisa terhadap pada kapitalisme di Eropa ini, yang makin dekat krisis, krisis, krisis mampu untuk krisis ini. Nanti akan datang satu saat yang di Magelang atau di Jogja beberapa hari yang lalu de laaste de dingspoging van het kapitalisme. Istilah penyelamatan yang terakhir daripada kapitalisme. Kapitalisme sudah megap megap akan mati. Pada saat demikian itu tidak boleh tidak kapitalisme tentu mengadakan suatu usaha terakhir untuk menjelamatkan dirinya,” kata Soekarno.

 

Dan itu adalah fasisme. Senjata terakhir dari kapitalisme. Dulu senyata kapitalisme sebagai kukatakan tadi waktu menggambarkan La Grande Revolution Francaise ialah parlemen. Tairdemokrasi, demokrasi parlementair. Itu memang baik untuk bordjuasi diwaktu periode kapitalisme sedang bertumbuh, yaitu periode yang aku katakan dengan meniru perkataan Fritz Sternberg, Kapitalismus im aufstieg.

 

Kalau kapitalisme sedang im aufstieg, sedang menaik huh menaik, makin besar, makin besar, makin kuat, makin kuat, terlahir Kartel, makin terlahir trust, trust, trust, cartel, cartel, cartel. Makin kuat, makin kuat, makin kuat. The political system is parlementarian democracy. Politik sistim daripada kapitalisme im aufstieg, kapitalisme yang sedang menaik adalah parlementarian democracy, demokrasi parlementair.

 

“Tetapi kapitalisme yang turun, dan ini saya namakan kapitalisme yang turun, sebab dia sudah jemu seperti orang tua, tidak bisa menahan lagi krisis, selalu krisis, selalu krisis, semakin lama makin zwak, semakin lama semakin zwak, makin zwak untuk mempertahankan dirinya, diperlukan satu system politik yang lain lagi. Tidak lagi bisa digunakan oleh kapitalisme apa yang dinamakan demokrasi parlementer. Tetapi satu sistim yang bernama fasisme, satu sistim kekerasan,” kata Soekarno.

 

Dulu kapitalisme tidak bisa berbuat apa terhadap gerakan kaum buruh, buruh makin lama makin berkuasa, makin lama makin bersuara, makin lama makin mendesak. Tetapi dengan parlementaire demokrasi kapitalisme tidak bisa, tidak boleh menahan pemimpin kaum buruh. He kesana kau kepenjara, engkau pemimpin kaum buruh, aku masukkan kedalam penjara, kaum buruh yang berdemokrasi aku masukkan dalam penjara, tidak bisa sebab demokrasi parlementair.

 

Baca Juga : Ilyas Hoesain dan Sukarno Berdebat Sengit Soal Romusa

 

Ini tidak bisa dipergunakan lagi, tidak bisa dipakai lagi untuk mempertahankan dirinya oleh kapitalisme didalam keadaan menurun, yang aku namakan dengan meminjam perkataan Fritz Sternberg "Kapitalismus im Niedergang". Kapitalis musim Niedergang", kapitalisme setelah turun, tidak bisa lagi memakai sistim parlementaire demokrasi. Dia lantas ganti dengan sistim tangan besi. Pukul, gerakan kaum buruh dipukul habis. Salah atau tidak salah, demonstrasi atau tidak demonstrasi, berpidato yang menghasut atau berpidato yang tidak menghasut. Hantam, masukkan kaum buruh itu, atau pemimpin kaum buruh ke dalam konsentrasi kamp. Sèrèt mereka kemuka "firing squad", drél mereka, masukkan dia paling sedikit di dalam konsentrasi kamp untuk berpuluh puluh tahun hendaknya.

 

Tidak ada demokrasi, aku Führer yang memerintah. Aku Hitler yang menyatakan segala aturan, aku selamanya benar, Hitler hat immer Recht. Dan tempo hari saya katakan bahwa Mussolini berbuat demikian. Mussolini semper a razione"! Mussolini selalu benar, aku menentukan segala hal, dan siapa tidak mengikuti aku. Drél, aku masukkan penjara atau aku masukkan dalam konsentrasi kamp.

 

“Ini adalah satu fenomeen yang tidak boleh tidak musti terjadi dalam alam kapitalisme. Dan saya sampai kepada konklusi ini, sesudah mengadakan analisa, dengan pisau tajam yang saya namakan, yang dinamakan historis materialisme itu tadi,” jelas Soekarno.

 

“Demikian pula maka sekarang inipun, sekarang, sekarang, sekarang aku tadi telah berkata bahwa aku tidak heran diadakan Malaysia, tidak! Ini bukan kejahatan, kejahatan an sich daripada Tengku Abdul Rachman, tidak! Tengku sekedar suatu perkakas. Malaysia diadakan oleh karena sekarang ini imperialisme mengadakan dia punya laatste reddingspoging. Ada Abdul Rachman, Abdul Rachman yang dipakai, ada Abdullah, Abdullah yang dipakai. Ada Sarimin, Sarimin yang dipakai,”.

 

Tetapi tidak boleh tidak imperialisme yang sekarang ini, yang sedang megap megap dan hendak mengadakan laatste reddings poging, tidak boleh tidak musti mengadakan offensif yang berupa “Malaysia"; laatste redding spoging van het imperialisme.

 

Sebagaimana ditempat tempat lain kukatakan  juga di Magelang baru baru ini , laatste redding spoging daripada imperialisme itu berjalan.

 

Baca Juga : Tidak Ada Sukarno, MH Thamrin Juga Berbahaya

 

“Maka oleh karena itu, Saudara saudara, saya sebagai Marxis, sebagai dialektikus, kalau boleh saya namakan demikian, saya selalu menyawab juga historis tidak boleh tidak secara dialektik kita bangsa Indonesia akan makin kuat oleh karena gempuran gempuran dari luar. Ini yang saya namakan dialektika Revolusi Indonesia. Sudah kukatakan di Magelang, kukatakan di Gajah Mada terhadap kolega kolegamu di Jogjakarta makin kita digempur makin kita kuat, makin kita dihantam, makin hantaman itu sebagai tempaan, tempaan terhadap kepada kita punya tubuh yang membuat tubuh kita itu makin berotot kawat balung wesi,” jelas Soekarno.

 

Dialektika, hai, anak anakku dan dialektika inipun sebenar nya adalah Historis Notwendig. Perlawanan kita, pertentangan diadakan oleh Diponegoro, oleh Sultan Agung oleh pemimpin kita yang lain-lain, pertentangan yang diadakan oleh rakjat Indonesia dalam periode "Physical Revolution", sebenarnya adalah, historis tevorengedetermineerd, lebih dahulu sudah tertulis di dalam sejarah.

 

“Bukanlah saya bisa melihat bintang-bintang itu, tidak! tidak! Tetapi saya hanya menggunakan analisa sejarah. Tidak boleh tidak nanti tentu bangun Pergerakan Nasional Indonesia, bahwa tentu bangun perlawanan dialektika. These, antithese, antithese, antithese daripada imperialisme itu. Tidak boleh tidak dan akhirnya kita pasti menang, yang oleh Cak Roeslan dikatakan inilań• aku selalu historisoptimis. Jikalau aku ini historisoptimis bukan oleh karena memang jiwaku ini jiwa optimis tidak, saya melihat garis yang demikian. Saya melihat bahwa garisnya itu ke tempat yang cemerlang. Historis cemerlang ! Maka oleh karena itu Saudara saudara selalu aku menggemblengkan di dalam dadanya rakyat Indonesia, supaya yakin, ainul yakin, apalagi ilmul yakin, haqul yakin,” jelas Soekarno.

 

Soekarno yakin bahwa tidak boleh tidak pasti datang, suatu hari pasti datang, pasti datang, historis pasti datang bahwa Indonesia akan menang, bahwa kita akan menang, bahwa kita akan bisa memenuhi Amanat Penderitaan Rakyat, oleh karena Amanat Penderitaan Rakyat ini adalah tertulis di dalam garis sejarah daripada bangsa. Sebagai kukatakan di dalam kitab Sarinah, tidak boleh tidak matahari nanti, matahari itu, matahari itu, matahari itu, pasti datang.

 

Baca Juga : Tangisan Sukarno Meluluhkan Daud Beureueh Untuk Membantu RI

 

Soekarno mengulangi apa yang dituliskan di dalam penjara jaitu penjara Bantjeuj, Bantjeuj mana Bantjeuj itu? dekat alun alun!  disana saya dikeram, disekam oleh Belanda dan disitulah di dalam sel kecil di Bantjeuj itu aku menulis ajam jantan berkokok, matahari akan terbit, matahari akan terbit bukan oleh karena ajam jantan berkokok, tetapi ajam jantan berkokok karena melihat matahari akan terbit.

 

“Nah kitapun Saudara saudara, kita adalah ayam jantan dari Timur ini, "de jonge Haan van het Oosten", ayam jantan dari da ia Timur. Dan juga ayam jantan sejarah Dunia Baru! Tetapi sekarangpun berkokok! Hayo! Kita berkokok oleh karena kita melihat matahari pasti akan terbit. Matahari kita, matahari daripada seluruh rakyat Indonesia,” ! jelas Soekarno. (pul)

 

Artikel lainnya

Penyelamatan dan Pemanfaatan Bangunan Langka di Kota Tua Surabaya